Lima menit sebelum bel pulang berbunyi, Rey telah tiba di depan kelas Deeva. Ia mengintip ke dalam kelas, tampak Deeva yang tengah serius menatap papan tulis. Dalam hati, Rey tertawa melihat wajah seriusnya yang berkali lipat dari biasanya.
Dua hari menjadi arwah, tentu saja bukanlah hal yang menyenangkan. Sekarang semuanya berubah kontras. Sebelumnya jika ia berjalan di koridor, orang-orang akan tertunduk dan secara otomatis memberi jalan untuknya. Namun, sekarang tidak ada yang peduli, bahkan sering kali ia menembus tubuh orang-orang. Jika sebelumnya, omongannya selalu didengar dan dituruti namun sekarang bahkan orang tidak mendengarkan ucapannya sama sekali. Ironis memang tapi itulah kenyataannya.
Bel berbunyi nyaring mengisi keheningan koridor membuat Rey langsung kembali dari alam sadarnya. Dengan sekali sentakan, ia menembus tembok dan menemui Deeva tidak sabaran. Gadis itu tidak kaget sama sekali saat kehadirannya yang mendadak seolah sudah terbiasa akan hal itu.
“Maaf ya, Hel, hari ini aku gak ke tempat kamu dulu,”ucapnya tanpa melihat Rey karena ia sedang sibuk membereskan peralatannya.
Dahi Rey mengerut bingung. “Hel? Arwah lain juga?”
Kegiatan Deeva terhenti dan dia menoleh cepat. “Oh, gue kira siapa ternyata elo,”
Rey menangkap nada bicaranya yang aneh namun tidak terlalu menggubrisnya. “Lo tau gue dirawat di mana?”
Deeva mengangguk sembari menyampirkan ransel ke bahunya. Rey takjub mengetahui jawaban Deeva yang bahkan ia sendiri tidak tau keberadaan tubuhnya.
“Ternyata lo gercep ya, gue aja gak tau,”
Deeva memutar bola matanya setelahnya berjalan melalui Rey.
“Deev!”seru suara bariton dari belakang punggung Deeva. Tanpa menoleh, cowok itu sudah berada di sampingnya.
“Langsung balik?”tanya Karrel.
“Iya,”
“Mau gue anter?”tawar Karrel lantas ikut berjalan saat Deeva berjalan.
Deeva menggeleng. “Gak perlu, gue selalu bawa motor,”
Karrel mengangguk baru teringat kalau gadis itu selalu membawa kendaraan ke sekolah. “Yaudah, gue anter sampai parkiran,”
Deeva tidak menolak karena memang tujuan keduanya menuju parkiran.
“Siapa? Anak baru?”
“Bukan urusan lo,”jawab Deeva dingin membuat Rey menatapnya keki.
Karrel menoleh. “Kenapa Deev?”
Deeeva menyipitkan matanya lalu menggeleng. “Bukan apa-apa,”
Rey mengumpat diperlakukan semedikian rupa oleh Deeva, dirinya baru teringat kalau Deeva memang orang yang dingin dan ketus.
**
Mereka tengah menatap pintu bernomor 305 yang ada di hadapannya. Keduanya terdiam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Rey sendiri dihantam rasa takut dan ragu yang makin lama menggerogoti dirinya. Sementara Deeva memikirkan cara untuk memasuki ruangan tersebut. Secara dia bukan siapa-siapa Rey dan hanyalah seseorang yang kebetulan dapat melihat Rey.
“Gue rasa, gue tunggu di luar aja,”cetus Deeva tiba-tiba.
Rey menatapnya penuh harap. “Temenin gue ya tolong,”
“Gue gak bisa ngejelasin kalau ketemu keluarga lo,”balas Deeva.
Rey menggeleng kuat-kuat. “Gue yakin 100% gak akan ada siapa-siapa di dalem,”
Keduanya pun kembali terdiam. Wajah Rey tertunduk dan Deeva mulai merasakan aura gelap di sekeliling Rey. Satu fakta mengenai Deeva, dia tidak bisa membaca pikiran arwah ataupun hantu. Maka dari itu, saat ini dia tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Rey dengan wajah tertunduk seperti itu.
“Percayalah, gak ada yang peduli dengan keadaan gue, Deev,” Rey mengangkat wajahnya, sorot matanya redup namun ada senyum tipis yang menghiasinya. Ekspresi yang aneh karena senyuman itu terlihat dipaksakan.
Deeva menghela napas. “Fine. Tapi, sebentar aja gue di dalam, oke?”
Rey mengangguk sebelum Deeva akhirnya mendorong pintu nomor 305 dengan pelan. Terpampang ruangan yang cukup besar untuk diisi oleh satu orang. Sesuai dengan omongan Rey, tidak ada siapapun di dalam ruangan itu, hanya ada Rey yang berada di atas kasur. Keadaan Rey tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Tubuhnya banyak ditempel oleh alat-alat yang Deeva tidak mengerti dan ada balutan perban dengan bercak darah di kepala Rey. Satu-satunya alat yang Deeva tau adalah elektrokardiogram yang berbunyi secara konstan.
Rey tidak beranjak dari pintu. Ia menatap tubuhnya sendiri dengan perasaan campur aduk. Dia begitu takut dengan kenyataan yang ada di depan matanya. Ia takut dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi padanya kelak. Rey memejamkan matanya kuat-kuat lalu berbisik, “gue gak sanggup.”
Deeva diam. Dia memang tidak mengerti rasanya berada di situasi seperti Rey, namun dia merasakan kesedihan yang terpancar oleh Rey. “Gue gak bisa mengatakan hal-hal yang bisa menenangkan lo. Tapi yang jelas, elektrokardiogram ini menunjukkan lo baik-baik aja,”
Senyuman aneh itu muncul kembali di wajah Rey. Senyuman akan kepalsuan namun terlihat menyakitkan setelah Deeva sadari. “Iya, untuk saat ini,”
**
Perjalanan menuju parkiran rumah sakit hanya diisi keheningan. Deeva sendiri juga tidak ada keinginan untuk membuka pembicaraan dengan Rey karena Rey tampak terlihat tidak ingin membahas apapun. Rey sendiri juga demikian, dia hanya ingin menikmati kesunyian ini untuk berenang di dalam pikirannya.
“Gue mau ke minimarket dulu,”ucap Deeva saat melihat minimarket di dekat parkiran.
Rey mengangguk dan menunggu di pohon rindang tak jauh dari minimarket tersebut. Ia terdiam menatap kepergian Deeva. Sesuai dugaannya, tidak ada satupun yang menjenguknya selain Deeva dan dirinya sendiri. Ia tidak tau apakah kedua temannya dan pacarnya sudah menjenguknya kemarin atau belum. Tapi, melihat dirinya sendiri tanpa ada siapapun yang menemani tak pelak membuatnya tertawa miris.
Kedua orangtuanya pun tidak ada yang sama sekali menemaninya. Seolah situasinya itu bukanlah hal serius yang harus diurusi. Benar-benar menyedihkan. Kedua orangtuanya terlalu sibuk mengejar dunianya tanpa sedikitpun menoleh pada dirinya bahkan dalam situasi sulit seperti ini tidak membuat mereka menoleh ke arah Rey. Baru dua hari tidak sepantasnya Rey mengambil kesimpulan sedemikian rupa. Tapi, selama 17 tahun menghabiskan waktu dengan orangtuanya membuatnya memiliki pemikiran tersebut.
“Gue mau balik, lo mau ke mana?” Suara Deeva yang tiba-tiba membuat Rey tersentak kaget lantaran dia tidak mendengar suara langkah gadis itu.
“Gue…pulang mungkin,”jawabnya setengah tergagap.
Deeva menenggak minuman yang baru ia beli, lemon tea itu sukses menghilangkan dahaga yang sedari tadi ia rasakan. “Emang kemarin lo ke mana aja?”
“Gue keliling sekolah aja dan muter kompleks,”jawab Rey terkekeh, merasa lucu setelah menyadari betapa aneh dirinya mengelilingi kompleks layaknya sedang meronda.
Deeva mengangguk sembari menutup botol minum yang telah habis. “Yaudah, gue balik ya,”
Dalam hati, Rey bergumam bahwa gadis itu memang tidak banyak basa-basi bahkan terlalu to the point. Sebelum gadis itu pergi menjauh, Rey segera memanggilnya.
“Kenapa?”tanya Deeva menghentikan langkahnya.
“Makasih udah menemani gue dan maaf gue telah merepotkan lo untuk mencampuri urusan gue,”ucap Rey dengan segenap perasaannya.
Tak bisa dipungkiri, hati Deeva terenyuh mendengar ucapan Rey. Dia tidak pernah menyangka laki-laki itu akan mengatakan kalimat sederhana itu dengan tulus. Seolah Rey saat ini berbeda dengan Rey kemarin. Sifat arogan itu tidak terlihat sepanjang ia menghabisi waktunya dengan Rey. Sudut Deeva terangkat sedikit namun hal itu tidak bertahan lama. Ia pun membalik tubuhnya lalu mengangkat tangannya dan melambaikannya.
Deeva merasa puas setidaknya keputusannya untuk membantu Rey tidak salah karena laki-laki itu memperlakukannya dengan baik. Entah pikiran dari mana, tiba-tiba saja terbesit hal menakutkan hingga membuatnya menghentikan langkahnya.
Apakah kalau Rey kembali, Rey akan memperlakukannya seperti pertama kali mereka bertemu?