Lama Sadewo memandangi punggung Kinanti dari belakang. Dia duduk seorang diri di balkon. Dari kejauhan terlihat ia sedang tersenyum bahagia. "Sedang melamun?" tanya Sadewo duduk dibelakang Kinanti berdiri. "Eh, Mas." Kinanti mengusap air mata. Sadewo menyodorkan juz jambu di hadapannya, lalu Kinanti menerimanya dengan senyuman. "Ada apa? Kok, nangis?" tanya Sadewo curiga. "Siapa yang nangis," kilah Kinanti. "Apa aku salah, sayang?" tanya Sadewo setelah ia duduk di sampingnya. "Untuk?" Sadewo mengikuti arah pandangan matanya. Kinanti tersenyum, senyum yang terlalu dipaksakan, menurut Sadewo. Kinanti menghembuskan napas panjang. "Aku terlalu bahagia, Mas." "Apa aku telah membuatmu sedih?" tanya Sadewo meraih tangan Kinanti yang baru saja duduk di sampingnya. Kinanti menggeleng.

