Grand Centralium

1738 Kata
Kelopak matanya terasa sangat berat untuk diangkat. Meski demikian dia memaksa untuk membukanya. Nyeri lalu menyerang tengkuknya seiring paksaan sarafnya ke mata. Pelan-pelan bayangan abstrak muncul di benaknya. Tadi pagi dia keluar untuk membeli bahan makanan. Tiba-tiba saja tengkuknya tertusuk sesuatu. Lalu kelopak matanya terbuka, cahaya terang langsung menyerang. Dia menyipit akan serangan tersebut. Tidak ada yang bisa dia lihat sampai dia menoleh ke samping. Ada rak-rak berisi botol-botol kaca. Cairan-cairan di dalamnya berwarna indah seperti pelangi. Beberapa memiliki gliter yang memukau. Liam mendudukkan tubuh. Mengusak matanya yang terasa menggelap akibat terpapar cahaya yang terlampau terang. Dia kemudian berdiri. Melihat ke langit-langit tempatnya berbaring. Itu lampu operasi. Sontak dia melihat badannya dan meraba. Tidak ada yang terasa sakit atau berubah. Dia tetap memakai pakaian yang sama. "Kau sudah bangun?" Pria bugar berjas putih menutup pintu di belakangnya. Mendorong trolley berisi cairan ke dekat meja. "Aku di mana?" Liam masih menyembunyikan kekesalannya. Tak lain karena pria yang ada di depannya memiliki aura yang baik. "Grand Centralium." Dia jelas tidak tahu tempat apa itu. Tetapi firasatnya telah mengatakan bahwa itu berhubungan dengan hidden army. "Apa ini tempat hidden army?" "Tidak, maksud saya ini tempat tetua hidden army." "Tetua?" Liam memperhatikan sekitarnya. Botol-botol cairan yang paling mendominasi. Lalu disusul oleh alat-alat penelitian dan pemeriksaan. Wujudnya sedikit berbeda dari yang pernah ia lihat di dunia kesehatan, tapi itu hampir sama. "Jadi kau yang menciptakan cairan itu?" "Bukan saya." Remus duduk di kursinya. Mengarahkan telapak tangan pada kursi di depannya pula. "Apa Justine ada di sini?" Liam tidak menerima tawaran Remus. Dia sudah diburu oleh perasaan ingin kabur. "Dia keluar. Mungkin sebentar lagi akan kembali. Duduklah." "Dengar, aku tahu bahwa kemampuanku ini bukan milikku. Jadi kalian ambil saja kembali. Aku benar-benar tidak berminat bergabung menjadi hidden army. Sungguh." "Begitu ya." Remus mengangguk-angguk kecil seolah berusaha untuk mengerti. Dia kemudian menyatukan jari-jari panjang dan putihnya di atas meja. "Tapi, beberapa orang mendapatnya sebagai kemampuan permanen. Jadi itu tidak bisa hilang. Jika kamu memiliki kemampuan permanen, maka mereka pasti akan memaksamu bergabung sekalipun harus melukai keluargamu." Ini ancaman terselubung. Liam tidak bisa menjadi positif. Dia langsung membayangkan Gene dan Ava dilukai hanya karena dirinya. Dia menggeleng. Dia tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Tidak akan. "Kemampuanku mungkin tidak permanen." "Itu yang akan kita cari tahu." Remus melirik pintu. "Masuk." Mula-mula knop bergerak, lalu pintu terbuka dan menampilkan dua orang pria bertubuh raksasa. Tinggi Liam dan mereka sama. Tapi bentuk tubuh itu benar-benar besar. Liam pikir kemampuannya pasti berada di level atas. "Ini saja yang dapat aku lakukan. Jadi jangan melawan. Jika kau kemampuanmu benar-benar tidak permanen, maka aku bisa melemahkan kemampuan tersebut hingga hilang. Kau akan bebas." "Aku setuju." Meski Liam tahu untuk beberapa saat dia akan berjauhan dengan Gene, tapi dia tetap harus melakukannya. Dia sungguh ingin tahu apa kemampuannya bisa dihilangkan atau tidak. Itu akan menjadi kunci kebebasannya. "Bawa dia ke sel." Liam diam saja salah seorang dari mereka memborgol tangannya. Ia lalu didorong untuk keluar. Lorong-lorong tinggi dan gelap menyambut. Udaranya sumpek dan berbau bahan kimia. Tidak nyaman benar untuk indera penciumannya. Masuk ke dalam lift. Ia memperhatikan angka 2b yang merujuk pada basement ditekan. Kotak lift itu bergerak naik dengan cepat. Begitu terbuka lorong terang menyambut. Ada ruangan di sisi kiri dan kanan yang terlindung oleh pintu-pintu kayu bewarna hitam. Mereka berhenti di ruangan terakhir. Pintu didorong oleh kaki salah seorang yang menggiringnya tersebut. Begitu terbuka tampillah ruangan sebesar lapangan sepak bola dengan ratusan orang mengisi setiap mejanya. Riuh rendah suara memekakkan telinga seketika berhenti. Sorot mata mengarah padanya. Itu beragam dari positif hingga negatif, iba, penasaran, meremehkan dan masih banyak lagi. Liam merasa dirinya mengecil. Terintimidasi dan seolah dihakimi. Jantungnya berdetak tak karuan. Benar-benar takut akan nasib dirinya. "Cepat habiskan makanan siangmu." Borgolnya dilepas. Liam memeriksa pergelangan tangannya. Tidak ada bekas sama sekali. Padahal dia yakin bahwa borgol itu sangat ketat. "Kami di sana." Liam mengikuti pergerakan dua pria yang tadi menggiringnya. Ia mendapati name tag mereka, satu dengan rambut putih bernama Daeran dan satu lagi dengan luka parut di wajahnya bernama Fugus. "Hey." Jessi memukul bahu Liam. Meringis kemudian karena tangannya terasa remuk. "Kau tidak pernah belajar dari pengalaman ya," ejek Liam. "Kau mengenalnya?" Perempuan lain muncul dari belakang Jessi. Belasan orang lain menyusul. Sorot mereka tidak bersahabat. Liam menjadi heran dibuatnya. Padahal seingatnya dia tidak membuat kesalahan. "Ungu? Apa itu warna baru?" sela salah satunnya. "Ya, warna baru yang tidak terdaftar." Senyum mengejek pria berambut merah tersebut membuat Liam sedikit kesal. Tapi Liam tidak mau membuat masalah. Jadi dia membiarkan saja tinju pria itu mengenai dadanya. Namun se-inchi pun dia tidak bergerak. Si pelaku yang malah merosot ke bawah dan menjerit memegangi tangannya. Warna merah terang naik ke permukaan kulitnya. Teman dari si pelaku merasa ingin menguji kemampuan mereka dibuatnya. Jadilah secara bersamaan mereka menyerang Liam. Dari depan dan belakang, mereka secara bergantian mengenai tubuhnya. Tetapi tidak ada yang berhasil membuat Liam terjatuh. Mereka malah menjerit, merasakan nyeri sampai ke tulang-tulang. Yang awalnya duduk menjadi tergerak untuk mencoba. Liam menjadi muak. Dia bukan bahan percobaan kekuatan mereka. Jadi dia mendorong pria terakhir yang hampir menyerangnya. Tubuh itu terlempar jauh. Secara reflek dia berlari. Menahan punggung pria itu agar tidak menabrak dinding. Gesekan sepatunya dan lantai menciptakan jeritan yang ngilu di telinga. Fugus mendorong kotak makan ke d**a Liam. Mau tidak mau dia menerimanya, takut jika tidak malah membuat makanan tersebut jatuh ke lantai. "Ayo." Tanpa pikir lagi Liam mengikuti Fugus. Mereka duduk mengelilingi sebuah meja di sudut. Tidak ada yang bersuara. Raut tidak ramah mereka juga menutup keberanian Liam untuk bertanya. Jadilah dia memakan saja makanannya. Mendengus kasar kemudian karena sadar bahwa dia tidak membawa ponsel. Itu berarti dia tidak bisa memberikan Gene informasi. Tapi tidak mengapa. Ini hanya sementara, pikirnya menyemangati diri. ** Beberapa jam setelahnya Liam dibawa ke ruangan Remus kembali. Sudah ada belasan jarum suntik di sana. Masing-masing terisi dengan cairan berbeda warna. "Duduklah." Liam menurut. Duduk di kursi yang ada. Remus mengangkat satu jarum suntik. Berjalan keluar dari kursinya. "Mungkin ini akan sedikit sakit." Jarum perlahan-lahan menembus kulitnya. Meninggalkan cairan ke dalamnya yang langsung berbaur dengan darah. Begitu ditarik kembali, nyeri tertinggal sedikit. Namun itu tidak membuat Liam sampai mengategorikannya sebagai rasa sakit. Suntikan kedua diambil. Tempatnya digeser sedikit dari yang sebelumnya. Sama, Liam tidak merasakan nyeri yang berlebihan. Itu berlangsung sampai ke suntikan terakhir. "Bagaimana dengan tubuhmu?" Remus meletakkan bekas suntik terakhir ke meja. Biasanya di suntikan ketiga orang-orang yang memiliki kemampuan sementara sudah tumbang. Tetapi Liam masih bertahan. Dia yakin bahwa kemampuan Liam permanen, tapi itu tetap belum memiliki bukti konkret. Jadi dia tidak akan mengatakannya pada Liam. "Seperti biasa." Remus tidak merespon. Ia mengambil kacamatanya dari laci dan memakai. "Majukan wajahmu." Liam menurut. Membiarkan kemudian Remus melihat jauh ke dalam matanya. Iris ungu itu benar-benar solid. Tidak ada kabut yang menandakan pudarnya warna. "Kembali ke ruanganmu. Besok aku akan mengecek darahmu." "Baik." Liam beranjak. Daeran dan Fugus masih bersandar di dinding. Begitu ia menutup pintu, mereka melangkah. Dalam keheningan hanya derap sepatu mereka yang terdengar. Lampu-lampu sudah dimatikan. Anehnya Liam mampu melihat jelas sekitarnya. Jadilah dia baru tahu bahwa dia memiliki kemampuan lain. Kursi-kursi di ruang makan hampir penuh. Tapi di sudut tempat Liam tadi siang duduk masih kosong. Itu adalah wilayah khusus Daeran dan Fugus. Liam mengambil makanannya. Hanya spaghetti dan jus jeruk saja. Ia tidak minat makan. Sibuk memikirkan keadaan Gene. Ini telah malam. Pastilah Gene tidak bisa lagi mentolerir keterlambatannya. Sebentar lagi malah menjadi khawatir akan dirinya. "Apa ada telepon di sini?" Fugus hanya memandangnya untuk beberapa saat. Dia kemudian menggeleng. Dengan malas Liam menghabiskan makanannya. Kembali ke dalam sel yang tertutup. Itu sebenarnya tidak buruk. Kasur dan bantal sangat empuk. Bahkan selimutnya pun harum. Ada televisi dan juga penerangan yang cukup. Bisa disimpulkan bahwa hidden army tidak memperlakukan anggotanya dengan buruk. Namun tetap saja Liam tidak mau menyerah. Dia mau dunianya yang lama. Bersama Gene dalam kenormalan. Tidak ada yang bisa terpikirkan oleh Liam sebagai jalan keluar. Akhirnya dia memilih mematikan lampu dan memejamkan mata. Berharap pagi segera datang dan dia mendapati dirinya tidak memiliki kemampuan permanen. Dengan begitu dia bisa kembali menjadi biasa-biasa saja dan pulang. Kesadaran Liam yang hampir hilang tertarik kala mendengar knop pintu diputar. Ia segera membuka mata. Fokus pada pintu. Lampu menyala. Daeran berdiri di samping stop kontak. Wajahnya tampak sedikit gelisah, Liam jadi curiga akan adanya masalah. "Brian bilang adikmu tidak ada di apartemen." Sontak pupilnya melebar. Daeran langsung mendesah berat. "Ya, aku kakaknya." Mengabaikan bahwa yang Brian katakan adalah pamannya. Liam menuruni ranjang dan memakai jaketnya. "Kau mau ke mana?" "Pulang." Daeran menahan bahu Liam. "Jangan sekarang. Mereka baru mulai berjaga. Tunggu sampai fokus mereka sedikit lengah." Knop pintu berputar. Daeran menarik cepat jaket Liam dan melemparnya ke tepi ranjang. Dia lalu merapikan ekspresinya menjadi datar layaknya patung. "Ah kau rupanya." Fugus menghela nafas. "Tadi aku melihat sosok mengendap-endap dari tangga bawah. Aku kira penyusup." "Penyusup tidak pernah sampai ke sini. Apa kau lupa?" "Selalu ada kemungkinan kan?" Fugus menepuk bahu Daeran. "Ayo keluar." Daeran mendorong Fugus lebih dulu. Membuka dua jarinya kemudian di belakang tubuh. Liam langsung menangkap itu sebagai kode. Tapi dia tidak tahu itu pasti. Jam dua atau dua jam lagi? Tapi karena itu Liam terus berjaga. Kala jam di tangannya menunjukkan pukul dua Daeran masuk. Melempar padanya sebuah topi dan masker. "Pergi ke lantai dasar. Temanku sudah ada di sana untuk membawamu keluar." "Kenapa kau membantuku?" tanya Liam seraya memasang maskernya. Wajar dia curiga. Dia dan Daeran baru saja bertemu. Tidak juga memiliki kesan baik satu sama lain. Jadi atas apa dia mau membantu? "Aku sudah lebih dari 10 tahun tidak pernah berbicara dengan Brian. Baru kali ini dia mengajakku berbicara. Memang demi tujuan tertentu saja, tapi aku tidak mau menyia-nyiakannya. Dia mempercayaiku." Liam memakai topinya. Siap sudah untuk beranjak. "Hidden army tidak akan pernah melepasmu jika kemampuanmu permanen. Jadi menyerah saja sebelum adikmu ikut dibawa-bawa." Itu hanya lewat di telinganya. Dia tidak menerimanya. Mungkin nanti dia akan memikirkannya. Sekarang adalah waktunya menemukan Gene. "Temanku memakai kaos biru muda. Ingat." "Terima kasih." Liam menepuk bahu Daeran. Langsung melangkah keluar. Lampu tidak ada yang menyala. Dia bergerak menuju lift, sementara Daeran mengikuti di belakang untuk berjaga. "Hei." Pintu lift hampir tertutup saat tangan Daeran menyelip masuk. "Tolong berikan ini pada Brian." Daeran melepas jam tangannya. Mengulurkan pada Liam. Tanpa meneliti lagi dia memasukkannya ke saku. Liam menekan lagi tombol dan pintu pun tertutup. Lift bergerak. Liam menyandarkan kepalanya ke dinding. "Padahal dulu semuanya baik-baik saja," gumamnya lemah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN