Jasmine mengetuk pintu coklat sambil menatap Angel penuh pertanyaan yang dijawab perempuan itu hanya dengan endikkan bahu. Sama-sama tidak tahu.
“Masuk!”
Jasmine membuka pintu dan masuk. Menghampiri bossnya yang masih fokus pada berkas di depannya.
“Maaf, Sir. Ada yang bisa saya bantu?”
Tangan Rangga yang semula tengah bergoyang membubuhkan tanda tangannya di salah satu berkas, sontak terhenti.
Jasmine sedikit terperanjat saat bossnya menaruh pulpen dengan cara membanting. Dalam kebingungan, Jasmine menatap Rangga dan berniat kembali bertanya. Sebelum suara berat milik lelaki itu langsung mencercanya.
“Kenapa anda biarkan Angel makan siang dengan seorang pria? Kamu mau saya banting dari lantai ini sampai ke bawah tanah?”
“Heh?” Dibanding takut, Jasmine malah merasa bahwa bossnya telah salah minum obat. Mengancamnya dengan hal yang menurutnya sangat konyol.
Apaan pakai ancam banting-banting segala. Gelas aja ada label jangan dibanting, apalagi manusia. Emang dia spring bed, tahan banting.
“Maaf, Sir. Saya tidak paham dengan maksud anda. Bukankah anda sendiri seorang pria?”
Tatapan Rangga semakin tajam dan dingin. Dan membuat Jasmine semakin mengerutkan keningnya. Tak ada yang ditakutinya selain Tuhan dan orang tuanya. Terlebih pada manusia yang selalu bersikap semena-mena terhadapnya meski atasannya sekali pun, termasuk pria di depannya ini.
“Maksud saya pria jelek yang menemani makan siangnya hari ini.”
Jasmine mengangguk. “Menurut penilaian saya. Anda termasuk pria lumayan tampan kok, Sir. Jadi anda tidak perlu berkecil hati menganggap diri anda jelek. Anda lumayan, menurut saya.” Tak nyambung memang. Tetapi bukankah hari ini Angel makan siang dengan bossnya ini?
Rangga menggebrak meja kerjanya. “Anda pikir saya sudi menyebut diri sendiri jelek. Dan ... apa yang barusan anda bilang? Lumayan?” Mata Rangga melotot, tak percaya mendengar seseorang-terutama perempuan menyebutnya bertampang lumayan. Apa mata perempuan ini masih banyak belek?
Jasmine semakin kebingungan. Tapi lebih dari itu, dalam hati dia tertawa mengejek, tidak percaya bahwa pria yang dia kenal sangat tenang dan dingin ini mempunyai sisi narsis yang over dosis.
Laah, kalau bukan dia, siapa? 'Kan biasanya si Angel maksinya bareng dia. Aneh. Lagian itu urusan si Angel kenapa malah menyalahkannya?
“Maaf, Sir. Tapi, setahu saya Angel makan siang bersama anda.”
Rangga mendengus. “Kalau bersama saya, gak mungkin kan saya memanggil anda. Hari ini, Angel makan siang dengan pria terjelek yang saya ketahui. Makanya saya tanya sama anda. Kenapa itu bisa terjadi? Apa anda di balik semua ini?” tuduh Rangga sambil menatap garang Jasmine.
“Bener-bener gelo. Mana nyaho urang mah. (Gila. Mana gua tahu),” rutuk Jasmine membatin.
“Maaf, Sir. Saya benar-benar tidak tahu.”
“Ini adalah peringatan terakhir saya. Kalau sekali lagi saya melihat Angel makan bersama pria jelek manapun. Anda yang harus menanggung akibatnya.”
What the ...?
Lagian, apa urusan pria ini sama si Angel sih? Pacar bukan, ayahnya juga bukan. Laaah, posesif amat. Meski tak ada yang masuk di akalnya, tetapi karena ingin segera keluar dari ruangan itu, Jasmine akhirnya mengangguk mengikuti kemauan boss-kurang satu ons-nya ini.
“Baik, Sir. Akan saya ingat.”
Rangga mengembungkan dadanya lalu kembali duduk. Berdeham, sebelum akhirnya bicara. “Anda boleh keluar sekarang.”
Akhirnya .... “Baik, Sir. Terima kasih.”
Rangga mengibas tangannya.
Jasmine berbalik dan berjalan menuju pintu. Tapi, entah dari mana, niat usilnya malah keluar. Dia hanya ingin mengetes sekali lagi.
“Si Angel dilarang makan siang dengan pria jelek. Tapi kalau ganteng, boleh ya?” gumam Jasmine sedikit keras-sengaja.
BRAK!!!
Menggeser sedikit saja. Jasmine tak tahu besok dia masih bisa sadar atau malah terbaring koma. Tepat saat dirinya memegang handle pintu coklat itu, satu buah asbak berbahan marmer berukir kuda melayang melintas ke arah matanya dalam jarak 5 cm saja. Membanting pintu di depannya.
Tubuh Jasmine seketika bergetar, jantungnya berdegup sangat kencang dan menggila. Salah! Dirinya sudah menentang maut berurusan dengan pria gil----
“Ingat baik-baik, Nona Jasmine. Di mata saya, semua pria yang dekat dengan Angel sangatlah jelek. Jadi, jangan coba-coba anda mendukung pria mana pun untuk mendekatinya. Mengerti?!”
Mata Jasmine melotot. Baru sadar jika Rangga ternyata menghampirinya dan mengancamnya.
“Baik, Sir. Apa saya bolah keluar.”
“Keluarlah. Dan ingat baik-baik apa yang saya ucapkan barusan.”
“Jangan ngada-ngada, lu!” Angel melempar kulit kacang ke arah Jasmine yang tengah menceritakan saat perempuan itu dipanggil oleh bossnya siang itu.
“Ck, ngapain juga gua ngarang. Gua cerita gak dikurangin apalagi dilebih-lebihin.”
Angel merinding. Bahkan bulu kuduknya sudah berdiri semua. Boro-boro tersipu. Dia malah merasakan takut luar biasa.
“Gua jadi penasaran sama boss kalian itu. Kok ada ya cowok yang posesif banget sama cewek yang bahkan bukan siapa-siapanya. Eh, jangan-jangan dia ... psycopath,” imbuh Risa yang sejak tadi menyimak saja.
“Lu lagi, kenapa malah nakut-nakutin gua?" protes Angel menonyor kepala teman satunya lagi.
“Naah, makanya gua bilang boss kita itu gila. Masa makan siang sama pacar sendiri aja gak boleh. Tapi setiap hari si Angel harus makan siang sama dia. Kan aneh?” Jasmine ikut berkomentar. “Njel, lu gak diapa-apain 'kan sama pak boss?”
“Gaklah. Enak saja. Imut-imut gini, gua jago boxing, jangan lupakan itu!”
“Syukur deh! Gua sampai saat ini masih gak percaya kalau pak boss punya sikap yang berbanding balik dengan yang selalu ditunjukkannya di depan publik. Masa iya doi marah gegara gua bilang tampangnya lumayan. Geli banget gua sama cowok yang narsisnya over kek gitu,” ungkap Jasmine.
“Ya, namanya juga manusia psycho. 'Kan biasanya doi agak rada-rada, ya,” tambah Risa.
“Agak rada-rada gimana?” tanya Angel.
“Crazy,” jawab Jasmine dan Risa barengan.
What?
“Ya, saya gila. Really crazy about you.”
“Nooo!!” jerit Angel sambil menggeleng keras saat tiba-tiba ucapan bossnya kembali terngiang di telinganya. Jasmine dan Risa dibuat terbengong-bengong.
“Udahlah, Njel. Jangan dipikirkan. Itu hanya asumsi kita doang, kok. Masa iya, pak boss kurang se-ons, mana bisa pimpin perusahaan besar kek gitu. Ya gak mungkin lah.”
Risa mengangguk, setuju dengan ucapan Jasmine. “Eh, tapi, bukannya orang psycho emang selalu punya beberapa kepribadian, ya?”
Jasmine memukul Risa-si mulut lemes dengan geregetan. “Lu ini, seneng banget nakut-nakutin orang.” Lalu menatap Angel yang kembali memucat. “Jangan dengerin ucapan si Risa, Njel! Dia tuh lagi banyak pikiran makanya bicaranya ngawur.”
Angel mengembuskan napasnya.
“Atau bisa jadi karena dia memang sudah tergila-gila sama kamu, Njel. Mungkin ni ya, dia tuh udah kenal kamu dari lama dan nyimpen perasaannya sama kamu. Tapi, kamunya aja yang baru kenal sama boss lu itu.” Risa menatap Angel serius. “Siapa sih namanya?”
“Namanya ....”
Drrrrtt!
“Bentar, gua angkat telpon dulu.” Angel menggeser layar dan mengarahkannya ke ikon berwarna hijau.
“Hai, Beb. Masih di SG?”
“....”
“Hmmm. Fokusin aja sama urusan di sana. Salam buat Diana, ya!”
“....”
“Miss and love u to. Muaaach.”
Risa memperhatikan Angel dengan kening mengerut. “Siapa yang telpon?”
“Siapa lagi, pacar gua lah.”
“Si Gio? Jadi, lu masih sama dia?”
Angel memutar bola matanya. “Kalau udah putus ngapain juga bilang kangen-kangenan?”
“Laaah, terus kemarin-kemarin doi ke mana aje? Gua pikir lu udah putus sama dia.”
“Gio lagi ngurusin adeknya yang kuliah di SG. Bahkan sekarang pun dia sedang di sana karena urusan adeknya masih belum selesai.”
Risa melotot. “Lu yakin si Gio lagi di negara SG?”
Angel mendelik. “Kenapa lu tanya gitu? Lu mau nuduh pacar gua berbohong?”
Risa terdiam. Kalau benar Gio berada di SG, lalu siapa yang dia lihat di caffe tempatnya menyanyi bersama ... ah, mungkin penglihatan gua yang salah. Sebenarnya, Risa sudah mengenal Gio lumayan lama. Dan dari yang dia tahu, Gio bukan type orang yang berani menyakiti perempuan.
“Bukan itu maksud gua. Cuma ... ya kemarin hampir dua bulan kan dia gak ada ngabarin lu.”
“Dia begitu juga ada alasannya,” bela Angel ngotot.
“Ya-ya-ya, semoga saja.”
“Hei, lu maksudnya beneran nuduh pacar gua berbohong, 'kan? Ngaku, lu!”
Risa mengendikkan bahunya. Lalu berlalu ke arah dapur.
Angel berdecak kesal. Sedang Jasmine mengikuti langkah Risa dengan pikiran yang melanglang buana. “Berarti bukan gua aja yang salah lihat,” batin Jasmine. Diam-diam memperhatikan Angel yang masih cemberut. “Kalau benar Gio sedang di luar negeri, lalu siapa yang gua lihat di mini market, kemarin?”
................
“Bisa kamu belikan saya minuman di caffe seberang?”
Angel tersenyum-dipaksakan. Saat ini dirinya tengah fokus mengikuti meeting, dan mencacat beberapa poin yang cukup penting, menurutnya. Ini adalah meeting sebuah kolaborasi tiga perusahaan terbesar di Indonesia yang katanya akan menciptakan satu anak perusahaan di bidang pariwisata.
“Ehm ... apa tidak bisa pesan di sini saja, Sir?” Angel mencoba meminta penawaran.
Rangga tak menjawab, tetapi mata dan alisnya bergerak, menatap Angel dan caffe seberang secara bergantian. Dan itu tandanya bahwa pria itu tidak menerima penolakan.
Meski kesal, Angel tidak mampu menolak. Sebelum beranjak matanya menatap note miliknya dengan ragu.
“Jangan kuatir, biar saya yang urus sisanya,” ucap Rangga seolah mengerti dengan pemikiran sekretarisnya.
“Baik, Sir. Terima kasih.” Angel buru-buru melangkah. Ada rasa lega, juga bersyukur dirinya diperintah menghilang sejenak dari rapat itu yang sebenarnya dari tadi dia merasa tak nyaman. Bagaimana tidak, dari ke enam orang yang ikut rapat, hanya dirinya yang berjenis perempuan. Apalagi salah satu rekan bisnis bossnya selalu menatapnya dengan pandangan jail. Bahkan dengan terang-terangan menggodanya yang berakhir dengan geraman bossnya sendiri.
Angel harus mengakui, meski sikap bossnya terkadang membuatnya jengkel, tetapi dia cukup terkesan atas sikap pria itu yang selalu melindunginya dari tatapan nakal pria di luar sana. Mungkin ... sekarang ini pun, salah satu bentuk agar dia terhindar dari tatapan mata gatal salah satu klien si boss yang dia tahu adalah sahabat si boss sendiri.
Cukup lama mengantri untuk sebuah minuman saja. Mata Angel mengitari semua sudut caffe tersebut. Tempat yang tidak begitu besar jika dibandingkan dengan restoran yang baru saja dimasukinya. Namun, meski tak luas, interior caffe itu begitu sangat nyaman dan modern.
Angel terus memperhatikan seluruh ruangan caffe itu dengan kagum. Sampai pada titik di mana matanya menangkap seseorang yang tak asing untuknya. Angel memicing untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak salah, meski jantungnya berdebar cemas.
Tak mungkin kan ....
“Mbak!”
Angel sedikit terperanjat saat seseorang menepuk pundaknya. Menoleh dan menatap seseorang yang tidak dia kenal. “Ya?”
“Antrian anda, Mbak.” Orang itu menunjuk ke arah depan. “Bisa Mbak cepat sedikit, saya lagi terburu-buru karena ini pesanan istri saya yang lagi ngidam.”
“A-ah, maaf. Baik.” Bodoh kamu, Njel. Bisa-bisanya melamun di tengah kerumunan.
“Hot Capuccino, Mbak. Satu.”
“Baik. Apa masih ada lagi?”
Angel menggeleng sebagai jawaban. Lalu kembali menoleh ke belakang di mana seseorang yang sangat dikenalinya tengah bercengkrama dengan seorang wanita.
“Ini pesanannya, Kak.”
Angel kembali berbalik, “Ah, iya. Berapa, Mbak?”
“45 ribu, Kak.”
Angel segera menyodorkan uang 50 ribu. Setelah menerima kembaliannya, dia langsung melangkah menuju pintu keluar. Lima langkah lagi, Angel berhenti tepat di sisi meja yang dari tadi mencuri perhatiannya. Raut mukanya sudah keruh, meski tetap tenang. Sorot jijik begitu kentara dari tatapan matanya.
Byuurr!!
“Kyaa. Panas-panas,” jerit seorang wanita yang tengah bermesraan tepat di depan Angel. Wanita itu mengibaskan rambutnya yang tersiram air panas beraroma kopi. Bukan hanya si wanita, si pria pun ikut heboh dan berbalik, berniat menghakimi.
Matanya menatap nyalang ke arah Angel. Namun, itu hanya sedetik, karena di detik kemudian mata pria itu melotot tak percaya.
“Ups, maaf. Tangan saya licin,” ucap Angel enteng. Tentu saja itu kebohongan yang disengaja. Iya, dia sengaja mengucurkan kopi panas pesanan bossnya ke atas kepala dua orang yang tengah berc*uman.
Angel menatap pria di depannya dengan penuh cemooh. Tak menunggu detik berikutnya, dia melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu. Namun, sebelum tangannya dicekal seseorang.
“Singkirkan tanganmu dari tubuhku!” tekan Angel sambil menghempaskannya. Mengambil tisu dalam saku celananya dan mengusapkannya ke tangan yang baru saja disentuh pria itu, seolah itu adalah sebuah kotoran.
Angel menatap jijik tangan pria di depannya yang sudah mengepal. Tangan yang baru saja tengah menjelajah ke tempat yang ... iiiw, dia bahkan mual membayangkannya.
“B--Bab!”
Angel melotot. Sial, pria yang tak punya urat malu. Bisa-bisanya dia masih memanggilnya dengan sebutan itu.
Iya, pria yang baru saja kepergok sedang mojok dengan perempuan itu adalah Gio. Giorgio Mahendra. Pacar-yang beberapa waktu lalu masih diakui sebagai pacar oleh Angel. Sekarang? Iiiiewww!
“A-aku bisa jelasin semuanya.”
Hell!!! Angel memutar bola matanya. Mantra kuno dan sangat tidak kreatif sama sekali.
“Angel, saya suruh kamu beli minuman saya, kenapa malah asik berbincang. Ini masih di dalam jam kerja.”
Angel seketika menoleh dan mendapati bossnya sudah berdiri di sampingnya dan menatapnya penuh kekesalan. Oh my God! Gegara cecunguk satu ini, Angel melupakan pekerjaannya.
“Maaf, Sir. Ada kendala sedikit.” Angel celingukan ke sana-ke mari mencari sesuatu. “Ke mana kopi pesanan si boss, ya?” gumamnya terus mencari.
Wanita yang tadi kena siraman sontak menggebrak meja dengan marah, membuat Angel, Rangga, dan Gio menatap ke arah si wanita. Bukan mereka bertiga saja, sih, tetapi hampir seluruh pengunjung caffe.
“Ups.” Angel menutup mulutnya, lalu menatap bossnya kembali. “Mohon maaf, Sir. Sepertinya pesanan anda tumpah di tempat yang seharusnya.”
“Kamu!” jerit wanita itu murka. Tak terima jika kejadian beberapa waktu lalu adalah memang disengaja.
“Saya akan kembali memesan, Sir.” Seolah tak kasat mata, Angel menghiraukan amukan wanita selingkuhan (mantan) pacarnya.
“Saya sudah tak ingin lagi. Jika sudah tak ada urusan, ayo pergi. Waktuku adalah uang,” ucap Rangga. Ekor matanya menatap Gio dengan bibir berkedut samar. Apalagi saat mata pria itu berkilat penuh amarah kepadanya.
“Baik, Sir.” Sebelum pergi, Angel menghampiri wanita selingkuhan Gio dan menyodorkan satu lembar uang. “Maaf, Nona. Ini untuk membeli shampoo, kembaliannya sebagai rasa maaf saya pada anda.”
Angel segera berlalu, mengabaikan teriakan Gio yang terus memanggilnya yang disusul oleh Rangga. Namun, sebelum itu, matanya tak sengaja menatap uang yang ditinggalkan Angel di atas meja. Dengan penuh ejekan, Rangga menatap Gio yang sudah merah padam.
“Thanks, Bro,” bisik Rangga pada Gio sebelum akhirnya benar-benar keluar dan bergegas menyusul Angel.
“s**t Man!”
Bibir Rangga tersenyum miring. Hatinya berbunga-bunga saat umpatan itu keluar dari mulut Angel. Tentu saja, umpatan yang sangat tepat untuk pria yang sudah berselingkuh.
Yess! I’m win.