Angel sedikit meringis saat melihat sosok ibunya yang sudah berdiri di teras rumahnya sambil berkacak pinggang. Salahnya sendiri karena terlalu asik mendengar cerita Erik, sampai lupa waktu dan mengaktifkan ponselnya kembali setelah tadi sempat dia matikan gara-gara mendapat telepon dari Rangga. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dan tentu saja itu sebuah pelanggaran untuk ibunya. “Emh, Rik. Thanks, ya sudah mengantarku sampai rumah,” ucap Angel seraya menatap ke arah pria yang sejak beberapa jam lalu sudah dia akui sebagai temannya. Ya, hubungan Angel dan Erik sepertinya sudah lebih akrab, bahkan gadis itu memanggil Erik tidak lagi dengan panggilan formalnya. Erik membalas senyuman Angel. “Apa aku boleh ikut minta air dulu, Njel? Tadi, tidak sempat minum setelah berjam-jam be

