"Permata?" Panggilan dari arah pintu kaca yang terbuka mengejutkan. Winter langsung menoleh ke sisi kiri di mana sang buah hati berdiri di sana. Ia tidak lagi terkejut akan kedatangan sang buah hati. Karena sedari tadi sore Winter yakin Kenzie akan pulang secepat yang dirinya bisa. Tidak disangka raut muka tak percaya tercetak jelas di wajah tampan putra kandungnya ini. Sepasang manik mirip mantan suami terbuka lebar, bibir tipis kemerahannya sedikit terbuka, mungkin saat ini Kenzie sedang tegang mendapati adegan tak diharapkan. Lengkungan bulan sabit sempurna terpendar ketika Kenzie mengarahkan perhatian padanya. Winter hanya menggendikan kepala, acuh tak acuh atas apa yang terjadi. Mata Kenzie seolah mengatakan, "Apa yang sebenarnya terjadi?" Winter hanya menanggapi secukupnya saja,

