Setelah dipersilakan duduk oleh Bu Eryn. Anak baru bernama Karrel itu melangkah ke kursi yang tidak ada tuannya a.k.a kursi di sebelah Deeva. Langkahnya mendadak berhenti saat menyadari sosok Deeva yang sedari tadi tidak memperhatikannya. Tidak seperti gadis lainnya yang terus memelototi kehadiran Karrel.
Merasa diperhatikan Deeva mendongak dan tak sengaja matanya saling beradu pandang. Karrel menatap Deeva dengan intens berbeda dengan Deeva yang menatap Karrel dengan hampa. Walaupun saat in pikirannya berantakan gara-gara sebuah nama yang terus memutari otaknya.
"Gue kayak pernah liat dia. Deeva kah? Anak SMP yang sering digosipin aneh?”Tanpa disengaja Deeva membaca pikiran Karrel. Sontak dia langsung menundukkan kepala. Tidak salah lagi kalau dia, Karrel yang Deeva maksud.
"Karrel ada apa? Kok kamu diam aja?"tegur Bu Eryn saat melihat Karrel yang tidak segera duduk.Karrel sempat terkejut saat mendengar teguran Bu Eryn. Dia pun buru-buru duduk di kursinya tanpa menanggapi teguran Bu Eryn.
"Hai Deeva,"sapa Karrel saat Bu Eryn memulai pelajaran.
Deeva terperanjat namun sapaan Karrel sama sekali tidak membuat ekspresinya berubah. Deeva tetap diam dan mulai mengeluarkan buku pelajarannya.
"Hmm...masih kayak dulu. Selalu mengabaikan sapaan gue,”
Deeva melotot ke arah Karrel. Dia mendengar Karrel bergumam sesuatu mengenai dirinya. Karrel tersenyum tipis saat menyadari kalau Deeva menoleh ke arahnya.
"Dia bakal ganggu hidup gue lagi,"batin Deeva sembari menghela napas panjang.
**
Istirahat berlangsung, Deeva memutuskan pergi ke rooftop untuk menikmati semilir angin. Rooftop merupakan salah satu tempat favorit Deeva. Dia bisa duduk berlama-lama hingga bel masuk berbunyi. Sesampai di rooftop, Deeva langsung duduk berhadapan dengan langit dan gedung-gedung yang menjulang. Ia memandang langit biru tanpa takut matanya sakit karena telalu lama memandang.
Dari lantai atas pun Deeva dapat mendengar suara ramai entah darimana. Suara bergosip ria, suara keramaian kantin, suara pesawat dari kejauhan entah berapa kilo, dan suara pluit yang dibunyikan oleh polisi. Padahal di tempat Deeva berdiri tak ada pesawat maupun polisi. Satu hal yang memperburuk keadaannya adalah dia lupa membawa earphone-nya.
Deeva menutup telinganya rapat-rapat mencoba untuk menyamarkan suara yang menganggunya. Dia benar-benar terganggu dengan semua itu. Suara itu pasti selalu hadir saat pikirannya kosong. Selama ini Deeva selalu mengalihkan pendengarannya dengan bernyanyi, mendengarkan musik, dan membaca buku sampai ia lupa dengan suara-suara itu.
Hingga pintu terbuka lebar dan menampakkan sosok yang menjadi trending topic di sekolahnya. Mata Deeva yang nyaris berkaca-kaca langsung melotot saat melihat Karrel. Dia menenteng sebuah kantong plastik yang diperkirakan Deeva berisi makanan. Deeva langsung menyeka jejak air matanya yang ternyata lolos keluar. Dia segera memalingkan pandangan ke arah lain tanpa ada niat untuk menyapa Karrel.
"Lo sendiri?" Karrel bersuara. Tanpa segan-segan dia langsung duduk disamping Deeva. Deeva menggeser duduknya memberi jarak dengan Karrel. Namun, semakin Deeva menggeser posisi duduknya, Karrel justru semakin membuang jarak dengannya.
"L..lo mau apa kesini?"tanya Deeva pelan. Bahkan nyaris berbisik. Kepalanya menunduk ke bawah.
"Hmm...gue juga gak tau tuh,"jawab Karrel enteng. Suasana menjadi hening. Deeva hanya mendengar suara kantong kresek yang memenuhi rongga telinganya.
"Mau?"
Deeva mendongak perlahan dan mendapati roti cokelat kesukaannya. Kenapa dia bisa tau? Mungkin hanya kebetulan Karrel membeli roti cokelat.
"Penasaran kenapa gue bisa tau roti kesukaan lo?"tanya Karrel sembari memiringkan kepalanya.
Deeva menggeleng pelan dan mengambil roti cokelat itu ragu-ragu. Karrel seakan dapat membaca pikirannya yang sempat heran.
"Yah, gue tau pasti lo jawab enggak. Tapi gue bakal kasih tau,"kata Karrel bersemangat. Sebelumnya ia mengunyah rotinya terlebih dahulu.
"Karena selama SMP gue selalu memperhatikan lo beli roti cokelat kalau ke kantin. Gue bener kan?"tebak Karrel.
Ini namanya bukan tebakan kalau tepat sasaran. Deeva mengerjapkan mata beberapa kali hingga dia tersadar kalau laki-laki di hadapannya 100% benar. Deeva mengangguk pelan lalu menggigit roti pemberian Karrel.
"Gue selalu tau tentang lo Deev. Tentang lo yang dikatain anehlah, tentang lo yang selalu diejek gara-gara selalu ngomong sendiri dan... ahhh pokoknya banyak deh! Ampe gue keabisan kata-kata buat ngedeskripsiin lo,"jelas Karrel tanpa diperintah.
Deeva tetap bertahan dalam posisi diamnya. Ia sempat terhenyak dengan semua perkataan Karrel. Ternyata selama satu tahun di kelas 7, Karrel selalu memperhatikannya. Selalu. Deeva terkejut saat melihat sosok perempuan berwajah pucat yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Bukan karena wajahnya yang menyeramkan tapi karena kehadirannya yang mengejutkan Deeva.
"Kenapa Deev?"tanya Karrel yang ternyata menyadari ekspresi terkejut Deeva walaupun terlihat samar.
"Gak apa-apa," Deeva menggeleng kuat-kuat.
"Kamu! Lain kali kalau muncul jangan ngagetin!"omel Deeva tanpa ia sadari. Syahel hanya terkekeh pelan lalu terkejut saat melihat kalau Deeva tidak sendiri. Suasana mendadak hening dan Deeva kembali diam memandang lurus ke depan.
"Kak, siapa cowok itu?"tanya Syahel seraya menunjuk ke sebelah Deeva.
Deeva tersadar kalau Karrel masih ada disampingnya dan baru saja dia melakukan kesalahan fatal. Pasti dia akan dianggap gila oleh Karrel gara-gara ngomong sendiri. Benar saja sekarang Karrel menatap Deeva tak percaya. Mulutnya menganga. Roti di tangannya terlepas dari genggamannya.
"Lo ngomong sama gue? Atau siapa?"tanya Karrel agak heran. Dia mencoba mencari jawaban dari wajah Deeva.
"Heh? G..gue gak ngomong sama siapa-siapa kok,"sanggah Deeva sebisa mungkin untuk mengendalikan suaranya agar tetap tenang.
"Lo bohong Deev. Lo terlalu mudah ditebak,"balas Karrel dengan helaan napas.
Entah mengapa laki-laki ini bertindak seolah tau segalanya tentang Deeva. Deeva agak merasa terganggu. Padahal jelas laki-laki ini tidak tau apa-apa mengenai Deeva.
"Walaupun gue jelasin lo gak bakal percaya dan malah nganggep gue gila,"kata Deeva tanpa menatap langsung Karrel. Syahel duduk bersidekap dan menatap Deeva geram.
"Kakak curang gak mau ngenalin aku sama Kakak ganteng! PELIT!"pekik Syahel dengan tangisan yang meraung-raung. Hawa mistis mula menyelimuti rooftop.
"Kok disini kayak ada hawa dingin ya, Deev?"tanya Karrel heran. Ia memeluk dirinya mencoba untuk membuang hawa menakutkan ini. Syahel masih aja berteriak merengek untuk dikenalkan dengan Karrel si Kakak ganteng.
"Syahel! Berisik!"tegur Deeva memelototi Syahel yang sekarang sudah menciptakan aura gelap di sekelilingnya.
"Kok jadi mistis gini, Deev?" Lagi-lagi Karrel bertanya dengan memerhatikan situasi sekitar. Normal tidak ada apa-apa. Hanya saja auranya mendadak terasa dingin dan seram. Membuat Karrel tanpa sadar mengusa tengkuknya, merinding.
"Ya, karena bocah berisik ini,” Pada akhirnya Deeva mengatakan yang seharusnya tidak dikatakan olehnya.
"Bocah?"ulang Karrel pelan. Tersirat nada ragu dari pertanyaannya.
"Dia mau kenalan sama lo,” kata Deeva tampak tidak peduli lalu menggigit rotinya.
"Di mana? Kok gue gak lihat?" Kepala Karrel terus berputar untuk memastikan sosok yang dimaksud Deeva.
"Karena hanya gue yang bisa lihat," Deeva beranjak dari duduknya lalu menepuk-nepuk roknya dari debu. Karrel ikut beranjak mengikuti Deeva.
"Jangan-jangan rumor di SMP yang bilang lo ngomong sendiri itu karena lo ngomong sama makhluk halus?"tanya Karrel mengutarakan isi pikirannya.
Deeva menoleh ke arah Karrel. Ia mendapati wajah Karrel yang menatapnya terkejut. Entahlah, tampaknya ia terkejut sekaligus syok karena baru saja mengalami kejadian “menakutkan” tadi. Sebagai jawaban pertanyaan Karrel, Deeva hanya mengangkat bahu lantas berjalan meninggalkan Karrel. Karrel memandang kepergian Deeva dengan sebuah tanda tanya besar di kepalanya.
"Lo selalu berhasil membuat gue penasaran, Deev,"gumam Karrel dengan senyuman miring.
**
Begitu menutup pintu rooftop, Deeva langsung memukul kepalanya. Ia baru saja mengatakan hal aneh pada Karrel yang tentu memperjelas alasan ia disebut orang aneh. Deeva benar-benar menyesal dan berjanji untuk tidak berbicara dengan Karrel lagi. Ia tidak mau hal seperti tadi terulang lagi.
“Kak, kenapa?”
Suara itu membuat emosi Deeva kembali tersulut. Ia menatap Syahel dengan geram. “Gara-gara kamu, aku jadi keceplosan!”
Syahal tersentak lalu bergerak mundur. “Tapi kan—“
“Pergi,”
Syahel memandang Deeva dengan tatapan bersalah namun pada detik selanjutnya raut wajahnya berubah kontras. “KAK DEEVA BAPERAN! AKU BENCI!”
Deeva berdecak. “Yang harusnya benci itu aku!”
Lantas, ia menuruni tangga dengan cepat. Namun, langkahnya terhenti karena melihat dua insan yang duduk di ujung tangga. Yang jelas Deeva tau bahwa keduanya memperlihatkan aura tidak ingin diganggu. Ia pun memutuskan untuk mengambil jarak aman agar tidak diketahui mereka. Deeva terlalu sungkan untuk melalui pasangan kasmaran itu.
“Kok diam?”
Deeva terkesiap karena mendengar suara rendah tepat di telinganya. “Apa?”
Karrel terkekeh melihat reaksi Deeva. “Kok lo gak ke kelas? Nungguin gue?”
Deeva menggeleng cepat. “Gue—“
“Oh, ada yang lagi pacaran di ujung tangga,”potong Karrel dengan enteng. Ia menatap pasangan itu dengan maklum sebelum menoleh ke arah Deeva. “Terus lo mau nontonin mereka di sini?”
“Ya, gue gak enak mau ngelewatin mereka,”balas Deeva dengan kepala menunduk merasa malu.
Karrel tersenyum tipis. “Yuk!” Lantas mengamit lengan Deeva dan membawanya menuruni tangga. Deeva tidak sempat menolak yang akhirnya memilih pasrah dirinya ditarik Karrel. Agresif, begitu pikir Deeva.
“Permisi,”ucap Karrel saat mereka sudah ada di dekat pasangan tersebut. Pasangan itu langsung menoleh terkejut sama terkejutnya dengan Deeva saat melihat sosok yang tak asing. Laki-laki kurang ajar yang menyalip dirinya kemarin.
“Gue gak nyangka kalau spot ini juga ditempati sama pasangan lain,” Laki-laki itu bangkit dari kursinya, menatap Karrel dan Deeva sinis. Memperjelas bahwa ia memang terganggu.
Karrel mengangkat bahunya tak acuh. “Sorry, kalau kita mengganggu waktu kalian,”
“Sayang, kayaknya mulai besok kita jangan di sini deh. Terlalu banyak pengganggu,” Suara tinggi dengan nada yang terkesan dibuat-buat itu membuat Deeva muak mendengarnya.
Laki-laki bertubuh tinggi itu mengusap rambut si perempuan dengan lembut. “Well, kayaknya lebih baik mereka yang cari tempat lain deh,” laki-laki itu melempar pandangannya ke Karrel dan Deeva, “gimana? Paham kan maksud gue?”
“Gue bayar SPP di sekolah ini. Gue punya hak untuk ada di sini,”balas Deeva tanpa merasa takut.
Laki-laki itu tertawa begitu juga perempuannya. Tawa meremehkan seolah mereka berada di kasta tertinggi dalam status sosial. “Gue Reynard kalau lo perlu tau,”
Deeva tidak peduli bahkan tidak mau tau apa maksud laki-laki itu menyebut namanya. Kini giliran Deeva yang menarik lengan Karrel. Laki-laki itu kembali tertawa saat menyadari bahwa dirinya baru saja diabaikan.
“Kali ini kalian gue maafin! Tapi jangan harap besok gue bisa maafin kalian!”seru Reynard setengah berteriak.
Perempuan di sebelahnya, Callista, bergelayut manja di lengan Reynard. “Sayang, kamu gak tau siapa cewek itu? Dia Deeva, si cewek aneh yang suka ngomong sendiri. Sialnya, dia sekelas denganku,”
Alis Reynard terangkat heran. Detik selanjutnya ia tersenyum sembari memandangi punggung Deeva yang semakin menjauh. “Menarik,”