BAB 67 Dini hari, mobil Juragan Arga yang diikuti oleh Suryadi sudah memasuki halaman rumah. Suasana lengang, hanya bunyi jangkrik dan katak yang terdengar dari kejauhan. Sebuah usapan pada pipi Celia membuat gadis itu mengerjap. Juragan Arga menatap sepasang mata Celia yang sembab. “Sudah sampai. Kakak mau istirahat dulu atau ke rumah sakit sekarang?” tanyanya untuk memastikan. Celia mengedarkan pandangan. Benar saja, mereka sudah ada di halaman rumah sekarang. Dia pun menghirup udara banyak-banyak lalu diembuskan dengan kasar. Setelah itu, Celia membuka pintu mobil, tanpa menjawab pertanyaan dari papanya. Dia langsung berjalan gontai menuju teras rumah. Juragan Arga hanya menghela napas. Putrinya itu memang keras kepala sejak dulu. Karena itu, dia begitu berharap pada sosok Gus Raysi

