Pemula

1904 Kata
"Jadi?" Remus meletakkan cangkirnya secara perlahan ke meja. Liam memperhatikan asap putih yang keluar dari dalamnya. Naik ke udara dan mendapat sorotan cahaya yang menembus masuk lewat jendela kaca di belakangnya. "Aku dengar kau memutuskan untuk kabur. Apa hasilnya?" "Tidak ada." Liam mengangkat cangkirnya. Meniup perlahan dan mulai menyesap. Hangat meresap dalam kulitnya. Menghabiskan kedinginan yang bersemayam di dalam sana. "Meskipun aku bilang kau dapat bebas jika kemampuanmu tidak permanen, tetapi manusia di dalam hidden army ini tidaklah sama. Beberapa memiliki tingkat keras kepala yang tinggi. Salah satunya adalah Justine, protector grupmu." "Bagaimana hasilnya?" Liam sudah malas membahas akan hal-hal sebelumnya. Itu membuatnya sakit hati saja. Jadi dia mau berlari ke topik lain. Topik yang lebih berpotensi untuk membantu dirinya di masa depan. "Aku belum mengecek darahamu, tapi sejauh ini warna matamu tidak berubah. Biasanya mereka yang memiliki kemampuan tidak permanen akan berubah warna matanya setelah mendapatkan suntikan cairan pelemah." "Mungkin dosisnya kurang." Liam tidak mau merasa kuat. Itu sama sekali tidak membuatnya senang. Malah merasa semakin terikat oleh hal yang tidak dia harapkan. "Tidak." Remus menggeleng. "Itu malah sudah overdosis.' "Apa sebenarnya hidden army ini?" Mau bertahan pun dia belum punya pengetahuan. Jadi beberapa hari ke depan Liam kira dia mau mengisi kepalanya dengan pengetahuan akan hidden army. Kemudian belajar beradaptasi. Jika sekiranya tidak terasa benar, maka dia akan keluar. "Aku tidak punya hak untuk menjelaskan." "Tapi kau pasti tahu, bukan?" "Memang." Sudahlah. Liam tidak mau meminta lagi. Sorot Remus telah menunjukkan keengganan untuk bekerjasama. "Bisa kita cek darahnya sekarang?" Liam masih berharap kemampuannya tidak permanen. Sekecil apapun kemungkinannya, dia tetap mau berharap begitu. "Boleh." Remus menyesap lebih dulu kopinya. Setelahnya barulah dia berdiri. Mengancingkan kembali jas putihnya. Di belakang Liam menyamakan langkah. Beberapa anggota hidden army yang berpas-pasan menyapa Remus. Sesekali sudut mata mereka melirik pada Liam. "Hai," sapa Jessi. Ia memblokir jalan Liam. Hampir menepuk bahunya saat Liam lebih dulu menjauhkan tubuhnya. "Kau benar-benar tidak kapok ya?" Jessi cengengesan. Dia bukannya tidak kapok, tapi lupa. Lagipula terbiasa menyapa dengan cara demikian. "Kau sudah sarapan?" "Ya." Liam mengambil jalan yang kosong. Remus bergerak dibuatnya. "Sampai bertemu di ruangan," seru Jessi. Liam tidak mau memikirkannya. Terus saja berjalan bersama Remus. Namun memang benar. Setelah selesai mengambil sampel darah, dia pun diminta datang ke basement 4. Pintu lift terbuka, menampilkan lorong panjang dengan cahaya remang-remang bewarna kuning. Di sisi kiri dan kanan adalah ruangan dengan pintu besi. Ada scan keamanan di setiap pintunya. Liam jadi tahu bahwa kemungkinan besar ruangan tersebut rahasia. Dia berhenti di ruangan ketiga pada sisi kiri. Itulah yang dikatakan oleh Justine melalui pesan. Lalu dia menempelkan telapak tangannya ke sensor. Justine memintanya melakukan pendataan dan begitulah caranya. Konfirmasi seluruh wajah, sidik jari dan mata. Parahnya ada juga pengambilan sampel darah dan rambut. Setelah beberapa menit kartu id berwarna putih keluar. Itu hampir sama dengan kartu identitas negaranya. Namun pada bagian status yang tertulis bukanlah status pernikahan atau lajang melainkan pemula. Liam kira itu karena dia baru masuk, jadilah begitu yang tertulis. Kemudian ada level dan warna. Dia mendapatkan level 1 dengan warna mengikuti warna iris matanya, ungu. "Status tersebut adalah status keanggotaanmu selaku hidden army." Tiba-tiba Daeran telah berdiri di sampingnya. Matanya mengamati kartu Liam. "Pemula, anggota, prajurit, pemimpin, pendidik dan tenaga. Itu adalah status yang ada. Level hanya sampai 10. Satu paling buruk dan 10 paling baik. Sebagai pemula biasanya level hanya berada di angka nol ataupun satu. Untuk naik ke level lain kau harus melewati serangkaian ujian." Daeran menepuk bahu Liam. "Jika kau bingung akan hal lain tanyakan saja padaku." "Apa Brian yang memintamu memperlakukan aku begini?" Dia hanya menebak. Sama sekali tidak percaya Brian akan memperhatikannya sejauh itu. "Ya." Kini Liam tidak tahu harus berkata apa. Brian benar-benar memperhatikannya. Padahal kalau bertemu sorot matanya selalu saja menganggapnya seperti musuh. "Pagi ini dia mengirim pesan. Tidak ada basa-basi, dia langsung memintaku untuk membantumu." Daeran memiringkan leher. Alisnya berkedut dalam. "Apa kalian sangat dekat?" "Tidak juga." Liam menempelkan kartunya pada sensor. Bunyi bip terdengar pendek. Namun dia tetap harus melakukan scan wajah, mata dan sidik jari. Setelahnya barulah pintu terbuka "Aku duluan," katanya. "Semoga betah." Liam tidak yakin dia bisa betah, tapi entahlah. Dia melangkah pelan. Tidak bisa memperhatikan apa-apa. Di dinding ujung sana, tepatnya berhadapan dengan pintu utama ada meja panjang yang langsung mencuri perhatian. Seorang perempuan berkacamata dengan rambut silver berjaga. Memberinya sorot tajam. "Liam Hander. Selamat bergabung." Suaranya setegas tatapan matanya. Sosok tersebut membuat Liam teringat akan Gene. Mereka benar-benar tampak sama. Tidak ada aura lembut layaknya kaum hawa normal. "Apa anda siap mendengar penjelasan saya?" Siapa atau tidak bukan masalahnya. Ini semua adalah serangkaian hal yang harus dia terima. "Saya siap." "Seperti namanya, hidden army memiliki arti prajurit tersembunyi. Kita bekerja di bawah Tuan Gidon selaku kepala utama hidden army dan anda adalah calon prajurit. Namun anda juga bisa menjadi pendidik hingga pemimpin di kemudian hari jika berminat." "Ada beberapa status hidden army, yakni pemula, anggota, prajurit, pemimpin dan tenaga. Sebagai prajurit kalian dibagi menjadi dua kategori. Protector (pelindung) dan attacker (penyerang). Attacker juga dibagi lagi ke dalam dua kategori, penyerang dalam dan penyerang luar. " Kata penyerang saja telah mampu membuat Liam memprediksi bahaya. Tapi dia tidak bisa lagi menolak. Kali ini dia terpaksa patuh demi adik-adiknya. Mungkin dia baru keluar ketika sesuatu yang amat berbahaya menyerang. "Protektor dibagi menjadi tiga, protektor army, protektor grup dan protektor utama. Semua protektor grup bermuara kepada protektor utama. Dalam kata lain protektor utama memiliki kekuasaan lebih tinggi. Namun protektor army sama dengan attacker, patuh kepada protektor grup." Perempuan berpapan nama Fersa itu membalikan layar tabletnya. Tampilah wajah pria sangar dengan rambut hitam legam. Liam