Kill Dareel! ♥2♥

2233 Kata
Kill Dareel! ♥2♥ Bagian 2 ♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥ Dareel mengambil tangan kanan Alona membuat wanita itu menatapnya sinis, kemudian Dareel menyerahkan kunci apartementnya kepada wanita itu dengan sebuah senyuman. "Ku beri waktu sepeluh menit kau bertemu dengan peliharaan tersayangmu itu, setelah selesai bertemu dengannya temui aku di kamarku," ucap Dareel mencubit pipi Alona gemas. Alona hanya menatap Dareel dengan pandangan sebal, ingin rasanya dia membunuh Dareel dan membuang mayat pria itu ke dasar laut. Lalu Dareel pergi menuju kamarnya dengan sebuah siulan. Sedetik kemudian Dareel kembali menoleh kearah Alona, "Ohya, jangan coba melarikan diri. Jika kau berani melarikan diri aku akan memperlihatkan rekaman ciuman panas kita tadi pada Delon!" ancamnya dan kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Alona menggeleng pelan, dia sudah pasrah dengan hidupnya saat ini. Kedepannya dipastikan Dareel akan membuat hidupnya semakin menderita. Memikirkan itu membuat hati Alona semakin miris. Seandainya saja dia tahu pemilik perusahaan di tempatnya bekerja sakit jiwa, dia tidak akan pernah melamar kerja di perusahaan Dareel. Perusahaan Dareel adalah perusahaan terbesar di Jakarta dan perusahaannya bertumbuh pesat sepanjang tahun, pendapatan keuntungan bersih perusahaan milik Dareel hingga triliuan rupiah setiap tahunnya. Dareel bisa membeli apapun dengan kekayaan itu, termasuk diri Alona! Awalnya Alona sangat ingin bekerja di perusahaan Dareel, bekerja disana adalah impiannya. Siapa yang tidak ingin bekerja di perusahaan terbesar di Jakarta seperti perusahaan yang di kelola Dareel. Gedungnya sangat mewah dan berkelas, gaji para karyawan disana sangat besar. Setelah dia lulus kuliah, dia langsung melamar di perusahaan milik Dareel. Biasanya jika melamar pekerjaan bagian HRD (Human Resources Departement) yang melakukan sesi wawancara, sampai proses penyeleksian. Tetapi ketika Alona melamar di perusahaan itu, bukan HRD yang mewawancarainya melainkan Dareel sang bos besar di perusahaan itu. Alona sangat terkejut ketika mengetahui yang akan mewawancarainya adalah pemilik perusahaan itu langsung. Ketika Dareel menerima lamaran pekerjaannya, Alona sangat bahagia, bahkan dia sampai menangis di hadapan Dareel. Tidak tanggung-tanggung Dareel menjadikan Alona sekretaris pribadinya dengan gaji yang sangat besar. Saat itu adalah hari yang terindah untuk Alona. Sepanjang waktu Alona selalu berdoa kepada Tuhan sebagai ucapan terima kasihnya karena telah membukakan pintu rezeki untuknya. Tetapi kini Alona ingin melepaskan diri dari Dareel, dia terus berdoa kepada Tuhan agar melepaskannya dari jeratan Dareel dan dia sangat menyesal bekerja di perusahaan Dareel. Sudah empat tahun dia menjadi sekeretaris Dareel dan dia sudah tidak tahan dengan semua perlakuan Dareel kepadanya. Alona hanya sekretarisnya, tetapi Dareel kerap memperlakukannya sesuka hatinya. Dareel memperlakukan Alona seakan wanita itu adalah miliknya. Kemudian Alona bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu, lalu membuka pintu apartement itu dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Dia tidak ingin membuat Delon cemas. "Ya Tuhan Alona!" seru Delon dan memeluk kekasihnya itu sebentar, kemudian dia memutar tubuh Alona untuk memastikan kondisi kekasihnya itu. Dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada kekasihnya itu, jika dia menemukan sebuah luka pada diri Alona, dia akan memberi pelajaran kepada Dareel. "Aku baik-baik saja..." ucap Alona tersenyum. Delon merengkuh wajah Alona, "Kau yakin?" tanyanya tidak percaya, Alona mengangguk dengan senyuman tipis. "Delon, lebih baik kau pulang. Aku harus tinggal di sini, Dareel memberikan pekerjaan yang sangat banyak untukku..." ucap Alona berbohong. Delon menggeleng, "aku tidak mau pulang, aku ingin menemanimu. Lagipula sekarang sudah jam tujuh malam, aku tidak akan membiarkanmu berduaan saja dengan atasanmu yang gila itu." Tolaknya. "Tenang saja sayang, aku akan baik-baik saja. Please, Delon pulanglah, aku tidak ingin semakin memperkeruh suasana. Kau tahu kan Dareel seperti apa?" ucap Alona frustasi dan memohon agar Delon segera meninggalkan apartement terkutuk ini. Delon menghela napasnya berat, dia tidak rela meninggalkan kekasihnya hanya berdua dengan Dareel. "Baiklah, kau hati-hati ya sayang. Kabari aku, jika dia melakukan yang tidak senonoh kepadamu hubungi aku dan juga polisi." Ucap Delon akhirnya. Alona hanya mengangguk pelan dengan senyuman tipis. "Kalau begitu aku pulang, aku akan menjemputmu besok dirumahmu..." "Aku tidak pulang kerumah sepertinya, mungkin aku akan menginap di apartement yang pernah Dareel berikan untukku, tepat di sebelah apartemennya." Ucap Alona berbohong, dia sengaja mengatakan hal itu agar Delon tidak mencemaskannya. "Ya sudah, besok aku akan menjemputmu disini... Hati-hati dengan Dareel, dia adalah pria jahat." ujar Delon, jemarinya mengusap pipi Alona, lalu dia mengecup kening Alona dengan sangat lama, "aku pulang," pamitnya. "Hati-hati!" seru Alona memperingatkan, kemudian dia menutup pintu apartement milik Dareel setelah Delon tidak terlihat lagi. Alona menghela napasnya sambil memandangi apartement terkutuk ini, kemudian dia melangkahkan kakinya ke kamar Dareel dengan ragu. Apartement milik Dareel memiliki desain yang keren, perpaduan antara gaya Maroko serta memiliki unsur Eropa. Sebenarnya Alona sangat menyukai desain Apartement ini dan betah berlama-lama di tempat ini, tapi sayang sang pemilik apartement ini sangat menyebalkan. Setelah berada di dalam kamar Dareel langkah Alona terhenti seketika saat melihat Dareel membuka celana jeansnya. "Pak Dareel!" teriak Alona menutup wajahnya membuat Dareel terkejut, "Pak! Tolong pakai celana bapak kembali!" perintahnya gusar. Dareel tidak peduli dengan perkataan Alona, dia tetap membuka celana jeansnya dan kini dia hanya memakai celana boxer berwarna hitam. Kemudian dia merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya dan menyelimuti bagian bawah tubuhnya. Senyumnya melebar ketika melihat Alona masih berdiri di sana sambil menutupi wajahnya itu. Lalu Dareel memberikan sebuah siulan ringan kepada Alona, "hey sexy kemarilah..." serunya. Alona menyingkirkan tangannya dengan mata menyipit, dia tidak ingin melihat tubuh naked Dareel, bisa-bisa matanya terkena bintitan. "Peliharaanmu sudah pulang?" tanya Dareel kemudian. Alona mengangguk malas, bossnya itu selalu memanggil Delon dengan kata 'peliharaan'. Delon bukanlah peliharaannya tapi kekasihnya, "Pak Dareel, aku hanya sekretarismu pak, kenapa bapak selalu memintaku untuk menemani bapak tidur?" tanyanya heran. Dareel berpikir, lalu mengangkat bahunya, "Tidak tahu deh, aku hanya ingin saja." Jawabnya santai. Alona menggeleng, itu bukanlah sebuah jawaban, "Bapak kenapa tidak meminta kepada wanita lain untuk menemani bapak tidur? Kekasih bapak kan banyak dimana-mana." Yah Dareel memiliki banyak teman wanita, tetapi dia tidak serius menjalin hubungan dengan para wanita itu. Dia hanya ingin main-main saja untuk menyegarkan pikirannya. "Aku sedang malas dengan mereka. Lagipula mereka kan wanita, yang ada aku tidak bisa tidur sepanjang malam karena mengerjai mereka." Ujar Dareel tanpa rasa malu. Alona terngaga mendengar perkataannya, "aku juga wanita lho pak!" serunya penuh penekanan, sungguh hatinya sangat takut saat ini. Dia sangat takut Dareel akan berbuat yang tidak-tidak kepadanya. "Ohya, kau wanita yah? Astaga aku lupa!" balas Dareel menepuk keningnya, Alona hanya tersenyum kecut mendengar gurauannya itu, "tapi kau benar wanita kan, Alona?" tanya Dareel seakan meragukan jenis kelamin Alona. Alona tersenyum lebar, "Bukan aku banci, dulu aku adalah pria dan aku operasi kelamin menjadi wanita!" jawabnya kesal. "Wow!" seru Dareel histeris, "Kalau begitu boleh aku cicipi dirimu? aku ingin tahu bagaimana rasanya seorang transgender." Canda Dareel membuat Alona terperangah, wanita itu tidak percaya Dareel menanggapi serius perkataannya. "Bapak sudah gila yah?!" pekik Alona marah. Dareel tertawa kencang melihat kemarahan diwajah Alona, "kau sangat lucu sekali Alona!" serunya di sela tawanya. Alona hanya menatap Dareel dengan perasaan kesal, "kemarilah Alona..." ucap Dareel kemudian. Alona menggeleng, dia tidak sudi berdekatan dengan Dareel. "Jika kau tidak mau kesini, aku akan mengirim video ciuman panas kita kepada Delon..." ancam Dareel kembali dengan salah satu alis terangkat. Alona berdecak sebal, lalu dia menghampiri Dareel dan naik ke atas ranjang dengan sangat terpaksa, dia tidak ada pilihan lain. Alona tidak ingin Dareel mengirim video terkutuk itu kepada Delon, bisa-bisa hubungannya berakhir. Dia tidak ingin mempertaruhkan hubungannya dengan Delon, biarlah dia menderita. Dareel tersenyum penuh kemenangan ketika Alona menuruti perintahnya. Alona menjauhkan sedikit tubuhnya ketika Dareel ingin memeluknya. "Sudah malam Alona, kita harus tidur. Besok pagi kita banyak sekali perkerjaan..." ucap Dareel tersenyum manis. Alona menatap Dareel dengan pandangan heran, Kita? Tanya Alona dalam hatinya. Lalu Dareel membawa Alona ke dalam dekapannya, jemari Dareel mengusap lembut rambut Alona saat wanita itu merebahkan kepalanya di dadanya. Malam ini sepertinya Dareel bisa tidur dengan nyenyak. Setiap dia susah tidur, dia selalu meminta Alona untuk menemaninya tidur. Dareel bisa tidur dengan nyenyak, tetapi tidak dengan Alona. Dia harus berjaga sepanjang malam, dia tidak ingin Dareel melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya. Pada akhirnya Alona terlelap nyenyak di pelukan Dareel, dia tidak bisa menahan rasa mengantuknya lebih lama lagi. ♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥ Keesokan paginya... Dareel membuka kedua matanya sambil merenggangkan otot-ototnya yang kekar. Matanya menyipit ketika mendengar suara dengkuran halus disampingnya, Dareel kemudian menoleh. Sedetik kemudian senyumnya melebar, dia lupa jika Alona tidur bersamanya. Pria itu memandangi wajah Alona yang tengah terlelap nyenyak, Alona terlihat damai disana. Jemari Dareel menyusuri wajah Alona, saat ingin mencium pipi wanita itu tiba-tiba ponselnya berdering. Dareel langsung mengambil ponselnya dari atas nakas, keningnya berkerut ketika nomor yang tidak dikenalnya menelponnya. Dia paling malas menerima panggilan telepon dari orang yang tidak dikenalnya. Dengan terpaksa Dareel mengangkat panggilan telepon itu. "Halo?" serunya dengan suara serak. "Mr. Dareel! Dimana Alona?!" tanya seseorang itu penuh amarah. Dareel berdecak kesal, dia sangat tahu pemilik suara itu, "bersamaku!" jawabnya malas dan langsung mematikan sambungan teleponnya, "ganggu ajah!" keluhnya. Kemudian dia bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi, dia ingin menyegarkan tubuhnya sebelum Alona bangun dari tidur indahnya. ♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥ Alona mengerjapkan kedua matanya ketika mendengar suara gemericik air dari kamar mandi. Tidak lama Alona bangkit dari tidurnya ketika nyawanya sudah berkumpul, lalu dia berjalan keluar dari kamar Dareel dengan tergesa-gesa. Dia harus segera keluar dari apartement terkutuk ini sebelum Dareel selesai mandi. Dia tidak ingin berlama-lama berada di dekat atasannya yang super gila itu. Ketika berada di ruang tamu, dia langsung mengambil tas kecilnya. Kemudian dia membuka pintu apartement dan menutupnya dengan sangat pelan. "Ya Tuhan!" pekik Alona terkejut saat melihat Delon tepat berdiri dibelakangnya ketika dia berbalik. Melarikan diri dari atasannya diam-diam terasa seperti ini membuat jantungnya berdebar kencang, dia sangat takut ketahuan oleh Dareel. "Alona, kau menginap di apartement Dareel?!" tanya Delon berteriak penuh amarah ketika melihat kekasihnya itu baru saja keluar dari apartement musuhnya itu. Delon tidak percaya Alona menginap di apartement Dareel. Dia sangat cemas dan khawatir ketika kekasihnya itu tidak mengangkat telepon darinya. Tingkat kecemasannya semakin tinggi ketika dia menelepon Dareel untuk menanyakan keberadaan Alona, ternyata kekasihnya itu bersama Dareel. Semalam suntuk dia tidak bisa tidur memikirkan Alona, ingin rasanya dia membunuh Dareel! Alona langsung menutup mulut Delon, "aku akan menjelaskan padamu nanti!" bisiknya dan menarik Delon dan pergi segera mungkin dari apartement terkutuk ini. ♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥ Dua jam kemudian... Dareel baru saja tiba di kantornya. Setelah memarkirkan mobilnya dia memasuki kantornya dengan senyuman khasnya. Semua karyawannya menyapanya, Dareel membalas sapaan mereka dengan senyuman hangat. "Pagi pak..." sapa salah satu karyawan wanitanya bernama Citra. "Pagi Citra!" balas Dareel, "Kau terlihat cantik pagi ini," pujinya membuat wajah Citra bersemu merah. Kemudian Dareel melangkahkan kakinya menuju lift. Setelah berada di lantai sepuluh, Dareel keluar dari lift dan berjalan menuju ruangannya. Langkahnya terhenti saat melihat Alona di mejanya yang tengah sibuk dengan beberapa dokumennya. Dengan langkah cepat Dareel langsung menghampiri Alona. "Kenapa kau menghilang begitu saja pagi tadi?" tanya Dareel marah tanpa sedikitpun basa-basi. Alona sangat terkejut dengan kedatangan Dareel, "Maaf pak, aku tidak membawa pakaian kerja, jadi aku pulang." "Kau seharusnya meminta izin padaku!" protes Dareel. "Tapi bapak sedang mandi, aku tidak mungkin meminta izin kepada bapak disaat bapak sedang mandi." Balas Alona. Alona benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Dareel, jika dia meminta izin kepada Dareel sangat dipastikan pria itu tidak akan membiarkannya pergi. Karena Dareel, Delon marah kepadanya. Hubungan Alona dan Delon bisa-bisa retak karena ulah atasannya itu. Dareel berdecak malas, lalu dia melangkahkan kakinya menuju ruangannya, dia sedang malas berdebat dengan Alona. Alona menghembuskan napasnya lega ketika Dareel menutup pintu ruangannya dengan begitu kasar. Alona tahu Dareel sangat marah kepadanya, tetapi dia tidak peduli, lebih baik Dareel marah kepadanya. Jika Dareel marah bisa membuat hidupnya aman. Dareel pernah sekali waktu marah dengannya dan selama dua minggu pria itu tidak menganggunya dan juga tidak meminta pertolongan darinya. Alona bebas merdeka jika atasannya itu marah dengannya. Tiba-tiba telepon kantornya berbunyi membuatnya terkejut setengah mati, dengan perasaan kesal Alona langsung mengangkat telepon itu. "Ke ruanganku sekarang!" perintah Dareel sebelum Alona membuka mulutnya. Alona menghembuskan napasnya kesal, baru saja dia bernapas lega tadi. Dengan malas Alona bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju ruangan Dareel. Setelah berada di ruangan atasannya itu hatinya terus berdoa kepada Tuhan untuk melindunginya. "Kau sedang sibuk?" tanya Dareel tanpa menatap Alona. "Lumayan..." "Tinggalkan pekerjanmu dan ikut denganku." Ucap Dareel. "Kemana pak? Bukannya hari ini bapak ada rapat penting?" tanya Alona heran. "Ya aku tahu! Aku membatalkan rapat itu kemarin saat kau cuti!" jawab Dareel sinis. Alona menatap Dareel tidak percaya, "Batal?!" pekiknya. Dareel mengangguk, kemudian memandangi Alona yang sedang menatapnya terngaga, "itu semua gara-gara kau Alona. kau melepaskan tanggungjawabmu pekerjanmu begitu saja!" ucapnya membuat Alona bingung. "A-aku tidak melepaskan tanggungjawabku pak. Lagipula kemarin saat aku cuti tidak ada rapat pak dan rapatnya baru dilaksanakan hari ini, kenapa bapak malah membatalkannya?" tanya Alona heran. "Suka-suka aku lah! Masalah memang buatmu?!" jawab Dareel menaikan salah satu alisnya. Alona menggeram kesal mendengar jawaban Dareel, "ya sudah terserah bapak saja!" ujarnya dan berbalik, dia ingin segera keluar dari ruangan Dareel sebelum atasannya itu semakin membuatnya gila. "Alona!" panggil Dareel ketika Alona ingin membuka knop pintu ruangan Dareel, "buatkan aku secangkir kopi." Perintahnya membuat Alona terkejut. Alona kontan berbalik, "maaf pak, bapak bisa meminta mang Asep untuk membuatnya." Tolaknya dan mengusulkan salah satu office boy yang bekerja di tempat ini. "Aku ingin kau yang membuatnya," ujar Dareel sambil mengedipkan salah satu matanya. Dengan perasaan kesal Alona keluar dari ruangan Dareel, dia benar-benar membenci Dareel, sangat membenci atasannya itu. Lalu dia berjalan menuju pantry untuk membuatkan kopi hangat untuk atasanya itu. ♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN