Part 09: Kita Pacaran! (Lagi)

1422 Kata
Alisa langsung menghentikan langkahnya kala menyadari kebodohan yang dia lakukan. "Kok gue malah ikut lari sama lo si anjir? Harusnya gue disana!" Bima masih membungkuk memegangi kedua lutut, mengatur napasnya yang ngos-ngosan akibat berlari tadi. "Tenang aja, tadi gue denger Dokter Aiman nyuruh Joan ambil buku keperpus," katanya, sesak nafas. Alisa menyeka keringatnya, menguncir rambut dengan ikat rambut karakter beruang yang Joan belikan. "Yaudah ayo ke perpus." Alisa hendak melangkah, namun keburu dihentikan Bima. "Bentar anjrit, napas gue masih putus-putus," cegahnya menarik lengan Alisa. Cewek kepala batu itu mendecak sebal. Bima ini sangat membuang-buang waktu berharga miliknya. Dia berucap nista, "Kenapa gak sekalian putus selamanya sih?" Bima mengelus dadanya sabar. "Ya Allah Lis, mulut lo jahat banget." "Otak yang mikir kok nyalahin mulut," kilah Alisa. "Ya tapi kan terucap lewat mulut." Bima menyahut, tidak mau kalah. Alisa yang kesal karena Bima terus menyahut pun mendecak lagi. "Lo ngajak tubir terus dah heran gua. Lo lemah, mending diem aja nggak usah ikut campur hubungan gue, nanti lo kejang-kejang liat keuwuan gue sama Joan." "Siialan lo!" seru Bima tidak terima. "Nama tengah gue! Bye, monyetku! Mwaah!" Setelah melayangkan fly kiss yang membuat Bima senam jantung sebab mual plus kesal, Alisa berlari menuju perpustakaan. Dia ingin meminta maaf atas ucapannya yang berlebihan kemarin. Saat sampai, keadaan perpustakaan begitu sepi. lyalah, ini kan perpustakaan bukan pasar. Tak banyak orang, hanya sekitar dua puluh sampai tiga puluh orang yang ada disini. Ya, itu banyak namanya! Oke, skip. Alisa menyusuri rak buku tentang kesehatan dan jenis penyakit serta obatnya. Sebab biasanya Joan akan nongki disini kalau mereka marahan dan pastinya dokter Aiman akan menyuruh Joan mempelajari beberapa sampel tentang penyakit umum beserta obatnya. Mendengar benda jatuh cukup keras, Alisa dan beberapa orang langsung melihatnya. Dia meremat pinggiran rak buku saat melihat Joan tengah memeluk Tera. Kemarin Dinda, dan sekarang? Meski enggan mengakui, tapi hati mungilnya cukup sakit melihat kedekatan Joan dengan kakak kelasnya itu. Mungkin jika hanya dekat saja tidak masalah bagi Alisa. Dia juga tidak mungkin melarang Joan bersosialisasi. Namun tidak untuk yang satu ini, bagaimana keduanya terlalu dekat hingga sekilas seperti menempel. Mata Joan terkesiap melihat Alisa yang mulai berkaca-kaca. Alisa langsung berlari pergi dari sana, niat baiknya Joan rusak begitu saja. Cowok itu spontan melepaskan Tera, membuat Tera jatuh terduduk dengan b****g yang mencium lantai terlebih dulu. Beberapa orang menolongnya untuk bangkit. Joan yang sadar akan kesalahannya pun membungkuk sebagai permintaan maaf dan Tera mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Joan mengejar Alisa yang kecepatan larinya seperti atlet. Sungguh, pantas saja jago membolos jika larinya secepat ini. Joan saja sampai kewalahan. "Itu si Alisa ngapain lari-lari. Lagi main kejar-kejaran sama Pak Bambang?" tanya Bima yang tengah meminum yogurt cimory kesukaan ciwi-ciwi, sambil ngadem dengan kipas angin portabel yang entah darimana cowok itu dapatkan. Pun tak Joan hiraukan, cowok misterius itu lebih memilih mengejar Alisa sebelum benar-benar kehilangan jejaknya. "Dih, sombong banget lo badut ancol!" seru Bima kesal diabaikan. Dia pun memilih pergi menghampiri kumpulan siswi dan bergabung ghibah ria dengan mereka. Langkah Joan memelan saat menaiki tangga, ditengah napasnya yang memburu, Joan tersenyum melihat Alisa yang berjongkok seperti anak kecil diujung tangga depan pintu rooftop. Alisa pasti diam disana karena pintu terkunci dan tak mungkin balik lagi. Iyalah, gengsi bos! Joan menarik Alisa, namun gadis itu tak kunjung menurut. Akhirnya, ia ikut berjongkok. Menarik dagu Alisa, tapi ditepis gadisnya. Joan menyampirkan poni panjang Alisa yang tidak terikat kebelakang telinga. la melihat Alisa mengusap pipinya yang merah. Alisa menangis. Sudah lama Alisa tak merajuk dan bersikap manja. Sungguh, Joan merindukan sisi Alisa yang ini. Lucunya.. Joan pun menarik Alisa untuk berdiri. Cewek itu menurut, tapi masih memalingkan wajahnya meski sudah Joan bujuk agar menatapnya. Alisa masih diam hingga Joan mengusap sisa air mata pacarnya. Akhirnya, Alisa mulai bersuara. "Gue salah. Gue mau minta maaf. Tapi bukan berarti lo harus bales gue kayak gini." Joan diam, mendengarkan. "Gue udah nangis tahu semalem sampe pake kacamata, dikatain Pak Bambang juga kayak Syahrini. Gue mau minta maaf tapi, tapi lo-" Sialnya, Alisa itu tipe orang yang bukannya menjelaskan masalah tapi malah nangis duluan. Rasanya, semakin ingin bicara malah semakin ingin menangis. Hatinya sesak sekali sekarang. Joan, mengusap rambutnya pelan. Membiarkan Alisa tenang dan memperlancar pernafasannya. Setelah tenang, ia menyentuh wajah Alisa dengan kedua tangan dan mengusap air matanya. Joan tersenyum. Menarik tangan Alisa untuk menulis sebuah pernyataan disana. "Kamu salah faham." "Tadi Tera mau jatuh, Joan tolongin." Alisa tidak melihat kebohongan dimata Joan. Benar, Joan tidak pernah berbohong. Joan hanya seseorang yang handal menyembunyikan dirinya. "Terus kemarin sama Dinda?" tanya Alisa pelan, kedua tangannya sibuk mengusap wajahnya kasar. "Dinda jatuh, Joan tolongin." Kemudian Joan tarik tangan Alisa dan beralih merapikan helai rambut diwajah pacarnya. Alisa memutar bola matanya jengah. "Masa jatuh semua? Klasik. Bilang aja mau deketin mereka." Joan menggeleng serius, mengangkat jari telunjuk dan tengahnya lantas mengangguk. "Jadi bener mau deketin mereka?!" Alisa ngamuk. Joan menggeleng keras. Kembali menulis sesuatu ditelapak tangan Alisa. "Joan punya kamu aja udah pusing, hehe." Setelahnya, Joan tersenyum lebar. Alisa mendecak sambil memalingkan wajah menyembunyikan senyumnya. Kemudian dia menunduk. "Joan, gue minta maaf atas perkataan gue kemarin." Joan mengangguk seraya tersenyum. Mulutnya bergerak mengucap 'Nggak apa-apa' tanpa suara. Alisa bergumam. "Yaudah sih itu doang." Saat Alisa hendak pergi, Joan menahan tangannya. Alisa mengerutkan dahi. "Gitu doang?" tulis Joan. Cewek itu mengangguk. "Apalagi?" tanya cewek itu cuek. "Sekarang kita ini apa?" Joan bertanya. "Manusia," jawab Alisa lempeng. "Bby!" Joan menatap gemas sekaligus frustasi. Alisa terkekeh. "Lo mau putus nggak?" Tentu saja Joan menggeleng. "Gue juga nggak mau," kata Alisa. Jujur, meskipun malu sebenarnya. Gengsinya masih cukup besar. "Yaudah kalau begitu kita pacaran lagi aja, gimana," saran Joan. Alisa mengibaskan tangannya. Berucap sembari berjalan pergi. "Nggak, sebelum lo ngomong." Namun lagi-lagi, Alisa terhenti saat Joan menodongnya dengan ponsel. Alisa tertawa membacanya, kalimat itu mengingatkan Alisa saat tak sengaja dia menembak Joan. "Kalo masih ngambek, kita pacaran!" "Nggak ada penolakan!" Alisa tertawa. "Dih, sok-sokan jadi badboy," cibir Alisa. Dia melanjutkan, "Kecuali lo siap gue bikin tambah pusing lagi, sih." Joan langsung mengangguk dan menggandeng Alisa untuk turun bersama. Dua hari ia mengabaikan Alisa bukan karena kecewa semata, ia perlu menenangkan diri dan Joan ingin lihat apa itu berpengaruh terhadap Alisa atau tidak. Joan senang saat Alisa merasa cemburu padanya. Setidaknya, Alisa juga memiliki rasa yang sama meski sering kali gadis itu malu untuk mengakuinya. *** "Gue ngerti lo berdua udah baikan. Tapi jangan sebar kemesraan juga dong, disini gak cuma ada lo berdua doang!" Bima berseru tidak terima. "Engap gue dengan aura kebahagiaan lo," cibir Bima lagi. Bima senang sih, Alisa kembali tersenyum walaupun sok-sokan menyembunyikan itu dan kedua sejoli itu kembali berpacaran. Tapi kalau mau bucin juga harus tahu tempat! Ini kantin, dan Bima jomblo. Sementara dua anak manusia itu bisa-bisanya pamer kemesraan dihadapan human jomblo seperti dirinya?! Tidak sopan! Bikin iri saja. "Orang gue diem-diem aja dari tadi. Sensi amat lo, lagi pms?" sahut Alisa ketus. "Lah itu dari tadi tangan gandengan mulu, mau nyebrang lo berdua?" sarkas Bima ngegas. "Heh, truk aja gandengan. Masa lo nggak?" tantang Alisa tengil. Kebawa emosi coy. Bima serasa ingin lari ketengah jalan sambil teriak dan memutar-mutar baju saking kesalnya. Melihat tangan Meisya yang kosong disamping, Bima pun mulai menggerakkan tangannya bertujuan untuk menggandeng tangan Meisya. Sayangnya, Meisya lebih dulu menggunakan tangannya untuk membelah bakso. Alhasil, Bima menggaruk dagu sebagai pengalihan. "Yang jomblo diem aja deh, sirik amat." Meisya menyahut. Menyuapkan bakso setelahnya. "Gak ada sejarahnya Bima Sadewa sirik sama saiton wujud kuntilanak kayak dia. Gue cuma lagi ada di fase males pacaran aja," elak cowok receh itu. Meisya dan Alisa tertawa. "Lho, bukannya dari dulu jomblo?" balas Alisa ditengah tawanya. "Sok-sokan males pacaran, bilang aja gak ada yang mau," sahut Meisya turut menistakan Bima. Cowok itu merengut kesal. "Joan, lo diem mulu, sih. Bantuin gue mendisiplinkan ini dua medusa kenapa!" rengek Bima. Sedangkan Joan hanya mengerjap polos kemudian menggeleng. Lalu mengangguk dan menunjukkan tulisan diponsel yang turut menistakan Bima, "Bukan nggak ada yang mau, tapi nggak laku." Alisa dan Meisya kompak tertawa. "Juancok! Benci gue sama kalian, benci!" teriaknya hingga mengundang perhatian banyak siswa. Meisya menutupi wajahnya dengan buku menu. Sementara Joan dan Alisa sibuk ngobrol lewat mata batin, seakan menunjukkan bahwa cowok aneh itu bukan teman mereka. "Awas aja lo semua, gue marah sampai enam hari kedepan!" Masih tidak ada yang peduli bahkan saat Bima mulai pergi. Dia berucap lagi, "Kalau gue marah, susah baikannya lho. Serius." "Gue susah dibujuk!" Masih diabaikan. "Gue gak gampang disogok!" Masih diabaikan juga. "Lo semua amnying banget cuih!" Poor Bima. Bersambung..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN