Setelah Sepuluh Tahun
"Kamu sepertinya wanita baik dan jujur, aku suka penampilanmu sederhana. Kamu yakin mau bekerja sebagai pengasuh cucuku?" tanya Bu Astuti pada wanita di depannya itu.
Kinanti menunduk. "Yakin, Nyonya."
Wanita anggun paruh baya itu membuka lembaran kertas yang berada di dalam amplop warna cokelat. Surat yang berisi lamaran kerja Kinanti, ijasah SMA, juga D3 keperawatan paling belakang. Kinanti menyerahkan semuanya agar bisa diterima sebagai perawat atau baby sitter cucunya. Kata mak Tini jika nyonya besar itu mencari seorang perawat untuk mengasuh cucunya. Mak Tini adalah orang membawa Kinanti merantau ke Jakarta untuk diterima bekerja di sana karena kehidupan di desa sangat sulit. Makanya, Kinanti sengaja menerima tawaran mak Tini yang tak lain adalah tetangga baik neneknya.
"Nama kamu?'' tanya wanita paruh baya anggun dan cantik itu menatap lekat ke arah Kinanti.
"Kinanti, Nyonya."
"Nama lengkap?"
"Kinanti Dewi, Nyonya."
Wanita paruh baya itu manggut-manggut.
"Sudah punya anak? Aku dengar dari mak Tini kamu sudah punya seorang putra?"
Kinanti mengangguk. "Benar, Nyonya. Dia di kampung bersama neneknya."
Wanita paruh baya itu menatap ke arah Kinanti. "Sudah tahu apa pekerjaanmu?''
"Sudah, Nyonya."
"Kamu janda?" tanyanya penuh selidik.
Kinanti terdiam tak menjawab. Ia hanya menundukkan kepala tak berani menatap majikannya itu.
"Aku tidak mau melihat cucu kesayanganku sampai tidak makan. Selain itu dia juga harus rajin sekolah. Kamu sanggup, kan?" Jelas wanita dengan gaya elegan dengan banyak perhiasan melekat ditubuhnya, bisa dibilang wanita itu sangat berkelas jika dilihat dari penampilannya.
Kinanti menganggukkan kepala. "Sanggup, Nyonya."
"Ya sudah, kamu saya terima kerja di sini dan mulai hari ini kamu jadi pengasuh Letta, cucu saya."
"Alhamdulillah mathur suwun. Baik, Nyonya."
Kinanti merasa begitu terharu mendengar jawaban itu karena sudah satu bulan ini ia tak lagi bekerja hingga tabungannya terkuras habis karena ulah kakaknya di rumah sakit, bahkan sampai membuatnya dipecat dari rumah sakit. Walaupun merasa senang, tapi sejujurnya Kinanti sedih berjauhan dengan anak semata wayangnya.
"Kamu paham dengan tugasmu?"
Kinanti mengangguk paham. "Saya mengerti, Nyonya."
"Saya suka, kamu itu cantik, bersih, dan itu yang akan membuat Letta suka sama kamu."
Kinanti mengangguk pelan. "Semoga, Nyonya."
Wanita bernama Astuti itu menutup kembali surat lamaran kerja Kinanti, lalu menenggelamkannya ke dalam pangkuan.
Tanpa sadar senyumnya menyungging, wanita paruh baya itu tersenyum menatap Kinanti.
"Sekarang istirahatlah, Letta masih sekolah."
Kinanti kembali mengangguk. "Nggih, Nyonya."
"Mak antar Kinanti ke kamarnya ya!"
Mak Tini mengangguk patuh. "Nggeh, Nyah."
"Ayo, Kinanti ikut, Mak!"
"Nggeh."
Kinanti pun berjalan mengikuti Mak Tini. Wanita itu tampak menatap sekeliling rumah mewah dengan beberapa pekerja hingga membuat Kinanti takjub melihatnya rumah mewah yang hampir terlihat sempurna. Tiang-tiang menjulang tinggi seperti raksasa. Beberapa guci besar memenuhi setiap pojok ruangan. Rumah yang dipenuhi dengan kayu jati klasik, sembilan puluh persen rumah dimodifikasi sangat apik dan terlihat begitu mewah.
Para pekerja di rumah itu mengintip setelah mendengar Kinanti dan Mak Tini berjalan. Mereka memicing, mengarahkan pandangan pada Kinanti. Membuat Kinanti merasa tak enak.
"Mak Tini!" Ayuning memanggil Mak Tini.
Kinanti dan Mak Tini pun menghentikan langkah kaki mereka, lalu melihat ke arah sumber suara. "Non Ayu."
"Siapa, Mak?" tanya Ayuning penasaran.
"Ini, Kinanti. Suster barunya Non Letta."
"Oalah, jadi dia yang akan jadi susternya?" tanya wanita itu lembut.
"Nggeh, Non."
"Semoga betah menjaga anak saya ya, Kinanti."
Kinanti mengangguk. "Iya, Non."
Wanita cantik itu tersenyum. "Ya sudah saya pergi dulu."
Ayuning pergi dan tersenyum. Tidak berselang lama, derit engsel berbunyi. Pintu kamar yang menjulang dari kayu jati itu pun terbuka.
"Istirahatlah, Kinan ini kamar kamu. Mau, Mak ambilkan makan?"
"Tidak usah, Mak. Aku mau langsung istirahat saja."
"Mak tinggal dulu ya, kalau ada apa-apa panggil Mak pake telepon itu ya." Tunjuknya ke arah telepon yang berada di sisi kiri Kinanti, tepat di atas sebuah nakas.
"Nggeh, Mak," jawab Kinanti sembari meletakkan tas yang sejak tadi melingkar di pundaknya. Wanita itu pun duduk di sisi ranjang yang lumayan besar dan terasa empuk. Ia sama sekali tidak menyangka jika bisa bekerja di rumah yang sangat mewah ini, bahkan kamar yang akan ditempatinya saja tampak sangat bagus dan juga kedap suara.
***
Di sebuah ruangan kantor yang cukup luas dan terlihat elegan dengan beberapa dinding kaca sebagai pemisah antara ruangan satu dengan lainnya, seorang asisten pribadi baru saja masuk setelah mendapatkan izin dari atasannya.
"Permisi, Pak, saya mau ngasih tahu kalau ini saatnya kita berangkat ke tempat meeting."
"Baiklah, ayo kita berangkat sekarang."
Pria bernama Sadewo Abimanyu itu pun bangkit dari posisi duduknya, lalu melangkah keluar dari ruangan, diikuti oleh asisten pribadi yang mengiringi tepat di sebelahnya.
Di tengah perjalanan, pandangan Sadewo terhenti di satu titik. Pria itu menatap sosok wanita berparas cantik yang sangat tak asing buatnya baru saja keluar dari terminal bus menuju jalan utama. Sadewo pun menatap tak percaya. Namun, ia harus segera meeting di sebuah kafe yang berada di dekat stasiun hingga membuatnya tak bisa memastikan siapa sosok yang dilihatnya. Sosok wanita yang selama ini menghilang dari hidupnya.
"Kinanti …," batin Sadewo, masih menatap tak percaya, bahkan karena ingin mempertegas apa yang dilihatnya, pria itu berulang kali mengusap kedua matanya hingga wanita itu akhirnya menghilang dari pandangannya.
"Ah, apa jangan-jangan aku salah lihat ya? Lagi pula wanita itu kelihatannya beda dari Kinanti yang terakhir aku lihat. Wanita yang tadi itu, pakaiannya lebih rapi dan kulitnya juga putih enggak seperti Kinanti." Sadewo terus memikirkan semua itu di dalam hati. Sampai akhirnya, karena merasa tidak yakin, pria itu pun mengabaikannya dan kembali berkutat dengan ponsel yang sejak tadi berada dalam genggamannya.
***
Setelah menyelesaikan meeting dengan rekan bisnisnya, kini Sadewo sudah tiba di rumahnya. Pria itu langsung menuju sebuah gazebo di depan taman yang berada di belakang halaman rumahnya. Tempat di mana kedua orang tuanya sering sekali menghabiskan waktu sore di sana.
"Tumben sudah pulang, Nak?"
"Iya. Maaf, Bu. Tadi pagi tidak bangunkan Ibu, soalnya aku ada meeting dadakan."
"Enggak apa-apa, padahal enggak apa-apa juga lho kalau kamu bangunin, Ibu."
"Masih pagi sekali, Ibu. Saya enggak tega."
Bu Astuti tersenyum. Ya, seperti itulah Sadewo, sangat menyayanginya hingga selalu patuh dan mengabulkan semua permintaannya, termasuk menikah dengan Haruka.
Setelah mencium punggung tangan sang ibu, pandangan Sadewo beralih menatap seorang pria yang juga ada di sana, lalu meraih telapak tangan pria itu dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya tadi.
"Bagaimana meetingnya?" tanya Pak Wijaya.
"Lancar, Pak."
Melihat anak dan suaminya sedang membicarakan bisnis yang tak sedikit pun ia mengerti, Bu Astuti pun tampak berjalan ke arah dapur untuk memberi perintah pada salah satu pekerja di rumahnya agar membuatkan baso kesukaan Sadewo. Namun sayangnya, tak ada Dini yang memang biasa melakukan tugas itu.
"Kalau Dini lagi pergi, ya Kinanti aja, Mak."
"Nyonya yakin?"
"Ya, saya akan uji kemampuannya hari ini."
"Nggeh, Nyah." Tanpa banyak membantah, Mak Tini pun langsung menghubungi Kinanti lewat sambungan telepon. Sementara itu, Bu Astuti kembali ke gazebo.
Tak butuh waktu lama, Kinanti yang sudah mengenakan pakaian pelayan datang ke dapur setelah Mak Tini menghubungi lewat sambungan telepon di rumah itu.
"Kinan, ingat jaga antitut ya! Jangan sampai membuat, Nyonya marah." Baru saja tiba di hadapan Mak Tini, Kinanti langsung mendapatkan nasihat dari wanita paruh baya yang sudah membantunya diterima bekerja menjadi baby sitter di rumah tersebut.
"Nggeh, Mak."
Kinanti pun melangkah hati-hati membawa tiga buah mangkuk berisi bakso dengan sebuah nampan sama seperti yang dibawa oleh Mak Tini. Mereka tampak berjalan menuju gazebo di mana keluarga Pak Wijaya berada.
Setibanya mereka di sana, pembicaraan seru yang sempat terjadi, seketika jadi terhenti.
"Permisi."
Kinanti menundukkan pandangan dan sedikit membungkuk saat meletakkan nampan di meja. Perlahan-lahan satu demi satu mangkuk yang berisi baso itu disuguhkan, aroma kuah khas bikinan Mak Tini yang menusuk hidung sungguh sangat menggoda selera siapa pun yang menciumnya.
"Silakan! Selamat menikmati baksonya."
"Terima kasih, Kinan."
Kinanti mengangguk. "Saya permisi, Nyonya."
"Kinanti," panggil Bu Astuti.
"Saya, Nyah." Kinanti memeluk nampan masih dengan wajah menunduk.
"Buatkan teh melati kesukaan, Den Dewo, ya."
"Nggeh, Nyah."
Sadewo tak melihat keberadaan Kinanti yang tak jauh darinya. Berganti Mak Tini yang maju ke depan membawakan tiga buah baso sisanya.
Selesai menikmati bakso, keluarga itu masih bercengkrama karena tingkah Letta yang lucu. Sadewo pun terlihat mulai meletakkan mangkuk-mangkuk yang telah habis tak tersisa dan memberikannya pada Mak Ti.
Beberapa menit kemudian, Kinanti datang lagi dengan membawa enam cangkir berisi teh melati di atas nampan. Di dapur, tadi Kinanti dibantu oleh Dini untuk menyiapkan semua teh yang saat ini akan disajikan di atas meja. Sama seperti yang ia lakukan sebelumnya, Kinanti dengan perlahan meletakkan cangkir-cangkir tersebut tanpa menimbulkan bunyi.
"Letta kenalin ini, Mbak Kinanti dia yang akan mengurusmu nanti."
Letta tampak tersenyum dan mengangguk. "Mbak Kinan."
Kinanti mengangguk dan membuka suaranya. "Hai, Non Letta, salam kenal ya."
"Mbak Kinanti cantik deh."
Kinanti tersenyum dan karena pujian itu juga ia seketika menundukkan kepalanya. Namun, sebelum Kinanti berbalik, Sadewo sempat melihat wanita itu. Sepasang mata teduh yang dulu sempat membuatnya jatuh cinta. Ya, sepuluh tahun sudah berlalu, kini Sadewo hampir tak bisa mengenalinya. Tubuh kuning langsat itu kini terlihat lebih menawan dan tampak seputih salju. Rambut dikuncir ke atas menyisakan anak rambut tipis yang begitu cantik di pinggiran.
"Kinanti …." Sepersekian detik, mereka saling tatap sebelum Kinanti memalingkan wajahnya. Namun, sampai wanita itu menjauh, pandangan Sadewo masih tak berhenti mengejarnya. Pria itu seolah membeku, ia benar-benar tak menyangka jika wanita dari masa lalunya itu kini bekerja di rumahnya.
"Apa ini hanya mimpi?'' Sadewo bertanya dalam hati sambil mencubit pahanya sebagai tanda bahwa saat ini ia sedang tidak bermimpi. Namun, segala pikiran tentang Kinanti seketika buyar saat nama itu kembali disebut oleh sang ayah.
"Bagaimana hubunganmu dengan Haruka, Dewo?"
Sadewo pun seketika menoleh. Menatap ayahnya dengan malas dan masih diam tanpa menjawab.
"Dewo."
"Nggeh, Bapak."
"Bagaimana hubunganmu dengan, Haruka?" tanya Pak Wijaya lagi.
Sadewo beralih menatap cangkir, ucapan ayahnya barusan adalah pertanda kalau pernikahannya dengan Haruka sedang tidak baik-baik saja. Sadewo tahu betul jika sang ibu memang sangat menyukai Haruka. Hanya saja, Sadewo tidak bisa ingkar kalau Haruka sampai saat ini masih belum bisa menyentuh hatinya. Haruka adalah wanita keturunan Jepang yang ia nikahi dua tahun lalu.
"Dewo, ditanya kok malah melamun aja kamu ini."
Sadewo tersenyum. "Aman, Pak."
"Lalu soal program anak? Apa kalian sudah menjalaninya?"
Sadewo terdiam.
"Keluarga kita butuh keturunan laki-laki, Dewo."
"Tanyakan saja pada Haruka, Pak!"
Pak Wijaya menatap dan menepuk bahu Sadewo. "Kelak anakmu itu akan menjadi pemimpin perusahaan, seorang pemimpin lelaki yang tentunya adalah darah dagingmu, Sadewo."
"Dewo enggak yakin, Pak."
"Usahakan, Dewo! Lagian juga kalian hampir dua tahun menikah lho."
Belum dikaruniai keturunan itulah yang membuat keluarga Wijaya begitu was-was jika Sadewo nanti tidak bisa memberikan keturunan untuk keluarga besarnya.