Ada getaran halus di sakunya yang berasal dari ponsel. Liam meletakkan selada yang hendak ia ambil dan memeriksanya.
Saldo rekeningnya bertambah. 150 juta dolar, tepat seperti yang ia minta pada Justine. Jantungnya berdetak lambat. Memproses perlahan situasi yang memungkinkan setelah ini.
Justine: Aku sudah mengirimnya. Besok Jessi akan menjemputmu.
Dia menghapus pertanyaan di benaknya akan cara Justine mengetahui rekeningnya. Itu tampak tidak lagi berguna. Intinya Justine telah memenuhi permintaannya, kini giliran dia untuk memenuhi tanggung jawabnya.
Tanpa pikir panjang Liam mengembalikan saldo pada pengirim. Mengatakan juga pada Justine bahwa dia telah menerima uang dari bos barunya. Dengan kata lain Justine telah terlambat.
"Liam?"
Dia mengangkat wajah. Menoleh ke samping dan menemukan wajah Annie. Andai saja moodnya tengah bagus, dia pasti akan menyapa ramah. Tapi kali ini moodnya tengah buruk. Jadi mudah baginya menganggap tindakan Annie sebelumnya sebagai hal yang mengesalkan. Itu berujung membuatnya malas menyapa Annie.
"Mau membeli apa?"
"Bahan makanan."
Liam menyakukan ponsel. Buru-buru memasukkan selada dan beberapa sayur lain ke dalam trolley-nya. Begitu selesai dia langsung beranjak.
Annie mengikuti. Tidak jadi mengambil sayuran. Ia turut membayar belanjaannya yang sedikit tersebut dan mengikuti Liam keluar.
"Maaf, semalam aku benar-benar sibuk."
"Tidak apa-apa."
Liam juga sudah malas untuk peduli. Masalahnya sekarang lebih penting daripada Annie.
"Liam.."
Annie menahan pergelangan tangan Liam. Beruntung dia langsung melemaskan bahu. Jika tidak, maka Annie akan kesulitan menariknya.
"Apa?"
"Aku benar-benar minta maaf."
"Iya."
Harusnya itu sudah cukup kan? Liam sudah mengatakan apa yang Annie inginkan. Namun tangan tersebut tidak kunjung beranjak dari pergelangannya. Liam jadi tahu bahwa ada hal lain yang Annie inginkan darinya.
"Kamu mau apa? Aku sedang buru-buru."
Pelan-pelan jari Annie yang erat itu terlepas. Liam langsung mengambil langkah. Dia dan Gene perlu segera berkemas. Entahlah ke mana ia harus pergi. Yang pasti dia harus menghindari Justine.
**
"Pindah? Sekarang?"
Gene meraih gelasnya dan menyesap pelan. "Kenapa? Kakak jadi pergi ke luar daerah?"
"Iya. Jadi kita harus segera mencari tempat baru dan aman untuk kamu."
"Di sini saja, Kak. Ada tuan dan nyonya Manuvero yang dapat menjadi waliku."
"Tidak, Gene. Di sini tidak aman."
"Jadi di mana? Greenton seperti yang kakak bilang sebelumnya? Apa cukup biayanya?"
Tentu saja tidak. Uang Liam hanya sekitar seribu dollar saja. Itu benar-benar tidak cukup untuk pindah ke Greenton.
"Brian punya apartemen di dekat Daston. Itu tidak jauh dari sekolah dan dekat dengan pusat perlindungan manusia. Mungkin aku bisa pindah ke sana."
"Tanya padanya apa masih ada apartemen yang kosong."
"Oke."
Gene membuka ponsel. Langsung bertanya kepada Brian. Liam pula menunggu-nunggu dalam cemas.
Daston memang tidak terlalu jauh dari Setson. Untuk sekarang yang terpenting dia pindah, lalu menyembunyikan diri. Dia sungguh enggan menjadi hidden army.
"Brian akan datang. Nanti kakak tanyakan saja lebih lanjut padanya."
Liam mengangguk. Tersenyum kecil untuk menutupi kecemasannya. Mereka lalu melanjutkan makan malam dalam diam.
Sekitar pukul delapan lewat sebelas menit Brian datang. Penampilannya tepat seperti habis melakukan pekerjaan. Kemeja hitamnya lusuh dengan tiga kancing terlepas yang menampakkan kalung salib. Celana jeansnya pula terlihat kotor oleh debu dan bekas cat.
"Tidak ada apartemen kosong lagi di sana, tapi temanku bisa pindah jika kalian benar-benar membutuhkannya."
Angkuhnya bukan main. Jika saja Liam jenis pria yang mudah emosi, maka dia pasti akan menyemburkan kalimat kasar pada Brian.
"Kami membutuhkannya. Bisa kamu bicarakan pada temanmu untuk mengosongkan segera unit itu?"
Brian mengangguk. "Tentu."
"Berapa biaya sewanya?"
"600 dollar per bulan. Itu sudah termasuk listrik dan air."
"Tunggu," kata Gene menginterupsi. Dia sudah selesai menganalisis cara bicara Brian dan itu merujuk seolah dia yang berkuasa. Jadi Gene menaruh kecurigaan bahwa memang Brian pemiliknya atau setidaknya memiliki relasi dengan pemiliknya. "Apa apartemen itu milikmu?"
"Pamanku," koreksi Brian.
Kini Liam mengerti kenapa gaya bicara Brian begitu angkuh. Dia memang punya kekuasaan untuk bertindak angkuh.
"Jadi bagaimana? Kalian mau menempatinya malam ini atau besok?"
"Apa bisa malam ini?" tanya Liam tak yakin. Teman Brian pasti punya banyak barang untuk dipindahkan. Belum lagi dia harus mengurus administrasi.
"Dua jam. Kalian bisa datang setelah itu."
Brian bangkit dari sofanya. Mengedikkan dagu kemudian ke meja tanpa melepas pandangan dari Gene.
"Makanlah selagi hangat."
Tadi dia membeli kebab daging di jalan untuk Gene. Itu benar-benar untuk Gene saja. Dia tidak menawarkan sama sekali kepada Liam.
"Kenapa kau bisa pacaran dengannya?"
Liam benar-benar tidak habis pikir. Brian memanglah tampan, dominan, sexy dan berkuasa. Tapi sifatnya itu menyebalkan. Dia saja sampai tidak tahan untuk mengumpat.
"Aku juga tidak tahu."
Gene mengambil kebab dari tempatnya dan mengambil gigitan. Pupil matanya melebar. "Eum. Enak. Ayo coba, Kak."
"Kamu lupa? Dia hanya memberikannya untuk kamu."
Gene tertawa karenanya. Dasar Brian. Ketika sudah punya target, maka dia tidak akan peduli pada orang lain. Baik itu untuk kesopanan ataupun yang lainnya.
"Kenapa Brian datang?"
Alex menutup kasar pintu di belakangnya. Dadanya yang naik turun memberitahu Liam kondisi emosinya.
"Ah kebetulan. Al, tolong bantu kakak berkemas."
Liam mencubit lengan Gene. Tidak tahu situasi sekali. Jelas-jelas Alex menunjukkan amarah dan kecemburuan. Apa tidak bisa dia meredakan itu sebelum meminta bantuan? Setidaknya lebih sopan kan?
"Berkemas? Kalian akan pindah ke mana?"
"Daston," jawab Liam. "Tidak terlalu jauh untukmu berkunjung kan?"
Alex menghela nafas. Tidak ada yang tahu itu kelegaan atau kepasrahan. Jadi mereka diam saja.
"Apa yang perlu dikemas?"
Alex berdiri. Liam pun turut berdiri. Mereka lalu memulai dari kamar Gene sebab di sanalah barang-barang yang terbanyak.
**
"Oke, semuanya sudah selesai. Terima kasih atas bantuan kalian."
Beberapa orang remaja seumuran Gene itu meninggalkan pekerjaan terakhir mereka. Berkumpul kemudian pada Brian untuk mendapatkan beberapa lembar uang sebagai imbalan.
"Ayo bergabung," ajak salah satunya.
"Nanti saja," tolak Brian. Ia lalu kembali pada Gene yang tengah memperhatikan balkon. Namun sebelum sampai Alex telah mendahuluinya. Liam yang memperhatikan itu pun geleng-geleng kepala. Adiknya benar-benar luar biasa. Ia menjadi rebutan dua pria yang luar biasa juga.
Alex si laki-laki baik, tampan dan keren. Kemudian Brian si laki-laki tampang badboy, kelakuan angkuh, tapi tampan dan baik (khusus untuk Gene). Dua-duanya dapat diandalkan. Karena itu Liam sekarang lebih bingung untuk merestui salah satunya.
Ah tapi masih jauh. Gene baru kelas 2. Masih ada satu tahun hingga dia lulus. Itu pun belum tentu akan langsung menikah.
Liam menutup pintu. Merapikan tempat tidur untuk Gene dan dirinya. Unit ini terbilang cukup besar. Di samping kiri pintu telah ada pantry berserta rak dan bak cuci yang berkualitas. Sisi kanan pula adalah sofa. Lalu di depannya ada sekat. Di baliknya itulah ranjang king size berada. Walk in closet pun melengkapi sebagai fasilitasnya. Di sebelahnya kamar mandi dilengkapi dengan shower dan bath up. Ada juga gudang dan spasi untuk meja makan. Menurut Liam ini lebih dari cukup untuk mereka.
"Kau akan tidak tidur dengan Gene kan?"
Liam melirik tajam pada Brian. Ia mendudukkan diri di tepi kusen jendela. Sorot matanya sama sekali tidak bersahabat. Liam seolah dianggap musuh baginya.
"Kalau iya kenapa memangnya?" tantang Liam. "Dia adikku."
"Kalian sedarah? Kenapa tidak ada yang terlihat sama?"
"Apa kau pikir apel dari pohon yang sama pun berbentuk sama?"
"Setidaknya mereka akan memiliki warna yang sama."
"Dengar."
Liam menegakkan tubuh. Meletakkan tangan di pinggangnya. Harus dia akui kalau dia memang tersulut. Itu karena dia juga sadar, dia dan Gene tidak memiliki kesamaan fisik.
"Aku tahu bahwa kau masih mencintai adikku, tapi kau tidak perlu menunjukkannya sampai sebanyak ini. Itu terlihat menjengkelkan."
"Kau takut merasa tidak mampu melakukan yang sama padanya?"
Astaga. Sosok di depannya sungguh menyebalkan. Liam merasa bingung untuk kata-katanya sendiri.
"Besok aku akan meminta seseorang merobohkan dinding. Gene bisa memilikinya kamarnya sendiri."
"Terima kasih, tapi kami tidak memerlukannya."
"Gene membutuhkannya. Dia mudah merasa tidak nyaman dengan orang lain."
"Aku kakaknya."
"Di zaman ini siapa yang percaya itu? Seorang ayah bahkan bisa menganggap anaknya sebagai wanitanya."
Liam mendelik. Brian ini sudah gila. Dia posesif sekali pada Gene. Parahnya menjadi berpikiran negatif dengan mudahnya, termasuk pada dia selaku anggota keluarga Gene sendiri. Haruskah Liam memukul kepala itu agar sadar?
"Aku tidak tahu secara lengkap apa yang terjadi padamu, tapi kau adalah seorang pria. Majulah. Jangan bersembunyi. Itu tidak akan berguna."
"Apa sebenarnya yang ada di kepalamu?"
Tadi dia menganggapnya selaku musuh. Kini memberi nasehat seolah dia adalah orang yang dikasihi.
"Hidden army tidak akan pernah melepas bagian mereka."
"Kau tahu?" sergap Liam. Ia melirik pintu balkon. Gene dan Alex masih berbincang.
"Ayo keluar."
Liam menarik kerah kemeja Brian. Anak itu menarik dirinya. Menghempas kemudian kerahnya seolah tangan Liam menaburkan kotoran di sana.
Liam tidak mau tersinggung. Dia mau penjelasan Brian.
"Ini rahasia keluarga saja. Salah satu pamanku pernah menjadi hidden army."
"Apa itu berbahaya?"
"Aku pikir kau tahu bahwa tidak ada hal yang tidak berbahaya di dunia ini. Benar kan?"
"Kau benar." Liam mengangguk. Semua hal pada dasarnya berbahaya, memiliki resiko tersendiri.
"Aku tidak tahu apa kegiatan mereka selaku hidden army, tapi yang pasti pamanku tetap sehat. Hidden army merawatnya dengan baik."
"Tunggu, bagaimana kau bisa tahu aku berhubungan dengan hidden army?"
"Aku sering berkeliaran di Setson, man. Lagipula kau adalah orang terdekat Gene. Aku tahu seperti apa tubuhmu sebelum ini. Itu persis seperti saat aku melihat pamanku. Dalam satu malam dia berubah menjadi sempurna."
"Apa pada awalnya dia juga menolak tawaran?"
"Katanya hampir setengah anggota hidden army mengawali keanggotaan dengan begitu. Mereka menolak, cemas dan sebagainya. Tapi pada akhirnya mereka tetap bergabung. Seperti yang aku bilang, hidden army tidak akan melepaskan bagian mereka. Entah bagaimana mereka tetap akan bergabung."
"Aku takut Gene sendirian. Dia hanya memiliki aku selain Ava."
"Kalau begitu memang sulit." Brian mengguncang botol minumnya. Menegak kemudian isinya dalam pantauan Liam.
"Apa kemampuan ini bisa hilang?"
"Bisa, tapi kau harus berhubungan dengan mereka. Namun jarang sekali ada yang berpikiran begitu. Hidden army sangat menguntungkan. Kau tidak akan rugi."
"Seolah kau tahu isinya seperti apa."
"Lalu kau? Menolak seolah tahu saja bahwa itu memang bahaya."
Liam merebut botol Brian. Ia menegak isinya dengan kesal. Pandai benar menjawab. Membuat emosi naik saja.
"Kau tidak bisa membuat dua orang tetap pada tempatnya. Mereka bukan patung. Mereka punya jiwa sendiri, keinginan dan kebutuhan sendiri. Pastinya juga raga yang terpisah."
Liam merendahkan kepala. Membiarkan kedua tangannya yang ada di paha terjuntai tanpa daya.
"Gene dan kau punya kehidupan masing-masing. Bukan kejahatan jika kau memilih kehidupanmu sendiri."
"Gene membutuhkan aku. Aku bukan saja representatif dari walinya, tapi juga kakak dan pendukung mentalnya."
"Biar bagaimanapun aku bukan kau. Jadi lupakan saja kalimat-kalimat itu."
Brian beranjak. Menepuk-nepuk celananya yang terkena debu dari pembatas jalan. Tanpa izin dia melangkah kembali ke dalam apartemen. Liam mengangkat wajahnya, menatap pada langit berbintang dan menghela nafas.