Plan B

1142 Kata
"Beri aku waktu beberapa hari." Inilah yang membuat Liam tersenyum. Memang masih belum memiliki harapan pasti bahwa dia akan bebas, tapi "beberapa hari" yang Justine bilang sudah mengisyaratkan bahwa mereka sedikit keberatan dengan tawarannya. Semoga saja semakin berat. Dia sangat tidak sabar untuk tetap bebas. "Kakak, aku berangkat." Seruan Gene membuat Liam bergegas keluar. Hari ini dia masih enggan pergi ke toko Celine. Ia ingin fokus memikirkan rencana B seandainya Justine tidak menuruti kemauannya. Itu tetap harus dibuat mengingat ia belum mendapatkan kepastian. "Hati-hati." Liam mengulurkan dua lembar uang sepuluh dolar. "Ini, beli makan siang yang sehat." "Terima kasih." Gene menyimpannya ke saku jaket. Itu telah usang. Liam jadi berpikir untuk membelinya. Beralih jauh kemudian akan pikiran seandainya dia tidak ada di samping Gene. Siapa yang akan memperhatikan perempuan itu? Alex? Brian? Mereka bukan keluarganya. Tidak ada kewajiban menjaga Gene sebagai kepastian. "Gene?" "Kenapa?" "Bagaimana jika kakak bekerja di luar daerah?" "Oh di mana itu? Brimington, Louvereton atau Greenton?" "Intinya itu jauh. Apa kamu bisa sendiri di sini?" "Kakak tahu bahwa setelah kepergian papa dan mama aku telah belajar untuk mandiri. Setelah bertahun-tahun aku berhasil menjadi sosok seperti itu. Aku bukan saja bisa melakukan hal penting untukku diriku sendiri, tapi juga sudah mampu tidak bergantung pada orang lain. Secara kemampuan aku siap, tapi secara batin aku tidak. Kakak satu-satunya keluargaku yang tersisa setelah Ava. Kakak juga sosok representatif dari papa dan mama." Gene menggeleng. "Maaf, aku tidak bisa." Liam tadinya sudah berpikir ke sini, tapi dia masih ingin bertanya untuk memastikan. Padahal dia yang paling tahu seperti apa mental Gene setelah kematian orangtuanya. Ia juga tahu seberapa besar Gene menganggap penting eksistensinya. Dia bukan saja sebagai kakak dan orangtua, namun juga elemen penting mental Gene itu sendiri. "Tapi kakak juga punya pilihan." Gene tersenyum. Mengeratkan tas di punggungnya tanpa emosi. "Karena pada akhirnya bukan aku ataupun Ava yang menjadi penentu keputusan kakak, tapi kakak sendiri. Itu hak kakak. Lagipula ada banyak remaja di Setson yang tinggal sendirian. Kakak tidak perlu cemas seandainya aku di posisi itu. Oke. Aku berangkat." Gene maju, memeluk erat tubuh Liam sementara pemiliknya masih terdiam. Selang beberapa menit ia melepas pelukan dan melambaikan tangan. "Sampai ketemu nanti." Liam masih di sana sampai mobil Gene terlihat menjauh. Setelah benar-benar tiada, ia maju untuk menutup rapat pintu. Merosot kemudian ke bawah lantai dan mengusap wajah. Semakin hari, dia semakin bingung. Padahal sebelumnya kehidupannya baik-baik saja. Itu hanya tentang bekerja dan merawat Gene. Tidak pernah memikirkan hal-hal semacam ini. Siang harinya dia memeriksa matanya. Waktu itu warna irisnya pernah berubah merah, tapi sampai hari ini ungu menjadi warna akhirnya. Dia menekan kedua tangan pada pinggir wastafel. Menatap lekat-lekat iris matanya. Apa jadinya jika Justine tahu irisnya berwarna ungu? Mungkinkah dia diblacklist dari daftar calon hidden army atau justru semakin dipaksa bergabung karena dianggap terkuat?  Liam tidak tahu jawabannya. Oleh karena itu dia semakin terombang-ambing. Rencana B jelas harus mulai dibuat. Salah satunya ia berpikir untuk memberitahu Gene apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya. Jelas termasuk kemampuan luar biasanya. Gene perlu tahu agar nanti tidak kebingungan saat dia pergi. Akan tetapi Liam tidak yakin itu keputusan yang baik. Jadilah dia tetap pusing. Sementara pikirannya demikian, hatinya pula mulai cemas. Bagaimana jika Justine setuju? Dia akan menjadi hidden army. Jessi telah mengatakan lewat pesan singkat bahwa itu tidak berlangsung di kotanya sekarang. Seperti yang mulai ia pikirkan, dia dan Gene akan terpisah.  Bagaimana nasib Gene? Dengan siapa ia akan tinggal? Siapa yang merawatnya? Lalu bagaimana nasibnya di sana? Apa dia masih berkemungkinan untuk pulang? ** "Gene.." Anak itu melirik saja kedatangan kakaknya. Mulutnya sendiri tengah mengunyah keripik kentang. Di tepi bantalnya laptop menyala, menampilkan sebuah film remaja. "Ada yang ingin kakak katakan." Liam mendudukkan diri di tepi ranjang. Ia telah memikirkan ini sepanjang siang hingga makan malam. Akhirnya menemukan bahwa dirinya langsung setuju untuk bergerak. "Apa itu?" Lidahnya kelu. Padahal tadi sudah yakin untuk jujur. Kalau dipikir-pikir memang baiknya begitu. Daripada Gene khawatir akan ketidaknormalannya, lebih baik Gene tetap curiga saja. "Seandainya kakak tetap pergi ke luar kota, kamu tinggal saja di Greenton. Itu akan dekat dengan Ava." Akhirnya dia melencengkan topik. Sialnya malah berkaitan dengan apa yang tidak ia inginkan. Tapi inilah rencana B miliknya. Seandainya dia tetap pergi Gene sudah tahu alasannya, meski itu sedikit berbumbu kebohongan. Jadi tidak ada lagi perdebatan di antara mereka yang memperparah situasi. "Kakak beneran akan berangkat?" "Entahlah. Kakak masih berpikir saja. Namun tidak ada salahnya kamu tahu lebih awal." "Ya, Greenton bagus. Aku bisa dekat dengan Ava." "Terima kasih ya sudah mengerti kakak." "Tapi kakak harus janji untuk tetap mengunjungi aku dan Ava." "Tentu." Liam mengusap lembut rambut Gene. Menenangkan kegelisahan perempuan itu akan tindakannya di masa depan. "Kakak akan selalu mengunjungi kamu dan Ava di setiap kesempatan. Kalian kan anggota keluarga kakak yang tersisa dan lagi, kalian adalah adik-adik kakak—alasan kakak terus ingin hidup di dunia ini. Tidak mungkin kakak akan mengabaikan kalian." "Jadi?" Gene mematikan film. Menoleh kemudian pada kakaknya. "Kakak akan tinggal di mana?" "Itu masih belum ditentukan, Gene." "Kakak harus punya tempat yang layak. Gajinya juga harus cukup untuk makanan sehat dan pakaian kakak. Jika tidak, maka kakak sebaiknya tidak perlu pergi." "Kakak mengerti, Gene. Lagipula mana ada manusia yang ingin rugi kan?" "Eum." Gene mengangguk. "Apa Ava sudah tahu hal ini?" "Belum. Nanti setelah waktunya tiba kakak baru akan berbicara. Jika sekarang takutnya dia malah terbebani dengan hal tidak jelas lebih dulu." "Lalu Kak Annie?" Teringat lagi benaknya akan kejadian semalam. Annie tidak mau menemuinya. Ia memaklumi bahwa itu sepadan dengan perbuatannya. Akan tetapi dia malah berujung menyerah untuk bersama Annie. "Sama, nanti setelah waktunya tiba saja." Sorot Gene tidak lepas dari wajahnya. Ia seperti mencari-cari jawaban. Ah memang begitulah kebiasannya. Liam sudah terbiasa, meski terkadang merasa kesal juga. "Tidurlah. Ini sudah larut." Liam menarik selimut sebatas punggung Gene. Menepuk-nepuk pelan puncak kepalanya dengan sayang, lalu beranjak. "Kakak juga tidur. Jangan begadang!" seru Gene sebelum pintu tertutup. Liam tidak menurut. Ia terjaga dengan pikiran sibuk akan apa yang terjadi besok dan setelahnya. Pastinya yang paling utama adalah memikirkan keadaan Gene tanpanya. Liam percaya Gene tetap bisa menjalankan hari. Akan tetapi dia tidak bisa membayangkan betapa sedihnya perasaan gadis itu hanya sebatang kara dan tanpa kasih sayang setiap harinya. Rencana B mungkin tidak seharusnya ada. Dia tetap harus bersama Gene. Tetap dengan kehidupannya saat ini, tidak dengan lembar baru. Tring Pesan dari Justine membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Terus dia berdoa agar itu adalah ketidaksetujuan. Nyatanya sedikit melenceng, Justine mengajukan cicilan. Tanpa pikir panjang Liam mendesak bahwa itu tetap harus ada dengan nominal sama sebelum dia berangkat sebab itu adalah utangnya. Kewajiban begitu pastilah akan membuat Justine yakin dia tidak mengada-ada. Sebagai ancaman, Liam mengatakan dia akan mengambil kerjaan di Brimington seandainya Justine tidak segera memutuskan. Lagi, Justine meminta waktu. Untuk sesat Liam bernafas lega. Setidaknya Justine benar-benar kewalahan. Ada harapan bahwa dia akan dibebaskan dari paksaan untuk bergabung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN