"LALISA WIRASMA, TURUN KAMU!"
"Anjrit Bim, buruan Pak Bambang udah bawa rotan!" teriaknya panik. Cewek itu bahkan sampai menjorokan temannya.
"Alisa awikwok banget sia!" teriaknya, sambil telungkup karena jatuh dari tembok tinggi belakang sekolah. Sialll, ia harus balas dendam pokoknya.
"Iya Pak Bams, saya turun nih. Tata~" Dia melambaikan tangannya, melayangkan fly kiss juga. Jangan lupakan ekspresi tengilnya yang semakin menyulut emosi.
Namanya, Lalisa Wirasma, si ratu bolos SMA Wisnutama. Cantik sih, tapi sayang, bebal luar biasa. Bar-bar juga. Random kelakuannya, receh tapi ramah. Kalau soal bersosialisasi, jangan ditanya. Alisa jagonya. Bahkan dengan satpam sekolah saja, Alisa akrab. Langganannya BK pastinya.
Oh, satu lagi. Hobi Alisa makan dan membuat masalah. Sebenarnya, dia juga malas menjadi bandel seperti ini, kalau bukan karena misinya untuk mendengar suara pacar mode silentnya yang selalu bikin stress itu.
Pun, Pak Bambang semakin meradang, tak lama Alisa turun menggunakan tangga yang sudah dia dan temannya siapkan tanpa hiraukan Pak Bambang yang meneriakkan nama seseorang.
"YA ALLAH BUNDAAA!" Tiba-tiba teman seperbolosannya berteriak.
"Cengeng lo, masa lompat dari tembok empat meter aja nangis!" cibir Alisa dengan tidak tahu dirinya.
Oh iya satu lagi (2), Alisa juga tidak tahu diri, sebelas dua belas kayak syaiton. Kalau kata sahabat monyetnya.
Bima Sadewa, namanya. Biarpun namanya ada kata 'dewa' ia seratus persen Islam ya. Bima hanya ingin meluruskan. The one and only teman yang bisa dan mau mau saja Alisa ajak bolos. Sifatnya sebelas dua belas dengan Alisa. Receh, random, gak jelas, humble, si sosial butterfly, dan yang pasti; Bima ini buaya. Hobi tebar gombalan dan tebar pesona. Playboy juga, tapi tidak sampai jadian. Hanya buat baper, terus tinggalin.
Bima mengusap air di ujung matanya. Untung saja ia sudah pro dalam hal membolos dan melompati tembok serta memiliki hati bak malaikat yang senantiasa sabar atas kelakuan dan perlakuan teman setannya. Kalau tidak, sudah pasti ia mencincang manusia super meresahkan macam Alisa.
"Serah ah, sakit nih lutut gue." Bima mengaduh.
Alisa melirik. "Kebanyakan main di kamar mandi sih."
Bima melotot. "A-apa?!" Ia menutup mulutnya. Shock. "Lo! Darimana lo tahu!" lanjutnya seraya mengguncang pundak Alisa.
"Apasih Bim teriak-teriak! Gue gak budegg! Lo kan sering mandi sambil dengerin dangdut. Joget-joget gak jelas kayak orang kesurupan. Menurut lo apa?!" jawabnya kesal. Kepalanya pusing.
Satu lagi (3) Alisa itu punya darah rendah, tapi kelakuannya bikin orang darah tinggi.
"Jadi lo ngintipin gue mandi?!" Bima shock, bagian dua.
Alisa mengangguk. Bima menutupi tubuh bagian atas dan bawah dadanya. "ALISANJING! LO LIAT APA AJA?!"
Alisa menyeringai, menatap tubuh Bima dari kepala hingga kaki. "Semuanya."
"Syalan, gue ternodai," lirih Bima. Raut wajahnya di setting sedih.
Alisa menampol lengan Bima. "Bege! Gue becanda. Lo kan sering dangdutan sambil mandi. Salahin Bunda yang ngasih tahu gue kebiasaan lo yang gak wajar itu."
Bima merengut kesal kebiasaan dangdutannya di anggap tidak wajar. "Udah ah, ayo kita lanjut mabal!" seru Alisa dan menarik Bima seperti hewan.
Sudah Bima bilang bukan, Alisa ini sebelas dua belas dengan syaiton.
"Gu-e ma-sih sa-bar ya, Lis." Bima berujar pelan. Bersusah payah sebab lehernya diapit oleh lengan Alisa. Beruntung saja, ketiak Alisa tidak bau.
Tiba-tiba saja, Alisa terhenti dari langkahnya. Refleks menekan leher Bima dan membuat cowok itu tercekik.
"W-oy syalan! Gue gak mau mati di tangan lo!" teriak Bima sambil menepuk-nepuk tangan Alisa yang masih membeku di tempatnya.
"ALISANJ-," ucapan Bima terhenti setelah menyadari adanya presensi lain yang membuat Alisa berhenti dan menghentikan kegiatan membolos mereka.
Tanpa sadar, Bima menelan ludahnya. Sialll, auranya benar-benar mengerikan biarpun kelihatan tenang.
Saat Alisa mengendurkan tangannya, dengan cepat Bima melepaskan diri dari jeratan Alisa. Berdiri tegap, padahal lututnya sudah bergetar sejak tadi. Bima menunduk saat tak sengaja menatap mata tajamnya.
"Lis, gue minta maaf. Tapi kali ini, gue mau tobat dulu." Bima berkata pelan. "Gue harus kabur karena masih sayang nyawa." Menundukkan badan saat mata tajam itu menatapnya lagi, membuat Bima lari terbirit-b***t saat itu juga.
Solidaritas tidak perlu, kabur nomor satu. Adalah prinsip Bima jika kepergok bolos oleh Joan.
"Bima babi!" Alisa membatin.
"Apa liat-liat? Lo pikir gue takut?" dengus Alisa dan berlalu pergi. Berjalan cepat meninggalkan Joan yang masih setia berdiri disana.
Adalah Aaraksha Joan. Murid kesayangan Wisnutama. Selain karena prestasinya, sifat dan sikap Joan yang ramah juga membuatnya disayang guru. Joan tidak pernah bandel atau melakukan hal yang dilarang sekolah, tidak seperti pacarnya yang dijuluki sebagai ratu bolos.
Karena sifat ramah dan sikapnya yang lembut, Joan bisa saja menjadi social butterfly seperti Alisa dan Bima. Kemampuan bersosialisasi Joan juga sangat baik. Hanya saja, ada satu hal yang membuatnya tidak terealisasikan; Joan tidak bisa berbicara.
Karena hal itu, Joan agak sedikit kesulitan dalam komunikasi sebab harus menulis atau mengetik hal yang ingin ia sampaikan.
Cowok itu masih memantau Alisa yang berjalan semakin jauh. Ini sudah biasa sejak ia menjadi pacar Alisa dua tahun lalu. Awalnya, ia kaget dengan kehidupan sekolah Alisa yang jauh dari kata baik.
Belum lagi penampilan Alisa yang seperti preman. Memakai tindik hidung dan telinga, serta kedua lengan seragamnya yang di lipat. Kadang rambutnya di warnai. Membuat guru bingung harus berkhutbah sepanjang apalagi.
Namun, setelah beberapa bulan mereka berpacaran. Penampilan Alisa mengalami perubahan. Lipatan lengan seragam dan tindik hidung sudah Alisa lepaskan. Kecuali bagian telinga dan aksesoris gelang masih Alisa kenakan.
Perubahan manusia memang tidak secepat itu. Kebiasaan buruk lainnya masih belum lepas dari Alisa. Termasuk membolos seperti sekarang ini, mungkin malah lebih sering.
Terlebih setelah Alisa mendeklarasikan pernyataan; 'gue janji akan berhenti bolos kalau lo ngomong.'
Dan Alisa semakin menjadi setelah pernyataannya tak Joan hiraukan.
Joan tak ingin Alisa berubah atas paksaan karena janji yang Alisa ucapkan. Tapi ia ingin Alisa berubah demi dirinya sendiri. Namun, Alisa masih belum mengerti hal itu.
Joan masih memantau Alisa yang hendak menyebrang. Ia mengacungkan ponsel saat Alisa menatapnya. Cowok itu terkekeh tanpa suara saat Alisa merengut kesal dan berbalik, berjalan ke arahnya.
"Iya, iya gue nggak bolos!" kesal Alisa. Menghentakkan kakinya.
"Kerjaannya ngadu, dasar cowok!" lanjut Alisa menyindir.
Joan meraih tangan Alisa.
"Gue bukan cewek gampangan ya, lo pegang-pegang gitu langsung luluh!" Alisa menarik tangannya saat akan Joan genggam.
Alisa kesal karena Joan selalu saja mengadukan semua pada mamanya.
Bukan apa-apa, jika sedang marah mamanya akan sangat menakutkan.
Tekanan batin karena belum pernah mendengar suara Joan saja sudah membuatnya frustasi, apalagi diceramahi dengan kata-kata pedas, ditambah jika sudah di banding-bandingkan dengan anak tetangga, si Siti. Bisa depresi dia lama-lama.
"Bby kalau mau bolos, nanti aja pas pulang sekolah kan bisa," tulis Joan dengan polosnya.
"Ya bukan bolos namanya! Lo ketularan kebodohan Bima pasti nih, jangan keseringan bergaul sama dia," balasnya kesal.
"Kalau bukan sama Bima harus sama siapa? Joan kan nggak punya teman," tulisnya dengan raut wajah menggemaskan yang nyaris membuat emosi Alisa luruh.
"Makannya ngomong dong," ketus Alisa. "Bersosialisasi."
Joan menghela nafas sebagai peringatan bahwa ia mulai tidak menyukai arah pembicaraan ini.
"Nggak jadi bolos, hm?"
Alisa tersentak kaget melihat Pak Bambang tiba-tiba datang. Melirik tajam pada Joan, cowok itu hanya mengedikkan bahunya. 'Dasar tukang ngadu!' batin Alisa kesal.
"Suudzon mulu nih Pak, saya kan cuma mau main kejar-kejaran aja sama Bapak." Alisa mengelak ngeri, terlebih setelah melihat rotan panjang itu.
"Makin pinter ngeles, ya kamu."
"Oh pasti. Saya les matematika, IPA, Inggris, piano, rafting, dan banyak lagi. Pokoknya saya itu pinter. Suka nyumbang medali lagi ke sekolah."
Joan terkekeh tanpa suara. Pak Bambang mendelik. "Kalau saya lupa kamu pinter, udah dari lama saya keluarin kamu."
Alisa mendengus. "Oh, jadi selama ini saya cuma di manfaatin? Jahat banget ya pendidikan jaman sekarang."
Pak Bambang dibuat melotot. "Ikut saya ke ruang BK!" Akhirnya, kata-kata legend itu keluar juga.
"Oh siap Pak! Udah lama saya nggak berkunjung ke rumah kedua."
Pak Bambang dibuat diam, selain bingung harus menjawab apa. Dia juga lelah harus meladeni murid ajaib macam Alisa. Tapi untungnya, ia sedikit terbantu setelah Joan datang ke sekolah ini.
Melihat Joan terkekeh tanpa suara, Alisa mendelik sinis. Ceritanya masih kesal.
"Apaan ketawa nggak ada suaranya begitu."
Setelahnya Alisa berjalan cepat menyusul Pak Bambang menuju rumah keduanya. Ruang BK.
Sementara Joan hanya mampu menggelengkan kepala. Ia sudah biasa dengan semua sindiran Alisa yang terkadang menyinggung perasaannya.
***
"NGERTI KAMU?!"
Bima mengangguk lirih sambil menunduk. Ia kira akan lolos dari amukan Pak Bambang. Tapi ternyata, Pak Mail–kembarannya Pak Bambang–menjemputnya langsung dari kantin. Sambil membawa rotan panjang juga.
"Sampai kapan kalian akan membolos seperti ini?!" sahut Pak Mail jengah.
"Tanya tuh Alisa. Dia yang ngajak saya Pak," jawab Bima nista. Alisa melotot geram.
"Ya kamu jangan mau mau aja diajak kejalan sesat sama orang sesat!"
Alisa tertampar seketika.
"Saya kan sesat juga Pak. Makannya mau, hehe." Bima nyengir. Kedua guru itu geleng-geleng kepala.
"Pulang sekolah nanti bersihkan toilet. Sekarang kembali kekelas dan memboloslah setiap hari," titah Pak Mail.
Alisa justru bersorak. "Yes! Siap laksanakan, Pak!" Dia menarik Bima. "Sebagai murid paling teladan dan pintar disekolah ini, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan perintah Bapak! Hormat!"
Bima menurut saja saat Alisa menyuruhnya untuk hormat. Suka-suka syaiton ajalah. "Ayo, Bim!"
Keduanya pergi meninggalkan kedua guru yang kini termenung. Bukan tanpa alasan ia mengatakan hal itu, sebab sudah berjuta-juta kali ia melarang Alisa membolos tapi tidak pernah di gubris sama sekali. Jadi mungkin jika di suruh membolos Alisa akan berbalik pikir. Tahunya malah ngelunjak.
'Duh, gusti. Salah strategi lagi,' batin guru kembar itu nelangsa.
Agaknya, memang hanya Joan yang bisa mengendalikan manusia yang kelakuannya sebelas duabelas dengan syaiton macam Alisa.
Sementara itu di luar ruangan, Alisa dan Bima masih berjalan beriringan menuju kelas, ceritanya.
"Bim ayo ke kantin. Haus nih." Alisa berniat menarik Bima, namun cowok itu menolak.
"Lo gak kapok? Baru juga keluar dari BK belom ada lima menit, harusnya kita itu tobat bukan malah makin bangzsat!"
Tidak lama Alisa mendelik, kemudian menghela napas. "Lo bener. Harusnya kita tobat kan, kasian rotan bersaudara kepalanya ampe botak tengahnya gara-gara pusing liat kelakuan kita."
Bima mengangguk setuju. Merangkul bahu Alisa, mendorongnya menuju kelas. "Kalau udah beberapa hari, baru kita bolos lagi buat melaksanakan perintah Pak Bambang."
"Gue setuju, monyeeetttt kaulah sahabat terbaikku."
"Oasu!" Alhasil Bima menjorokan Alisa lantaran kesal.