Part 06: Mau Balikan

1447 Kata
"Tangan kosong kalau berani!" Kedua guru kembar itu terbelalak emosi dengan nyali besar Bima. Pegangan pada rotan pun mengerat kala Bima mulai menaiki pohon, jalan lain untuk membolos jika tidak ada tangga. Terakhir kali Bima melihat tangga, saat di bakar di lapangan oleh rotan bersaudara. Kasihan sekali temannya itu, setelah api padam Bima mengajak Alisa untuk meletakkan beberapa tangkai bunga sebagai penghormatan terakhir, bela sungkawa atas kematian teman seperjuangan bolos mereka. "Kalau kamu berhasil bolos. Bapak kasih satu juta." Pak Mail menantang di bawah tembok, dengan uang seratus ribuan yang dibentuk kipas. Mata Bima berbinar. "Siap boskyu!" ujarnya seraya hormat. Bima melompat setelah melihat seringai aneh dari Pak Mail. Ia tidak peduli sih, yang penting uang satu juta segera di dapatkan. Saat kakinya sudah mendarat di aspal, Bima menyeringai sombong. "Gampang banget ginian doang dapat satu juta. Besok-besok ajak guru lain ah, biar duitnya makin banyak," ujar Bima percaya diri. Bima merapikan kerah seragam. Bersiap menuju warnet sebrang sekolah untuk mabar dengan gebetan. Duh, Bima jadi tidak sabar. Langkah pertama dan kedua berjalan baik, sampai di langkah ketiga Bima terhenti. Tersentak kaget melihat kloningan ketiga Pak Bambang, berdiri di depan. Tak lupa, rotannya juga. Bima menelan ludah susah payah. Ini Pak Bambang pake kagebunshin apa gimana? batin Bima bertanya-tanya. "Gimana, lancar gak bolosnya? Jadi gak nich satu juta?" Pak Mail menyahut, nangkring di atas pohon sambil mengipas-ngipasi tubuh dengan uang. Persis kunti gabut yang tengah mencari mangsa. "Katanya raja bolos, apanya yang bolos?" Pak Bambang menyahut tengil. Duduk di atas tembok, menggoyangkan kakinya, persis kuntilanak, bagian dua. "Curang nih, masa tiga lawan satu. Mana perutnya pada gede kayak oknum yang suka makan duit rakyat," cibir Bima. Niatnya, ia ingin bolos karena Alisa di ajak bolos oleh Joan. Ia gabut sendirian, tidak terlalu dekat teman lainnya. Maksudnya tidak se-bestfirend- ia dan Alisa yang mau diajak mabal. Ia punya teman satu geng, itupun sudah pada kuliah. Iya, ceritanya Bima maknae gemes unyu-unyu kurang akhlak yang sering nistain hyungnya. "Jadi kamu nuduh kita korupsi?" seru Pak Atlantis, tidak terima. Namanya bagus kan, Atlantis, pulau yang hilang. "Kapan saya nuduh? Kalau bapak inisiatif jawab berarti emang ngerasa," balas Bima masih mempertahankan ekspresi tenang. Padahal dalam hati ketar-ketir. "Perut saya kayak orang hamil begini bukan berarti korupsi," jelasnya berusaha menyangkal. "Iya, tapi makan gaji buta, masa tiap hari cuma jalan-jalan bawa rotan. Bapak mau ngajar apa malak murid?" seloroh Bima. "Ngejawab mulu kamu ya!" Pak Atlantis pun kesal lama-lama. "Dimana Alisa?" tanyanya tidak santuy. "Bapak gak tahu Alisa diajak bolos sama Joan?" adu Bima kemudian. Sementara di rooftop sekolah, Alisa dan Joan kompak bersin. Ketiganya melotot. Tidak mungkin murid teladan macam Joan membolos. "Adik-adikku, ringkus dia, bawa ke BK," titah Pak Atlantis. Pak Mail dan Pak Bambang menghampiri Bima. Murid ajaib itu digiring seperti penjahat oleh keduanya. "AAA! DUH PAK JANGAN PAK! saya udah janjian mau mabar ini." Bima berontak. Jangan sampai gebetannya lepas, lagi. "Jomblo basi kayak kamu gak usah banyak gaya pake janjian segala." Pak Bambang memukul paha Bima dengan rotan. "Tapi dia gebetan saya Pak." Bima memelas. Sudah seperti kucing jalanan. "Nanti juga dighosting." "Lebih baik kamu ngeghosting duluan biar gak keliatan gak ada harga dirinya," lanjut Pak Mail menambahkan. Bima pasrah saja saat kedua lengannya diapit oleh kedua guru itu. Kaki Bima melayang, membuat Pak Bambang dan Pak Mail kewalahan karena berat. "Berat banget kamu, kebanyakan dosa," ceplos Pak Bambang kesal. Sedangkan Pak Atlantis berjalan menuju rooftop sekolah. *** Jujur, Alisa tertekan. Tadinya, Alisa akan terus marah. Namun, melihat Joan begitu serius dengan ucapannya yang ingin menemani dia disini hingga tenang. Alisa jadi tidak tega, mana ekspresinya seperti orang yang takut kepergok. Cemas, tidak tenang, dan takut. Tapi berusaha baik-baik saja demi dirinya. Jadi untuk kali ini, marahnya di pending dulu. Ya wajar sih, ini kali pertama Joan bolos. Seharusnya, membolos itu senang-senang. Pergi ke warnet, mall, atau kemanapun untuk me-refesh otak dari jenuhnya pelajaran. Tapi sekarang apa? Joan malah sedang bertransformasi menjadi guru fisika! Mengajari berbagai rumus yang sudah dia hafal di luar kepala. Atau terkadang memecahkan soal dengan level yang lebih sulit. Kalau begini, bukannya seger otak malah geger otak. "Mending dimarahin Pak Bambang gue dari pada bolos sama lo," ketus Alisa. Sudah kepala sakit, malah disuruh mikir kan tambah pusing. Sedangkan Joan tetap fokus pada bukunya. Alisa pun menyahut. "Joan." Mendengar namanya dipanggil, Joan langsung menoleh. Menyipit sinis. Ia tidak suka Alisa memanggil namanya langsung. Diam-diam Alisa mengulum senyum. "Boyfie kan harusnya!" protes Joan, menambahkan stiker beruang marah disana. "Kita udah putus!" balas Alisa. Sedikit melempar ponsel Joan. Bibir Joan melengkung ke bawah. Kesal plus sedih, ceritanya. "Kamu tahu hari ini kenapa cerah?" tanyanya tiba-tiba. Alisa masih diam hingga Joan menggulir layar kebawah. "Karena kamu cantik." Alisa ngelag. Pasti otak polos Joan sudah di racuni oleh teman monyetnya. "Gak ada hubungannya, kayak gue sama lo," balasnya menusuk. Saat Joan hendak menulis lagi. Pintu rooftop dibuka keras. Alisa memekik terkejut. "ALISA, JOAN!" Joan melotot. Lututnya bergetar. Tangannya tremor. Keringat dingin seperti orang yang baru ketahuan berbuat hal yang tidak-tidak. Pertama kali Joan membolos dan langsung ditangkap. Bagaimana tidak panik coba?" Sedang Alisa berdecak geli melihat reaksi Joan. Lucu bgst. "Bapak gak harapkan ini dari kamu, Joan." Pak Atlantis berujar kecewa. Kenapa jadi kek drama perselingkuhan anjim! batin Alisa geli. Persis seperti film ikan terbang yang sering ditonton mamanya. "Kamu pasti cuci otaknya Joan, kan," tebak Pak Atlantis, setengah menuduh. Alisa melotot tidak terima. "Jasa steam otak saya lagi cuti Pak. Mungkin Joan nyuci otaknya sendiri." Guru itu menghela kasar. Tidak ada baiknya jika bertanya pada Alisa. "KALIAN BERDUA IKUT SAYA KE BK!" Alisa tertawa. "Nah gitu dong, ngegas." Pak Atlantis ingin menangis saja saking geramnya. Sedangkan Joan menghela nafas panjang, langsung overthinking. *** Ruang BK bertambah ramai sebab ada Joan disana yang mulai menjalani training, bergabung bersama dua langganan BK lainnya. Alisa dan Bima. Seluruh penjuru sekolah tak lagi asing jika keduanya digiring menuju ruang kematian itu. "Kalian kok gak ada kapoknya ya, saya nggak habis pikir." Pak Mail berucap lebih dulu. "Yaudah jangan mikir, Pak." Bima menyahut. Alisa menyikut perutnya. Sedang Joan nampak shock. Tatapannya kosong. "Saya sampai bingung harus ceramah sepanjang apalagi. Kalian dengar waktu saya nasihatin nggak?" tanya Pak Bambang lelah. "Dengar kok Pak. Tapi, masuk telinga kanan, keluar telinga kiri." Alisa menjawab. "Ceramah Bapak pas mau masuk, malah mental lagi. Telinga saya udah penuh, Pak." Giliran Bima menyahut. Ketiga guru memijat pelipis. Sedang Joan mencolek Alisa. Mengisyaratkan untuk diam, tidak enak kalau begini terus kelakuan mereka. "Joan, kembali ke kelas. Bapak tahu kamu cuma kebawa sesat mereka aja," titah Pak Atlantis. Joan undur diri. Setelah membungkuk beberapa kali sebagai tanda permintaan maaf. Pak Atlantis beralih menatap Alisa dan Bima tajam, berseru, "Kalian keliling lapangan tiga kali!" "KOK GAK ADIL SII?!" *** "Lo ngapain sih pake ketangkep segala. Pake ngaduin gue sama Joan bolos lagi." Alisa mengomel disela hukuman yang tengah dijalani. "Yang namanya temen itu harus solid, kalau ketangkep satu harus ketangkep semua," kilah Bima tidak mau disalahkan. "Kalau gue ajak lo ke jurang, mau?" Alisa bertanya. Bima menggeleng. "Gue jorokin lo aja biar syetan di dunia berkurang satu." Alisa menggeplak kepala Bima cukup keras. "Syetan di jorokin ke jurang malah seneng ketemu temennya." "Ya, kalau gue bacain ayat kursi takutnya lo ikutan kebakar, Lis." "Syalan!" Cewek itu menggeplak kepala Bima cukup kuat. "Alisa, Bima! Mau lari apa ngobrol?!" Disisi lapangan, Pak Bambang berteriak murka. Bima melirik Alisa. "Lari sambil ngobrol sabi gak sih?" Alisa tertawa. Melanjutkan lari, tanpa sengaja melihat Joan duduk sendirian yang juga sedang menatapnya. Joan memang tidak memiliki teman sebab susah berkomunikasi. Setelah putaran terakhir, Alisa dan Bima terkapar di sisi lapangan. Terlentang di bawah pohon yang cukup rindang. "Hah... Lutut gue. Lutut gue letoy..," Bima ngos-ngosan. "Panassss!" seru Alisa mengipasi dirinya. Kemudian Bima meledek. "Gue kira syetan kek lo, tahan panas." "Siialan lo." Alisa mengumpat lagi. Dia memejam menikmati angin. Matanya kemudian terbuka merasakan sesuatu yang dingin menyentuh dahi. Joan disana, Alisa beranjak spontan. Joan tersenyum. Memberikan vanilla milkshake dan mengipasi Alisa dengan kipas angin potabel karakter beruang milik pacarnya. Dengan cepat Alisa meminumnya. "Lo gak bawain minum buat gue, Jo?" tanya Bima iri. Joan menggeleng. Kemudian Bima menggerutu, "Pilih kasih lo. Giliran sama mantan aja grecep." Joan tak hiraukan, malah sibuk mengusap keringat di pelipis Alisa. Tidak sampai disitu saja, Joan juga merapikan rambut Alisa dan mengikatnya. Bima jadi dongkol sendiri karena harus melihat keuwuan sepasang mantan ini. "Ya ya, anggap aja gue taiii." Usai menggerutu, Bima melarikan diri. Joan terkekeh dan Alisa tertawa ngakak sampai tersedak. Alisa membaca sticky notes yang belum sempat dia baca, lengkap dengan dua teddy bear kecil bertuliskan Bby dan Boyfie. Seketika wajahnya memerah. Joan hanya tersenyum sampai matanya tenggelam. [Joan mau balikan, boleh ya?:)] Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN