Chapter 1: Hello Stranger
“Pak, jangan bilang Papa, ya—kalau Papa nanya aku pulang sama siapa,” Melody memasang wajah yang memelas sembari menangkup kedua telapak tangannya. Memohon pada Pak Tarjo—seorang security yang bertugas menjaga komplek perumahannya itu, agar tak mengadukan mereka. Lebih-lebih karena saat ini, Melody pulang ke kediamannya lewat dari jam malam yang sudah ditetapkan Papanya!
“Duh, Neng, Pak Bima kalau udah nanya-nanya, galak bener. Saya jadi takut kalau bohong lagi,” Pak Tarjo kelihatan berat menyanggupi permintaan Melody.
Bima Sakti, Papanya Melody, kalau sedang dalam mode menginterogasi pasal kelakuan anaknya itu, pasti sangat mengintimidasi. Wajar jika Pak Tarjo takut.
“Yahhh, Pak,” Melody merengek, ia hendak turun dari motor tapi pacarnya mencegahnya.
Pemuda itu mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan. Melody yang langsung paham, segera menyambar uang itu dan menjejalkannya ke genggaman tangan Pak Tarjo.
“Please ya, Pak? Itu ada sedikit uang semangat buat Bapak,” desak Melody. “Kalau Papa tanya, bilang aku dianter sama temen cewekku, pake mobil.”
Ketika pacarnya menyalakan mesin motornya lagi dan mulai melaju, Melody pun berteriak pada Pak Tarjo sembari melambai-lambaikan tangannya.
“Makasih udah mau nolongin kita! Semangat, Pak!”
Sementara itu, Pak Tarjo tenganga-nganga di tepi pos jaganya. Laki-laki paruh baya itu kemudian menggeleng. Orang lain yang pacaran, kok malah dia yang repot. Aduh, si Neng Melody ini lagian berani-beraninya melawan Papanya. Sudah tahu hubungannya dengan pacarnya ditentang, kok masih saja nekat backstreet. Ah, sudahlah, itu urusan mereka. Karena tidak bisa menolak uang tunai pemberian Melody, dimasukkannya lembaran uang 300 ribu itu ke dalam saku seragamnya. Lalu nanti tinggal bilang pada Pak Bima, kalau anak perempuannya itu pulang dengan kawan-kawannya. Beres.
Di lain tempat, lewat pada pukul 8 malam, motor sport gagah yang ditunggangi Marcel itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah. Tak terlalu besar seperti rumah-rumah di dalam komplek tersebut, tapi terlihat begitu estetik karena didominasi oleh kayu-kayuan. Dengan tergesa, Melody pun turun dari jok motor. Raut wajahnya sudah tampak panik.
“Udah, aku di sini aja, kamu cepetan pergi sana! Nanti ada yang denger suara motor, terus keluar gimana?” Melody menyuruh Marcel agar segera bergegas meninggalkannya dari muka pagar. Bisa gawat kalau Papanya yang galak memergoki mereka. Bisa-bisa keduanya diseret, terus digantung!
Marcel melirik ke bagian dalam rumah, lantas menarik napas pendek. Sampai kapan sih, mereka mau kucing-kucingan begini? Menjalin hubungan tidak bebas, seperti sedang berbuat jahat saja. Padahal jelas dia dan Melody saling cinta. Keluarga gadis itulah yang membuat keadaannya jadi makin rumit.
“Will everything be okay?” tanya Marcel, khawatir Melody akan menghadapi murka Papanya sendirian—kalau-kalau gadis itu terpergok habis bepergian tanpa izin. Dengannya pula. Tapi Melody memberinya satu anggukan yang pasti.
“Don’t worry, I’ll be okay,” Melody menenangkan, lalu ia usap wajah Marcel dengan lembut. “Makasih buat quality time hari ini, ya. Nanti kita atur lagi waktu buat ketemu.”
Marcel kecup telapak tangan Melody, sebelum gadis itu menariknya dengan terburu dari jangkauan wajahnya. Dengan berat hati, Marcel harus tancap gas kembali. Dari spion, dia bisa melihat Melody masih berdiri memandangi, menunggunya hilang ditelan tikungan komplek.
Setelah yakin kalau Marcel bernar-benar pergi dengan aman, Melody lalu mengecek ponselnya dan langsung bergegas memasuki pekarangan rumah. Aksi pertamanya adalah—jelas Melody harus memanjat pagar! Hebatnya, Melody melakukan aksi itu dengan luwes. Setelah meloncat turun, Melody lantas melepas sepatu, kemudian mengendap-endap di atas halaman rumah yang berumput.
Di depan teras rumahnya, ada tiga mobil yang terparkir berdampingan. Itu pasti tamu-tamu Papa! Papa bilang, malam ini akan ada keluarga jauh mereka yang datang berkunjung untuk makan bersama. Ya Tuhan, bisakah Melody menyusup masuk ke dalam rumah sebelum acara itu dimulai? Bagaimana jika Papa dan Mamanya keburu menyadari, jika dia tak ada di kamar, tidak sakit seperti keluhannya siang tadi, dan malahan kabur untuk berkencan dengan Marcel? Jangan, jangan! Itu tak boleh terjadi. Pokoknya, sebelum semuanya terlambat, Melody harus bergerak lebih cepat. Masih ada waktu 20 menit, jelang pukul 8 lebih 20 malam.
Di bawah jendela kamarnya yang terlihat gelap, Melody meregangkan kedua tangannya. Ia bersiap-siap untuk kembali memanjat, kali ini tembok. Sebab kamarnya ada di lantai dua rumah itu. Tangannya terasa sakit dan kebas karena mencoba bergelantungan pada dekorasi yang menempel di dinding. Tapi akhirnya Melody berhasil mencapai bibir jendela. Ia membuat kedua sikunya menjadi tumpuan tubuhnya, sedangkan kakinya bergelantungan di udara. Ketika Melody menyembulkan kepala lebih tinggi, anjingnya yang dikunci di dalam dan tengah damai berbaring—tiba-tiba bangun sambil menyalak ke arah jendela.
Oh, ini pertanda yang sangat buruk. Sepertinya Melody memang perlu menambahkan satu pelatihan lagi buat Mimi—biar anjing kecil itu paham situasi, meski tak di-briefing olehnya.
“Mimi, Mimi, shhh—jangan berisik!” Melody dengan panik menyuruh anjingnya untuk tenang, tapi gagal. “Aduh—kooperatif dikit, dong, Mimi! Nanti Mama datang ke kamar!”
Tetapi anjing kecil itu menyalak-nyalak melihatnya di jendela. Entah marah karena dikunci di dalam kamar selama beberapa jam, atau kegirangan akhirnya Melody pulang. Yang jelas, Melody terpaksa merundukkan kepalanya agar anjingnya itu tak lagi menggonggong. Bagaimana ini? Tidak mungkin ia masuk lewat jendela kamar tanpa membuat kegaduhan.
Di tengah perasaan kebas, nyaris tak peduli tangannya akan putus atau tidak, Melody memilih untuk melipir. Melipir terus dengan hati-hati sampai tubuhnya ada di bawah jendela sebuah ruangan. Ha! Ini jendela dari kamar mandi tamu yang ada di rumahnya! Tanpa buang-buang tenaga yang sedikit lagi bakal game over, Melody berusaha membuka jendelanya dengan menggunakan jepit rambut. Jepitan itu ditarik asal, membuat rambutnya berantakan. Tapi sungguh Melody tak peduli. Saat jendela kamar mandi itu sedikit terangkat, Melody menarik dan menahannya agar tak menutup kembali selagi dua kaki-kakinya mendorong naik tubuhnya—mencoba melewati jendela, entah bagaimana caranya meski harus berguling pokoknya! Melody berjuang sekuat tenaga. Ia akhirnya mampu melampaui jendela itu, agak terpental, lalu rebahan di lantai dengan napasnya yang terengah-engah. Keringat mengalir dari dahi ke leher.
Saat Melody membuka matanya, ia berhadapan dengan sepasang kaki yang pakai celana dan sepatu mahal. Otomatis mata Melody memanjat naik, ingin tahu lebih jelas apa itu. Dan pada hitungan ketiga, Melody pun terperanjat kaget, namun berhasil menahan diri untuk tak berteriak melihat ada laki-laki asing di dalam kamar mandi tamu rumahnya. Tak butuh waktu lama bagi Melody untuk menegakkan diri, meskipun kaki-kaki itu terasa lemah dan sempoyongan. Namun kondisi yang kian kritis ini, menyadarkannya.
Mereka lalu bertatapan. Sekejap membuat kerut di atas kening Melody timbul. Sebentar, wajah itu kelihatan amat tak asing di dalam benaknya. Seolah-olah pernah singgah di dalam memori—familier. Tetapi tak ada clue yang muncul sehingga ia masih terus membisu. Entah sudah berapa detik mereka saling pandang tanpa kata. Hanya ada hening. Sampai gonggongan serak Mimi kembali terdengar. Lantas, seperti apa yang Melody khawatirkan, teriakan Mamanya dari ruang tamu kini terdengar menggema ke seisi rumah.
“Mel, itu kenapa sih si Mimi ribut terus? Kamu juga nih, sama aja kayak Mimi, udah siap-siap belum? Udah enakan badan kamu, kan? Jangan bilang kalau kamu masih tidur, ya!”
Melody terdorong maju oleh kekuatannya sendiri, dan mencengkeram kemeja bagian depan pria itu. Pria di depannya ini tidak bereaksi sama sekali. Sepasang matanya yang sehitam malam hanya mengawasi gerak-gerik yang dibuat Melody.
“Jangan bocorin rahasia ini,” adalah hal yang pertama kali Melody ucapkan. “Kalau kamu sampai berani buka mulut soal apa yang kamu lihat ke Mama atau Papaku—siapa pun kamu—aku nggak akan tinggal diam.”
Pria itu menatap jari-jemari Melody, ke lengannya, ke napasnya yang menderu di leher, lalu ke wajah Melody yang kentara dilingkupi kepanikan. Lain dengan Melody, sikap pria itu tampak sangat tenang. Ketenangannya itu malah membuat gusar Melody makin menjadi. Melody jengkel dibuatnya!
“Jadi,” Melody membuat gerakan di depan bibirnya menggunakan jemari, agar pria itu tutup mulut. “Kamu jangan berani-berani ngadu ke mereka kalau aku manjat jendela!”
“Paham?” sambung Melody sambil melotot.
Pria itu masih betah diam, meski Melody dengan awas menunggu sepasang bibirnya untuk berkata, “ya”—dan setuju buat tak mengadukan hal ini pada Papa dan Mamanya di meja makan nanti.
Hingga satu menit kemudian, tanpa diduga—pria itu melepaskan satu demi satu jemari Melody dari kemejanya, lalu berbicara dengan suaranya yang rendah parau.
“Sudah lama kita nggak ketemu, dan hal pertama yang kamu lakukan adalah membuat kemeja saya kusut,” katanya.
***