Meski sudah berada dalam posisi yang begitu terancam, dengan Zac yang menarik kerah baju seragamnya seperti ini, Athar tidak serta Merta menyerah. Fisiknya boleh lemah, tapi tidak dengan mentalnya. Ia tidak mau menjatuhkan harga dirinya sendiri dengan memohon - mohon pada Zac untuk melepaskannya. Ia tahu apa masalah Zac. Ia tahu kenapa Zac seperti ini. "Zac ... apa nggak malu? Badan gede, tapi nyerang orang lemah kayak gue aja Lo mainnya keroyokan. Kalau berani, satu lawan satu." Athar justru menantangnya. Tentu saja ucapan Athar itu membuat Zac semakin naik pitam. "Jaga omongan Lo. Gue bawa mereka bukannya mau keroyokan, gue cuman jaga - jaga aja." Athar terbahak. "Ya sama aja, Bego. Badan doang gede. Otaknya seupil." Terang saja Zac semakin kesal dan marah. Satu tangannya masih mem

