Part 1 : BEGIN

992 Kata
Deeva menyusuri koridor dengan langkah kaki yang tegap. Tipikal Deeva yang selalu menjaga posisi berjalannya. Matanya lurus ke depan. Namun, menyorotkan kehampaan membuat para siswa yang berlalu lalang menatapnya malas. Jiwa dalam diri Deeva seakan membuat yang lain langsung malas menjalani pagi ini. "Kebiasaan deh selalu gak berekspresi. Senyum dikit lah, Kak. Biar orang ngeliat Kakak itu seneng gak kayak tadi," celoteh seorang anak perempuan yang umurnya hanya terpaut tiga tahun dari Deeva. Deeva melirik sekilas ke anak perempuan itu tanpa mengindahkan protesnya. "Tuh, kan! Gimana orang-orang gak mau ngomongin Kakak kalau Kakaknya aja begini," gerutu anak perempuan itu dengan mata yang menyorotkan kekesalan. Ia melipat kedua tangannya. Lalu memutari tubuh Deeva dengan menerbangkan dirinya. "Gak usah terbang bisa kan? Ganggu tau,"kata Deeva tanpa bereskpresi. Suaranya yang datar membuat anak perempuan itu terdiam. "NYEBELIN!"pekik anak perempuan itu. Kali ini dia benar-benar meledak kalau melihat rambutnya yang berterbangan dan aura seram membuat suasana menjadi mistis. Dia pun segera menerobos tembok sekolah dan menghilang. "Dasar arwah,"umpat Deeva dengan dengusan pelan. ** Kejadian di sekolah pun tak ada yang istimewa bagi Deeva. Dia menjalani kehidupan yang normal namun orang-orang selalu menganggapnya tidak normal. Orang beranggapan kalau dia gila karena selalu bermonolog. Faktanya dia berbicara pada seorang bocah yang telah mati. Syahel namanya, arwah perempuan yang selalu bersama Deeva. Dia meninggal karena penyakit kanker yang menggerogoti hidupannya. Umurnya hanya berbeda tiga tahun dengan Deeva. Saat ini Syahel berusia 13 tahun yang berarti dia meninggal saat berusia sekian. Kalau Syahel masih hidup sampai sekarang mungkin dia dan Deeva seumuran. Mengenai keistimewaan Deeva. Dia sudah memilikinya sejak lahir dan dia selalu terganggu dengan itu. Suara dari jarak kilometer pun dapat dia dengar. Suara yang saling bersahutan. Suara anjing menggonggong, suara bayi menangis, suara istri dan suami yang bertengkar. Yang seharusnya mustahil dapat didengar dari kejauhan kilometer lebih. Waktu kecil Deeva selalu menangis meraung-raung saat melihat sosok yang tidak dia kenal. Sosok menyeramkan dengan wajah hancur, baju bersimbah darah dan mata melotot. Hal itu selalu ditemuinya di rumah. Namun, sekarang dia sudah terbiasa dengan hal itu. Justru menjadi makanan sehari-harinya melihat sosok yang menyeramkan. Namun, untuk membaca pikiran orang lain, baru ia sadari saat duduk di kelas tiga SD. Deeva kecil saat itu tak sengaja menumpahkan jus jeruk ke tubuh temannya. Membuat seragam yang ia kenakan penuh dengan hiasan warna oranye. Anak yang ketumpahan jus jeruk memang tidak berkata apa-apa. Tapi, dia terus memaki Deeva di dalam pikirannya. Karena alasan-alasan tersebut Deeva benci berteman. Ia takut mendengar hal-hal privasi yang seharusnya tidak ia dengar. Terkadang hidup tanpa tau apa-apa lebih menyenangkan daripada tau segalanya. Maka, Deeva memutuskan untuk menghindari interaksi orang-orang demi dirinya juga demi orang lain. Sehingga sampai detik ini, Deeva tidak pernah memiliki teman. Namun, dia pernah bertemu seorang laki-laki yang selalu menyapanya. Dia tak pernah memandang Deeva sebagai perempuan aneh atau semacamnya. Tapi, Deeva tidak pernah membalas sapaannya. Bahkan untuk melirik pun tidak. Kejadian itu terjadi saat Deeva duduk di bangku SMP kelas 7. Dia tidak pernah melihat cowok itu lagi sejak kenaikan kelas 8. Setidaknya ia tahu nama laki-laki itu adalah Karrel. "KAKAK!' Suara yang memekakan telinga nyaris membuat guratan wajah Deeva berubah. "Syahel! Apaan sih?!"balas Deeva sembari menghela napas pendek. "Mau sampai kapan di sekolah? Lihat tuh kelas udah kosong," Syahel mengingatkan dengan wajah penuh kemenangan karena berhasil mengejutkan Deeva. Aura yang biasanya seram kalau bersama Syahel berubah menjadi lebih agak tenang. "Oh, udah pulang,"balas Deeva datar. Ia pun menyampirkan ranselnya lalu bergegas keluar kelas. Tiba-tiba Syahel bergelayut manja di lengan Deeva namun nyatanya dia malah menembus tubuh Deeva. Deeva tetap diam tanpa menanggapi tingkah Syahel. "Kak traktir aku dong. Laper nih,"pinta Syahel dengan mata merah yang berbinar-binar. "Gak ada duit,"jawab Deeva cepat. Syahel mengerutkan dahi kesal. "AHHH KAKAK! AKU LAPER!"rengek Syahel berusaha untuk menggoyangkan tubuh Deeva. Tapi apa daya, Syahel hanya arwah. Justu malah tubuh Syahel yang terpelanting kesana kemari. "Nanti kalau aku mati gimana?"tanya Syahel dengan raut wajah yang menyedihkan dan Deeva tentu tau bahwa bocah itu hanya acting. "Bukannya kamu udah mati?"tanya Deeva yang membuat Syahel bungkam. Tanpa membalas perkataan Deeva, Syahel kembali menerobos tembok lalu menghilang. Ngambek. "Tuh serem banget masa ngomong sendiri," "Ihh cewek freak mulai gila lagi tuh," Berbagai caci maki terdengar jelas di gendang telinga Deeva. Namun, Deeva tak menggubris ejekan mereka semua. Dia sudah terbiasa saking terbiasanya ia tidak peduli. Dengan segera ia menyematkan earphone ke telinganya untuk menghalau suara-suara dari kejauhan. "Awas ya, Hel, kalau ketemu,"batin Deeva dengan kesal. Deeva mempercepat langkahnya karena ia tidak nyaman dengan kerumunan orang yang menatapnya sedemikan rupa. Begitu sampai di parkiran ia segera melepas earphone-nya dan mengenakan perlengkapan bermotornya. Dengan kemampuan bermotornya yang masih kurang, ia sangat berhati-hati menjalankan motornya di parkiran yang sempit itu. Barulah ia dapat bernapas lega saat dirinya sudah berada di luar parkiran. Ia terkesiap saat mendapati dirinya disalip oleh motor besar. Hampir saja ia melempar dirinya ke jalanan namun refleksnya bagus karena ia langsung menarik rem. Motor besar itu berhenti beberapa meter di depannya. Pengemudi itu membuka kaca helmnya lalu mengatakan, "sorry, tapi jalan lo lama,”dan kembali menjalankan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Deeva menggeram dalam hati. Ia tidak kenal siapa laki-laki itu. Tapi, ia jelas mengenal seragam tersebut berasal dari sekolah yang sama dengannya. Orang itu minta maaf hanya sebagai formalitas tapi pada kenyataannya malah membela dirinya sendiri. Deeva benci orang seperti itu. ** Deeva heran dengan absennya Syahel di pagi hari. Biasanya setiap Deeva menyusuri koridor pasti Syahel selalu berceloteh mengenai sikapnya yang kelewat dingin. Tapi, kali ini Syahel tidak muncul. "Mungkin dia sudah pergi ke surga,"pikir Deeva acuh. "Anak-anak mohon perhatiannya. Kita akan kedatangan murid baru. Ya, silakan masuk," Bu Eryn tiba-tiba memasuki kelas dan membuat semuanya langsung memusatkan perhatiannya pada Bu Eryn. Anak baru yang diperkenalkan Bu Eryn pun memasuki kelas setelah dipersilakan. Cowok itu tersenyum ramah membuat para anak perempuan di dalam kelas memandangnya layaknya mangsa yang siap disantap. Deeva akui laki-laki itu memang memiliki paras yang tampan. "Hai, gue murid baru disini. Nama gue Karrel Adelardo. Kalian boleh manggil gue Karrel," Kelas yang dominan lebih banyak perempuan langsung menjerit histeris melihat senyum Karrel. Mata Deeva membola. Putaran memori mengingatkan dia masa lalu. Bukankah dia laki-laki yang selalu menyapanya dulu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN