Reynard terkesiap saat tubuhnya menembus tubuh seseorang. Dengan spontan, ia memandangi tubuhnya yang ternyata transparan. Dapat ia dengar degup jantungnya yang berpacu cepat. Kilasan memori memenuhi kepalanya membawanya ke kejadian tadi malam. Barulah detik itu ia sadar bahwa dirinya baru saja mengalami kecelakaan dan sekarang dia menjadi arwah yang tidak dapat dilihat manusia. Apakah dia sudah mati? Reynard sendiri pun tidak mengerti dengan kondisinya karena begitu bangun ia langsung berlari ke sekolah.
Reynard mengangkat kepalanya dan matanya beradu dengan Deeva. Dahinya berkerut heran karena gadis itu memandanginya. Ada sorot keheranan dari pemilik mata hitam pekat itu. Sejurus kemudian, Reynard membunuh jarak dengannya. Namun, gadis itu langsung membalik tubuhnya dan berjalan meninggalkan Reynard. Reynard menarik napas dalam mencoba meyakinkan gagasan yang ada di kepalanya.
“GUE TAU LO BISA LIAT GUE KAN?!”
Dengan sekali sentakan, Rey berlari menghampiri Deeva yang langkahnya terhenti. Senyum miring terbit di wajahnya melihat reaksi Deeva. Ia semakin yakin dengan gagasannya bahwa Deeva dapat melihatnya. Rey langsung menghadangnya. Deeva menatap lurus ke depan, bertindak seolah tidak ada apapun di depannya. Namun, Rey tau dengan kepura-puraannya.
“Ternyata emang bener kalau lo bisa lihat hantu,”ucap Rey menatap Deeva dengan senang. Dia pun tidak mengerti mengapa ia begitu senang saat gadis itu dapat melihat keberadaannya sementara orang lain tidak dapat melihatnya. Mungkin karena Deeva dapat membantunya untuk kembali seperti semula?
Deeva menundukkan kepalanya alih-alih menatap jam tangannya. Tindakan itu membuat Rey ragu untuk sesaat namun kembali percaya diri saat gadis itu menunduk terlalu lama.
“Gue—“
Ucapannya terhenti saat Deeva justru berjalan menembusnya. Rey menggeram tertahan. Saat ini emosinya campur aduk. Ia takut dengan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi padanya. Namun, kemunculan Deeva seolah memberikan secercah harapan padanya. Ia percaya bahwa gadis itu pasti akan membantunya. Membantunya untuk keluar dari ketidakpastian ini.
**
Begitu menduduki kursi di ujung kelas, Deeva langsung mengusap peluhnya. Napasnya memburu begitu juga dengan jantungnya yang masih berdegup hebat. Ia baru saja melalui insiden yang sangat membuatnya bingung setengah mati. Rey menyadari bahwa Deeva dapat melihatnya. Rasa penasaran pun kembali mengetuk dirinya. Berbagai pertanyaan pun bermunculan memenuhi kepalanya. Namun, satu hal yang ia tau pasti bahwa saat ini Rey adalah sosok arwah. Ada dua kemungkinan, ia sedang dalam koma atau ia telah mati. Deeva hanya dapat berharap kemungkinan pertamalah yang terjadi. Ia juga tidak mengerti mengapa setelah dipermalukan seperti kemarin dirinya masih memiliki simpati pada Rey.
Telinganya kembali mendengar sebuah nama yang sedari tadi memenuhi isi kepalanya. Tanpa ia sadari, ia langsung menajamkan telinganya. Kerumunan di depan kelas tengah membicarakan soal Reynard. Dapat ia lihat, sosok yang ia kenali di tengah kerumunan tersebut. Callista sedang menangis tersedu-sedu.
“Yang sabar ya, Call,”
Percayalah, ucapan tersebut tidak benar-benar membantu orang yang sedang dirundung kesedihan.
“Gue yakin, Rey baik-baik aja kok. Pasti dia akan sadar,”
Mendengar ucapan tersebut, Deeva menarik kesimpulan kalau Rey sedang dalam keadaan antara hidup dan mati alias koma.
“Semangat Call,”
Obrolan mereka terhenti bersamaan dengan suara bel yang berbunyi menandakan kelas akan dimulai. Kerumunan itu pun bubar saat guru memasuki kelas. Pandangan Deeva mengikuti pergerakan Callista yang tengah berjalan menuju kursinya. Tak sengaja, mata mereka bertemu dalam hitungan detik.
“Untung pas jenguk Rey, gue sempet ngambil kartu kreditnya. Jadi, selama Rey koma, gue bisa shopping sepuasnya,”
Detik itu juga, Deeva sadar bahwa gadis itu lebih hina dari seonggok sampah.
**
Istirahat berlangsung. Entah keinginan dari mana, Deeva memilih untuk menemui Rey alih-alih pergi ke rooftop seperti yang biasa ia lakukan saat jam istirahat berlangsung. Saat kelas tadi, guru yang mengajar adalah wali kelas Reynard. Beliau memberikan informasi bahwa Rey baru saja mengalami kecelakaan motor tadi malam dan sekarang ia dirawat di rumah sakit. Keadaannya masih belum diketahui bagaimana namun yang jelas saat ini Rey tengah mengalami koma.
“Lo nyariin gue?”
Deeva terlonjak kaget saat Rey tiba-tiba muncul di hadapannya. Matanya melotot kesal namun air mukanya masih datar. Hal itu membuat Rey berpikir mengapa ada orang yang bisa berekspresi sedatar itu walaupun sedang terkejut.
“Gue rasa lo perlu tau tentang keadaan lo,”
Salah satu alis Rey terangkat ke atas. Ia menunggu kalimat selanjutnya penuh antisipasi.
“Lo kecelakaan dan sekarang lo dalam keadaan koma,”
Rey mengusap wajahnya frustasi. “Gue harus apa sekarang?”
Tatapan nelangsa itu membuat rasa simpati Deeva menguasainya. Rasa benci yang ia rasakan akibat insiden kemarin seolah menghilang bagai terbawa angin.
“Berdoa,”sahut Deeva tanpa menatap Reynard.
Reynard setengah mendengus, setengah tertawa mendengar jawaban Deeva. “Gue kecelakaan setelah berbuat kejam pada lo,”
Deeva melirik sekilas. Reynard tengah memandanginya sarat akan penyesalan. Deeva tidak bisa benar-benar menilai pandangannya itu. Karena saat ini orang yang ia hadapi adalah Reynard. Seseorang yang telah menghancurkan benteng pertahanannya dan membuatnya menangis dalam hitungan menit.
“Apa ini karma? Atau kutukan dari lo?”
Deeva menatap laki-laki itu tidak percaya. Rasa benci itu kembali muncul membuatnya semakin yakin untuk tidak berurusan lagi dengan Reynard. Reynard langsung tersadar bahwa ucapannya tadi adalah kesalahan. Tidak seharusnya ia mengucapkan hal tersebut saat dirinya membutuhkan bantuan. Ia merutuki dirinya dalam hati dan menyalahkan lidahnya yang sejak dulu memang sulit untuk dikontrol.
“Gue—“
“Cukup. Gue emang b**o karena udah bersimpati pada lo. Makasih udah nyadarin gue untuk tidak mencampuri urusan lo,”tandas Deeva sarat akan penekanan.
Rey berusaha meraih lengan Deeva namun tangannya lolos menembusnya. Rey menatap kedua tangannya dengan emosi yang bercampur aduk. Ia membenci dirinya saat ini yang tidak bisa melakukan apapun. Hanya ada satu cara untuk meluapkan emosinya adalah berteriak sekencang-kencangnya.
Deeva menutup telinganya saat mendengar teriakan dari arah belakang. Teriakan penuh emosi itu terdengar menyakitkan di telinganya. Tentu saja, yang dapat mendengar hanyalah Deeva. Orang-orang yang melihat tindakan Deeva itu kembali menggumamkan ejekan yang tertuju padanya. Dengan cepat, ia berjalan menuju rooftop demi menghindari tatapan orang-orang juga teriakan Rey. Ia ingin lepas dengan segala hal yang berkaitan dengan Rey. Tatapan orang-orang dan ejekan itu kembali mengingatkannya pada insiden kemarin. Insiden kemarin tampaknya akan sulit hilang dari kenangan Deeva.
Keinginannya untuk ke rooftop harus diurungkan saat melihat dua sosok laki-laki yang tengah merokok di tangga. Deeva tidak habis pikir dengan murid-murid yang memiliki keberanian merokok di area sekolah. Ditegur pun rasanya percuma karena mereka akan tetap keras kepala untuk melakukannya. Ia pun memutuskan untuk kembali kelas saja. Lagipula jam istirahat akan berakhir.
“Jenguk Rey jamber?”
Deeva kembali menghela napas berat. Sampai kapan dia harus mendengar nama tersebut? Sepenting apakah sosok itu sampai seantero sekolah selalu membicarakannya seolah tidak ada topik yang lebih penting dari Rey.
“Mager gue,”
“Anjir, lo tau kan dia kecelakaan gara-gara kita,”
Dahi Deeva mengernyit mendengar pernyataan tersebut. Tampaknya kedua insan itu adalah kenalan Reynard atau lebih tepatnya teman selevelnya.
“Please, itu bukan bener-bener kesalahan kita,”
“Terus maksud lo kita gak perlu jenguk dia?”
Deeva masih bertahan dalam posisinya yang ada di balik tembok. Kakinya seolah tidak mau beranjak karena rasa penasaran itu lebih mendominasi.
Ia mendengus. Deeva tidak tau siapa mereka tapi yang jelas sebelum kecelakaan itu terjadi, Rey sempat bertemu dengan mereka. “Jenguk pas dia sadar ajalah, lagian ngapain repot-repot sih buat jenguk dia. Santai aja, ortu mereka pasti ngurusin lah,”
“Tapi, Rey temen kita, Yo,”
Sosok yang dipanggil “Yo” itu tertawa. “Temen, ya?” Jeda sejenak sampai ia kembali bersuara, “gimana ya? Gue gak pernah nganggep dia temen tuh.”
Deeva mengerjapkan matanya. Manusia memang menyeramkan. Tingkah laku dan mereka berbeda saat berhadapan dengan yang bersangkutan. Deeva sadar bahwa Rey sosok yang menyedihkan karena dikelilingi oleh orang-orang bermuka dua.