05. Simple? But Not For Me
Galau itu, tidak pernah ada dalam kamus hidup Lalisa Wirasma. Saat putus dengan pacar pertamanya saja Alisa malah bahagia. Begitu juga untuk pacar kedua dan tiganya. Tidak ada raut sedih saat dia memutuskan mereka.
Dulu, Alisa memang termasuk bocil SMP zaman now. Makanya, masih SMP sudah punya beberapa mantan. Awalnya hanya main-main, pas sudah dicoba kok malah seru. Dicoba lagi, makin seru. Makanya, Alisa keterusan.
Alisa mencoba karena Meisya pernah bilang saat mereka akan lulus SMP, memiliki seseorang yang bisa diajak bercerita dan berkeluh kesah itu menyenangkan. Memiliki seseorang yang menyayangi kita itu anugerah. Memiliki seseorang yang mencintai kita itu rasanya seperti dunia dalam genggaman.
Namun, tidak serta-merta Alisa melakukannya; bercerita tentang dirinya pada orang asing.
Alisa belum mengerti cara cinta bekerja itu seperti apa atau bagaimana. Kalau saling menyayangi, mengapa justru orangtuanya berpisah? Apa karena mereka tidak bisa saling bertukar cerita dan menjadi pendengar?
Kalau seperti dunia ada dalam genggaman, kenapa ayahnya pergi mencari tangan lain untuk digenggam? Sedangkan beliau saja memiliki dirinya dan Emina. Yang katanya menjadi dunia sang ayah.
Kalau anugerah, kenapa ayahnya pergi? Apa dia dan Emina bukan anugerah?
Alisa selalu bertanya begitu pada dirinya sendiri. Jika cinta memang seindah itu, harusnya ayah dan mama tidak bercerai kan?
Mungkin karena itu, Alisa menerima mereka yang berkata tertarik padanya. Alisa hanya ingin tahu bagaimana cinta itu berkerja padanya. Kendati Alisa tidak mencintai mereka.
Mungkin ini terkesan jahat. Namun, jika sudah berkomitmen, Alisa tidak pernah mengingkari itu. Malah, dia yang sering diselingkuhi, mungkin karena mereka tidak mendapat apa yang mereka inginkan.
Alisa sih oke-oke saja. Meski kecewa karena walaupun tidak memiliki cinta yang sama, mengetahui dirinya dikhianati, hatinya tetap sakit. Mungkin ini juga yang dirasakan mama.
Alisa hanya menyesali karena sudah buang-buang waktu menjaga jodoh orang dan menambah list mantan. Menyesali, kenapa cinta itu tidak bekerja padanya?
Namun, entah kenapa ini berbeda saat dengan Joan. Dia memang tidak sempurna. Bahkan sering membuat dirinya stress karena tanyanya tidak pernah Joan jawab secara lugas dan jelas.
Namun, ada hal tidak biasa yang membuat Alisa tertarik. Secara perlahan Joan menariknya untuk berlari. Seolah menjelaskan; jika menunggu, sesuatu yang diinginkan tidak akan datang dengan sendirinya.
Secara perlahan, Joan membuat Alisa nyaman. Entah itu perilakunya, atau karena diri Joan sendiri. Dia tidak romantis, tapi Joan mampu membuat Alisa bahagia hanya karena hal sederhana. Contohnya, saat Joan mengajaknya bersepeda di sore hari, mengelilingi kota.
Alisa tidak langsung mencintai Joan, tapi Joan mampu membuat cinta itu hidup. Menahannya. Sampai akhirnya, Alisa tidak bisa pergi.
Alisa tidak bisa. Namun, Joan yang membiarkan dia pergi. Sekarang, hubungan mereka nyaris berakhir. Atau mungkin sudah? Sebab tidak ada lagi konversasi setelah kemarin sore.
Jika biasanya cowok yang dia putuskan akan merengek meminta maaf dan mengajak balikan. Joan justru biasa-biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa.
Makanya, Alisa uring-uringan semalaman penuh dan meneror Bima untuk mendengar curhatannya sampai tidak tidur.
Malam itu Bima berkata. "Ancaman lo itu gak akan mempan sama Joan yang udah hafal kebiasaan lo. Tinggal buktiin aja lo bisa nyari yang lebih cakep dari dia. Contohnya gue. Bukan peduli atau apa. Mumpung gue masih free."
Alisa jadi kepikiran untuk mencoba usul teman monyetnya. Kebetulan sekali dia bertemu ex-nya. Walaupun sebenarnya gedeg luar biasa. Daripada dengan Bima, mending dengan ex-crush saja.
"Mau ke kantin juga?"
'Gini nih kalo otaknya ngegelinding ke dengkul,' batin Alisa.
"Iya." Alisa tersenyum kaku. Ia harus pura-pura b**o juga agar misinya berjalan lancar.
"Mau bareng?"
Alisa mengangguk saja. Cowok itu juga memesankan makanan, persis saat berpacaran dulu. Walaupun cuma tiga hari sih, karena Seno keburu ketahuan selingkuh.
"Gue boleh duduk bareng lo?"
Seno mengerjap terkejut. "Boleh."
Seno tersenyum senang dibelakang Alisa. Menenangkan diri, jangan sampai ketahuan bahwa ia tengah berbunga-bunga. Alisa adalah mantan terindah baginya. Karena hubungan mereka kandas akibat kesalahannya yang selingkuh dengan teman sekelas Alisa.
Saat itu bukannya sedih. Alisa justru menertawakan kebodohan Seno. Kalau mau selingkuh, minimal dengan anak kelas lain atau sekolah lain. Bahkan kalau Seno bilang padanya, akan dia carikan yang lebih cantik.
Memang, cowok fakboi itu freak semua, kata Alisa kala memutuskan Seno di depan seluruh warga kantin, plus tendangan maut di tulang kering.
Alisa duduk dan Seno didepannya. Alisa menyunggingkan senyum melihat Joan memasukan makanan dengan kasar. Lihat saja wajah merah dan bibir merajuk itu. Gemes pokoknya.
"Tumben gak sama Joan?" celetuk Seno mengalihkan perhatian Alisa.
"Bosen," jawab Alisa sekenanya.
"Balikan sama gue aja gimana? Gue tahu kalian putus." Seno berkata lancar tanpa menatap Alisa, sebab sibuk dengan nasi gorengnya.
Alisa terdiam cukup lama. "Sama Joan aja bosen, apalagi sama mantan." Alisa menjawab tenang. Tersenyum yang dipaksakan saat Seno menatapnya dengan terbelalak.
"Becanda gue." Alisa terkekeh. Seno tersenyum canggung.
"Seenggaknya lo lebih asik, lah. Kita bisa ngobrol banyak hal. Gak kaya Joan."
Seno tersenyum bangga. "Lo pasti tertekan pacaran sama Joan kan. Kasian gue liatnya. Gue salut sih, lo bisa nerima cowok bisu kayak dia."
Alisa tersenyum lebar, meski tangan yang memegang garpu itu mengerat secara spontan. Menusuk bakso dengan kasar sampai kuahnya sedikit menyiprat ke seragam Seno.
"Maaf, maaf, biar gue bersihin." Alisa mendekat setelah mengambil tisu untuk membersihkan seragam Seno. Cowok itu mundur saat wajah Alisa mendekat.
Berucap dengan suara rendahnya. "Gue juga kasian sama yang jadi pacar lo. Pasti makan ati liat cowoknya ngejamet tiap hari."
Air muka Seno berubah marah. Melihat itu, buat Joan emosi. Posisi Alisa memang sangat memicu pikiran berlebih. Saat akan membalas ucapan Alisa, tiba-tiba cewek itu menjauh karena ada seseorang yang menariknya.
"Apasih, ganggu tahu!" Alisa berusaha melepas tangannya. Namun tidak bisa, Joan menggenggam itu erat sekali. Tatapan intimidasinya juga kentara terasa.
Joan menunjuk Seno. Menggeleng tegas. Joan tidak suka Alisa dekat dengan Seno. Joan juga tahu bahwa mereka pernah ada hubungan sebelumnya. Bagaimana kalau mereka balikan, coba?
"Lo siapa ngatur gue?" todong Alisa marah.
Joan mengambil ponsel dan mengetik disana. "Joan pacar kamu." Alisa sedikit senang.
Alisa merubah ekspresi secepat kilat. "Kita udah putus. Lo bukan pacar gue lagi."
Joan mengetik lagi. "Kamu yang mau putus, bukan Joan."
"Gue gak butuh persetujuan lo buat akh–," Kalimatnya tertelan saat Joan membekap mulutnya. Alisa memukul-mukul lengan Joan dengan kuat, tapi tidak berpengaruh sama sekali.
Joan melirik Seno tajam. Jujur saja, Seno cukup terpengaruh oleh itu. Namun, ia menyembunyikan itu dalam ekspresi wajah datarnya.
Setelah saling melempar lirikan. Joan menarik Alisa pergi dari kantin.
***
"Lo kenapa sih! Lepas, lo pikir gak sakit apa?!" Alisa berteriak di sepanjang jalan.
Joan tidak mendengarkan hingga mereka sampai di rooftop sekolah. Sebenarnya area terlarang, Alisa juga tidak tahu Joan dapatkan darimana kuncinya.
Karena kepalang kesal. Alisa menarik tangannya hingga hilang keseimbangan dan kepalanya membentur tembok.
"DASAR MANTAN GADUNGAN! KEPALA GUE SAKIT!" pekik Alisa begitu kencang, memegangi kepala bagian belakang. Sampai warga sekolah yang ada di bawah menoleh ke atas.
Joan buru-buru menghampiri Alisa. Melihat pacarnya menangis, Joan memeluk Alisa sembari melihat kepalanya yang terbentur tembok. Itu sedikit membiru, keunguan, mungkin akan benjol nanti. Joan mengusapnya pelan dengan terus meniupnya.
"Jangan tiup-tiup! Lo pikir kepala gue kue ulang tahun?!" kesal Alisa mencubit perut Joan.
Cowok itu mengaduh tanpa suara, menghapus air mata Alisa. Ia mengangkat jari telunjuk dan tengahnya. Tersenyum cerah, tulus sekali. Joan meminta maaf.
"Nggak! Lo ngapain sih bawa gue kesini?"
Joan menulis jawaban di telapak tangan Alisa. Cewek itu mengerang kegelian. "Bolos?" Joan mengangguk.
"Kata temen monyet kamu, suruh turutin kemauan pacarnya Joan."
Sial, Joan mulai terkontaminasi oleh kerandoman Alisa Bima.
Alisa mendengus. "Pacar? Lo lupa kalau kita udah mantan?"
Joan mengulas senyum sabar. "Kan kamu yang mau putus, bukan Joan."
"Iya, tapi–,"
"Jadi, kamu itu masih pacar Joan. Akan tetap begitu, selamanya," sela Joan menunjukkan kata diponselnya.
Alisa memalingkan wajahnya yang memerah, antara kesal atau malu dengan kalimat yang ditulis cowok itu.
Joan genggam tangan Alisa, sementara satu tangannya menarik wajah Alisa agar menatapnya. Ia kembali menunjukkan apa yang ingin dikatakan lewat ponsel.
"Untuk kemarin, Joan minta maaf, hm? Kamu benar, mungkin Joan kurang berusaha. Atau mungkin.. nggak. Mulai sekarang Joan akan berusaha, tapi akan sulit dan.. Joan takut. Kamu bisa nunggu beberapa waktu lagi kan? Joan minta tolong, ya."
Selesai membaca kalimat panjang itu, Alisa menunduk. Tiba-tiba dia merasa bahwa ini salah. "Joan,"
"Lo tahu apa yang sebenarnya bisa selesain masalah ini sekarang juga. Lo hanya perlu kasih gue alasan kenapa lo kayak gini. Simple."
Joan hanya tersenyum. "Joan akan temani kamu disini sebentar, sampai kamu tenang."
Dan Joan juga selalu menghindar.
Bersambung....