Chapter 2: Space Oddity

2000 Kata
Melody spontan melepas cengkeramannya yang masih tersisa di kemeja pria itu. Ia ingin mengatakan sesuatu, namun suara Mamanya yang semakin dekat, membuat Melody tanpa sadar mendorong d**a pria itu agar mereka berjauhan. Tak lagi berjarak dekat seperti tadi. “Pokoknya awas aja kalau kamu berani aduin aku ke Mama atau Papa, aku bakal kasih perhitungan nanti!” Melody mengancamnya sekali lagi. Tanpa menunggu reaksi dari pria itu lagi, Melody lalu menubruk bahunya dan berlari sekencang mungkin. Ia harus sudah lebih dulu ada di kamar, sebelum Mamanya memergoki bahwa ia tak ada di dalam sana sejak tadi. Tanpa suara, Melody menaiki tangga. Dengan jari-jemari yang terasa tremor, Melody merogoh kunci lantas membuka pintu kamarnya. Kemudian tepat saat Mamanya menyusul naik ke lantai dua dan mengetuk pintu—Melody langsung membukanya sembari menampilkan ekspresi wajah yang lesu. Saatnya berakting! “Ya ampun, anak Mama ternyata beneran sakit,” iba perempuan setengah baya itu, diraih dan ditelitinya wajah sang putri. “Mana masih keringetan dingin gini. Tadinya Mama pikir kamu cuma alesan doang, biar nggak disuruh bantu masak.” Melody mengangguk dengan manja. “Makanya Melody tidur terus dari siang dan nggak mau diganggu dulu, Ma. Tapi sekarang Melody udah baikan kok, obat yang siang tadi Mama kasih ampuh banget! Melody jadi nggak pusing lagi.” “Syukurlah. Mama khawatir kamu nggak bisa buat ikut makan malam di acara yang udah Papa rencanain jauh-jauh hari. Kamu kan tahu sendiri, mereka sepupu-sepupu jauhnya Papamu yang baru tiba di Indonesia,” terang Mamanya. Melody mengerti, toh ia tidak jua berniat menghindari acara makan malam ini. Melody hanya perlu menemui Marcel sebentar untuk merayakan hari jadi mereka yang kedua. Masih sedih rasanya karena tak bisa berlama-lama dengan pacarnya di hari spesial ini. Tapi apa boleh buat, inilah resiko pacaran yang tak direstui. Ia dan Marcel harus banyak-banyak sabar. “Melody mau ganti baju dulu ya, Ma? Kayaknya baju ini nggak nyerap keringet,” izin Melody. Mamanya berpesan kalau bisa, jangan sampai ia lama-lama. Sebab acara makan malam itu akan segera dimulai. Sesuai janjinya, Melody bersiap dengan buru-buru. Ia ganti baju pakai gaun warna pastel selutut, menggulung rambut panjangnya, dan memoles riasan di wajahnya tanpa kesan yang berlebihan. Ketika dirasa penampilannya sudah cantik, Melody pun turun ke lantai satu untuk bergabung dengan para tamu. Sekejap, kehadirannya menyita perhatian. Apalagi tamu sekaligus “saudara-saudara” jauh Papanya ini sudah lama tidak bertemu dengannya. Terlebih kala beberapa tahun lalu, mereka pindah ke luar negeri. Makanya, tak heran jika mereka semua pangling dengan perubahan Melody. “Ini Melody putrimu, kan, Bima?” tanya salah seorang pria paruh baya, yang Melody mencoba mengingat-ingat siapa namanya. Ah, Om Wisnu! Melody menghampirinya lalu cium tangan. “Iya, Om—ini Melody. Om gimana kabarnya?” Mereka berbincang-bincang dengan gembira. Sembari Melody berkeliling untuk salim pada saudara-saudara Papanya ini. Ada Om Wisnu, Tante Yunita, Mas Handika—anak lelaki Om Wisnu dan Tante Yunita—beserta istri dan bayinya yang berusia 5 bulan. Lalu ada Om Ferdi, lebih muda 10 tahun dari Papanya. Tapi sayang sekali karena istri serta anak-anaknya tak bisa ikut. Namun mereka bilang, akan ada banyak kesempatan untuk membuat acara bersama dengan formasi lengkap. Sebab mereka bakal menetap kembali di Indonesia. Jadi kekurangan beberapa “personil”, bukanlah sesuatu hal yang mesti disesali. “Dulu pas SMP, kamu masih imut-imut, ya. Sekarang sudah besar makin cantik,” Tante Yunita tak berhenti memuji Melody. Agaknya telah dibuat kagum oleh paras gadis itu. “Turunan dari Mama, Tante,” canda Melody, dan yang lain pun setuju. Sampai kini akhirnya, Melody berhenti tepat di depan seorang pria, yang baru ditemuinya beberapa saat lalu. Mereka saling tatap di ruang tamu itu. Dari sinar matanya, ada sinyal peringatan yang Melody kobarkan. Ini terkait insiden yang tadi melibatkan mereka berdua. Melody waspada, jikalau pria ini memperlihatkan indikasi hendak membongkar rahasianya di hadapan keluarga. Kewaspadaan itu sejenak membuat Melody lupa, apa yang tadi mau dilakukannya—kalau saja Mamanya tak cepat-cepat menegurnya. “Loh, kok diam aja, salim dong,” ingatkan sang Mama. “Eh?” Melody keki. Sebelum kemudian menyerah dan mengulurkan tangannya, yang disambut tanpa ragu oleh pria itu. Jari-jarinya menjabat tangan Melody dengan cara yang— “Melody masih inget sama Mas Dirga, kan?” Om Ferdi kali ini yang angkat bicara. Sementara pria itu tidak membuka mulutnya sedikit pun untuk memperkenalkan diri. Sungguh tak ramah jadi orang! Pantas saja, Melody merasa harus waspada. Melody menggeleng, ia tak ingat siapa “Mas Dirga” dan kenapa mereka menambahkan embel-embel “Mas” di depan namanya. Kini Melody tetiba jadi khawatir, jika ia pun harus memanggil pria itu dengan hal yang sama. Karena kejadian di toilet tadi, Melody tak yakin mereka bakal berhubungan baik. “Mas Dirga ini yang dulu nolongin kamu loh, pas kamu tenggelam di Pantai Ancol, sewaktu SMP,” Om Ferdi mengiformasikan. Masa iya sih, orang yang menyelamatkannya ketika itu adalah pria ini? Melody ingat bahwa ia pernah tenggelam, saat keluarga besarnya mengadakan liburan Natal bersama di Pantai Indah Ancol. Namun, gambaran itu sudah tak begitu jelas lagi sekarang. Yang tersimpan di dalam memorinya hanyalah—kala itu juga ada banyak orang yang mencoba menyelamatkannya. “Melody mungkin agak lupa karena kejadiannya udah cukup lama,” Tante Yunita menimpali. “Terus juga, Mas Bagas sama Mbak Lia kan tinggal di Surabaya waktu itu. Jadi jarang kumpul sama keluarga besar. Wajar kalau kalian nggak terlalu sering ketemu.” Dari obrolan itu, Melody jadi tahu kalau Mas Bagas dan Mbak Lia adalah Papa dan Mamanya si Dirgantara ini. Tapi sumpah, Melody lupa-lupa ingat tentang mereka. Kemudian, setelah dirasa cukup berbincang-bincang di awal malam itu, Papa Melody akhirnya angkat bicara. “Karena semuanya udah kumpul, gimana kalau kita mulai acara makan malamnya?” Aroma masakan yang lezat, sudah tercium saat mereka memasuki area meja makan. Kursi-kursi pun kini telah terisi oleh para tamu. Karena Melody yang paling muda, ia duduk di kursi terakhir, berhadapan dengan Dirgantara. Tiba-tiba saja—apa yang pria itu ucapkan padanya di kamar mandi, teringat di kepalanya lagi. Pria itu mengatakan sesuatu yang seolah-olah memberi kesan bahwa pertemuan mereka sebelumnya, diingat pria itu dengan baik. Namun