fokus pada matanya. Merah, tapi lebih merah dari yang pernah ia lihat pada hidden army sebelumnya. "Warna mata dalam hidden army sangat krusial. Itu adalah representasi kemampuan yang kalian miliki. Selama bertahun-tahun hanya ada empat kategori, yakni coklat, biru, hijau dan merah. Untuk menjadi prajurit anda harus memiliki warna hijau dengan level minimal 6. Untuk menjadi pendidik pula anda harus memiliki warna merah dan level minimal 8." "Saya tidak masuk ke dalam daftar." Fersa hanya memandangi Liam. Bibir tipisnya yang dipoles lipstik merah itu tertutup rapat. Dia lalu tersenyum simpul. Membuat Liam kaget karena senyum itu pun mirip Gene. Manis, tapi berbahaya. "Tidak berarti bahwa anda bukan bagian hidden army. Tuan Remus telah memberi penjelas pada saya bahwa kemungkinan anda adalah satu-satunya hidden army paling potensial. Jadi anda tidak perlu berkecil hati." Fersa meletakkan tabletnya. "Baik saya kira itu saja. Ah yang tadi adalah Tuan Rekal. Dia adalah protektor utama. Untuk pendidik saya pikir kamu lebih baik mengenalnya saat bertemu di kelas. Tenaga pula jarang diketahui. Namun jika anda penasaran anda bisa mengetahuinya dari senior anda." "Apa warna mata Tuan Gidon?" Liam penasaran. Lebih takut jika dia sendiri ternyata yang memiliki warna mata berbeda. "Abu-abu." Nafasnya melega. Ternyata tidak hanya dia yang memiliki warna mata berbeda. "Tuan Liam berikut adalah surat kontrak anda." Liam mendekat. Mengangkat selembar kertas itu ke dekat wajahnya. Ia membaca sekilas saja. Hanya mau menemukan hal penting yang harus dipikirkan matang-matang. "10 tahun?" "Benar. Itu dapat diperpanjang jika anda mau." "Apa ada hari cuti?" "Ada, tapi tidak bisa tepat pada hari-hari penting seperti natal atau perayaan agama lainnya." "Berapa hari?" "Tiga hari setiap bulannya." "Bagaimana jika ada keadaan darurat?" "Anda bisa mengajukan izin pada saya atau Tuan Justine." "Apa yang akan terjadi jika aku kabur sebelum kontrak habis?" "Kami memiliki informasi kedua adik anda. Avana Hander di sekolah internasional Butterlion dan Genesis Hander di Lioner. Juga teman perempuan anda, Annie Jhonson di kota Setson." Mereka terlampau jauh. Namun ini membuat Liam yakin bahwa dia benar-benar harus berada di dalam hidden army. Nasib kedua adiknya di tangan mereka. "Setiap bulannya kami akan mengirimkan 3000 dollar ke akun anda. Ada bonus tambahan apabila anda mengikuti misi. Itu jika anda telah menjadi prajurit. Makan dan minum menjadi tanggungan kami. Jika anda bosan, anda juga bisa membelinya sendiri di basement 2. Di sana ada juga bar, fitness dan kolam mandi hangat." "Sebelumnya saya meminta 150 juta dari Justine. Apa saya perlu mengembalikannya atau itu dianggap bayaran saya mulai hari ini saja?" "Tuan Gidon memberikannya untuk anda." "Itu bukan angka yang kecil. Itu hampir setengah dari bayaran 5 tahun saya bekerja." "Yang perlu anda tahu Tuan Gidon telah memberikannya. Sisanya terserah anda." Liam tidak lagi tahu apa yang harus diperdebatkan. Uang itu memang dia perlukan untuk Gene. Dia baru pindah, jadi harus memiliki uang untuk keperluan makan, minum dan lain sebagainya. Sudahlah, Liam akan melunasi nanti dengan gajinya. "Tolong ini juga." Liam menerima kertas lain. Itu memintanya mengisi identitas lengkap. Termasuk nomor rekeningnya, Ava dan juga Gene. Seolah tahu akan ditanya, Fersa pun membuka suara. "Kami juga memberikan uang saku pada tanggungan anda, masing-masing 200 dolar per bulan." Itu lebih dari lumayan. Apalagi dua orang. Liam jadi merasa curiga akan pekerjanya setelah ini. Itu pastilah berat. Jika tidak, maka tidak mungkin mereka berani membayarnya mahal. Fersa mengeluarkan bungkus hitam dari laci. Menggesernya ke ujung meja. "Loker anda nomor 75 dan ini adalah seragam anda. Mulai hari ini juga anda akan pindah ke ruangan baru. Tempat di mana rekan-rekan segrup anda berada." Liam meraih bungkus besar bewarna hitam tersebut. Tidak menyangka bahwa dia pun harus memakai seragam. Jadilah dia semakin yakin bahwa hidden army ini adalah tempat bekerja yang serius. "Maaf, boleh saya tahu apa sebenarnya pekerjaan saya di sini?" "Berlatih, menjadi kuat dan menjalankan misi." "Misi apa?" "Itu tergantung protektor anda." Fersa mengarahkan telapak kanannya ke kiri. "Di sana adalah ruangan ganti, loker dan toilet. Di sisi kanan pula adalah ruang belajar." Belajar? Liam langsung terpikir akan materi-materi sekolah. Mungkinkah itu? Ah tapi rasanya tidak mungkin. "Terakait penggunaan ponsel anda bebas menggunakannya. Tapi saya perlu memeriksanya lebih dulu. Tenang saja, saya bukan ingin mencuri data. Saya hanya meletakkan sistem yang membuat anda menutupi segala tentang hidden army." Ragu-ragu Liam memberikan ponselnya. Dia khawatir dan curiga, tapi dia tidak bisa membantah. Jika demikian dia malah tidak bisa menghubungi Gene dan Ava. "Selesai, terimakasih." Dia tidak mau memikirkan apa yang Fersa masukkan hingga secepat itu. Jika buruk sekalipun dia juga tidak dapat melakukan apa-apa. "Sama-sama." Liam menyakukan ponselnya. "Silahkan ke ruang kelas anda. Tuan Justine sudah menunggu." Namun sebelum itu Liam pergi ke loker. Ada tiga pasang pakaian di dalamnya. Masing-masing telah diberi tanda. Untuk kelas adalah kemeja lengan pendek warna hitam dengan celana bahan kain. Lalu ada pakaian olahraga dan latihan khusus. Pakaian latihan khusus lah yang membuatnya bingung. Itu sangat tebal. Memiliki juga rompi pelindung dan sarung tangan. Meski merasa aneh Liam sudah malas untuk peduli. Semua ini sudah terpaksa harus ia jalankan. Dia menempelkan tangan ke sensor. Ada lebih banyak pakaian di dalam loker. Dominan oleh kemeja hitam dan celana hitam. Kain tebalnya telah mengindikasikan kualitas baiknya. Ada juga sepasang sepatu boot. Liam menukar dengan miliknya dan mengganti pakaian. Ruang kelas yang dimaksud Fersa terlindung oleh pintu besi dengan keamanan tinggi juga. Ini seolah memberitahu Liam bahwa segala tempat di sini lebih dari kata penting dan rahasia. Kursi-kursi telah penuh, tersisa satu di paling belakang. Tidak ramai. Hanya lima orang saja. Tiga pria dan dua wanita. Salah satunya adalah Jessi. Padahal tadi Liam telah berpikir setidaknya ada puluhan orang di dalam ruangan tersebut. "Silahkan duduk, Tuan Hander." Liam menggeser pandangan. Justine berdiri di depan papan tulis digital. Bagan-bagan dengan foto tampil di sana. Benar-benar kelas rupanya. Dia berjalan ke kursinya dan menyatukan tangan di atas meja. Tuhan tampak bersikeras membawanya kemari. Jadi biar dia lihat semuanya ini. Tentulah tetap sama, demi adik-adiknya saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN