"Mau balikan?"
Joan mengangguk semangat. "Ngomong dulu baru balikan," kata Alisa sambil beranjak.
Joan tak mengerti harus bagaimana menjelaskannya, semua ini terasa lebih rumit sekarang. Alisa mulai serius dengan keinginannya, bahkan tak peduli apakah dia akan dikeluarkan dari sekolah hanya demi membuatnya bicara ataukah tidak. Tak peduli dengan hubungan mereka atau tidak. Joan mencekal tangan Alisa. Kencang sekali. Alisa paham Joan tengah marah.
Yang Joan inginkan adalah pengertian. Joan hanya mau Alisa mengerti bahwa ia tidak bisa bicara, tidak akan pernah walaupun Alisa meminta ribuan kali padanya. Sayangnya, Alisa tidak pernah mencoba untuk mengerti walau ia jelaskan berkali-kali.
Joan menggeleng, menatap Alisa tajam.
"Lo kenapa sih ngelakuin hal yang sia-sia kayak gini?" Perkataan Alisa tentu saja menyinggungnya, Joan hanya sudah terbiasa saja.
Ya, terbiasa sampai Joan lebih mementingkan hubungan mereka dibandingkan perasaannya. Namun, ini pilihannya. Joan tidak ingin merasakan kehilangan untuk sekian kalinya.
"Gue udah tanya sama Rayan, sama lbu, tapi kenapa mereka nggak tahu juga? Lo sebenernya kenapa?" Alisa kembali bertanya. Kali ini dia mencoba untuk tidak menaikkan suaranya.
Mencoba, entah yang sudah keberapa kali. Berharap Joan akan percaya dan mulai bercerita.
Nyatanya, Joan hanya menggelengkan kepala, selalu begitu, tatapannya berubah sendu dan Alisa paling lemah jika sudah seperti ini. Joan terlihat sangat terluka dan membuatnya turut merasakan sesak juga.
"Gue tanya sekali lagi, lo kenapa?" Intonasi rendah itu membuktikan bahwa Alisa mulai lelah.
Joan menggeleng lagi. Tidakkah Alisa mengerti bahwa tidak semua tanya harus ada
jawabannya?
"Atau lo cuma pura-pura?" Sampai akhirnya, Alisa pun kelepasan bicara.
Hal yang paling tidak Joan sukai adalah saat kepura-puraan. Joan tidak suka kepalsuan, untuk apa ia melakukan hal itu? Joan melepaskan cekalan tangannya. Kalimat yang terucap itu terasa lebih menyakitkan, Joan tahu Alisa kelepasan bicara, tapi itu semua tidak ada artinya.
Pun, tubuhnya membeku secara tiba-tiba kala menyadari apa yang dia ucapkan. Alisa sadar sudah keterlaluan kala tak sengaja melihat tatapan kecewa dimata Joan.
"Joan-,"
Disaat seperti ini, Joan masih bisa tersenyum. Ia menunjuk kelas dan pergi meninggalkan Alisa yang masih terdiam dalam pijakan. Joan tahu tindakannya bisa saja membuat hubungan mereka semakin jauh, tetapi ia juga butuh menenangkan diri dari semua tanya Alisa tentang alasan ia tidak mau bersuara.
***
"Joan, bisa tolong rapikan obat disana?"Joan mengangguk. Melakukan apa yang temannya suruh.
Joan itu, salah satu petugas UKS di sekolah ini. Cita-citanya menjadi dokter, makanya ia mengajukan diri untuk menjadi seksii kesehatan sekaligus petugasnya. Itung-itung belajar.
Setiap dua hari sekali, para anggota dari seksi kesehatan selalu mengecek persediaan obat, tanggal kadaluarsa, kebersihan ruangan, dan alat-alat lainnya secara rutin sesuai jadwal setelah jam pelajaran mereka usai.
"Udah belum? Lo bisa tolongin Dinda bentar gak? Gue mau buang bekas infus." Damar berkata sambil menunjukan dua kantong plastik cukup besar berisi sampah bekas obat dan botol cairan infus dikedua tangannya.
Joan menutup lemari khusus obat dan mengangguk. Beranjak menuju Dinda yang tengah menulis dibuku kinerja khusus untuk diserahkan pada ketua OSIS sebagai laporan kegiatan dan kinerja mereka selama menjalani organisasi ini. Dinda mendongak saat Joan duduki di sampingnya. "Lo bisa dikte–," Tadinya ia akan menyuruh Joan untuk mendiktekan catatan di ponsel. Namun, urung saat menyadari bahwa Joan tidak bisa berbicara.
"Tulisan lo bagus, lo yang nulis deh, gue dikte-in biar cepet," final Dinda akhirnya. Joan mengangguk dan mengambil buku serta pulpen. Sialnya, permukaan buku yang tidak stabil membuat pulpen menggelinding jatuh sebelum Joan ambil. Joan hendak mengambil, ia tak tahu jika Dinda juga akan mengambilnya, alhasil kepala mereka terbentur cukup kuat.
"Aish!" ringis Dinda memegangi kepalanya yang terasa sakit plus pusing. Sebenarnya sudah dari tadi, hanya saja kepalanya lebih
pusing saat terbentur dengan kepala Joan.
"Kalo ada yang liat, pasti mereka ngetawain kita," lanjut Dinda terkekeh. Joan tersenyum, mengiyakan.
"Kayaknya pulpennya masuk ke kolong meja deh. Gue ambil yang baru aja. Tunggu bentar." Joan mengangguk pelan. Masih memegangi
kepala.
Saat berdiri, penglihatannya memburam, berkunang-kunang, lantai UKS terasa berputar dan kepalanya semakin pusing. Dinda memutuskan untuk kembali duduk. Sayangnya, kepalanya yang semakin pusing membuat pijakan Dinda tak seimbang.
Akhirnya, dia terjatuh dan dahinya mengenai sudut lemari yang lumayan tajam. Melihat itu membuat Joan terkesiap dan langsung membawa Dinda untuk duduk ditempat tidur khusus pasien.
"Gue gak papa, lo bisa bawa obat merah?" ujar Dinda menenangkan Joan yang nampak panik.
Joan segera mengambil itu, melarang Dinda yang hendak mengobati dirinya sendiri. Cewek itu diam, membiarkan Joan mengobati luka didahinya.
Wajah Joan cukup dekat, membuat jantung Dinda tak aman. Berdegup kencang sebab ini pertama kali dia sedekah ini dengan cowok. Joan memang tampan, pantas saja teman-temannya sering membicarakan dan melihat Joan diam-diam.
Ternyata memang seganteng ini!
***
"Lo tahu kan itu keterlaluan? Lagian lo ambis banget buat denger suara Joan."
Itu adalah Meisya yang tengah menasihati sahabatnya. Dia paham bagaimana rasa penasaran Alisa akan suara Joan, bahkan diapun begitu. Namun, bukan berarti Alisa berhak berkata apapun yang akhirnya menyakiti Joan, atau mungkin keduanya.
Alisa mempoutkan bibirnya kesal. Dia tahu! Tak usah diingatkan beribu-ribu kali Telinganya sudah panas mendengar Meisya menggerutu dan Bima yang mengiyakan. Lagipula, lidahnya saja yang terlalu gemas dengan kelakuan Joan hingga bicara yang tidak-tidak.
"Ini juga gara-gara lo ngasih usulan buat mutusin Joan!" Setelah menyalahkan Meisya, Alisa menekuk wajahnya diatas meja, kesal.
"Pokoknya ini bukan salah gue! Ini salah lo!" tunjuk Alisa pada Meisya.
Meisya melotot. Mana tahu dia kalau bakal kejadian seperti ini. "Gue pikir kan Joan bucin banget sama Io. Jadi, gue kira itu bakal berhasil," balas Meisya merasa bersalah merasa kontribusi dirinya dalam putusnya hubungan Joan dan Alisa cukup besar.
"Minta maaf gih," kata Bima. Kasihan juga melihat teman setannya galau begini. Bukan apa-apa ya, tapi itu merepotkan sekali!
"Gak! Nanti dia ngelunjak!"
Meisya dan Bima melotot. Ini bukannya Alisa yang melunjak? "Gue anterin deh, oke? Bukannya gue peduli, sepet gue liat muka jelek lo ditekuk begitu," tawar Bima.
Alisa melirik Bima. "Gak!"
"Berarti gue punya kesempatan, dong?" celetuk Meisya. "Meskipun gak ada suaranya, tapi Joan masuk tipe gue. Cowok polos gemes unyu-unyu."
Mendengar itu, Alisa mulai ketar-ketir.
"Kayaknya lo lupa deh kalo tikungan temen lebih tajam." Meisya tersenyum jahat saat Alisa tiba-tiba beranjak dengan sedikit mendobrak meja.
Cemburu kok gengsi.
"Ayo! Katanya mau temenin gue! Bawain tas juga, sekalian pulang!"
"Amnying dia yang putus kok gue yang repot sih!" Bima langsung mengomel.
"Gak mau lo? Jadi, cuma ini aja effort lo sebagai sahabat gue?" balas Alisa.
"Mei, guoblok banget gak sih itu makhluk?" Bima mengadu saking lelahnya.
"Yaudah kalau gak mau!"
Awalnya Bima menolak, tapi lirikan Meisya cukup membuatnya merinding. "IYA IYA! NGEREPOTIN ORANG AJA LU!" Akhirnya, ketiganya pun berjalan menuju ruang kesehatan.
Namun, saat sampai disana yang Alisa lihat justru membuatnya terluka. Lihat saja kedua manusia beda gender yang sedang romantis-romantisan itu. Tch! Alisa geli sekali melihatnya!
Karena terlanjur emosi, Alisa menendang tong sampah sampai isinya berhamburan keluar. Kemudian berteriak, "Mantan adalah sampah!" Dan berlari pergi.
"Duh, Gustiiiiii!" Bima mengacak rambutnya geram. "Lis tunggu!" Susah payah Bima dan Meisya mengejar Alisa.
Sementara Joan yang mendengar itu langsung keluar, menatap datar Alisa dan kembali masuk ke ruang kesehatan. Untuk saat ini, Joan ingin egois, sekali saja.
***
"Woy gue beli tisu selusin gunain! Ngapa masih pake jaket gue buat lap ingus lo-aaaa bang sat! Jyjyk gue Lis jyjyk!" Bima berteriak sembari menggeliat, menghindari ingus yang Alisa lap-kan pada jaketnya.
"Diem!" Bima terkesiap melihat Alisa berteriak sampai telinganya berdengung.
Padahal ia sedang memakai helm, tapi suaranya tidak tersaring sama sekali. Jelmaan syaiton memang beda.
Bima belum pernah melihat Alisa menangis sampai sebegininya sejak perceraian kedua orang tua cewek itu. Ini adalah tangisan terhebat Alisa sampai punggungnya basah karena ingus dan air mata Alisa.
Kalau saja bukan teman sejak dari embrio, sudah Bima turunin di jembatan, biar nyebur sekalian.
"Gue gak nangis Bim, air matanya keluar sendiri sumpah." Alisa berujar, dengan suara khas orang menangis.
"Gue tahu pasti lo berharap sekarang hujan deras, terus suara guntur biar air mata sama isakan lo gak kedengeran."
"Gue ngerti Lis. Gue juga pengen hujan petir biar lo kesamber sekalian," lanjut Bima nista.
Alisa mengulas senyum. "Perlu gue jujur? Aslinya gue malu satu udara sama orang guoblok!" Alisa mencubit perut Bima, lalu memutarnya 360° sampai mata Bima berkaca-kaca.
"Terharu gue sama cubitan lo, mata gue ampe berkaca-kaca." Alisa terkekeh ditengah wajahnya yang sembab.
"Ngakak lo ampe mampus, ginjal gue ikutan kecubit bang sat!" Bima tak main-main, rasanya lebih menyakitkan daripada saat
ia digigit Erdo, dog-ie galak milik tetangga sebelah.
Tidak sampai lima belas menit, mereka sampai dirumah Alisa.
"Turun. Demen banget lo nempelin gue.Untung iman gue kuat, kalo nggak mungkin udah kesurupan." Alisa hanya mendengus kala mendengar ocehan tidak bermutu sahabatnya dan meloncat dari motor Bima.
"Lis," panggil Bima. Namun, Alisa tidak abaikan.
"Uri chingu."
"Alisayangku." Masih diabaikan.
"ALISANJING!"
"APA?!"
Bima mendelik. "Lo emang kudu dikatain dulu baru nyaut hah?"
"Apasih, gue gak mau buang-buang waktu interaksi sama monyet!"
"HELM GUE JANGAN DIBANGSAT!" Bima kembali ngegas.
Alisa menyentuh kepalanya, pantas saja terasa lebih berat. Dia kira ketempelan. Alisa melepas helm dan memberikan itu pada
Bima. "Lo udah kaya, masih aja ngebangsat helm."
"Tenangin diri dulu, gue yakin itu cuma salah paham." Setelah mengatakan itu Bima pun melajukan motornya.
"Gue tahu," gumam Alisa sebelum akhirnya benar-benar masuk.
Bersambung...