Part 7 : REVERT

1516 Kata
Karrel menyusuri koridor dengan santai. Sesekali tersenyum pada orang-orang yang ditemuinya di koridor walaupun dia tidak mengenalinya. Sepanjang koridor ia dapat mendengar desas desus dari para kaum hawa yang terus menyerukan namanya. Karrel tak ambil pusing hal itu, dari dulu dia memang sudah seperti ini.  Keberadaannya selalu disadari. Padahal dia ingin punya waktu sendiri. Saat duduk dibangku SMP Karrel tertarik dengan seseorang perempuan yang  namanya selalu dielukan. Ya, Deeva. Entah kenapa sifatnya yang cenderung tertutup membuat Karrel penasaran dengan segala tingkahnya. Ia pun mengikuti insting penasarannya dengan mendekati Deeva. Mendekati dalam arti ingin mengenal soal Deeva yang digosipi “cewek aneh”. Sesuai dugaannya, Deeva merupakan perempuan yang sulit didekati. Seakan tidak ada celah untuk dilalui. Lagi-lagi hal itu membuat  penasarannya meningkat. Hingga kenaikan kelas 8, Karrel terpaksa untuk pindah. Dia belum sempat berpamitan pada Deeva, padahal dia ingin mengatakan kata-kata terakhirnya sebelum meninggalkan sekolahnya. Semua terlalu tiba-tiba. Namun, tampaknya Deeva tak pernah menyinggung soal kepergiannya.  Mata Karrel menangkap seorang gadis yang tampak bercengkrama sendiri. Pemandangan itu sudah sering dilihat oleh Karrel. Karrel selalu bertanya-tanya apa benar Deeva berbicara sendiri karena ada makhluk halus bersamanya? Saat jaraknya mulai menipis, dengan iseng Karrel menoel punggung Deeva. Dapat Karrel rasakan tubuhnya menegang karena kaget. Dengan gerakan patah-patah Deeva menoleh ke arah Karrel. "Karrel?!"serunya dengan mata membola.  Seketika tawa Karrel pecah. Melihat ekspresi wajah Deeva yang nyaris berubah. Namun, dengan pintarnya Deeva dapat mengontrol ekspresi terkejutnya seperti biasa. "Berisik!"keluh Deeva. Tampak Reynard yang juga tertawa melihat insiden tadi. "Diem lo, Rey!"ancam Deeva sembari mengacungkan kepalan tangannya pada Rey yang ada di hadapannya. "Hah, Rey? Gue Karrel, Deev," Tawa Karrel terhenti saat mendengar nama Rey dari mulut Deeva.  Deeva terkesiap mendengar ucapan Karrel. Lagi-lagi ia keceplosan. Namun, setelahnya dia tidak menggubris perkataan Karrel. "Lo ngobrol sama arwah cewek yang pernah lo bilang itu? Siapa namanya? Lupa gue. Ah iya si Syahel kan?"cerocos Karrel setengah ngeri dan setengah penasaran saat mengingat nama arwah yang pernah Deeva bicarakan. Deeva mengangguk. Sementara Rey memberikan tatapan tak mengerti pada Deeva. Deeva membalas tatapan Rey yang seakan berkata, "Nanti-gue-jelasin,"  Rey hanya manggut-manggut paham. "Temenin gue ke kantin yuk. Laper,"pinta Karrel. Dan dengan semena-semena ia menarik pergelangan tangan Deeva. Deeva tak sempat protes, dia hanya diam mengikuti jejak Karrel melangkah. Rey tetap diam di tempat memandang kepergian Deeva dengan laki-laki yang tidak diketahuinya. Rey memutuskan untuk jalan-jalan ke sepanjang koridor. Tampaknya ia mulai terbiasa dengan keadaannya sekarang yang tidak disadari oleh orang-orang. Padahal dulu saat keberadaan Rey disadari, semua orang langsung memberi jalan membiarkan Rey lewat dengan orang-orang yang menatapnya dengan iri. Orang-orang selalu menatapnya penuh iri. Sebagian ada yang menginginkan posisinya seperti Rey, namun ada juga yang menginginkan Rey musnah dari sekolah. Mungkin kecelakaan yang terjadi padanya menjadi berita menyenangkan untuk para pembenci Rey. Mata Rey menangkap sesosok gadis yang tak asing lagi baginya. Dengan kecepatan penuh dia pun melayang menghampirinya. Bukan untuk menyapanya namun dia hanya ingin memastikan apa gadis itu baik-baik saja saat Rey tidak bersamanya. Ternyata gadis itu tak sendiri ia sedang bersama teman perempuannya. Rey curi-curi dengar dengan perbincangan mereka.  Omongan para cewek membuat Rey jenuh mendengarnya. Ia pun memutuskan untuk pergi dari tempat namun saat mendengar namanya disebut dia langsung berhenti lalu menajamkan pendengarannya. Satu kalimat dari mulut gadis itu membuat hatinya mencelos. "Oh Rey? Gak tau deh ya, gue belum jenguk dia lagi. Males gue deh, semenjak dia koma gak ada lagi yang beliin gue barang dan makanan. Sedih,” Rey tertawa mendengar ucapan yang keluar dari mulut gadis itu. Ia tidak percaya selama menjalani hubungan dengannya, gadis itu hanya memanfaatkan kekayaannya. Sungguh ironis membuat Rey tidak berhenti tertawa. Tawa sarat akan kecewa karena telah menaruh kepercayaan pada gadis tersebut. Tanpa mendengar obrolan menyakitkan itu lagi, Rey pergi meninggalkan Callista sekaligus membuang perasaannya terhadap gadis matre itu. ** Deeva benci dengan tugas kelompok karena sudah pasti tidak ada yang mau sekelompok dengannya. Kalau diberi pilihan antara memilih kelompok sendiri dengan dipilihkan oleh guru, Deeva akan memilih opsi ke dua. Tapi, kali ini guru Fisika-nya membebaskan mereka untuk memilih kelompok berisikan dua orang. Sial, pikir Deeva. Kelas mulai berisik karena suara teriakan seperti “gue sekelompok sama lo ya!” dan suara kursi yang ditarik untuk bergabung dengan teman sekelompoknya. Deeva berdesis karena yang didengarnya dua kali lipat lebih berisik dibanding dengan yang orang lain dengar. Tiba-tiba saja sebuah buku tebal fisika diletakkan di atas mejanya diikuti dengan suara derit kursi yang ditarik ke arahnya. Deeva mendongakkan kepalanya dan mendapati Karrel yang tengah tersenyum ke arahnya. Deeva menelan ludah dan mengedarkan pandanganya ke sekeliling. Benar saja sesuai dugaannya, semua perempuan di kelasnya menginginkan hal yang sama yaitu sekelompok dengan Karrel. Lagi-lagi dirinya berada di situasi yang membuatnya tertekan. “Santai, Deev. Jangan tegang,”sahut Karrel sembari membuka bukunya. Deeva mengikuti apa yang dilakukan Karrel. “Gue terbiasa dengan pandangan orang yang menatap gue aneh, tapi kalau dipandang seolah gue mau ditelanjangin gini, gak pernah, Rel.” Karrel tertawa dengan pernyataan gadis itu yang sebenarnya tidak mengandung unsur bercanda. Namun, menurutnya terdengar seperti guyonan jika Deeva yang mengatakannya. “Ohiya, gimana tentang orang yang membutuhkan bantuan itu? Udah lo bantuin?”tanya Karrel begitu mengingat cerita Deeva tempo hari. Deeva tidak bereaksi dengan pertanyaan Karrel walaupun ia sadar kalau Karrel ternyata menyadari ceritanya tempo hari itu mengenai dirinya sendiri. “Iya, makasih atas pendapat lo karena udah membuka pikiran gue. Ternyata lo cepat tanggap juga ya,” Karrel terkekeh, ia memangku wajahnya. “Gue tuh terkenal peka. Lagian gini ya, lo tuh tipe orang yang gak pernah mau buat mulai obrolan duluan. Tapi, kemarin tertumben banget lo ngajak gue ngobrol dan nanyain soal pendapat dengan mengumpamain gue. Mau nenek-nenek sekalipun, pasti sadar Deev itu sebenarnya terjadi sama lo sendiri,” Deeva tak bisa untuk tidak menyangkal pernyataan Karrel yang memang benar. “Oke, cukup dengan penjabaran lo itu. Mending kita bahas apa yang harus kita kerjain,” Karrel tersenyum menyadari gadis itu merasa gengsi untuk mengakui ucapannya. Mereka pun mulai sibuk membahas satu persatu soal yang harus dikerjakan dan dikumpulkan hari itu juga. Sesekali ada perdebatan kecil dari mulut mereka namun anehnya Deeva merasakan perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Perasaan yang hangat dan nyaman. Sampai akhirnya, mereka dapat bernapas lega saat soal-soal rumit itu berhasil mereka selesaikan dalam satu jam. Deeva tersadar, fokusnya itu berhasil mengalihkan keriuhan kelas yang sedari tadi terjadi sejak guru meninggalkan kelas. “Gue mau tidur dulu bentar ya, capek,” Tanpa menunggu jawaban Deeva, cowok itu sudah menaruh kepalanya di atas lipatan tangannya. Deeva pun memutuskan untuk pergi ke toilet. Saat berjalan di koridor, Deeva merasakan hal ganjal. Walaupun kelihatannya ia selalu sendirian, tapi kenyataannya selalu ada sosok yang menemaninya yang tak lain dan tak bukan adalah Syahel. Dia baru saja tersadar bahwa sudah dua hari dia tidak melihat Syahel. Dirinya yang terlalu fokus dengan pikirannya mengenai Reynard membuatnya tidak menyadari bahwa Syahel tidak ada. Tepat, saat dia menginjak toilet, sosok tubuh putih pucat muncul di hadapannya. “HALO KAK!” Deeva terlonjak kaget. “Syahel? Kenapa sih kalau muncul gak bisa normal aja,” Syahel tertawa mendengar protes Deeva. “Namanya juga arwah sih, kalau muncul pasti selalu bikin kaget,” Deeva mendelik. “Kamu kemana aja deh? Dua hari aku gak liat kamu,” Deeva sempat menangkap ekspresi sedih namun hanya berlangsung dua detik karena selanjutnya Syahel memainkan senyumannya dengan aneh. “Kangen ya sama aku?” Deeva menyesal sudah penasaran. “Bodo,” Syahel tertawa geli melihat Deeva yang langsung masuk ke bilik toilet. Syahel bernapas lega lalu bergumam, “maaf ya Kak. Aku gak bisa jawab sekarang.” ** Deeva berjalan ke depan kelas untuk mengumpulkan tugasnya dan tugas Karrel. Cowok itu masih berada di alam mimpi. Untung saja kelas kosong karena guru fisika-nya masih belum kembali. Saat membalikkan tubuhnya, ia tidak sengaja menabrak seseorang. Deeva langsung minta maaf tanpa melihat orang tersebut. Tidak sengaja, ia mendengar percakapan orang tersebut dengan orang di sebelahnya. “Serius, Rey udah sadar? Kapan jir?” Dengan spontan, ia menoleh ke arah orang tersebut. Mereka masih berbincang mengenai Rey tanpa menyadari Deeva yang tengah menguping. Tak lama setelahnya, bel pulang sekolah berbunyi membuat Deeva dengan cepat menuju ke kursinya. Ia pun bergegas membereskan barangnya, entah pikiran dari mana ia memutuskan untuk ke tempat Rey. Ia ingin memastikan kebenaran ucapan dua orang tadi. “Kenapa buru-buru banget Deev?”tanya Karrel setengah sadar karena ia baru saja terbangun. Deeva tidak mengindahkan pertanyaan Karrel lantas menjejakkan kakinya keluar kelas setelah menyampirkan ranselnya. Berbagai pikiran dan perasaan bercampur aduk, namun ada satu hal yang mengganggunya sejak kepulangannya menjenguk Rey. Maka dari itu, ia ingin membuktikan pemikirannya apakah salah atau tidak. Membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai di wilayah rumah sakit. Setelah memakirkan motornya, dengan sisa-sisa energi yang dimiliki ia berjalan cepat menuju ruangan nomor 305. Begitu sampai di depan pintu, tubuhnya membeku. Pikirannya mendadak kosong dalam sesaat dan muncul penyesalan yang hinggap di hatinya. Ia terlalu takut menemui Rey tapi di sisi lain ingin memastikan pikirannya. Dengan gerakan perlahan ia mengangkat tangannya dan menaruhnya di atas gagang pintu. Ia menarik gagang itu ke bawah dengan perasaan cemas yang makin memenuhi rongga dadanya. Namun, tiba-tiba saja pintu itu terbuka menampilkan sosok yang sedari tadi memenuhi isi kepalanya. Rey tengah menatapnya kaget sekaligus bingung. “What are you doing here? Lo jenguk gue? Belum puas udah gue permaluin depan umum, huh?” Dibombardir dengan pertanyaan tanpa jeda itu membuat hatinya mencelos. Rasa takutnya itu terealisasikan dan pemikirannya terbukti. Kenyataannya adalah Rey kembali seperti semula. Persis seperti insiden di mana ia dipermalukan di depan umum. Harusnya Deeva siap menghadapi kenyataan tersebut, namun mengapa ada perasaan kecewa yang mampir di hatinya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN