PART 3 : REYNARD SAMUDRA EVARADO

2435 Kata
Pelajaran sedang berlangsung di semua kelas, namun di kelas 11 IPS 3 seorang laki-laki tidak menaruh perhatiannya pada papan tulis di depan. Ia sibuk dengan ponselnya, jemarinya bergerak cepat di atas layar. Sesekali terkekeh saat membaca pesan dari obrolan grup yang konyol.             Gavin : anjirlah gue bosen banget dengerin penjelasan Bu Teti             Leo : bacot gue aja liat lo daritadi maen hp             Gavin : b**o. karena bosen makanya gue maen hp             Gavin : gak usah sok belajar deh lo, Yo! Reynard melirik kedua temannya yang jaraknya tidak jauh dengannya. Mereka tengah saling mengejek dengan memainkan ekspresi wajah mereka. Reynard tersenyum tak habis pikir dengan tingkah laku kedua temannya. Alasan Reynard berteman dengan mereka karena mereka berada di level yang sama dengan Reynard. Katakanlah, Reynard pemilih dalam sebuah pertemanan. Menurutnya, dalam berteman pun harus saling menguntungkan. Gavin, anak kepala sekolah yang memiliki wewenang penuh atas segalanya. Leo, anak seorang CEO perusahaan besar sekaligus donator terbesar sekolah mereka. Reynard sendiri merupakan anak dari pemilik sekolah yang mana tiap kata yang ia keluarkan otomatis menjadi aturan tak tertulis yang harus ditaati. Alias mereka bertiga adalah trio yang ditakuti seantero sekolah. Tidak heran kalau semua guru pun lepas tangan dengan tingkah mereka bahkan tidak pernah mau ikut campur dengan urusan mereka. Reynard : lo mau kena omel Bu Teti? Leo : wkwkwk najis sok naif Gavin : yang ada malah gue yang nyuruh Bu Teti diem, Rey Reynard menertawakan ucapannya yang naif itu karena yang dikatakan Gavin benar adanya. Gavin dapat bertindak sesukanya tanpa harus merasa takut dikeluarkan dari sekolah. Ayahnya itu terlalu memanjakan Gavin sehingga ia tidak peduli pada siapapun yang mengatakan kalau anaknya berbuat nakal alih-alih menuntut mereka yang mengatakan hal buruk tentang anaknya. Leo : btw, Rey, gue denger lo istirahat tadi adu mulu sama anak baru? Membaca pesan Leo mendadak membuat Reynard menghentikan tawanya. Ia jadi teringat dirinya baru saja diinjak oleh cewek aneh. Hal itu kembali membuatnya geram. Seharusnya tadi ia menggertak gadis itu bukan malah mengabaikannya. Rey : lebih tepatnya sama Deeva Gavin : Deeva si cewek aneh? Leo : gue denger dia bisa liat setan Gavin : damn! Serem banget anjir. Pantes gue pernah liat dia ngomong sendirian. Gue kira dia lagi telponan anjir Leo : berita ini udah lama ya Vin dan semua orang juga udah tau. Gak usah lebay Reynard menyenderkan bahunya, dirinya seakan terkejut dengan informasi tentang Deeva yang baru saja ia terima. Kemana saja ia selama ini? Mengapa ia baru tau sosok gadis aneh itu sementara seisi sekolah sudah mengatahui sejak lama? Gavin : emang lo kenapa sama dia Rey? Lantas, Reynard langsung mengetik dengan cepat bersamaan dengan senyuman aneh yang tersungging. Rey : I think she was dealing with the wrong guy ** Begitu bel pulang sekolah berbunyi, Deeva menyusuri koridor dengan tergesa-gesa. Syahel sampai kewalahan mengejar langkah Deeva. Toh dia arwah, kan bisa terbang kenapa harus melelahkan diri untuk berlari? Terkadang Deeva tidak mengerti dengan jalan pikir Syahel. "Kak! Ngapain buru-buru sih? Udah kayak dikejar setan aja!"protes Syahel saat dia berhasil mengejar langkah Deeva. "Berisik! Aku males ketemu sama Karrel. Dia ngoceh mulu! Perlu tau kamu, aku masih marah sama kamu!"balas Deeva. "Loh, langka nih Kak. Kakak bisa dideketin cogan,"kata Syahel dengan nada yang tersirat antusias, dia pura-pura tidak mendengar kalimat terakhir Deeva. Deeva memutar kedua bola matanya. "Ter-se-rah," Tubuh Deeva nyaris terjungkal karena menabrak sebuah benda keras. Deeva meringis pelan lalu mengusap jidatnya yang menjadi korban tabrakan. Deeva mendongakkan kepala dan mendapati sosok laki-laki yang menggerutu kesal akibat kecerobohannya. Matanya melotot karena kembali melihat sosok yang sangat ia tidak suka. Reynard, cowok arogan yang sangat ingin ia hindari. “Sorry, gue buru-buru,”ucap Deeva langsung membuang muka. Berharap Rey tidak melihatnya karena sibuk menggerutu. Ia memutuskan untuk pergi dari tempat tersebut. Namun, sebuah tangan menariknya hingga ia kembali menubruk tubuh Reynard. “Ngerti cara minta maaf yang bener gak?” Reynard sempat terkejut saat melihat wajah perempuan yang seharian ini merusak mood-nya. Raut wajah itu digantikan dengan senyuman menyeriangi penuh maksud. Ia ingin mengembalikan harga dirinya yang telah dinjak oleh Deeva. “Oh, elo. Udah gue bilang kan, kalau kita ketemu lagi gue gak akan bisa bersikap kayak tadi,”timpal Reynard masih dengan senyuman yang terpatri. Deeva menatap Reynard lurus-lurus. “Apa mau lo?” Reynard akui gadis ini tidak memiliki rasa takut. Nada bicaranya pun terdengar tegas dan menusuk. Tenang saja, Reynard tau bagaimana cara menghadapi tipe orang yang keras seperti Deeva. Sudah terbayang skenario yang akan dia mainkan untuk menghancurkan pertahanan gadis itu. “Minta maaf dengan benar. Itu aja,”balas Reynard tenang. Deeva menahan dirinya untuk tidak mengikuti permainan Reynard. “Gue minta maaf,” Reynard tidak puas. Gadis itu juga masih tampak tak gentar. “Itu aja?” Deeva menatap Reynard tidak mengerti. Sebenarnya apa sih mau cowok labil ini? Deeva tidak sengaja membaca apa yang dipikirkan Reynard. Cowok itu sedang mengejek dirinya di dalam pikirannya. Busuk. Benar-benar busuk. “Udah cukup menghina gue?” Kini, giliran Reynard yang menatap Deeva bingung. Apa mungkin tanpa disadari ia menyuarakan isi pikirannya? Memang benar dia menghina Deeva dalam pikirannya, tapi bagaimana gadis itu tau? Reynard mengabaikan pertanyaan-pertanyaan tersebut, toh ia tidak peduli, mau itu diucapkan atau tidak. Karena dia sudah terlanjur tertarik untuk mempermainkan gadis di hadapannya ini. “Jangan-jangan selain bisa melihat setan lo juga bisa baca pikiran ya?”tanya Reynard asal. Lagipula kemampuan membaca pikiran hanya ada dalam film fantasy yang ia tonton, yang sudah pasti tidak ada di dunia nyata. Deeva terkesiap. Ia tau, bahwa Reynard hanya asal bicara. Tapi tetap saja, ia merasa takut. Takut keistimewaan itu diketahui oleh laki-laki arogan itu. Reynard semakin terkejut karena tidak ada balasan atas pertanyaannya. “Jangan bilang kalau jawabannya iya?” Melihat Deeva yang bergeming membuat tawa Reynard meledak. “Gila! Bener-bener gila. Aneh banget. Lo siapa sih? Dukun? Jangan-jangan lo bisa meramal juga! Coba dong ramal gue. Wah, wah, gimana ya kalau satu sekolah tau hal ini?”cerocos Reynard dengan tawanya yang terdengar memuakkan di telinga Deeva. Dapat Deeva rasakan hawa-hawa orang di sekitar yang menonton mereka. Ucapan Reynard berhasil menarik atensi orang-orang yang berlalu lalang di koridor. Deeva tidak suka berada di situasi seperti ini. Berada di bawah tekanan dan mendengar ucapan-ucapan buruk dari kejauhan yang secara perlahan mengikis pertahanannya. Di tambah dengan kenyataan laki-laki di hadapannya masih mempermalukan dirinya dengan suara yang besar. Seolah ia sengaja ingin semua orang tau bahwa Deeva adalah gadis aneh yang memiliki kemampuan membaca pikiran dan melihat setan.   Untuk pertama kalinya, Deeva merasa terganggu dengan ejekan seseorang. Reynard berhasil meruntuhkan Deeva. Napasnya terasa sesak karena tidak kuat mendengar suara-suara hinaan, cacian, dan sinisan. Tatapan orang-orang yang seolah menelanjangi tubuhnya semakin memperburuk keadaannya sekarang. "Terus—“ "Masih banyak yang mau diomongin?"tanya Deeva berusaha untuk menormalkan suaranya yang mulai bergetar. "Masih banyak sih. Tapi kalau lo gamau ngobrol sama gue lagi yaudah. Kapan-kapan kita lanjutin aja. Mau?" Deeva tidak mau menunjukkan dirinya yang lemah. Maka dari itu, ia mengangkat dagunya lalu menatap mata Reynard dengan nanar. "Gue gak butuh ngobrol sama orang kayak lo!"seru Deeva dengan suara meninggi. Tangannya menunjuk tepat di hidung Reynard. "Gila cewek aneh itu punya nyali juga buat ngebentak Reynard," "Anjir tuh cewek nyari masalah banget sama si Reynard. Gak tau apa si Reynard itu siapa? Ck," Suara bisikan para orang yang melihat kejadian tadi memenuhi rongga telinga Deeva. Dia merapatkan telinganya mencoba mengusir bisikan mereka yang terus memasuki telinganya. Ia menerobos kerumunan dan berlari tanpa arah. Hingga ia berhenti berlari saat menyadari kalau dia sudah terlalu jauh berlari. Tubuhnya terjatuh, kakinya seakan tidak dapat menahan beban tubuhnya. Tanpa sadar air mata mulai menyembul di pelupuk matanya. Deeva duduk memojok di sudut tembok parkir. Ia memeluk kedua lututnya, menutupi wajahnya diantara kedua lututnya. "Deeva," Tanpa menganalisis pemilik suara tersebut, Deeva sudah dapat menebak.  "Lo... kenapa?"tanyanya pelan nyaris berbisik. Dapat terdengar kalau langkahnya mendekat ke arah Deeva. Deeva masih bertahan dalam posisinya tanpa ada niatan untuk menatap Karrel. “Gue benci Reynard. Gue benci orang arogan kayak dia. Gue benci orang yang bertindak seolah ia mengetahui segalanya. Gue benci. Gue benci!”seru Deeva dengan suara yang terdengar parau. Deeva mengangkat wajahnya dan langsung mendapati wajah Karrel yang dekat dengannya. Karrel terperanjat, dia kira Deeva akan menangis namun nyatanya tidak. Bahkan tidak ada jejak air mata di sekitar matanya.  Pletak . Deeva meringis saat Karrel menyentil keningnya.  "Sakit Rel," Tanpa menanggapi omongannya Karrel kembali menyentil kening Deeva hingga Deeva meringis nyaris mengeluarkan air mata.  "Kalau sakit lo pasti nangis, kan?"tanya Karrel. Matanya menyorotkan kehangatan membuat Deeva merasa teduh. Ia lupa dengan Karrel yang berisik dan mengganggu ketenangannya karena ditatap sedemikian rupa. "Mulai sekarang kalau lo sakit lo boleh nangis kok,"tambah Karrel. Barulah kali ini Deeva benar-benar menangis hebat. Tanpa segan-segan Karrel menyediakan pelukan pada Deeva  yang langsung disambut olehnya. Deeva menangis dalam pelukan Karrel dan Karrel hanya terdiam membiarkan air mata Deeva tumpah ruah.  "Pertama kali dalam seumur hidup gue ngeliat lo menangis,"  Deeva tak sengaja mendengar gumaman Karrel yang terdengar sangat kecil. Bahkan untuk seukuran orang normal mungkin gumaman itu tidak akan terdengar.  Ini bukan pertama kalinya Deeva menangis. Bahkan Deeva sering menangis karena perilaku orang-orang yang selalu menganggapnya tidak normal. Namun, ini pertama kalinya Deeva menangis di depan seseorang. Dan orang pertama itu ternyata Karrel. ** Reynard tersenyum puas menatap kepergian Deeva. Walaupun pada akhirnya gadis itu dengan lancang meneriaki dirinya, tapi setidaknya ia tau bahwa Deeva pura-pura bersikap kuat. Skenario itu berhasil ia lakukan. Cara menangani orang seperti Deeva memang harus dipermalukan di depan umum agar ia sadar kedudukannya jauh di bawah Reynard. “Woi!” Reynard menoleh ke asal suara tersebut. Kedua temannya tengah membelah keramaian yang terjadi akibat insiden tadi. Reynard tertawa melihat orang-orang secara otomatis memberi jalan pada Gavin dan Leo. “Apaan sih, rame-rame begini? Lo abis melakukan apa, Rey?”protes Gavin yang masih tidak terbiasa dengan Rey yang hobi membuka bioskop dadakan. Reynard tersenyum tipis. “Gue habis menuntaskan urusan gue dengan Deeva,” Leo mengernyit. “Emang dia ngelakuin apa, sih, sampe lo kayak begini?” Reynard berpikir sejenak, mempermainkan kedua temannya yang penasaran dengan jawabannya. “Dia berani sama gue,” Kedua temannya mengangguk paham seakan tindakan Deeva memang pantas untuk diberi pelajaran. Gavin mengusap rambut belakang Reynard. “Good boy,” Rey menepis tangan Gavin, sementara ia tertawa melihat reaksi Rey. Gavin mendadak menghentikan langkahnya membuat Rey dan Leo secara otomatis ikut berhenti. Keduanya memandang Gavin dengan sorot mata bertanya. “Ke tempat biasa dulu gak?”tawar Gavin dengan alis yang dinaik-turunkan. Tanpa banyak bicara, mereka pun mengiyakan sebelum berjalan ke parkiran. “Gue bawa mobil. Lo bareng gue aja Rey, motor lo nginep aja di sekolah,”usul Leo sembari memainkan kunci mobilnya. Reynard berpikir sejenak. “Gak deh, gue nanti mau jemput Callista di tempat lesnya,” “Najis bucin,”cibir Gavin yang memang tidak suka dengan kebucinan pasangan baru itu. Reynard menoyor kepala Gavin. “Iri bilang, Boss,” Gavin memutar bola matanya jengkel. “Sorry, I’m happy being a single person,” ** Dengan langkah yang agak tertatih-tatih Rey memaksakan dirinya berjalan menuju motornya berada. Sebisa mungkin Rey melawan efek alkohol yang mulai menguasainya. Rey menyesali keputusannya untuk meminum dua gelas alkohol karena desakan kedua temannya. Padahal dirinya memiliki toleransi yang rendah terhadap alkohol, tidak seperti kedua temannya yang sudah minum berbotol-botol pun masih dapat berdiri dengan tegak. Kedua temannya sudah mencegah Rey untuk pergi menjemput Callista karena melihat keadaan Rey yang mulai mengkhawatirkan. Bahkan Leo menawarkan diri agar dirinya saja yang menjemput Callista. Namun, Rey menolak karena ia tau Callista tidak akan suka itu. Jika ia melanggar janjinya, tentu dia sendiri yang akan kerepotan. Gadis itu akan menerornya dan meminta banyak hal pada Rey untuk diampuni. Alasan tersebut yang membuat Rey menjalankan motornya dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki. Dia hanya dapat berharap menjalankan motornya dengan benar. Makin lama, alkohol itu mulai membuat kepalanya terasa sakit dan pandangannya mulai kabur. Sesekali Rey menghentikan motornya untuk mengendalikan dirinya. Dering ponselnya terus berbunyi yang menandakan Callista menunggunya tidak sabaran. “Aku lagi di jalan, Call,”sahut Rey dengan suara lemah. Ia mengusap kedua matanya seolah hal tersebut dapat mengembalikan pandangannya. “Aduh, aku udah nungguin daritadi Rey. Kamu gimana sih, masa bisa lupa sama janji kamu! Udah setengah jam Rey. Kalau tau gitu, mending aku pulang sama temen aku,” Rey mengembuskan napas keras. “Bentar lagi aku nyampe,” Rey tidak pernah bisa benar-benar marah pada Callista. Ia juga tidak tau alasannya kenapa dirinya bisa dikendalikan Callista. Apa karena Callista gadis yang memiliki pengaruh kuat untuk dirinya? Entahlah, dia malas untuk berpikir. Saat ini lebih baik berfokus mengendalikan dirinya dari efek alkohol itu. Sampai pada akhirnya, ia tidak sadar bahwa motornya sudah memasuki jalanan yang berlawanan arah. Matanya yang semula kabur mendadak menjadi  jernih saat melihat cahaya yang menyorot ke arahnya diiringi dengan suara klakson yang saling bersahutan. Refleks Rey dengan cepat melempar dirinya ke jalanan dan menghantam sesuatu yang keras. Ia meringis kesakitan sampai tiba-tiba semuanya menggelap. Hal terakhir yang ia ingat adalah rasa sakit yang menggerogoti dirinya dan teriakan orang-orang. **             Deeva melangkahkan kakinya ragu-ragu. Hanya tinggal lima langkah lagi untuk mencapai wilayah sekolah. Ia ragu sejenak, namun detik selanjutnya dia berhasil memantapkan hatinya. Deeva berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak berinteraksi dengan Reynard lagi. Kejadian kemarin akan ia letakkan di memorinya terdalam dan sebisa mungkin tidak akan ia buka kembali. Mata Deeva menyipit saat menemukan sosok Syahel yang sedang berputar-putar di udara. Tingkah anak itu gak pernah normal. Selalu aneh.  "Hei! Kamu ngapain sih Hel?"tanya Deeva saat Syahel merendahkan terbangnya. "Aku memantau keadaan di sekolah,"jawab Syahel dengan kepala yang terus berputar seakan memeriksa medan perang.  "Gak perlu. Udah ada satpam juga di sekolah,"balas Deeva tanpa minat. Dirinya pun memasuki koridor yang ramai. Tak sengaja matanya menangkap sosok Rey yang tidak jauh darinya. Deeva segera menyembunyikan dirinya di balik pilar. Napasnya terhenti saat melihat Rey mendekat ke arahnya. Namun, tiba-tiba ia berbalik arah membuat Deeva dapat bernapas lega. Kepalanya tergerak otomais mencari  sosok Syahel yang mendadak menghilang entah kemana. “Rey, kecelakaan?!” Suara itu mendistrak fokus Deeva yang dengan segera membuatnya menoleh ke asal suara. Tiga perempuan berjarak empat meter darinya tampak berbicara dengan ekspresi wajah serius. Mendengar nama Rey membuat suasana hati Deeva di pagi hari menjadi tidak baik. Di tambah dengan gosip aneh mengenai Rey yang jelas-jelas adalah kesalahan. Padahal beberapa detik yang lalu dia melihat sosok Rey di koridor. Ia pun menganggap ucapan tiga perempuan itu sebagai angin lalu. Begitu Deeva hendak meninggalkan koridor untuk menuju kelasnya yang berada di ujung, nama Rey kembali disebut membuat kerutan di dahinya terbit. Telinganya banyak menerima informasi yang membuatnya bertanya-tanya sekaligus membuat kepalanya sakit. Ia pun memutuskan untuk menyematkan earphone agar suara-suara itu hilang. Ia sudah muak mendengar nama Rey disebut di sepanjang perjalanannya menuju kelas. Langkah Deeva terhenti, matanya membulat saat tidak sengaja melihat sosok yang ingin ia hindari berjalan menuju ke arahnya. Wajah sosok itu tampak aneh. Deeva menangkap raut wajah cemas dan takut. Deeva menelan ludahnya dan berusaha untuk bertindak normal. Ia menundukkan kepalanya sebelum melangkahkan kakinya kembali. Jarak mereka semakin menipis. Dapat Deeva rasakan deru napasnya yang memburu seiring langkah kakinya. Ia mengeratkan pegangannya pada tali ranselnya. Tinggal dua langkah untuk melalui sosok tersebut sampai dirinya terperanjat saat tubuhnya menembus tubuh Rey. Kepalanya menoleh bersamaan dengan langkahnya yang terhenti karena rasa terkejutnya dengan kejadian tersebut. Sosok tersebut juga melakukan hal yang sama dan ekspresinya sama terkejutnya dengan Deeva. Satu pertanyaan langsung muncul di kepala Deeva. Apa sosok yang di hadapannya adalah arwah? Lebih tepatnya, arwah seperti Syahel?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN