PELAYAN TUAN MUDA

1027 Kata
Hidup untuk mendapatkan happy ending tidak lepas dari lika-liku perjalanan. Berkelok dan terjal sudah menjadi hambatan untuk dilalui. Waktu akan terus berputar menemani setiap langkah cerita setiap insan. Wajar jika mengandung luka dan air mata, sebab pelangi tidak akan muncul tanpa badai. Karena kupu-kupu tidak bisa terbang sebelum terjebak dalam kepompong. Sama seperti kisah yang terus berlanjut, terkadang tidak lepas dari yang namanya sebuah perjuangan. Di dalamnya mengandung jeritan pilu akan ujian hidup yang terus berdatangan. Tidak ada yang salah, itu sudah menjadi ketentuan sebelum datangnya kebahagiaan. Permata kini tengah melakoni kisah yang sudah menjadi suratan. Ia siap terluka jika itu untuk kebaikan sang ibu. Bangunan megah nan mewah tertangkap pandangan. Gadis cantik nan manis itu berdiri di depannya dengan tatapan takjub. Sedari tadi kata-kata kagum terus terlontar, tidak percaya jika ibunya bekerja di tempat spektakuler tersebut. "Waw, mansion Pratama benar-benar luar biasa. Eh tunggu, Pratama? Berarti ini tempat tinggal Kenzie? Benarkah?" oceh nya sibuk dengan pikiran sendiri tanpa menyadari sepasang mata tengah mengintimidasinya sedari tadi. "Sedang apa kamu di sini, Permata?" Suara berat yang sudah dihapalnya menendang indera pendengaran. Permata mematung dan perlahan kembali menatap ke depan. Di sana sang tuan muda tengah melipat tangan di depan d**a dengan tatapan nyalang membuat ia terlonjak seketika. "Ke-Kenzie." Panggilnya gugup lalu tersenyum samar. "Aku tanya, sedang apa kamu berada di tempat sampah ini?" Kembali, Kenzie mengulang pertanyaan yang sama, kini mengandung sindiran untuk Permata. Gadis itu mengatupkan mulut rapat teringat kata-kata sore yang dilontarkannya. Ia mengepalkan kedua tangan kuat kala fakta mengenai hubungan mereka pun terungkap. "Bahan taruhan." Terus terulang dalam pikirannya. "Tidak Permata, kamu harus bertahan ini untuk mamah," benaknya meyakinkan diri sendiri. "Aku datang ke sini untuk menggantikan tugas ibuku," lanjutnya kemudian. Kenzie mengerutkan dahi tidak mengerti. "Menggantikan tugas ibumu?" Belum sempat Permata menjawab pertanyaannya yang lain, Nita datang menengahi perkataan kedua renaha tersebut. "Itu benar Tuan Muda, Permata menggantikan ibunya untuk bekerja di sini. Karena beliau sedang berada di rumah sakit." "Apa katamu? Gadis ini menggantikan ibunya yang sedang berada di rumah sakit?" Suara lembut seseorang mengejutkan mereka. Ketiganya menoleh ke belakang melihat wanita semampai yang sudah berumur berjalan mendekat. Permata terpana dengan kecantikan yang dimilikinya, sedangkan Kenzie memutar bola mata dan memalingkan pandangan ke arah lain. "I-itu benar Nyonya, ibu Permata terjatuh di tangga dan sekarang berada di rumah sakit, karena mengalami kelumpuhan di kedua kakinya," jelas Nita menjabarkan. "Ya Tuhan, benarkah itu Nak?" Wanita yang dipanggil Nyonya itu pun beralih pada Permata. "Be-benar Nyonya, i-ibu saya mengalami kelumpuhan." "Ya Tuhan, baiklah kalau begitu kamu bisa menggantikan ibumu untuk bekerja di sini, dan soal biaya rumah sakit biar saya yang tanggung," jawabnya membuat Permata terkejut dan mengulas senyum canggung. "Te-terima kasih banyak Nyonya," balasnya lagi. "Mah! Apa yang Mamah lakukan? Kenapa membiarkan gadis itu bekerja di sini? Dia masih di bawah umur, Mah!" seru Kenzie tidak setuju dengan keputusan sang ibu. Winter Pratama menatap sang anak lalu berjalan mendekatinya. "Tidak apa-apa, Sayang. Dia membutuhkan pekerjaan ini, lagipula sepertinya kalian seumuran. Kamu bisa berteman dengannya. Ah, atau kamu bisa menjadi pelayan pribadi anak saya," lanjut Winter kembali menoleh ke