setelah dipikir-pikir, pantas jika paras pria itu terasa familier untuknya. “Dirgantara” bukanlah sosok yang sepenuhnya asing. Mereka rupanya pernah bersua pada momen tertentu, karena masih punya ikatan “keluarga”. “Dirga, Om dengar—kamu bakal buka usaha sendiri di Jakarta?” tanya Papanya Melody, dan Dirgantara mengiyakan pertanyaan itu. Setelah bertahun-tahun sekolah, lantas bekerja sebagai arsitek di kota Paris, Dirgantara memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Pengalamannya sudah cukup banyak. Makanya pria itu bilang bahwa dia ingin membangun rumah-rumah, dan juga mempercantik kota-kota di negaranya sendiri. Dirgantara akan membuka sebuah kantor jasa konsultan arsitektur profesional. “Kantornya sebentar lagi rampung,” katanya, yang jelas membuat Papanya Melody kaget. Dirgantara ini sat-set sekali anaknya. Bekerja diam-diam, tahu-tahu sudah beres saja, yang keluarga dengar tinggal kabar baiknya. “Gimana dengan timmu? Sudah ada juga?” Dirgantara mengangguk. “Tim sudah dibentuk, selagi saya menyiapkan dokumen untuk proses administrasi.” Papanya Melody geleng-geleng kepala. Yang lain pun hanya bisa memuji betapa membanggakannya seorang Arseto Dirgantara. Tampan, muda, cerdas dan karirnya bagus. Melody mendengarkannya sembari lahap makan, dan memikirkan jika pujian-pujian itu hanya layak diberikan kepada seseorang yang nyaris sempurna. “Tadi Kak Yunita cerita, Dirga lagi cari apartemen di sekitar kantor. Coba kamu cariin yang bagus,” kata Mamanya Melody pada suaminya. Bima Sakti ini memang dikenal sebagai pebisnis yang punya koneksi terkait properti. Bima sebetulnya punya beberapa unit apartemen juga, tapi sayang sudah terisi. Tentu saja, Bima meresponnya dengan semangat. “Ada beberapa unit apartemen yang mau Om rekomendasikan buat kamu. Nanti kamu lihat-lihat sajalah dulu, mana yang sekiranya cocok. Kapan kamu ada waktu untuk survey?” “Saya ada waktu luang minggu ini,” jawab Dirgantara. Bima mengangguk. “Nah, cocok! Kalau gitu kamu bisa mulai survey di weekend minggu ini. Biar Melody yang temani.” Melody yang sejak tadi anteng menyuap nasi dan lauk pauk ke dalam mulutnya, nyaris tersedak. Dia tak salah dengar apa yang Papanya bilang, kan? Menemani Dirgantara mencari apartemen? Untuk apa? Dan—kenapa harus dirinya? Melody meneguk air putih sampai tandas sebelum bicara. “Kok Melody, Pa?” tanyanya keberatan, namun masih berusaha buat bersikap manis, manis-manis yang gemas. “Kan Papa yang lebih tahu soal seluk-beluk apartemen. Bukannya bakal lebih nyaman dan jelas kalau Papa yang nemenin?” Bima menatap putrinya lamat-lamat. “Kalau soal sewa atau pembelian apartemen, Papa bisa pantau dari mana saja—fleksibel. Masalahnya, Dirgantara baru kembali dari Paris, dan akan tinggal di Jakarta. Otomatis harus adaptasi sama suasana kota Jakarta lagi. Kamu yang lebih cocok buat tugas itu.” Ya ampun, “tugas itu” katanya. Uh, sebalnya! Dalam hati, Melody mendumal. Padahal Papanya paling anti melihat ia dekat-dekat dengan para cowok. Tapi kok, ini malah ngotot mendorongnya buat jadi tour guide gratis Dirgantara. Meskipun keberatan, namun Melody tak bisa menolaknya. Ia tahu jikalau titah Papanya itu tak bisa diganggu-gugat. Lalu ketika Melody mengalihkan perhatiannya pada sosok Dirgantara, ternyata pria itu juga sedang menatapnya. Sial, tidak ada tanda-tanda pria itu hendak menolak usulan Papanya pula! Mau tak mau, Melody setuju menemani Dirgantara keliling Jakarta weekend nanti. Satu jam kemudian, santap malam itu selesai. Setelah mengobrol lumayan lama di ruang tamu—sehabis acara, kini tiba saatnya bagi para tamu untuk berpamitan pulang. Sebab jam sudah melewati pukul 10 malam. Ada bayi yang harusnya berbaring lelap di kamar tidur pada jam-jam itu. Lalu, keluarga Melody mengantarkan para tamu sampai ke teras. Suasananya masih hangat. Bima memeluk saudara-saudara jauhnya, begitu pula dengan Mamanya yang akrab dengan keluarga sang suami. Di saat orang-orang saling mengatakan, “kapan-kapan main ke rumah, ya” pada satu sama lain, Melody memutuskan untuk undur diri. Toh, tadi ia sudah berpamitan dengan sopan kepada mereka semua. “Tunggu.” Saat Melody mau melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah, panggilan Dirgantara tetiba menghentikannya. Pria itu menapaki undakan tangga lagi, mendekatinya—nyaris dekat ke pintu utama. Meski Melody ada di undakan paling atas, tapi Dirgantara masih jauh lebih menjulang. Bayangannya jadi terlihat mengintimidasi. Pria itu bicara dengan nada yang kedengarannya selalu tenang, dan penuh perhitungan. “Ada satu hal yang bikin saya penasaran. Kalau saya nggak utarakan sekarang, mungkin saya nggak akan bisa tidur tenang malam ini.” Melody mengerutkan dahi, tapi sesaat kemudian kedua tangannya itu justru terlipat di depan d**a. “Apa yang ngebuat kamu penasaran, sampai mungkin bikin kamu nggak bisa tidur tenang itu?” Entah mengapa, Melody seperti melihat sebuah kilatan senyum dari ujung bibir pria itu. Dan matanya! Matanya jelas tadi berkilat-kilat juga. Dengan sinar yang asing. Apa Melody salah lihat? “Kenapa kamu masih kelihatan nggak senang melihat saya?” Dirgantara bertanya dengan serius. “Seperti yang kamu minta, saya nggak mengadu soal apa yang saya lihat. Saya rasa sudah jelas, bahwa saya bukan lagi ancaman untuk kamu. Tapi kamu tetap bersikap defensif.” Melody terdiam. Sejujurnya, ia tak bisa menjawab rasa penasaran Dirgantara. Karena Melody juga tidak tahu, kenapa ia merespon dengan ketus setiap gerak-gerik pria itu. “Karena aku harus waspada,” jawab Melody. “Kamu bisa aja ceritain kejadian tadi ke Papa atau Mamaku. Kalaupun nggak sekarang, gimana soal nanti?” “Saya nggak berniat melakukannya sedikit pun,” tegas Dirgantara. “Saya juga nggak tanya-tanya alasan kenapa kamu menerobos jendela. Saya nggak tertarik untuk tahu.” Mendengar hal itu, Melody lantas mencari-cari alasan lain yang bisa ia gunakan agar sikap “defensif” pada Dirgantara menjadi sebuah kewajaran. “Dan, karena kamu nggak coba buat menghentikan ide Papaku,” kata Melody sebal. “Jelas aku ngode kalau aku nggak setuju.” Giliran Dirgantara yang diam. Pria itu sejenak menatap lurus ke dalam sepasang mata Melody. Untuk orang yang baru bertemu kembali setelah sekian lama, tindakannya itu sangatlah bikin Melody tidak nyaman! Apalagi, saat Dirgantara bilang, “Kalau itu, karena saya berminat.” “Berminat?” ulang Melody. Pria itu sangat ambigu! Dirgantara menegaskan akan maksudnya. “Bukannya sudah jelas? Saya ingin kamu temani pekan ini.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN