Liam tidak mampu menahan kekaguman saat sampai di basement 5. Ruangan luas dengan dinding putih menyambut. Beberapa meter dari lift adalah anak tangga yang banyak. Itu berakhir di tengah lingkaran dengan simbol-simbol aneh. Hampir mirip seperti lingkaran sihir atau setan yang pernah Liam lihat di film-film. Namun dia kira fungsinya tidak mengarah ke sana sama sekali.
Di sisi utara, barat dan selatan ada tangga untuk menuju ke ruangan lain. Di bawah cahaya remang-remang ruangan tersebut mengeluarkan aura kuno yang misterius. Sungguh berbeda benar dari ruangan di atas sana yang berkesan canggih dan sangat modern.
"Utara menuju tempat latihan. Barat adalah tempat tinggal para pria. Timur pula tempat tinggal para perempuan."
Liam menarik pandangan. Memberikan pada protektornya, Justine.
"Tiap-tiap grup memiliki kamar yang berbeda. Jadi jangan ada yang berpindah ruangan. Sekarang kembali ke ruangan masing-masing. Pukul dua temui aku di ruang latihan. Mengerti?"
Serentak mereka menjawab. Liam lalu mengikuti kelima rekannya menaiki tangga ke arah barat.
"Kau datang kemari karena ingin?"
Pria di sampingnya menyenggol. Dia sangat aktif di kelas. Mau tidak mau Liam jadi tahu namanya. Padahal baru beberapa jam bertemu.
"Tidak."
"Kau bercanda?"
Liam melirik aneh pada Reed. Kenapa dia sampai dikira bercanda? Apa menjadi hidden army sebagus itu?
"Putriku harus menjalani operasi karena kecelakaan. Aku membutuhkan uang banyak, jadi aku masuk ke sini."
"Sekarang kita sama," ujar Liam.
"Sama?"
"Ya, sama-sama bukan datang karena keinginan."
"Jangan salah paham, Kawan. Aku sudah lama ingin menjadi hidden army. Namun aku tidak mampu meninggalkan duniaku. Kini keadaan mendorongku. Tuhan seolah merestui."
"Apa bagusnya menjadi hidden army hingga kau menginginkannya sejak lama?"
Reed mendorong dirinya ke dekat Liam. Dia lalu berkata dengan pelan. "Tidak semua orang menerima apa yang aku katakan, tapi ini adalah kenyataan."
Liam mendorong Reed. Kedengarannya apa yang hendak dia katakan adalah rahasia, jadi harusnya dia tahu bahwa dia tidak bisa mengatakannya di dekat mereka. Semuanya memiliki kemampuan mendengar yang tajam.
Namun Reed tetap mendekat. "Putri keduaku dibunuh oleh anggota kerajaan karena mengkritik politik mereka."
"Berapa umur putrimu?" tanya Robert dari belakang.
Reed menoleh tanpa mengehentikan langkah. "Enam tahun. Namun otaknya sudah sangat cerdas. Kau tahu, anak-anak kecil masih polos. Apa yang mereka katakan adalah kebenaran."
Di depan Jasper berbalik. "Putrimu juga?"
Reed mendelik penuh ketidakpercayaan. Secara sadar Jasper menyambung kalimatnya.
"Ya, putriku dibunuh setelah mengikuti demo untuk mengkritik upah minimal buruh yang turun sangat jauh dari tahun-tahun sebelumnya."
"Dia memang terlalu binatang untuk menjadi manusia," ujar Reed.
"Kalian belum seberapa. Adikku dipakai olehnya secara paksa, setelah itu dia membuang adikku ke rumah bordil dan di sana kemudian dia dibunuh oleh prajurit kerajaan."
Perkataan Max mengambil cepat atensi Liam. "Adikmu?"
"Iya." Max mengangguk, meyakini sekali lagi bahwa apa yang diambil darinya adalah anggota keluarganya, adiknya. Satu-satunya harta berharga dari kehidupannya.
"Raja memang terlihat berwibawa di depan media." Jasper tertawa miring. "Namun di belakangnya dia lebih buruk daripada iblis."
Langkahnya melemah. Membiarkan mereka mendahului. Namun saat Reed hendak melakukan yang sama, dia menarik kerahnya.
"Apa tugas kita melawan kerajaan?"
Reed menggeleng. Sorotnya menimbulkan gelombang bahaya yang amat besar. Ia seolah hendak menghancurkan sesuatu dengan kebencian yang teramat kuat. "Kita bukan melawan kerajaan. Kita menghancurkan binatang-binatang liar perusak manusia."
"Dia berbeda," seru Ryder dari ujung sana. Suara besarnya menggema. Menyerap langsung ke dalam otak Liam.
"Benar juga. Kau berbeda."
Ketidaksukaan bertahta di mata Reed. Liam merasa mengecil karenanya. Harusnya mungkin dia tidak bertanya atau menyembunyikan saja kenyataan akan ketidakinginanya menjadi hidden army.
