Pagi ini, Alisa memakai kacamata kesekolah. Tentu saja untuk menyembunyikan matanya yang sembab karena menangis. Dia juga tidak tahu menangis karena apa, mungkin karena tidak pernah melihat Joan dekat dengan gadis selain dirinya, maka dari itu Alisa kesal.
Ditambah keinginan untuk mendengar suara Joan belum terpenuhi membuatnya semakin kesal.
"Tumben kamu jam segini udah nyampe." Pak Bambang menghadang Alisa yang masih murung.
Alisa heran kenapa guru kembar tiga itu harus selalu menyinyiri hidupnya. Seakan semua yang dia lakukan adalah sebuah kesalahan dimata mereka.
"Salah mulu saya, Pak," keluh Alisa, moodnya yang sudah hancur semakin hancur saja.
Pak Mail melipat kedua lengan diatas perutnya yang agak buncit. "Kamu nafas aja udah salah," ucapnya telak.
Bahu Alisa merosot. "Yaudah saya balik lagi nih, ntar saya kesini lagi jam delapan. Gerbang belakang jangan lupa dikunci biar saya bolos sekalian," tuturnya kemudian.
Harusnya, ketiga guru kembar itu jangan merecoki saat Alisa pusing begini. Giliran dijawab malah kesal sendiri kan.
Pak Bambang berdeham, menatap tegas Alisa. Kemudian bertanya, "Ngapain kamu pake kacamata segede Syahrini?"
"Kalo segede Syahrini saya udah mati gak bisa napas kali Pak," decak Alisa. Sungguh pertanyaan ini hanya membuang-buang waktunya.
Pak Atlantis dan Pak Mail menahan tawa. Keduanya langsung diam saat Pak Bambang melirik tajam. "Lagian itu kamu gak risih apa kacamatanya melorot terus?" lanjutnya.
Cewek itu menghela nafas panjang. Kemudian membalas tidak kalah menohok. "Bapak nggak risih itu rambut palsu nutupin mata?"
Pak Atlantis dan Pak Mail akhirnya tertawa, tak peduli dengan gerutuan Pak Bambang yang langsung pergi meninggalkan mereka lantaran malu. Begitu juga dengan Alisa yang tak bisa menahan tawanya. Yah, setidaknya ekspresi sebal Pak Bambang berhasil mengangkat sedikit mood Alisa.
Bertepatan dengan bel masuk berbunyi, kedua bersaudara menyusul Pak Bambang yang masih ngambek.
Setelah kepergian guru kembar tiga itu, Meisya datang. Berucap, "Pagi-pagi udah ketawa, bahagia lo udah baikan sama Joan?"
Alisa menoleh. Tawanya terhenti seketika. Kenapa semua orang tidak membiarkan dirinya bahagia sebentar saja?! Alisa pun menjawab dengan kesal, "Lo fikir gue ketawa karena gue bahagia? Nggak Mei gue stress!"
Meisya yang tadinya merasa kasihan pun malah menahan tawa, sambil menabok Alisa pula. "Lo lagi galau bisa-bisanya ngelawak."
Dia menatap Meisya datar. "Humor lo anjlok banget, Mei. Gue harap pahala lo nggak ikut anjlok juga."
Meisya menghentikan tawanya seketika, bukan karena ucapan Alisa. Melainkan Joan yang melewati mereka begitu saja. Mulutnya terbuka, menganga lebar. Biasanya, Joan akan mengintili Alisa kemanapun, kapanpun, dan dimanapun. Joan kan si paling bucin.
Dan.. Apa ini?! Joan yang tidak bucin pertanda bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja.
"Itu Joan abis kepentok apa palanya?" heran Meisya.
Alisa tidak menjawab, sibuk menatap punggung Joan yang semakin jauh. Joan tidak pernah semarah ini sebelumnya, apa dia sudah benar-benar keterlaluan?
"Lo belum minta maaf sama dia?" tanya Meisya kemudian.
"Di chat?" Dan Alisa menggeleng lagi. Padahal sebenarnya dia sudah mengirim pesan lalu menariknya lagi dengan sengaja, berharap Joan membalas; 'ada apa?' Tapi ternyata ekspektasi Alisa berlebihan.
Joan benar-benar bertingkah seperti seseorang yang tengah marah. Ah, tiba-tiba Alisa rindu Joan yang bucin. Cewek itu memukul kepalanya, baru juga semalam mereka tidak bertukar sapa. Ayolah, dia tidak pernah galau begini sebelumnya!
Meisya yang kembali merasa bersalah pun berujar, "Lis gue beneran minta maaf karena udah berkontribusi dalam putusnya hubungan lo sama Joan. Karena usul gue, lo jadi-,"
"Santai. Kalo bukan karna lo juga pasti bakal kayak gini." Alisa menyela, kemudian berjalan menuju kelas, meninggalkan Meisya dengan rasa bersalahnya.
Sesampainya dikelas, Joan tidak duduk disamping Alisa seperti biasa, cowok itu duduk dibelakang meja Alisa. Jika biasanya Joan akan menyambut saat dia tiba di kelas, maka pagi ini Joan hanya menunduk sambil membaca buku.
Sudut hati Alisa terasa sakit. Cowok itu juga mengabaikan panggilan darinya. Saat dia berjalan memasuki kelas, semua tatapan tertuju padanya, kecuali Joan.
Alisa berujar. "Gue gak suka ya, kalo terlambat masuk kelas, terus lo semua liatin gue kayak habis bunuh orang."
Semua teman-temannya mengalihkan pandangan mereka.
Alisa duduk, tanpa menyapa Joan. Dia tidak mau sakit hati jika Joan tidak menjawabnya. Alisa mengeluarkan buku, lalu tidak sengaja menjatuhkan pensilnya. Biasanya Joan akan langsung mengambilnya. Tapi sekarang, Joan bersikap cuek.
"Biru-,"
Belum Alisa menyelesaikan ucapannya, pensil sudah ada dimeja. Rupanya, Joan yang mengembalikan pensil itu. Alisa menahan senyum, sok-sokan marah padahal tidak suka jika dia meminta bantuan orang lain.
"Kenapa Lis?" Biru bertanya.
Alisa menggeleng. "Lo nyebelin. Enyahlah dari bumi ini."
"Gue salah apa, btw," heran Biru, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
***
"Bolos yuk Lis, gabut gue."
Mendapati tidak ada tanda-tanda Alisa akan menjawab, Bima melanjutkan, "Mabar gak ada kuota. Lagian sekolah medit banget wifi aja pake di sandi segala. Jiwa hacker gue kan jadi meronta-ronta," keluh Bima kemudian.
Alisa menggeliat kala mendengar gerutuan Bima, rasa-rasanya baru lima menit dia memejamkan mata, sudah istirahat saja. "Baru juga merem gue, udah istirahat aja- aduh! apasih Bim, kepala gue udah benjol lo getok gitu sakit!"
"Baru merem darimana? Lo dua pelajaran molor," koreksi Bima sebal.
Alisa menggebrak meja. "Apa?! Kenapa gak bangunin gue?!"
"Udah gue pukul juga gak bangun-bangun. Lo lagi latihan meninggal apa gimana dah?" heran Bima.
Alisa mendengus sambil mengucek sebelah matanya. Melirik kearah meja Joan, cowok itu sudah tidak ada. "Joan mana?"
"Ke UKS lah, dia kalo berantem sama lo pelariannya pasti kesana."
Alisa kembali duduk. "Oh, kirain sama cewek lain."
Bima menyeringai tengil. "Cemburu lo?"
Kemudian karena gengsi, Alisa menyanggah. "Bahasa planet mana cemburu? Hey, gue cuma gak mau cewek lain tertekan kalo pacaran sama Joan. Kan kasian, cukup gue aja."
Bima memutar bola matanya malas, mendecak. "Gengsi digedein gak hasilin duit Lis."
"Diem deh. Human jomblo kayak lo mana ngerti," balas Alisa nista.
Ini nih yang Bima sukai dari Alisa, keren banget kan. Nggak tahu dirinya. "Ngaca makanya!" seru Bima kepalang kesal.
"Emang kenapa? Gue tetep cantik kok, malah lebih cantik." Alisa membalas dengan begitu percaya diri. Hey, itu penting tahu.
"Terserah! Jadi bolos nggak?"
Sebenarnya Alisa malas, selain itu dia tidak tenang karena belum meminta maaf pada Joan. Bukan apa-apa ya, Alisa risih dengan tekanan mamanya yang selalu menyuruh balikan dengan Joan. Tapi, entah kenapa arwah disini seakan menggodanya untuk terus membolos.
"Gue cuti dulu deh Bim." Alisa menjawab setelah lama berfikir.
Bima mendengus. "Mana yang katanya pantang berenti bolos sebelum denger suara Joan?"
Alisa mendecak. "Gini nih kalo pas pembagian otak lo malah rebahan. Gue bilang cuti, c u t i, cuti! Bukan resign bodoh!"
Bima menutup telinga saat teriakan Alisa begitu menggelegar. Sampai teman-teman mereka menoleh kearahnya. Mana kata bodoh sangat ditekankan lagi.
"Yaudah iya Alisa pintar!"
Alisa mendengus dan mulai pergi. Merasa ikut bodoh karena bisa-bisanya dia malah meladeni Bima. "Eh Lis, gue ikut!"
***
"Gara-gara lo nih gue keduluan sama si Tera!"
Alisa itu heran dengan kepopuleran Joan yang semakin menanjak, semakin hari semakin banyak saja yang berada disisi Joan. Alisa memang ingin Joan bersosialisasi, mencari teman. Tapi bukan berarti harus cewek semua!
Seperti kata Bima tadi, pelarian Joan tidak akan jauh-jauh dari ruangan UKS, dan benar saja, sekarang Joan ada disana bersama beberapa gadis dan dua cowok dari kelas dua belas serta satu dokter khusus disekolah ini.
Alisa tidak akan merasa sampai kebakaran jenggot begini jika lalat-lalat pengganggu itu tidak sok-sokan bertanya, padahal sebenarnya hanya cari perhatian Joan saja.
"Kata Mei-mei juga apa, bisu begitu Joan banyak yang incer." Bima berbisik.
Alisa menyikut perut Bima yang ikut mengintip di belakangnya. "Joan gak bisu!"
"Dare?" (Siapa?)
Alisa dan Bima berdiri seketika. Mengusap d**a kaget.
"Koko de nani wo si te i masu ka?" (Apa yang kalian lakukan disini?)
Keduanya saling menatap. Kemudian menunjuk diri mereka masing-masing. Orang itu mengangguk.
Dia kembali berkata, "Pasti kimi tachi mau ngintip ya?" (Kalian)
Keduanya tidak bisa menjawab, lebih tepatnya belum mengerti apa yang orang aneh ini katakan. Penampilannya nyentrik sekali, rambutnya dikuncir dua dengan poni, memakai kacamata bulat, dan semua printilan karakter kartun ditangan dan telinga, membuatnya telihat lebih menonjol dibanding murid lain.
Alisa baru tahu ada murid seperti ini disekolah mereka. Dan apa rotan bersaudara tidak mengetahui bahwa disekolah ini ada makhluk aneh seperti ini?
Oh, atau mungkin mereka terlalu sibuk mengurus dirinya dan Bima yang sering bolos.
"Nande?" ujar orang itu saat Alisa dan Bima menatapnya dengan tatapan bingung. (Apa/kenapa?)
"Gak bisa basa enggres," celetuk Alisa kebingungan. Bima terkekeh.
"Kimi tachi mau ngintip ya?" tanya orang itu lagi. "Hee, dameyo, dame dame," lanjutnya sambil mengacungkan jari telunjuk. (Tidak boleh)
Saat melihat nendoroid–semacam mainan karakter dalam anime–di tangan gadis itu, Bima mengangguk, mengerti. "Lo bau bawang," sahut Bima. Alisa menahan tawa saat orang itu terlihat kesal.
"Hidoi!" serunya kesal, matanya melotot marah. Bima memegang tangan Alisa dan berseru, "Apapun keadaannya, kita harus lari kalo ada wibu!" Kemudian lari sambil tertawa ngakak bersama Alisa. (Jahat!)
"Yak!"
Bersambung..