“Astaga!” Angel terperanjat saat sebuket bunga tiba-tiba menghadangnya. Matanya menyorot galak pada si tersangka, tetapi langsung terdiam kemudian mendengus keras sambil berlalu.
Angel terus berjalan, tak mengindahkan panggilan pria yang saat ini mengejarnya sambil membawa buket bunga itu. Melihat kembali wajah pria itu, emosi Angel malah semakin meningkat.
Saat inidirinya sedang tak ingin diganggu. Titik.
“Hei! Beb.” Gio berhasil meraih lengan Angel. Menatap lekat ke arahnya dan dibalas gadis itu dengan memalingkan wajahnya.
“Aku pikir kamu bakalan kangen sama aku, Beb.”
Angel tersenyum miring, meremehkan. “Beb? Siapa anda? Saya gak kenal.” “Setelah hilang tanpa kabar hampir sebulan ini, datang-datang bilang kangen? Mual gua.”
Gio mengembuskan napasnya, frustasi. “Maaf, untuk beberapa minggu ke belakang ini aku gak ada kabar. Dua hari setelah kita bertengkar di hari itu, aku tiba-tiba dihubungi adikku yang kuliah di negara S, dia mengalami masalah di kampusnya. Beasiswa yang dia dapat tiba-tiba dicabut oleh pihak universitas tanpa ada alasan yang jelas. Karena panik, juga hatiku masih marah akibat insiden itu, aku sengaja tak mengabari kamu.”
Angel seketika menatap Gio dengan dahi berkerut. Diana, adik Gio yang berkuliah di negara S dengan jalur beasiswa. Dia gadis yang sopan dan cerdas.
Lalu, kenapa bisa sampai dicabut?
Meski dirinya baru bertemu satu kali dengan Diana. Namun, Angel tahu, gadis itu sangat berprestasi dan memiliki attitude yang baik sekali.
“Apa masalahnya sudah selesai?” Rasa kesal Angel terhadap Gio hilang seketika, digantikan dengan raut wajah serius. Antara khawatir juga kasihan.
Gio mengembuskan napasnya, lalu tersenyum, “Tadinya aku hampir menyerah dan berniat mengajaknya pulang ke sini. Bagaimanapun, biaya kuliah di sana sangat besar dan aku takkan sanggup karena harus membaginya dengan adikku yang lain.”
Napas Angel tercekat, lupa jika pria yang menjadi pacarnya ini adalah tulang punggung keluarga. Anak yatim yang harus membiayai ibu dan ketiga adiknya.
“Tapi, tepat ketika aku mau urus kepulangan kami. Diana dipanggil lagi oleh pihak kampus dan mendapatkan beasiswanya kembali. Kata pihak kampus itu dari donatur baru asal negara kita.”
Tanpa sadar, Angel mengembuskan napasnya keras. Bahkan tangannya ikut mengusap d**a saking leganya. “Aaah, syukurlah. Bagaimanapun sangat sayang jika berhenti di tengah jalan. Diana pantas mendapatkan yang terbaik, dia gadis yang sangat berharga,” ucapnya senang.
Senyum Gio semakin lebar, merasa senang bahwa pacarnya sudah tak kesal lagi. Kembali dia ulurkan bunga yang belum diterima gadisnya itu. “So, forgive me, please!”
Angel mendengus, tapi tangannya meraih bunga tersebut. “Traktir dulu aku makan, baru aku maafkan.”
“Oke, di tempat biasa, ya. Aku udah kangen sama tempat itu.”
Angel cemberut. “Kirain, cuma aku saja yang dikangenin, tapi mbak-mbak tukang bakso juga kamu kangenin.”
Gio memencet hidung mungil pacarnya sedikit keras, membuat gadis itu menjerit kesal.
“Iiiih, kebiasaan. Hidungku langsung merah, tahu.”
Gio tertawa, lalu merangkul pundak Angel. Membawa gadis itu keluar kantor untuk makan siang di tempat langganan mereka.
.............
“Terima kasih ya, sudah traktir.” Angel tersenyum lebar ke arah Gio. Ternyata makan siang bareng pria ini tak buruk juga. Dia malah senang karena hubungan mereka kembali baik.
Gio ikut tersenyum. “Jadi, setelah kenyang, aku udah dimaafin, 'kan?”
Angel terkekeh, menghirup aroma bunga yang dipegangnya sambil menjawab. “Emang siapa juga yang marah. Yang seharusnya marah 'kan kamu, hehehehe.”
Gio tertegun. Benar, yang seharusnya marah 'kan dirinya. Tapi, “Kamu berarti dong yang salah.”
“Bukan juga. Aku 'kan gak sengaja meluk dia.” Angel meringis saat mengingat kejadian saat itu. Ingat siapa yang dia peluk, lebih tepatnya.
“Ya sudah. Deal, ya. Sepakat kita lupakan insiden itu. Aku berharap semoga kita gak bertemu lagi dengan pria itu.” Air muka Gio mendadak sedikit mengeruh. Mungkin karena kembali teringat saat pacarnya memeluk pria lain.
Tubuh Angel langsung menegang, tetapi buru-buru menguasai dirinya kembali. “Beb, aku balik ke dalam ya, sekarang. 15 menit lagi waktu istirahat habis,” pamit Angel sambil mengecup pipi Gio. Padahal dia berniat kabur dari topik si ‘pria’ yang dimaksud pacarnya. Lebih baik seperti ini. Gio belum saatnya tahu jika pria yang dimaksud pacarnya, adalah boss barunya.
Gio kembali menaiki mobilnya. Sementara Angel masih setia menunggu sampai mobil itu tak terlihat lagi.
“Ciyeee, Bu Angel diapelin lagi setelah sekian lama gak terlihat pacarnya.”
Angel menoleh, dua gadis tengah menatapnya menggoda. Angel hanya menanggapinya dengan tawa kecil. Kepribadian Angel memang humble, jadi tak heran jika dia mempunyai banyak teman di tempat kerjanya.
Dan hampir semua karyawan di sana tahu jika dirinya sudah memiliki pacar. Karena tak jarang Gio selalu menjemput pulang atau mengajaknya makan siang.
“Aku duluan ya, Guys. Daaah!” ucap Angel sambil melambaikan tangan.
‘Tring’
Angel duduk di balik meja kerjanya. Menaruh bunga pemberian Gio, lalu mengambil ponselnya.
[Jangan lupa, setelah pulang, bunganya pindahin ke pot dan beri air, biar gak cepat layu. Mubazir kalau hanya bertahan satu hari. Heee]
Angel mendengus geli setelah membaca pesan dari Gio. Mungkin terbiasa hidup hemat karena sedari remaja dia sudah menjadi tulang punggung keluarganya, membuat pria itu sedikit perhitungan.
“Kalau sayang sama uangnya, kenapa repot-repot bawain bunga,” sahut Angel yang tentu saja takkan didengar Gio. Buru-buru dia mengetikkan sesuatu untuk membalas, [Siap laksanakan, Beb. Kalau perlu aku kasih air keras biar tahan lama. Hehehe. #Becanda_Beb. ?]
Angel menaruh kembali ponselnya, lalu mengambil buket bunga itu dan membawanya ke depan hidungnya untuk dihirup aromanya. Harum, Angel menyukainya sampai dirinya berkali-kali menghirupnya.
Ting!
Suara dentingan lift terdengar nyaring. Angel menoleh dan matanya langsung menangkap sosok bossnya keluar dari kotak persegi itu, seorang diri. Karena lift itu memang langsung tertuju pada ruangannya membuat dirinya langsung mengetahuinya.
Angel buru-buru menaruh buket bunganya di atas kursi duduknya, dan berdiri tegak dengan kepala sedikit menunduk menyambut kedatangan bossnya. Dari gelagatnya, Angel berfirasat kalau mood pria itu kembali buruk.
“Selamat siang, Sir---”
“Duduk!” Belum juga Angel menyelesaikan ucapannya, Rangga langsung menyerobotnya dan menyuruhnya tegas. Jangan lupakan nada bicara pria itu yang bahkan kuping Angel tiba-tiba terasa sakit saking tajamnya.
“Ya, Sir?”
Rangga berdecak keras. Secepat kilat tubuh tingginya menghampiri meja Angel. Dan membungkukkan badannya dengan tangan bertumpu di atas meja. Andai saja Angel terlambat mundur sedetik saja, dia yakin kalau wajah mereka akan beradu.
“Kyaa!” Karena mundur tiba-tiba, membuat Angel hilang keseimbangan hingga terjatuh, duduk di atas kursinya. Namun, detik berikutnya dia kembali berdiri, matanya melotot melihat buket bunga pemberian pacarnya sudah lecet karena tertimpa tubuhnya.
Dengusan Rangga kembali terdengar. Angel memberanikan diri untuk menatap wajah pria menyebalkan ini.
“What the hell? Apa-apaan senyuman itu?” rutuk Angel dalam hati. Bibir bossnya tersungging miring sambil menatap bunganya dengan pandangan meremehkan.
“Ck, saya tidak menyangka selera bunga kamu seburuk itu. Bunga yang sangat jelek. Buang, jangan membawa sampah ke tempat saya. Bikin sakit mata saja,” cerocos Rangga sambil berlalu.
“You bastard. Berani sekali mengejek bunga milik gua.” Angel menatap punggung Rangga dengan penuh permusuhan. Berbagai serapah terus melontar mengiringi kepergian pria itu.
Rangga tiba-tiba kembali berbalik setelah tiba di depan ruang kerjanya. Angel tersedak karena harus mengganti mimik mukanya dalam sedetik. “Siala*, hampir saja gua ketahuan sudah memelototinya.”
“Panggilkan teman kamu yang bekerja di bagian HRD itu. Jangan pakai lama, dan awas jangan lupa. Bu-ang bu-nga je-lek itu!"
Brak!
Tubuh Angel berjingkat, kemudian merutuki kelakuan bossnya yang seperti bunglon itu. “Gua kira setelah makan siang dengan istrinya dia akan sedikit jinak. Ini malah makin sangar.”
Kriiiiing ....
Angel dengan cepat mengangkat teleponnya. “Dengan----”
“Ini sudah waktu kerja. Jangan malah sibuk dengan urusan sendiri!” Tut.
Angel menatap gagang telepon dengan mata melotot. Lalu melirik jam di pergelangan tangannya. Masih ada waktu 5 menit lagi. “Dasar lu, cowok PMS. Masalah pribadi jangan dibawa ke kantor. Gak profesional banget,” batin Angel mengamuk.
Daripada ikutan sakit kepala karena memikirkan sikap bossnya yang naik-turun kayak roll coaster. Angel lebih memilih untuk kembali fokus pada kerjaannya. Meski waktu istirahatnya masih ada 5 menit lagi, tapi tak apa. Itung-itung sedekah sama orang kaya.
Kriiiiing ....
Astagaa! Baru juga dia memulai, sudah ada pengganggu lagi.
“Dengan----”
“Saya tunggu teman kamu yang dari bagian HRD itu 5 menit. Kalau sampai dia terlambat, jangan salahkan salah untuk konsekuensinya.” Tut.
“Saia tunggu teman kamyu ....” Angel memperagakan ucapan Rangga dengan bibir yang dimoyongkan. Dasar tukang perintah.
Meski hatinya dongkol, Angel tetap melaksanakan perintah Rangga. Menghubungi bagian HRD yang tentu akan diterima oleh Jasmine. Meminta gadis itu agar segera menemui boss mereka.
“Ssttt!”
Angel mendongak dan mendapati temannya, Jasmine.
“Ada apa? Gak biasanya gua dipanggil ke sini,” ungkap Jasmine yang merasa heran mendapat perintah dari bossnya tiba-tiba.
Angel mengangkat bahunya. “Mana gua tahu. Sana gih, hati-hati aja, Jass. Pria itu dalam mood sangar.” Angel mencondongkan tubuhnya dan meminta temannya agar mendekat. “Dalam 10 menit terakhir aja gua udah kena semprot sebanyak empat kali.”
Kriiiiing.
“Astaga!”
Angel dan Jasmani menekan d**a mereka karena kaget. Menghirup udara sebelum mengangkat telponnya, “Dengan----”
“Lima detik lagi. Ingat kon-sek---"
“Nona Jasmine sudah di depan pintu ruangan anda, Sir.” Angel memotong ucapan Rangga, sementara tangan satunya terus mengibas, berisyarat meminta Jasmine agar segera mengetuk pintu pria itu.
“Berani sekali kamu memotong perkataan saya.”
Angel melotot. Baru menyadarinya. Tapi, jangan salahkan dia, lah! Itu semua gara-gara ancaman bossnya sendiri. Lagian, kenapa dia tak boleh memotong pembicaraan pria itu, sementara dirinya sering diperlakukan seperti itu olehnya.
Untuk pertama kalinya Angel membenarkan bahwa uang lebih berkuasa di atas segalanya.
“Maaf, Si--“
“Masuk!” Tut.
“Sakit jiwa!” serapah Angel membatin. Matanya meneleng, melihat Jasmine yang tengah menghirup udara sebelum akhirnya memegang gagang pintu dan mendorongnya.
Fuuuuh. Angel mengembuskan napasnya. “Kira-kira stok kesabaran gua berapa persen lagi, huh? Lama-lama gua beneran darah tinggi.”
Angel kembali fokus pada pekerjaannya. Hari ini dia ingin pulang cepat, Gio berjanji akan main ke apartnya untuk merayakan univ mereka yang sudah terlambat.
BRAKK!!
“Astagaaa, bisa gak sih itu cowok tenang sedikit.” Angel mengurut dadanya yang berdetak cepat. Menatap pintu ruangan bossnya yang tertutup rapat.
Sebenarnya pria itu ada masalah apa sih? Apa penyakit ayan-nya kambuh? Angel yakin suara bantingan itu sangat keras dari biasanya, karena sampai terdengar ke luar padahal ruangan itu kedap suara.
Huh, dasar cowok PMS, marah-marah aja kerjaannya. Padahal di dalam masih ada sahabatnya.
Angel berdiri seketika. Matanya melotot sambil menatap pintu yang tertutup rapat di sebelah kirinya.
“Astaga, Jasmine???”