BAB 66 Mutia tersenyum puas melihat wajah Celia yang merah padam ketika video itu selesai diputar. Gebrakan pada meja dan kepergian Celia dalam keadaan penuh kemarahan membuat dirinya yakin, jika masih sangat mudah untuk menjauhkan Celia dari Abimanyu, lelaki yang sudah memenuhi hati dan pikirannya. “Masih kecil, sok-sokan mau deketin cowok!” cebik Mutia seraya memasukkan gawai ke tasnya. Gegas Mutia menelpon Abimanyu yang akhir-akhir ini tak memiliki lagi waktu untuknya. Karena hal itu juga, dirinya meradang dan berpikir jika Celia adalah penyebab di balik perubahan Abimanyu itu. “Assalamualaikum, Abi.” Mutia berucap dengan lembut. “Waalaikumsalam. Ada apa, Mut?” Suara seseorang dari seberang sana terdengar lelah. “Abi, kamu diminta umi ke rumah. Ada hal yang akan dibicarakan, katan