Namun Reed sudah berbalik. Bergabung dengan rekan-rekannya. Liam tidak lagi mengira menyesal sebagai keputusan bagus, tapi maju pun belum menjadi pilihannya.
Dia melangkah saja. Menepis keinginannya untuk memikirkan lebih jauh perkataan mereka. Apa benar kerajaan, maksudnya raja sejahat itu?
Liam tidak pernah melihat berita buruk tentangnya di televisi ataupun surat kabar. Berita-berita raja dominan oleh kedermawanan dan kebajikannya. Tapi Gene memang pernah mengatakan padanya bahwa raja itu palsu. Liam tidak mau memikirkan lebih dalam. Toh menurutnya Gene memang suka menaruh curiga pada setiap orang.
Gene memang terkadang benar, tapi tidak berarti semuanya bisa benar. Biar bagaimanapun Gene juga manusia. Dia pasti sesekali membuat pendapat hanya untuk dirinya, tidak karena objek itu sendiri.
Ngomong-ngomong tentang Gene, Liam menjadi penasaran akan kabarnya. Jadilah dia mengirimkan pesan. Alhasil dia tidak memperhatikan detail ruangan tidurnya. Jasper memintanya berada di ranjang sisi kiri pada baris kedua. Liam tidak menolak. Dia menjatuhkan tubuhnya.
Gene bilang dia baik-baik saja. Lalu Liam mendapatkan foto kamar asramanya. Itu benar-benar bagus dan bekelas. Ranjangnya terlihat empuk. Meja belajar menghadap ke luar jendela. Bahkan pantry pun disediakan. Liam yakin Gene tidak akan kelaparan karena dia bisa memasak di sana. Itu berarti dia juga harus mengirimkan uang segera agar Gene bisa membeli bahan makanan.
Untuk Gene dia memberikannya lima ratus dolar. Ava pula ia lebihkan beberapa ratus. Perempuan itu lebih besar. Kebutuhannya pun pasti lebih banyak.
Gene yang mendapati saldo rekeningnya bertambah langsung marah-marah. Dia mengatakan Liam seharusnya menyimpan saja uang tersebut untuk dirinya. Gene masih memiliki uang dari tabungannya. Lagipula dia mendapatkan makanan gratis tiga kali sehari dari pihak sekolah. Tetap saja Liam memaksa Gene untuk menerimanya. Memberi alasan bahwa itu adalah gaji awalnya, jadi Gene tidak perlu sungkan. Sebagai penenang lain Liam menceritakan bahwa tempatnya sangat nyaman. Gene mengucapakan syukur untuk itu. Mengertilah Liam bahwa setelah ini dia harus lebih berpura-pura suka menjadi hidden army.
Kemudian Liam beralih menanyakan kabar Ava. Sama seperti Gene, dia baik-baik saja. Tidak juga mengeluh akan sekolahnya. Ava malah lebih fokus mempertanyakan keadaan Liam. Tanpa diberitahu Liam sadar bahwa Gene telah memberikan penjelasan. Dia hanya perlu menegaskan bahwa dirinya baik-baik saja. Ava menyemangati. Mengatakan padanya bahwa dia akan lebih giat belajar agar mampu mendapatkan pekerjaan baik di masa depan. Namun Liam malah meminta Ava untuk tidak terlalu keras pada dirinya. Sesekali Ava perlu berdiam, menyerap momen sekarang yang diberikan oleh Tuhan.
Tanpa terasa jam telah menunjukkan pukul dua. Berkemaslah Liam untuk pergi ke ruang latihan. Rekan-rekannya saling berbincang dalam perjalanan. Mereka telah tampak akrab. Liam tidak merasa heran. Mereka lebih dulu bergabung daripada dirinya. Jelaslah mereka telah saling mengenal.
Pintu di depan Liam terbuka. Tampillah ruangan kosong dengan lantai berwarna coklat. Ada begitu banyak orang di dalamnya. Mereka mengenakan pakaian yang sama, kaos hitam dan celana training senada.
"Apa lagi yang kalian tunggu?" sentak Justine.
Segeralah mereka membentuk barisan. Di sebelahnya telah ada Jessi dan Ceris.
Tuan Helion selaku pendidik fisik memperkenalkan diri. Liam tidak terlalu mendengarkan. Meski begitu sorotnya terus ke depan. Akal-akalan saja agar dia terlihat seolah antusias.
"Ayo." Jessi mendorong tubuh Liam. Dia tersentak cepat dan menarik diri.
"Ke mana?" tanyanya bingung.
"Sudah aku duga. Kau ternyata tidak mendengarkan."
"Latihan fisik, bisa dibilang ini semacam kelas olahraga."
Liam menoleh pada Ceris. Baru kali ini dia melihatnya dari dekat. Terkagum langsung akan kecantikannya yang begitu alami. Rambut hitam panjang bergelombang sebatas pinggang. Kulit seputih salju, bibir tipis berwarna merah muda dan bentuk tubuh jam pasir tanpa gelembung berlebihan seperti Jessie. Jujur saja. Liam lebih suka tubuh seperti Ceris daripada Jessi. Baginya itu terlampau seksi.
"Tujuannya dua, menjadikan tubuh kita kuat dan bugar."
Ceris membalas tatapan Liam. Sorotnya begitu lembut. Liam bukan saja terkagum kali ini, tapi juga merasa nyaman.
"Bela diri paling utama," sambung Jessi. "Jadi kita harus berusaha untuk itu."
"Bukankah kita telah memiliki kemampuan?"
"Tetap saja kita bukan makhluk yang bisa tahan dari penyakit. Jadi kita harus selalu bugar."
"Hah? Tidak masuk akal benar. Untuk terhindar dari penyakit kita hanya perlu makan makanan sehat dan sedikit olahraga. Bela diri sangat berlebihan."
Jessi mendorong Liam. "Sudahlah jangan menggerutu."
"Aku tidak menggerutu. Aku mengatakan kebenarannya."
"Terserahmu."
Jessi tetap mendorong. Mau tidak mau Liam bergerak. Takut membebani Jessi.
Semuanya diminta untuk mulai dengan pemanasan. Liam mengambil tempat paling belakang dan melakukannya tanpa semangat. Beberapa kali dia mendapati sorot tajam Jessi. Itu seolah memintanya untuk melakukan dengan serius. Namun dia benar-benar malas. Apalagi saat diminta untuk memperhatikan pertarungan taekwondo antara Justine dan Helion. Tidak yang seru di matanya. Dua orang itu hanya membuatnya gerah.
"Liam Hander."
Pupilnya membesar. Menoleh lebih dulu pada rekan-rekannya, mencari kepastian apa benar namanya yang dipanggil.
"Cepat sana," suruh Jessi.
Liam berdiri dari duduknya. Berjalan maju tanpa memperdulikan sekitarnya. Dia sudah menyadari tatapan aneh tertuju untuknya. Karena itulah dia langsung berpura-pura tidak peduli. Dia tidak mau pikirannya terbebani dan berujung menyakiti hatinya sendiri.
"Maju."
Justine mengambil kuda-kuda. Liam dibuat terperangah jadinya.
"Maju?" ulangnya.
"Lawan aku."
Dia sungguh enggan. Akan tetapi sadar bahwa kini memang inilah yang harus dia kerjakan.
Tidak tahu benar atau tidak. Liam mengambil kuda-kuda dengan asal. Justine menyerang lebih dulu. Dia mundur, menghindar. Gelak tawa pun naik ke udara.
Liam tidak mau memikirkan bagaimana dirinya di mata orang-orang itu. Dia hanya tetap pada pendiriannya. Menyerang tanpa membuat terluka. Namun niatnya tidak berhasil.
Justine mendorong dadanya. Emosinya melonjak naik dan itu membuatnya menguatkan pertahanan untuk serangan lain dari Justine. Naasnya malah membuat serangan Justine tumpul. Bahkan dia terpental jauh.
Liam mengangkat kedua tangannya. Dia menyerah. Tidak mau membuat keributan.
"Kau benar-benar berpotensi."
Justine memegangi punggungnya yang terasa sakit. Menepi kemudian ke sisi lain ruangan. Helion secara tiba-tiba menendang punggung Liam. Dia hanya terdorong beberapa inchi. Sakit sama sekali tidak terasa, berbeda pula dengan Helion. Dia memegangi kakinya dengan wajah yang sempurna menahan sakit.
Gelak tawa naik lagi. Liam menghunus mereka. Suka benar melihat orang lain terjatuh. Apa tidak bisa membayangkan seandainya mereka yang berada di posisi tersebut? Huh dasar manusia mengesalkan.
Liam tanpa diminta membantu Helion berdiri. Dia membawa pria itu ke tepi. Merasa bersalah kemudian. Berpikir pula bahwa seharusnya dia tidak perlu menyerang. Namun segalanya telah terjadi. Ibarat gelas kaca, itu sudah pecah. Tidak dapat diperbaiki kembali menjadi seperti semula.
"Maaf."
"Tidak perlu." Helion mengibaskan tangan. Liam secara sadar mundur. Tatapan itu tidak menyukai keberadaannya.
"Bagaimana dengan laporan dari Tuan Remus?"
"Saya belum mendapatkannya."
"Kembali ke ruangan anda."
Liam tahu dia salah, tapi dia tidak bisa mengerti. Helion sendiri yang menyerangnya lebih dulu. Kenapa malah dia yang seolah memulai.
"Baik."
Tetap saja Liam patuh. Dia enggan membuat masalah. Itu saja. Lagipula apa pentingnya disukai atau tidak, dia di sini hanya demi adiknya. Sama sekali tidak karena ingin bergabung.