Chapter 7

1699 Kata
Brak! "Astaga." Angel memegang dadanya yang berdebar kencang. Matanya semakin lekat menatap pintu berwarna coklat di depannya. Suara apa itu? Dan kenapa Jasmine belum keluar juga? Apa Rangga melakukan aksi kekerasan pada temannya? God, apa yang harus dia lakukan sekarang? Angel terus mondar-mandir di depan meja kerjanya, sesekali kembali menoleh ke ruangan bosnya. Fix. Dia tak boleh berdiam diri saja di sini. Temannya tengah dalam situasi bahaya. Baru saja Angel berniat melangkah, pintu coklat itu tiba-tiba terbuka menampilkan sosok temannya yang .... "Fiuuuuh." Angel merasa lega karena Jasmine keluar dalam keadaan tubuh yang masih utuh. Namun, hanya satu yang berubah, wajah perempuan itu ditekuk. Wajar sih, siapa yang gak bete kalau habis diamuk? Sebenarnya, apa salah si Jassy? Seingatnya, dia orang yang sangat komponen dalam bekerja. "Jass! Lu gak papa?" selidik Angel saat temannya sudah berada di dekatnya. Jasmine menatap Angel sedikit aneh, masih tersisa kemarahan dalam pancaran cantik perempuan itu. "Lu tadi maksi sama siapa sih?" tanya Jasmine tiba-tiba. "Heh?" Angel mengernyit tak paham dengan arah pertanyaan temannya. "Gio, kenapa?" Jasmine mengerjap beberapa kali, "Gio? Giorgio, pacar lu yang kabur itu?" Angel memutar bola matanya. "Entar deh gua ceritain. Kenapa sih lu malah bahas Gio?" tanyanya sambil mendekatkan tubuhnya pada Jasmine. "Lu gak diapa-apain 'kan sama boss kita di dalam?" bisik Angel hati-hati. Jasmine mendelik, lalu mencebik. "Jangan salah paham! Telinga gua denger suara gebrakan meja kenceng sekali. Lu sendiri tahu 'kan kalau ruangan boss kita itu kedap suara." "Bukan gebrakan meja, tapi bantingan barang pada pintu coklat itu." Dengusan Jasmine kembali terdengar. Matanya menatap nyalang ke arah pintu yang tadi dilewatinya seolah tengah menatap manusia yang dia temui barusan. "Eh, lu beneran 'kan maksi sama si Gio. Bukan si Ogi?" "Dih, Ogi Saputra? Ogah!" "Lah, terus salahnya di mana kalau lu maksi sama pacar lu sendiri? Salah lu di mana, Njeeeel?" Angel menggaruk kuncir rambutnya. Tak mengerti dengan ucapan Jasmine. "Ya gak salah lah. Dia 'kan pacar gua. Bukan suami orang." "Itu dia." "Eh, kenapa malah bahas maksi gua sama siapa. Gua kan tanya lu kenapa dipanggil, terus si boss marah-marah sama lu?" Jasmine mengembuskan napasnya. Mengatur emosi yang masih tersisa di tenggorokannya. "Justru itu, gua juga gak ngerti dengan isi pikiran si boss. Pas gua masuk, masa iya gua kena omelan panjang bin lebar. Mana pakai acara banting-banting barang segala. Kasian 'kan sama barangnya. Coba dia banting dirinya sendiri aja. Baru adil." Mata Angel bersinar mendengar cerocosan Jasmine. "Kan-kan-kan, gua bilang juga apa. Kalau boss kita yang sekarang itu emang rada-rada." Jasmine mengangguk. "Benar. Fix, He is crazy, really crazy. Udah ah, gua mending balik lagi. Daaah." "Daaah." Sepeninggal Jasmine, sudut bibirnya Angel terangkat sebelah. Akhirnya, temannya tahu bagaimana sikap asli boss baru mereka. Rasanya, dia ingin cepat-cepat pulang dan menceritakan tentang semua rahasia sikap crazynya si boss baru. "Nyesel 'kan lu udah membanggakan dia. Pak Rangga itu memang gila." "Kok kamu tahu?" "Help me!" jerit Angel saat tiba-tiba seseorang berbisik tepat di dekat telinganya. Dia segera menoleh dan langsung membeku. Rangga sudah di depannya sambil menyembunyikan kedua tangannya di saku celananya. Jantung Angel berpacu dengan gilanya, apalagi saat indra penciumannya menangkap aroma misk yang begitu berkelas. "Sial! Di saat seperti ini, kenapa malah aroma tubuhnya yang tertangkap otak gua." "S-siang, Sir. Apa ada yang bisa saya bantu." "Hmm, dari mana kamu tahu kalau saya ini gila?" Angel melotot. Gawat! "Ma-af, Sir, atas kelancaran saya," ucap Angel membungkuk. "Saya kira kamu memang tahu bahwa saya ini gila." "Eh?" Kepala Angel kembali mendongak. Apa maksudnya? Jadi, dia ngaku gila? "Ya, saya gila." Rangga menatap sekretarisnya intens, "Really crazy about you." What??? Angel mendadak linglung. Pikirannya malah terbang entah ke mana. Bruk! "Astaga!" Angel terperanjat dan kembali bangun dari keterpakuannya. Menatap pria di depannya yang sudah berganti gaya, bersedekap d**a. Lewat matanya, Rangga memberitahu sesuatu di belakang Angel-tepat di meja kerja gadis itu. Angel berbalik, dan lagi-lagi matanya dipaksa melotot saat melihat tumpukan berkas tersusun rapi di meja kerjanya. Meski dia belum tahu apa arti dari tumpukan berkas itu, tetapi feeling-nya merasakan aura yang tidak mengenakkan. Kembali berbalik menghadap bossnya, dengan setenang mungkin Angel mencoba mencari tahu tentang maksud pria ini. "Maaf, Sir. Ini ...?" "Periksa semua berkas itu. Selesaikan hari ini juga." What the ...!!! "T-tapi----" "Suuuttt!" Rangga menempelkan telunjuknya di bibir Angel membuat gadis itu terperanjat kaget dan langsung memundurkan tubuhnya. Menyadari akan sikapnya, Rangga berdeham untuk menetralkan kecanggungan. Sepertinya bukan Angel saja yang kaget, tetapi pria itu juga. "Ekhem, pokoknya kamu selesaikan hari ini juga. Itu sebagai peringatan buat kamu yang sudah melanggar peraturan saya di sini." Rangga segera melangkah ke ruangannya. Menyisakan Angel yang masih mematung di tempatnya. Antara bingung, ingin protes, juga ... syok. Tanpa sadar tangan Angel mengusap bibirnya sendiri. Padahal hanya menempel dan itu tak sampai 2 detik, tapi kenapa efeknya masih terasa? Bahkan jantungnya masih berlarian meski tak sekencang sebelumnya. Gila, itu baru jari, bukan aliran listrik! Lamunan Angel langsung buyar saat ponselnya bergetar. Buru-buru dia kembali ke balik mejanya dan duduk sambil meraih ponselnya. Satu pesan di terima. "Awas aja kalau undian berhadiah TELKO**EL, gua jitak nanti," gumamnya sambil membuka pesan. [Itu baru jari. Bagaimana kalau anggota lain?] Angel menganga tanpa menunggu detik selanjutnya. WHAT THE HELL??? ME-NYE-SAL dia membuka pesannya kalau tahu ini dari siapa. Boss kampret. Matanya mendelik ke arah pintu coklat itu disertai giginya yang bergeletuk. Sangat kesal. Wait! Apa jangan-jangan pria itu mengintip kelakuannya? Oh, No! Angel buru-buru mengibas wajahnya yang mendadak kepanasan. Gawat, ini gak boleh dibiarkan. Buru-buru beranjak dari duduknya, melangkah menuju lift. Dia butuh kopi agar pikirannya tetap lurus, gak kurang satu ons pun. ..... "Arrrgh. Punggung gua," keluh Angel sambil memukul tubuh belakangnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.30. Dia baru saja menyelesaikan pekerjaan yang diberikan boss devil-nya tadi siang. Pria itu benar-benar. Dia sama sekali tidak diberi keringanan sedikit pun. Bahkan sekedar kerjaannya dibawa pulang dan berjanji akan selesai saat dirinya masuk besok, telinga Rangga sudah seperti 'ceuli katel' karena tak mau mendengarkan. Angel merasa seperti bekerja bagai quda'. Bahkan ibunya sudah terus menelponnya karena memang biasanya dia tak pernah kerja lembur. "Fiuuuh." "Bagaimana ngadepin mama nanti, gua. Bisa dicabut izin ngantor kalau begini," dumel Angel entah sudah berapa kali dalam satu menit dia mengembuskan napasnya. Dulu, saat dirinya meminta izin pada sang ibu. Beliau tentu menyetujui dan mendukungnya. Hanya ada satu syarat yang diajukan sang ibu terhadapnya. Yaitu, jangan kerja lembur. "Fiuuuuuuuuuuh, emmm, fiuuuuuuuuuuh." Sambil menetralkan mata dan pikirannya yang sudah dipaksa rodi, seharian ini. Angel melakukan tarikan napas lalu diembuskan, beberapa kali. "Apa perlu saya pijat kamu?" "Setaaaan!" Angel menjerit dan beranjak seketika. Baru saja dia akan kabur, tetapi tangannya keburu dicekal seseorang membuat dia semakin menjerit. "Diam. Ini saya." Tubuh Angel yang tadinya bergerak ke sana- ke mari langsung tenang seketika. Mendongak dan seketika helaan napasnya terdengar panjang. Lega. Sumpah, dia paling parno soal makhluk ghaib. Padahal mereka belum bertemu. "Jadi setelah kamu tahu saya ini gila, sekarang kamu anggap saya setan?" tanya Rangga tajam. "Bukan, Sir." "Tapi jelangkung." "Sudahlah! Ayok kita pulang bareng. Biar saya antar." "Ah, tidak perlu, Sir. Saya bisa pulang sendiri." Dalam hati Angel ingin menangis, baru ingat kalau pagi tadi dia numpang di mobil kakak angkatnya. Hari yang tak begitu beruntung. "Kamu pilih. Pulang bersama saya, atau menginap di sini. Ditemani para ...." "Saya ikut anda pulang. Titik!" Rangga tersenyum miring. "Jenius. Ayok!" Angel berjalan beriringan dengan bossnya. Di samping dirinya memang belum memesan taksi. Lumayan untuk mengirit ongkos juga. "Kamu suka bunga mawar pink?" Angel menoleh ke arah Rangga yang duduk di belakang kemudi. Saat ini mereka sedang di perjalanan setelah pria itu memaksanya untuk menemaninya makan malam. "Saya suka semua jenis bunga, Sir," jawab Angel jujur, "termasuk bunga Ba*k," lanjutnya dalam hati. Dari ujung matanya, Angel memperhatikan reaksi bossnya. Pria itu hanya manggut-manggut tanpa berkata apapun lagi. Namun, satu senyuman terpatri di bibir itu. Manis. Eh? Manis? Siapa yang bilang? ......... Angel mengangguk dan melambaikan tangannya saat teman kerjanya menyapa. Memamerkan senyuman khasnya yang terkenal paling imut sekantor ini-menurut kata orang-orang. "Ekhem, pagi, Mbak Angeli." Langkah Angel terhenti saat suara berat menyapanya. Dahinya mengernyit melihat pria paruh baya yang baru-baru ini diketahuinya adalah asisten pribadi bossnya. "Pagi, Pak," sahutnya sopan. Namanya pak Jaka. Dia masih berhadapan dengan Angel, sesekali menggaruk kepalanya dan bersikap salah tingkah. "Apa ada yang perlu saya bantu, Pak?" tawar Angel. Kasian juga melihat orang tua yang terlihat linglung ini. Apa pak Jaka terlilit hutang? "Ah, i-iya, Mbak. Boss,-" pak Jaka menunjukkan ke sudut kiri di mana lift khusus orang-orang penting. Di sana terlihat Rangga tengah berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Pose warisan cowok-cowok ganteng. Eh, ganteng? Gendeng, iya! Hati Angel terus bertanya, kenapa pria itu masih mematung, padahal pintu lift sudah terbuka, bahkan dari tadi sepertinya. "Boss minta Mbak Angel agar ikut bersamanya." "Ah? O-oh tentu saja." Angel mengikuti langkah pak Jaka. Lalu masuk setelah Rangga masuk duluan. Ladies first? BULSHIT! Ting. Rangga keluar disusul Angel. Namun, hampir saja dahi Angel terkantuk punggung pria itu kalau saja dia terlambat menyadari. "Iya, Sir?" tanya Angel--menegur, niatnya. "Berjalan di sampingku!" Sultan mah bebas, Cuy! Merintah juga mukanya lempeng bae. Keduanya menuju ruangan mereka. Tetapi langkah Angel seketika terhenti saat matanya melihat meja kerjanya. Rangga ikut berhenti dan bertanya dengan dehaman. "I-itu!" tunjuk Angel terbata. Rangga ikut menoleh, seketika bibirnya tersungging meski hanya sebelah. "Wow, meja kerjanya berubah menjadi toko bunga, ya?" Masih dalam kebingungan, Angel menjawab sekenanya. "I--iya, Sir. Siapa yang melakukan pekerjaan tak berguna ini?" Tubuh Rangga langsung berbalik 90 derajat, menghadap lurus ke arah Angel. "Pekerjaan tidak berguna? Maksudnya?!" Feeling Angel langsung terkoneksi. Dari nada suaranya, si boss sudah mulai marah. "Maafkan atas kelakuan orang yang tidak bertanggungjawab ini, Sir! Saya akan bersihkan semua bunga di meja kerja saya. "Kenapa dibersihkan? Bukankah kamu suka bunga?" Waaah, gawat. Bossnya sudah mulai hilang kesabaran, bahkan nada bicaranya sudah seperti menyindir. "Benar, Sir. Tapi, kalau melihat seperti ini, itu terlihat seperti di kuburan, dan itu sangat menyeramkan." Terdengar dengusan kasar dari samping Angel. Tanpa berbicara lagi, Rangga berjalan ke ruangannya. Brak! "Astaganagaaa!" Angel mengusap dadanya seraya mengembuskan napasnya beberapa kali. God, pagi-pagi sudah dapat jackpot angry bird. Padahal tadi, sewaktu mereka bertemu di lift, wajah bossnya terlihat sangat ceria. "Awas saja, kalau gua menemukan manusia yang usil ngirimin gua bunga kayak begini. Kelar hidupnya di tangan gua."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN