Takdir

1791 Kata
"Terima kasih." Liam menutup pintu mobil. Greg si pengemudi mengangguk. Menerima terimakasih yang diucapkan oleh Liam tersebut. Kaki panjangnya berjalan menjauh. Dia baru tahu bahwa dirinya kini tengah berada Mexsiston. Itu berarti dia perlu naik mobil atau kereta selama beberapa jam untuk sampai ke Daston. Masalahnya dia tidak memiliki sepeserpun uang di sakunya. Jadilah satu-satunya harapan adalah memanfaatkan kekuatannya. Sesekali lehernya melirik ke belakang. Mengawasi orang-orang yang mungkin mencurigakan. Semakin merasa aman, maka dia pun semakin membelokkan diri ke sembarang hutan. Begitu gelap sepenuhnya menelan, pohon-pohon tinggi menjulang menyambut dan suara hewan malam melolong, dia pun berlari. Dalam sekejap dia bagaikan angin. Liam menambah kecepatan. Namun tetap berusaha memperhatikan sekitarnya yang tampak abstrak. Setidaknya dia perlu tahu tanda-tanda tempat yang dia lalui agar tidak tersesat. Begitu mengenali sekitarnya adalah Daston dia pun mencari tempat gelap dan sepi. Ujung gang dekat belakang cafe menjadi pilihannya. Dia melepaskan tenaga. Menapak mantap di atas jalan yang lembab. Sesaat Liam menepuk-nepuk jaketnya. Beberapa helai daun kering yang menempel terjatuh. Setelah meyakinkan tidak ada yang aneh dari dirinya dia pun melangkah keluar gang. Pada jam segini tidak ada lagi orang-orang yang berlalu lalang. Dingin pula telah meningkat, memeluk tubuh Liam hingga dia merasa sedikit menggigil. Receptions depan gelagapan menyambutnya. Sepertinya tadi dia tampak sibuk bermain ponsel. Liam tidak menggubris. Menggesek kartu identitasnya dan kemudian masuk ke kealam lift. Kakinya bergerak-gerak gelisah seiring pergerakan lift. Dia sungguh tidak sabar untuk melihat Gene. Ting Pintu terbuka. Kakinya mengambil langkah panjang. Benaknya terus-menerus membuat prediksi akan keadaan Gene. Dia benci karena prediksi negatif yang lebih banyak muncul. Berhenti di depan unit Gene. Liam menekan bel. Berdiri dalam gelisah kemudian sembari menunggu. Untuk beberapa detik dia mencoba sabar. Tapi respon yang tidak kunjung ada membuat dia menekan bel lagi. Kali ini dia berusaha menunggu beberapa menit. Mengira bahwa Gene tengah berada di alam mimpinya. Jika demikian memang sulit baginya untuk sadar. Bel ketiga Liam bunyikan. Jawabannya yang tetap tidak ada menggerakkan dia ke ujung lorong. Itu adalah unit Brian. Dia tidak tahu apa orangnya ada di dalam atau tidak, tapi dia memaksa menekan bel. Secara kasar pintu terkuak. Brian tampil rapi dengan kaos putih berbalut jaket kulit hitam yang berkilau. Rambutnya pun tertata oleh gel. "Gene baru saja pergi." Hatinya mencelos. Sedih, marah dan tidak terima bercampur satu. Namun dia ingat bahwa ini mungkin memiliki keterlibatan dengan hidden army. Yang mana berarti bahwa dirinya lah yang membuat masalah untuk Gene. Brian menutup pintu dan melangkah. "Ayo," katanya. Tadinya dia mau mengantarkan Gene ke kereta, tapi Gene memaksanya untuk tinggal dan memberitahu Liam. Terpaksalah dia menunggu. ** Stasiun Daston tampak sunyi, tapi dari luar mereka dapat melihat adanya penumpang di dalam kereta listrik tersebut. Mata Liam bergerak cepat mencari sosok Gene. Begitu hasilnya nihil dia bergeser ke gerbong belakang. Matanya langsung bertemu dengan mata Gene. Perempuan itu tengah bersandar di tepi jendela. Menatap ke luar dengan sorot sendu yang memilukan hati. Liam hendak masuk, tapi kereta tersebut mulai bergerak. Dia tidak bisa menghentikannya. Itu adalah kereta listrik. Pintunya memiliki keamanan tingkat tinggi dan meskipun dia bisa melepasnya dengan kemampuannya, dia tidak mau. Dirinya akan terekspos. Pastinya malah akan membebani Gene. Jadilah diam di tempat. Memandang fokus kepada Gene tanpa kedip. Mata indah tersebut memerah. Tampak berair kemudian. Beberapa bulir akhirnya jatuh ke pipi. Bahu Liam melemah. Sudut hatinya terasa sakit. Dia ingin menghapus air mata tersebut. Mendekap Gene dan mengatakan bahwa segalanya baik-baik saja. Tapi dia tidak bisa. Hanya benaknya yang mampu demikian. "Ah sial." Brian di sampingnya mengumpat kesal. Dia belum sempat mengucapkan salam perpisahan. "Ke mana dia pergi?" Matanya masih fokus. Tidak berkedip bahkan sedetikpun. Dia masih mampu melihat bayangan Gene. Tentulah hanya buatan benaknya saja. "Greenton." Itu adalah ibu kota Greentonia. Pusat kegiatan terbesar negara dalam bidang politik dan ekonomi. Juga tempat di mana adik pertamanya bersekolah. "Kenapa dia ke sana? Apa hidden army yang memintanya?" "Ya, salah seorang hidden army memintanya bersekolah di Greentonia. Semuanya dijamin. Pendidikan, akomodasi dan makan. Jadi dia setuju. Terlebih katanya itu adalah cara untuk membuat kau tenang di dalam hidden army." Gene telah tahu segalanya. Liam mengusak wajah. Merasa menyesal karena bukan mulutnya yang memberitahu Gene. "Aku sudah bilang, hidden army tidak akan melepaskan bagian mereka." Brian menepuk bahu Liam. "Terimalah takdirmu." Terima? Liam menggeleng. Dia tidak mau, tapi itu mulai memaksa. Nasib kedua adiknya telah berada di tangan hidden army. "Ini." Brian mendorong ponsel Liam. Gene tadi menitipkan itu padanya. Liam mengambil duduk di bangku tunggu. Gene menuliskan sesuatu di notenya. Memberi pula tanda pengingat agar Liam membacanya. Harusnya kakak bilang.  Seperti yang dia duga. Gene pasti marah karena dia menyembunyikannya. Aku memang tidak punya solusi, tetapi aku bisa mengerti. Semakin kakak berbohong, aku merasa semakin curiga. Ujung-ujungnya aku mengedepankan ego seperti sebelumnya. Itu karena aku tidak mengerti.  Aku bukan hanya ingin tahu untuk memuaskan kecurigaanku, Kak. Aku ingin tahu karena aku ingin memahami, mengerti dan membantu. Sebagai saudara itu adalah yang seharusnya kita lakukan kan? Benar. Lehernya melemah. Wajahnya menggantung tanpa daya. Dia ingin kembali ke waktu sebelumnya dan memperbaiki kesalahannya, tapi Liam sadar. Itu tidak akan pernah terjadi. Jarinya menggulir layar. Masih ada lagi yang ditulis oleh Gene. Tampaknya dia punya banyak hal untuk dikatakan. Namun kakak benar. Aku bukan Tuhan. Tidak semua hal bisa dan boleh aku ketahui. Aku mengerti.  Tadi siang pria bernama Justine itu datang. Dia telah menceritakan segalanya. Kemampuan dan kewajiban kakak. Aku sudah mengetahuinya. Tidak masalah jika kakak mau menjadi anggota resmi hidden army. Jarak ini juga bukan apa-apa. Kita masih saudara. Kakak juga masih mengingat aku sebagai saudari kakak. Gene sangat pengertian. Liam semakin ingin memutar waktu. Melupakan lagi pengetahuannya bahwa itu tidak mungkin terjadi. Selanjutnya Gene memintanya untuk tetap makan dengan teratur, tidur cukup dan juga menghubunginya secara berkala. Tentang Ava pula Gene berjanji akan menjelaskannya. Namun Liam sudah berencana untuk memberi penjelasan sendiri. Cukup Gene yang membuat dia menyesal. Dia tidak mau Ava juga begitu. Selanjutnya Liam membuka pesan dari Justine. Itu baru beberapa menit yang lalu. Sadarlah dia bahwa dirinya tengah diawasi. Namun Liam tidak lagi peduli. Justine: Adikmu akan baik-baik saja. Kau mungkin ragu, tapi aku juga punya adik perempuan. Aku tidak mungkin memperlakukannya buruk di saat dia adalah spesies sama dengan adikku. Liam membalas dengan terimakasih yang tidak dia maknai sama sekali. Itu benar-benar hanya tulisan di atas layar digital. Meski demikian dia menaruh kepercayaan. Bukan karena Justine, tapi karena dirinya sendiri segera menjadi bayaran untuk keselamatan Gene tersebut. "Mau pergi sekarang?" Brian mengulurkan sekaleng minuman dingin. Liam tidak tahu kapan perginya bocah itu, tapi dia menerimanya. Membasahi tenggorokan keringnya dan juga mendinginkan dadanya. Sekarang dia memikirkan pertanyaan Brian. Pergi? Ke tempat hidden army? "Besok saja." Liam menyesap lagi minumannya. Sementara itu Brian mengguncang kalengnya. Sorot matanya membentang jauh. "Aku bisa pindah ke tempat Gene berada." Liam mengerutkan alisnya. Tidak mengerti maksud perkataan Brian. Kalimatnya memang sudah jelas, tapi esensi nyatanya tidak dia pahami. "Tapi aku punya kehidupanku sendiri. Bisnis, pendidikan dan sahabat. Agak tidak adil jika aku menukarnya untuk satu." Dia menghela kasar. Asap putih mengudara dari dinginnya nafas yang keluar. "Aku jahat ya?" "Kenapa kau berpikir begitu?" "Aku mencintai Gene." "Kau tidak jahat, tapi tidak serius." "Aku serius," sergap Brian tidak terima. "Aku mencintai Gene." "Keseriusan bukan tentang kata-kata. Keseriusan adalah aksi. Jika kamu tidak beraksi, berarti itu hanyalah keinginan. Keinginan tanpa tindakan? Itu namanya ketidakseriusan." "Kau pasti belum pernah memiliki hubungan dengan seorang perempuan." Mata keduanya beradu. Saling menekan dengan penuh keangkuhan. Liam menarik pandangannya, menyesap minumannya lagi. Brian benar. Dia tidak pernah memiliki hubungan dengan perempuan dalam arti serius seperti pacaran. Mana dia mengerti pergulatan antara jati diri dan cinta. "Kakakmu menitipkan sesuatu." Hampir Liam lupa. Dia mengeluarkan jam dari saku jaketnya. Mengulurkan pada Liam. Untuk sesaat bocah itu hanya memandangi. Liam yang tidak sabar meraih kasar telapak tangannya dan meletakkan jam tersebut. "Harusnya kau bilang saja bahwa itu kakakmu. Apa sebegitu malunya kau menjadi adiknya?" "Ini bukan tentang itu." Brian menyimpan jam ke saku jaketnya tanpa memeriksa lagi. "Kau tahulah, masalah sesama saudara." "Aku tidak tahu." Sejak kecil Liam dan kedua adiknya baik-baik saja. Dia selalu menyayangi Ava dan Gene bahkan meski keduanya menyebalkan. Pada akhirnya Ava dan Gene turut menyayanginya. "Apa kau melihat sorot matanya saat mengatakan namaku?" Jelas saja tidak. Liam terlalu fokus pada masalahnya sendiri. Namun sekilas yang dia tangkap adalah kesedihan. "Itu bukan kasih sayang, itu adalah iba dan perasaan bersalah." "Seolah kau tahu saja isi hatinya," ejek Liam. "Aku tidak tahu, tapi ada bukti nyata di masa lalu yang menjadi penyebab kesimpulan tersebut." "Apa?" "Sebagai anak bungsu aku menerima banyak kasih sayang. Dia termakan oleh rasa iri. Tidak terima juga setiap papa memarahi kesalahannya. Itu semua dia tuangkan padaku. Mentalku rusak karenanya. Tapi dia belum puas sampai membuat aku keluar dari rumah." Liam mendelik. Terkejut akan fakta bahwa sosok Daeran yang seolah menyayangi Brian ternyata sejahat itu. "Sampai hari ini aku tidak pernah bisa masuk dalam keluarga dibuatnya." "Kau memiliki kekuasaan dan kekayaan." "Hanya itu, tapi tidak dengan kasih sayang orantuaku lagi. Namun Gene sepertinya beruntung. Meski membebani, kau selalu memberinya perhatian." "Gene sangat jarang membebaniku." Liam meletakkan kalengnya. Sudah merasa cukup sebab perutnya telah dingin. Itu tidak cukup baik sebab udara yang berputar di sekitarnya pun juga dingin. Jika berpadu, maka dia mungkin bisa jatuh sakit. "Ya, dia perempuan yang mandiri. Dia beberapa kali mengambil part time. Membantu perpustakaan untuk mendapat buku gratis, mengikuti beasiswa agar memotong biaya bulanan. Gene perempuan hebat."  Brian tersenyum simpul setelah mengatakannya. "Itulah mengapa aku menyukainya." "Bukan itu saja. Dia juga pengertian. Itu jarang tampak dari perkataannya, tapi dari tindakannya. Dia mengalah untuk tidak masuk ke sekolah internasional seperti kakaknya agar tidak membebaniku. Memutus keinginannya menjadi dokter di masa depan agar kakaknya bisa masuk ke universitas. Gene.." Liam terbayang wajah Gene tadi yang tampak sendu. Tiba-tiba dia ingin tahu. Apa perempuan itu baik-baik saja. Bagaimana pula perasaannya? Liam ingin tahu. Menyadari Liam hampir tenggelam dalam awan kelabu Brian pun menepuk bahunya. "Dia sudah mengerti jalanmu. Jadi jangan mengecewakannya." "Kau benar." Liam mengangguk. "Aku tidak boleh mengecewakannya." Dia harus masuk ke dalam hidden army dan memenuhi kewajibannya. Itu adalah bayarannya untuk pengertian Gene. Keamanan dan kehidupan yang layak. "Ayo kembali." Liam setuju. Berjalan beriringan dengan Brian meninggalkan stasiun. Dalam perjalanan dia memperhatikan gedung-gedung yang tertinggal. Itu semua membuatnya merasakan kilas balik kehidupannya. Dia benci akan fakta karena dulu itu baik-baik saja. Sangat jauh berbeda dengan yang terjadi sekarang. "Hidup tidak akan pernah baik-baik saja. Hidup akan selalu naik turun seperti rollercoaster, pasang surut seperti ombak dan gelap terang seperti bumi. Karena itulah hidup. Terus bergerak. Jika menjadi tenang tanpa riak, maka itulah kesudahan dari kehidupan kita. Kematian." Liam tersenyum kecil akan suara mamanya yang menyapu telinga. Dia masih mengingatnya dengan sangat jelas. Itu adalah wejangan kala dia mau menyerah menjadi anggota klub basket sebab mendapat penolakan dari teman-temannya. "Mama," gumamanya pelan. "Aku rindu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN