“Sar! Sarah!” panggil Rangga seraya mengetuk meja sedikit keras saat melihat perempuan itu malah asik melamun. Sarah sedikit terperanjat dan langsung menatap Rangga yang sama-sama sedang menatapnya disertai kening berkerut. “A—Ah, maaf, Kak!” “Kamu ke sini, apa ada keperluan sama aku?” Sarah tersenyum—kaku. “Ka—kalau Kakak gak sibuk, boleh temani aku makan siang, tidak? Ta—tadi aku akan makan siang sama teman lama, te—tetapi mereka tiba-tiba membatalkannya.” Rangga terdiam sejenak, lalu mengembuskan napasnya. “Maaf, Sar! Hari ini kerjaanku banyak sekali.” “O—Oh, begitu, ya? Ka—kalau aku makan siangnya di sini, boleh tidak, Kak? So—soalnya kalau sendiri di tempat lain, aku agak gimana, gitu. Ka—kalau makan di rumah dan ketahuan sama orang rumah, pasti bakalan dimarahi, apalagi sama n