belakang menatap Permata yang seketika melebarkan pandangan. "Pe-pelayan Tuan Muda?" gugupnya. Winter mengangguk yakin. "Bagaimana? Kamu juga sepertinya tidak bisa melakukan pekerjaan yang berat. Jadi, lebih baik menjadi pelayan pribadi Kenzie saja. Ingat, anak ini sebenarnya sedikit manja dan kekanakan. Kamu harus sabar menghadapi sikapnya, yah. Oh, saya juga akan membayar mu dua kali lipat dari gaji ibumu. Bagaimana?" Tawaran menggiurkan itu pun membuat Permata berbinar. Ia tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan itu dan mengangguk cepat. "Baik Nyonya, akan saya lakukan." Finalnya. "Bagus anak pintar dan mulai malam ini kamu akan tinggal di sini. Ruangan mu tepat berada di samping kamar tidur Kenzie." "MAH!" Kenzie menggertak cepat, Winter hanya memberikan tatapan mengintimidasi tidak ada penolakan. Mau tidak mau tuan muda itu pun hanya menurut, pasrah. *** Malam semakin larut, Permata masih sibuk dengan pekerjaan sekolah. Keheningan menemani dalam kesendirian dah hanya detikkan jam terus berdengung dalam pendengaran. Jarum pendek di sana menunjukan angkat setengah sebelas. Beberapa kali ia menguap menahan kantuk yang terus datang menerjang. Namun, Permata tidak bisa menyerah dengan keadaan dan meninggalkan tanggungjawab. "Lebih baik aku minum air hangat," gumamnya lalu beranjak dari sana. Pintu terbuka mengantarkan udara dingin menyapa cepat. Tubuh ramping Permata menyembul dan berhenti melangkah. Lorong panjang di lantai dua itu sangat sepi dan hanya diterangi oleh cahaya remang. Gadis manis tersebut sedikit bergidik ngeri kala merasakan hawa dingin menyapu wajahnya. Ia tidak terbiasa tinggal dalam bangunan megah nan mewah seperti mansion Pratama ini. Entah ada angin apa ia menyetujui sang nyonya besar untuk tinggal di sana malam itu juga. Ia tidak menyangka jika detik ini dirinya harus menetap di sana. Barang-barang yang diperlukannya pun sudah lengkap tersedia, mungkin ia seumuran dengan tuan muda maka tidak sulit untuk mempersiapkannya. Kaki ramping melangkah perlahan menyusuri lorong panjang. Kamar Permata yang berada paling pojok dan sedikit lebih jauh untuk mencapai tangga menuju lantai bawah pun membutuhkan usaha lebih. Pada akhirnya setelah perjuangan tidak sebentar Permata sampai di dapur. Sesampainya di sana ia dengan cepat menuangkan segelas air hangat dan membawanya ke lantai atas. Sebelum ia kembali masuk ke dalam kamar, pintu di sebelahnya terbuka sedikit. Gelap yang ditimbulkan memberikan cahaya remang dari luar masuk ke dalam. Permata berhenti dan sedikit menolehkan kepala, tidak bisa mencegah keinginan di dadanya. Tidak ada siapa pun yang tertangkap pandangan, rasa penasaran semakin menjadi dan Permata mendekatkan diri ke ruangan tersebut. Seketika netra nya melebar sempurna kala pemandangan yang tertangkap indera penglihatan membuat ia mematung. Di dalam kamar, di atas tempat tidur tuan muda arogan yang sudah membuatnya jadi bahan taruhan tengah memeluk kedua kaki. Wajah tampan yang selalu dingin itu bersembunyi di balik lututnya. Isak tangis samar terdengar mengantarkan ketegangan pada diri Permata. "Kenzie menangis? Kenapa?" tanya Permata dalam benak. Seketika waktu seolah berhenti berputar. Permata diam di sana seperti ada akar menancap di kedua kaki. Entah kenapa melihat sisi lemah Kenzie membuat ia enggan untuk pergi. Ada sesuatu dalam dirinya yang memaksa untuk bertahan dan seketika keheningan menemani keduanya. "Kenapa mereka hanya mementingkan bisnis dan bisnis?" gumaman itu cukup mengejutkan Permata. Ia menyadari sesuatu jika sosok Kenzie yang dingin di luar, nyatanya membutuhkan kasih sayang dari dalam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN