150 Juta

1712 Kata
Esok paginya ketika membuka mata Liam hanya teringat akan tenggat waktu Justine. Satu hari lagi, itu berarti besok. Tentu saja dia tetap tidak mau pergi. Apapun keuntungannya dia tidak akan tergiur. Dia suka hidupnya saat ini. Jadi enggan benar pindah ke hidup barunya sebagai hidden army. Semalam ia sempat mencari itu di mesin pencarian internet. Akan tetapi tidak ada satupun artikel yang membahasnya. Dia menjadi yakin bahwa hidden army adalah perkumpulan ilegal. Lagipula sudah jelas. Orang-orang dengan kemampuan luar biasa seperti mereka mana mungkin dipublikasikan ke publik. Bisa-bisa semua orang menjadi cemas atau penjahat malah berambisi untuk mendapatkan yang sama agar dapat menindas orang. Di dapur Gene sedang menggoreng terlur. Ekspresi wajahnya sedikit lemah dari biasanya. Liam jadi teringat akan perkataannya semalam. Itu mungkin berhasil menyinggung hati Gene. "Maaf untuk perkataan kakak semalam." Gene tersenyum tipis. Sesuatu yang langka benar jika dia dihadapkan pada situasi begini. Liam semakin merasa bersalah dibuatnya. Heran juga kenapa dia bisa sebegitu tidak mampunya mengendalikan emosi. "Apa kakak hari ini akan bekerja?" "Entahlah. Kakak merasa tidak enak badan." Liam tidak main-main. Tubuhnya terasa sakit. Ia pikir karena tidurnya kurang nyenyak. Namun bisa juga karena pikirannya yang kacau. Gene berjinjit. Liam yang paham tinggi tubuhnya terlampau jauh pun merendahkan wajah. Dengan begitu Gene bisa menempelkan punggung tangannya pada dahi Liam. "Sedikit panas. Kakak sepertinya benar-benar sakit. Mau aku belikan obat?" "Boleh." Liam mengambil alih sutil. Dia akan memasak, menggantikan Gene yang akan pergi ke luar. "Apa masih sempat?" tanyanya kemudian. Gene juga mau ke sekolah. Letak apotek juga lumayan jauh dari kediaman mereka. "Tentu, aku berangkat setengah delapan." "Uangnya di saku jaket kakak." "Oke.". Gene beranjak. Liam mengangkat telur ke piring. Menceplok satu buah lagi dan menaburkan sedikit garam. Aromanya dalam sekejap naik ke udara. Lalu sembari menunggu kering, ia membuat bumbu untuk roti. Setelah mengangkat telur, ia melanjutkannya dengan menyapu bumbu ke roti. Memasukkan selembar fillet ayam dan menutupnya dengan roti lagi. Barulah dia memasukkan ke dalam oven. "Gene belum bangun?" Tahu-tahu Alex sudah duduk di depannya. Telah rapi dengan jaket merah dan jeans panjang hitam. Rambutnya rapi tertata oleh gel dan ia menyebarkan aroma maskulin ke seluruh ruangan. Tampan dan keren. Liam tidak percaya benar kalau Gene hanya menganggapnya teman. Ah tapi namanya juga anak muda. Mereka memiliki gengsi tinggi dan hobi menyembunyikan perasaan. "Sudah." "Di mana dia?" "Pergi ke apotek." "Membeli obat apa? Dia sakit?" Cemas langsung melahap wajah tampan tersebut. Refleksi sayang yang kentara sekali di mata Liam. "Bukan dia, tapi aku." "Kau sakit?" "Aku juga manusia. Normal kan?" Liam menuang lagi sedikit minyak ke teflon. Ia akan menggoreng telur lagi untuk Alex. "Aku dengar dia membeli mobil itu dari Brian." "Ya." Sudut bibirnya tersenyum miring. Kecemburuan itu ia dapati dengan jelas. Niat menggoda pun menjadi kental. "Kenapa?" "Tidak ada. Ya, Brian memang punya banyak koleksi. Itu semua bagus-bagus." "Brian punya banyak koleksi? Apa maksudnya itu?" "Dia pemilik toko tersebut." "Kau serius? Wah hebat sekali bocah itu. Pantas saja gayanya begitu angkuh." Itu juga alasan masuk akal kenapa dia bisa memberikan Gene harga murah. Kerugiannya dia tanggung sendiri sebab itu tempatnya. "Kakak bertemu Brian?" "Aku menemani Gene. Apa dia mantannya Gene?" Kekesalan melintasi manik Alex. "Kenapa kakak bertanya padaku?" semburnya. "Kau paling dekat dengan Gene. Jadi kemana lagi aku harus bertanya kalau bukan padamu?" Wajah itu melihat ke rak-rak di belakangnya. Mengindari inspeksi oleh Liam. "Ya, dia memang mantan Gene." "Kau tahu kan aku ada di pihakmu?" Liam menurunkan teflon. Ia telah selesai. Kini hanya akan membuat salad dan kemudian selesai. "Kenapa kau belum bergerak?" "Ini tidak semudah yang kakak kira." "Kau takut dia menolak?" "Dia belum bisa melupakan Brian." Alex meluruskan pandangannya pada Liam. Dia bukan saja melihat kekesalan, tapi juga keputusasaan. "Aku tidak mungkin masuk di saat dia masih memikirkan orang lain." "Menurutku itu bukan masalah. Kau bisa membuatnya perlahan-lahan melupakan Brian." "Tidak akan berguna jika pada akhirnya hanya aku saja yang bergerak." "Ah betul juga ya." Liam membuka kulkas. Ia mengeluarkan selada, tomat, aragula, timun dan alpukat. Mengetahui itu membutuhkan cukup waktu untuk siap, Alex pun membantu memotong alpukat dan tomat. "Apa yang kau lakukan?" sentak Gene begitu kembali. Ia bergerak memutari pantry, tapi tidak melepas tatapan tajamnya dari Alex yang tengah memotong tomat. "Seperti yang kau lihat. Aku memotong tomat." Alex tersenyum kepada Gene. Senyum yang Liam lihat sangat menyebalkan dari biasanya. Woho, sepertinya mereka berdua memiliki konflik serius perihal Brian. "Aku tahu, tapi ini masih pagi." "Memangnya kenapa kalau pagi?" Liam berpura-pura saja tidak melihat mata Gene yang membesar seolah mau melahap Alex. Keduanya tampak sama-sama tersulut api. Padahal masih pagi loh. Sarapan pagi selesai. Gene dan Alex berangkat bersama setelah debat panjang lebar. Liam yang tersisa mengemasi piring kotor ke bak cuci. Ia menyalakan kran air. Membiarkan untuk sesaat air mengucur begitu saja sementara ia menekan tangan di tepi bak cuci dengan pandangan lurus ke luar jendela. Jessi bilang lebih baik dia menerima dan langsung mengajukan kontrak. Meskipun hidden army membayar, mereka tidak mungkin mau rugi kan? Liam mengangguk. Mematikan kran dan masuk ke kamar. Ia mengirim pesan kepada Jessi. Perempuan itu yang semalam mengirim pesan padanya. Liam bersyukur karena kini dia bisa menyampaikan permintaannya. "150 juta dollar per bulan," eja Liam seraya menuliskan pesannya. Mereka tidak akan sanggup kan? Terlebih ada anggota lain yang perlu dibayar. ** "Apa kau gila?!" sentak Jessi begitu ia membuka pintu. Liam memundurkan wajah. Mengantisipasi ledakan Jessi lagi. "150 juta per bulan?" Jessi geleng-geleng kepala. Tidak mengerti lagi akan pikiran Liam. Apa otaknya tidak berfungsi sampai-sampai dia tidak mampu menilai mana yang logis lagi? Ya, Jessi kira begitulah pikiran Liam sekarang. "Kenapa tidak? Kau bilang aku bisa menawar." Liam melebarkan pintu. Jessi masuk dan dia menutupnya. Sembari mengikuti Jessi duduk, dia mengirim pesan pada Gene untuk membeli bahan makanan. Itu akan mengulur waktu. "Aku memang bilang kau bisa menawar, tapi tidak sebesar itu." "Kalian memaksaku bergabung seolah aku begitu berharga. Apa tidak bisa aku menawar sebesar itu? Tidak adil sekali." "Tidak adil apanya? Kami hanya menawar di sekitar ribuan dollar. Tidak pernah jutaan, Liam!" "Jadi bosmu menolak?" Ia tersenyum untuk itu. Tepat sekali seperti yang ia inginkan. "Apa kau memakai kontak lensa?" Bibirnya pelan-pelan mengatup rapat. Apa yang ia sembunyikan ternyata telah diketahui. Padahal ia sudah melapisinya. Bagaimana bisa? Liam jadi curiga kalau mereka mengintainya kala telah tertidur sebab di waktu itu saja ia menunjukkan warna asli matanya. "Tidak." Dia kira Jessi belum memiliki cukup bukti. Jadi dia masih bisa berbohong. "Semalam mungkin aku belum sadar, tapi sekarang." Gene menunjuk matanya sendiri. Liam jadi penasaran akan matanya. Ia mengeluarkan ponsel dan melihat bahwa warna warna matanya tetap sama, coklat. Oke. Liam mengerti. Jessi memancingnya. "Justine sudah curiga karena kemampuanmu mengalahkannya." Jessi menyilangkan kaki. Tampak senang karena kemunduran Liam. "Coklat adalah warna dasar. Disusul kemudian dengan warna biru, hijau dan merah. Justine memiliki warna merah, ia melapisinya dengan softlens coklat di dalam keramaian. Jadi dia juga menduga bahwa kau melakukan yang sama." Merah adalah tertinggi. Yang ia miliki pula adalah ungu. Itu tidak terdaftar. Liam jadi curiga kalau sebenarnya dia tidak teranggap. Akan tetapi kemampuannya mengalahkan Justine yang memiliki warna merah. Jadi bisa disimpulkan bahwa dia lebih tinggi. "Aku tidak mau tahu. 150 juta dolar sebelum kepergianku lusa. Jika dia tidak mau memberi itu perbulan, maka anggap saja itu sebagai uang muka. Perbulannya pula mungkin bisa sekitar 2000-3000 dollar." "Kau memang pandai memanfaatkan situasi ya." Dengan bangga Liam tersenyum. Tentu saja. Tapi sayang dia bukan memanfaatkannya untuk uang, tapi untuk kebebasannya. 150 juta itu angka yang fantastis. Justine bisa mengalami kerugian hanya untuk merekrutnya. Pada akhirnya dia pasti akan memilih menukar Liam dengan beberapa orang lainnya. "Aku tidak yakin Justine akan mampu. Jadi lebih baik kau turunkan harganya." Jessi menyimpan lagi ponselnya. Dia sudah menyampaikan perkataan Liam pada Justine. "Aku tidak bisa. Itulah jumlah utang yang aku miliki. Jika aku pergi, maka adikku yang akan menanggung. Kalau begitu menurutmu apa aku akan memilih pergi?" "Ancaman yang bagus." Jessi mengangguk-angguk setelahnya. "Apa tidak ada minum?" tanyanya kemudian. "Tidak ada." Liam melipat tangannya di depan d**a. Menyorot Jessi dengan tatapan yang sama, angkuh. "Apa masih ada lagi yang perlu kau katakan?" "150 juta dalam dua kali bayar. Bagaimana?" "Aku tidak yakin setelah masuk ke sana kalian akan tetap mengirimkannya. Aku mungkin telah menjadi b***k yang hanya boleh bilang iya kan?" "Pintar juga otakmu. Baiklah." Jessi bangkit dari sofanya. "Nanti Justine akan mendiskusikannya langsung denganmu." "Terima kasih untuk jamuannya," sindir Jessi kemudian. "Sama-sama." Setelah melihat pintu tertutup kembali Liam menyandarkan punggung. Harapannya untuk bebas tetap tipis. Dia mungkin lebih baik bersiap sekarang daripada mengeluh. Liam menghela nafas. Mengusap wajahnya kasar. Berulang kali dia melakukan itu sampai mendengar deru suara mobil mendekat. "Kakak, aku pulang." Gene masuk. Menutup kembali pintu. Ia meletakkan dua buah plastik besar ke meja. "Kamu membeli sebanyak ini?" "Hari ini aku gajian." Gene melepas tasnya ke sofa. Menunjukkan kemudian amplop putih dari saku jaketnya. Liam membuka dompetnya, memberikan beberapa lembar uang ratusan pada Gene sebagai ganti uang belanja tersebut. "Apa?" tanya Gene. "Aku membeli ini semua sebagai hadiah. Kakak tidak perlu membayar kembali." Liam tidak mendengarkan. Ia menarik telapak Gene dan memasukkan uang tersebut. "Simpan saja untuk keperluan kamu." "Aku masih punya uang, Kakak." "Gene, ini kewajiban kakak. Jangan membuat kakak menjadi lalai." Dengan begitu Gene tidak bisa berkata-kata. Pada akhirnya niat membantunya tidak pernah dapat dijalankan sempurna. Kakaknya tetap mau bertanggungjawab. Gene suka. Sangat. Kakaknya selalu memperdulikan dia. Hanya saja dia merasa kasihan. Kakaknya ini perlu juga keringanan. "Jangan bersalah begitu." Liam merangkul bahu Gene ke dekatnya. "Balas saja seperti biasa. Nilai yang bagus, oke?" "Oke." Gene menyelipkan tangannya ke punggung Liam. Memeluknya sangat erat. "Rasanya setiap hari aku semakin bisa melupakan papa dan mama. Terima kasih, Kak." "Kamu tidak harus melupakan mereka, Gene." Liam mengusap-usap lembut surai Gene. "Cukup tahu saja bahwa kesedihanmu yang terlalu mendalam untuk mereka tidak berarti apa-apa. Jadi jangan bersedih lagi. Kita semua sudah bisa melewatinya. Papa dan mama pun di sana kakak kira sudah berhasil juga. Mereka bahagia. Kita juga harus begitu." "Aku mengerti, Kak." "Bagus. Sekarang kamu mandi. Kakak akan memasak. Suruh Alex bergabung juga ya." Gene melepaskan pelukannya. "Kenapa Alex?" "Dia tetangga kita, temanmu dan kakak juga. Akan ramai jika dia bergabung." "Dia punya keluarga. Dia pasti akan memilih makan dengan mereka daripada kita." Liam beranjak saja. Tidak mau ikut campur dengan perkataan subjektif Gene tersebut. Lagipula nanti pasti dia juga yang akan bergerak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN