Alisa menarik tangan. Berucap kecewa, "Kalau lo gak ngomong, kita putus. Semuanya sia-sia, gue gak tahu apapun tentang lo. Jadi, buat apa?"
Dan yang Joan takutkan datang juga. Ia terbelalak. Tangan yang hendak memegang Alisa jatuh dengan lunglai. Tidak ada reaksi lagi dari Joan setelahnya.
Alisa yang melihat tidak ada tanda-tanda Joan akan bicara, mendengus. Kedua tangan terkepal, dia menghela nafas berat. Berbalik meninggalkan Joan yang masih diam. Merasakan Joan yang tidak mengejar, Alisa berteriak geram dalam hati.
"Astaga malah diem!" batin Alisa geram.
Saat Alisa hendak pergi, kesadaran Joan kembali. Ia langsung menarik Alisa hingga jarak keduanya menipis. Kedua manik sehitam jelaga itu menatapnya marah. Namun, Alisa juga melihat bagaimana keduanya bergetar, seakan takut.
"Lepas!"
Joan menggeleng tegas. "Kalau gitu ngomong." Dan yang Alisa dapatkan adalah gelengan lirih darinya.
Lelah, Alisa menghela nafas panjang guna meredam sedikit emosinya. "Mau lo apa sih? Seenggaknya, lo jelasin ke gue kenapa."
"Joan bilang Joan nggak bisa," ucapnya, hanya dengan gerakan mulut tanpa suara.
"Kenapa, kamu nggak ngerti?" lanjut Joan.
"Gue?" tanya Alisa, tertawa. "Lo yang nggak ngerti! Gimana mau ngerti kalau lo aja nggak pernah jelasin. Nggak pernah cerita apapun ke gue. Lo nggak pernah coba, Joan."
Alisa menyentak kasar hingga cengkraman tangan Joan lepas. Dia menyeka air matanya kasar, entah Alisa hanya terlalu lelah. "Tiga tahun, gue selalu cerita apapun sama lo. Gue kasih tahu apapun masalah gue sama lo."
Alisa menatap mata Joan yang nampak berkaca-kaca. "Dan gue nggak tahu apapun tentang lo. Lo nggak percaya sama gue."
Dia mulai berbalik arah, namun sekali lagi Joan menahannya. "Joan belum bisa."
"Lo nggak berusaha untuk mencobanya, Joan."
Refleks, Joan melepas genggamannya. Tangannya mengambang bebas begitu saja di udara. Joan tahu harusnya bukan ini yang dia lakukan. Harusnya Joan mencoba untuk membuat Alisa mengerti dan membuat dia tetap disisinya.
Namun, ucapan Alisa kali ini terasa begitu menampar. Rasanya sesak, lebih dari sindiran sindiran Alisa sebelumnya. Joan juga berusaha. Selama bertahun-tahun ia berusaha sembuh.
Melihat Joan hanya diam, dia mulai berjalan mundur dan berbalik pergi. Alisa tidak menoleh. Meski ingin tahu reaksi Joan atau apa yang tengah cowok itu lakukan sekarang. Apakah Joan menangis atau apapun itu. Alisa tidak mau Joan berfikir ini hanya ancaman semata jika ia berbalik.
Meskipun faktanya dia hanya mengancam, berfikir Joan akan terjebak seperti yang Meisya usulkan. Tapi sekali lagi, reaksi Joan selalu membagongkan.
Kenapa ini tidak seperti yang dia bayangkan?
Alisa menyeka air matanya yang tiba-tiba turun, dia berlari secepat yang dia bisa. Mungkin, hubungan ini akan benar-benar berakhir.
Alisa tidak sadar, bahwa hatinya mulai takut akan kehilangan, untuk kedua kalinya.
***
Alisa berjalan lunglai menuju ruang makan. Sialll, apa perutnya tidak tahu kalau dia sedang galau? Tidak pengertian sekali, seperti Joan. Alisa memukul kepala, lupakan Joan!
"Eh, main comot aja! Kamu itu anak gadis, jaga sikap kenapa. Jangan kayak preman gitu."
Mungkin maksud Emina–mamanya Alisa–adalah, Alisa ini seorang perempuan yang harusnya bersikap sopan, lugu, menjaga perilaku. Bukan bar-bar, selalu menyahut ketika dinasihati, dan pecicilan seperti preman gadungan di jalan.
Merasakan pukulan sang ibu yang tidak ada duanya. Alisa meringis, mengelus tangan yang semula hendak mencomot tempe goreng krispi kesukaannya. Mood makan tiba-tiba hilang saat Emina kembali bersuara.
"Tumben mama gak dapet laporan dari Joan tadi, kamu nggak bolos?"
Kebiasaan ibu-ibu yang sudah mendarah daging. Alisa heran, saat sedang bangzsat mendapat banyak wejangan, giliran tobat begini malah di pertanyakan. Lantas dia harus bagaimana?!
"Jadi mama mau Alisa bolos lagi? Syukur deh, kalau mama ridhoi Alisa."
Emina hampir tersedak mendengar jawaban anaknya. Sedang Alisa masih sibuk melihat jajanan bakso dan jajanan berat lainnya yang selalu tersedia di sebelah kanan meja makan.
Pantas saja body mamanya segede gentong begitu. Orang tiap hari makanannya bakso dan seblak melulu.
"Jangan itu!" seru Emina kala Alisa hendak mengambil bakso.
"Kenapa?"
"Itu bakso malang. Ntar hidup kamu makin malang kalau makan itu."
Jika tidak dosa, Alisa ingin mengumpat saat ini juga. Ibu mana yang mendoakan hidup anaknya malang hanya karena memakan bakso?
"Mama sok-sokan sedih punya anak kayak Alisa. Giliran sendiri aja mulutnya kayak komentar netizen. Ibu macam apa Anda ini?"
Kalau soal sindir-menyindir, mengata-ngatai, tidak usah di tanyakan lagi. Itu sudah menjadi bakat alami Alisa yang langsung diturunkan dari ibunya. Makanya, jangan heran jika obrolan mereka seperti sedang berperang sindiran.
"Mama dulu juga bandel gak kebangeten kayak kamu, Sa." Emina meneguk sebentar jusnya.
"Mama dulu kalau mau bolos di jadwal, izin dulu. Bukan tiap hari kayak kamu," lanjutnya, lalu menyuapkan bakso yang menurut Alisa lumayan besar.
Badannya aja lebar kali lebar, apalagi mulutnya, batin Alisa nista. Tolong jangan ditiru.
"Alisa itu terlalu inovatif dan kreatif, makanya menciptakan jenis membolos terbaru," balasnya begitu bangga.
"Iya, terlalu inovatif bandelnya."
Alisa mendelik, selalu saja ada balasan.
"Itu Joan kemana? Tadi kamu pulang sendiri kan. Biasanya ada kring kring suara sepeda," tanya Emina bernada diakhir kalimatnya.
Mendengar nama Joan membuat moodnya semakin hancur. Pacar mode silentnya itu–maksud Alisa mantan mode silentnya, belum mengirim spam pesan sudah sampai di rumah, sudah mandi, sudah pakai skincare yang dia berikan atau sudah makan dua kali dan laporan lainnya seperti anak kecil menggemaskan.
"Udah putus." Alisa menjawab lempeng.
"Apa?!" Emina menggebrak meja. Alisa hampir tersedak bulatnya bakso sebab terkejut.
Menutup telinga, dia berucap, "Apasih, Alisa ngebatin terus pacaran sama robot kayak Joan yang gak bisa ngomong!"
Emina melotot. "Kamu kok bisa-bisanya sih ngomong gitu? Pokoknya balikan!" Emina tidak mau kehilangan pawang anaknya dan kembali tertekan sampai mampus seperti dulu.
"Alisa bukan pengemis cinta," balasnya kesal. Ya, walaupun sebenarnya dia mau.
"Gengsi aja kegedean. Dulu siapa yang nembak Joan duluan, yaaa," sindir Emina begitu menampar Alisa.
Dia mendelik tajam. Sudah dibilang itu tidak sengaja, kenapa harus di ungkit lagi coba?
***
"Alisayangku!"
Datang-datang, Bima sudah berteriak sambil merentangkan tangan. Seolah akan memeluk Alisa, dengan cepat cewek itu menampar wajah Bima menggunakan tas sebelum benar-benar memeluknya.
"Settan, sakit! Kalau muka gue tambah ganteng kan bahaya. Mau tanggungjawab lo?" protes Bima mengusap wajahnya.
"Untung hidung mancung gue ciptaan Tuhan, jadi masih aman," lanjutnya.
Mata julid Alisa mendelik tajam. Sombong sekali dia, mentang-mentang hidungnya agak mancung kebawah. "Pagi-pagi udah teriak. Ganggu, polusi udara."
"Lo pikir napas gue gas beracun?" sahut Bima kesal.
"Ini yang gue suka dari lo, gak tahu dirinya alami banget."
Bima pun menghirup bau mulutnya sendiri untuk membuktikan. Berujar, buat Alisa geleng-geleng kepala. "Masih bau jengkol euy, padahal gue udah kumur-kumur pake kembang tujuh rupa."
Ditengah obrolan tak bermutu itu, Alisa melihat Joan tiba, melewatinya untuk memarkirkan sepeda. Hanya melewati, tanpa sapaan hangat seperti sebelumnya.
"Lo putus sama Joan, iya?"
Alisa mengangguk. "Kenapa?" tanya Bima lagi.
"Karena semua cowok sama aja." Alisa menjawab datar.
"Berarti dia mirip bokap lo? Gue juga dong?"
Alisa yang tengah melirik Joan melalui sudut mata langsung menoleh. "Cowok itu breng?"
"Sek?" jawab Bima bingung.
"Semua cowok di dunia ini breng?"
"Sek," jawabnya lagi. Lantas Bima berfikir, kalau begitu, "Berarti bokap lo juga breng?"
"Sek," balas Alisa spontan. "Bima babiii!" seru Alisa kala menyadari itu. Bima sendiri tertawa keras sebab berhasil menjahilinya.
Alisa menatap sinis. "Maksudnya, cowok yang gue kenal."
"Berarti lo gak kenal bokap lo?"
Tatapan Alisa menajam, menghela kasar. "Lo kenapa sih?!"
Bima mengernyit bingung. "Dasar cowok gak gelas!" lanjut Alisa lantang bermaksud agar Joan mendengarnya.Alisa pergi dengan menghentakkan kaki kesal. Bergumam tidak jelas dan melirik sinis saat melewati Joan.
Bima yang kesal pun melotot, kemudian berteriak. "DIH. SIA YANG GAK JELAS YA ANJ!"
Disaat yang sama, Bima tertawa sumbang kala melihat Joan yang menatapnya tajam. Sudah putus saja masih bucin, heran, Bima menghampiri Joan, menepuk pundaknya.
"Kalian putus ya?"
Joan menyimpan helm sepeda, mengangguk tenang.
"Pantesan Alisa uring-uringan. Buat gue ya dia?" Bima berucap, berniat mengusili Joan.
Namun, Joan yang sedang serius. Langsung menoleh. Menyipit tajam, melepas tangan Bima dari pundaknya dengan kasar.
"Iya santai kenapa sih. Becanda doang gue. Balikan gih, bukan apa ya, gue yang jadi sasaran kegalauan Alisa juga susah bor," saran Bima setengah curhat.
Bima pun pergi. Joan tercenung. Bicara bukan perkara mudah untuknya.
***
Joan masih memantau Alisa. Pacarnya itu beneran marah rupanya. Bahkan tidak menoleh sedikitpun padanya, atau saat tidak sengaja mata mereka bertemu, Alisa akan langsung memutus tatapan. Joan beranjak saat Alisa keluar dari kelas. Di ujung pintu, ada Pak Bambang yang langsung mengikuti Alisa.
Pun, Alisa yang merasa diikuti langsung berbalik. Alisnya menukik satu, melihat Pak Bambang curi-curi lirik padanya.
"Bapak ngapain ngikutin saya?"
"Nggak usah kepedean ya, kamu," balasnya sinis.
"Terus Bapak ngapain jalan dibelakang saya terus?"
"Karena saya bukan imam."
Alisa memutar mata malas. "Bapak saking gabutnya jadi ngintilin saya kemana-mana? Hati-hati makan gaji buta Pak, saya denger azabnya kelindes truk."
Pak Bambang nampak terkejut dengan ucapannya. Namun, bukan itu fokus utamanya. Alisa terlihat berbeda sekarang, sikapnya malah jadi seperti preman depan ggang, senggol bacok mode.
Alisa melanjutkan langkah menuju kantin. Dengan tiba-tiba, dia berpapasan dengan mantan crushnya. Joan yang melihat itu langsung mengepalkan tangan.
Bersambung...