Petang ini, Alisa dan Bima pulang terlambat sebab harus membersihkan seluruh toilet sebagai hukuman mereka. Sejak tadi, bibir Alisa tidak kunjung berhenti mengumpat, lantaran bau menyengat yang membuatnya nyaris muntah.
"Jorok banget sih cewek cewek kalo boker," omelnya kesal. Menghentakkan gagang pel, misuh-misuh.
Alisa melanjutkan pada bilik toilet yang terakhir. Dia menumpahkan banyak deterjen atau sabun apapun yang ada disana agar cepat dan tidak terlalu bau. Menggosoknya brutal berharap cepat selesai.
"Bim!" Alisa berteriak. Jarak bilik toilet siswa dan siswi terhalang dua tembok, ditengahnya lorong menuju halaman belakang sekolah.
"BIM! BUDEG YA LO! JANGAN NINGGALIN GUE!" teriaknya lagi. Namun, Alisa tidak mendapati tanda-tanda kehidupan disana.
"Masa iya Bima ninggalin gue?" gumamnya. Mulai berprasangka buruk.
Alisa bukan penakut sebenarnya. Bahkan saat menonton film horor saja dia malah mengantuk, alih-alih teriak ketakutan seperti Meisya dan Bima. Juga Joan, sayangnya Joan tidak bersuara. Malah nempel pada ketiaknya, bersembunyi saking takutnya Joan dengan hantu.
Namun, kali ini terasa beda. Orang bilang, tempat yang ditinggali makhluk halus auranya akan dingin mencekam, sepi yang benar-benar sepi. Alisa melirik kekanan kiri, depan belakang. Sunyi sekali, aura mistis langsung terasa, begitu kentara. Pegangan pada pel lantai mengerat.
"Kok merinding? Jangan ngadi ngadi lo settan, gue senior kalian," ucap Alisa merasakan tengkuknya merinding.
Lampu remang-remang dan tetesan air semakin membuat adrenalin Alisa diuji. Dia ingat, dalam film horor, akan ada tangan yang keluar dari bawah pintu bilik toilet. Seketika Alisa melihat kebawah. Dia menelan ludahnya susah payah, cemas.
Tetesan air dan angin semakin membuat jantung Alisa berdegub kencang. "Bim!"
BRAK!
"SIAPA LO!" Alisa berteriak saat suara barang jatuh itu terdengar. Ini sudah sore, setahu Alisa seluruh murid dan guru sudah pulang, tidak ada siapapun disekolah ini selain dia dan Bima juga satpam didepan, mungkin.
Lalu, siapa dan apa yang jatuh tadi?!
Kemudian suara kecipak air terdengar. Itu dari bilik kedua, Alisa ingat, murid-murid disini sering membicarakan tentang bilik nomor dua yang angker.
BRAK!
"MAJU LO SETAAAN! GUE NGGAK TAKUT! GUE PUNYA ALLAH!" teriaknya sembari membuat kuda-kuda. Berniat memukul si hantu. Disaat-saat seperti ini otak memang jarang bekerja dengan benar sebab, rasa takut lebih mendominasi. Padahal, itu hanya akan membuat diri sendiri celaka.
"MAJU LO–AAAAAA!"
BUGH!
"BOYFIE?!" Alisa langsung berlari mendekat pada Joan yang tengah memegangi kepalanya. "Boyfie ngapain disini?! Astaga, maaf maaf, gue kira lo hantu," lanjut Alisa khawatir.
"Sakit?!" tanyanya, dan Joan melotot gemas seolah berkata, "Pake nanya lagi!"
Alisa terkekeh. Iya juga sih, secara dia memukul dengan menggunakan tenaga dalam. Akhirnya, Alisa membantu Joan berdiri.
"Bima dimana?" tulis Joan diponselnya.
"Dia ninggalin gue kayaknya. Gue sumpahin ketemu ayang Kunti nanti," jawab Alisa marah. "Ayo pulang, gue denger suara aneh, pasti ada hantu."
Joan yang memang penakut, langsung memeluk lengan Alisa dan mengangguk. Menariknya keluar dan pergi dari sana.
Sementara Bima yang baru disumpahi datang setelah Alisa dan Joan menghilang, membawa dua botol air mineral. "Lis, haus kaga? Gue bawa minum nih," ucap Bima santai, belum sadar bahwa Alisa sudah ngacir, kabur karena ketakutan.
Tak menangkap adanya tanggapan, Bima masuk mengecek bilik toilet satu-satu. Takutnya Alisa ketiduran atau pingsan. Rese-rese begitu, Alisa adalah satu-satunya sahabat.
"Lis?" s**l, perasaan Bima mulai tidak enak. "Jangan bercanda lo tuyul!" Btw, nama panggilan Alisa selain syaiton; tuyul.
"Apaan tuh?" Suara kecipak air dari bilik kedua membuat Bima mulai takut.
"Masa Alisa ninggalin gue sih?" gumam Bima. "Aish, kalau sampe bener, gue sumpahin ketemu temen seper-setanan-nya!" lanjut Bima kesal.
Bima menoleh kebelakang saat pintu bilik tertutup dengan sendirinya. Lutut Bima mulai gemetar. Tubuhnya lemas karena takut.
"Setaan lo ya?" Dan selanjutnya adalah suara aneh yang terdengar. Bima menjatuhkan dua botol minum dan pergi terbirit-b***t dari sana sambil berteriak, "APA LO SETAAN! GUE GAK TAKUT, GUE PUNYA ALLAH! BUNDAAAAA!"
Sedangkan seekor tikus yang baru keluar dari bilik kedua dengan basah kuyup yang dikira hantu oleh Bima Alisa nampak bingung, tikus itu kemudian pergi menuju ke halaman belakang sekolah.
***
Joan menghentikan sepedanya didepan sebuah coffee truck dipinggir jalan. Ia menoleh pada Alisa, pertanda agar Alisa turun. Menjalin hubugan selama hampir tiga tahun, membuat Alisa lambat laun mengerti kode-kode yang Joan utarakan lewat gerakan.
"Kenapa berhenti disini?" tanya Alisa, lantas turun.
"Tolong jaga sepeda Joan," pesannya. Alisa mengangguk sekenanya.
Dia memerhatikan Joan yang nampaknya tengah memilih menu, ekspresi wajahnya terlihat begitu lucu, tanpa sadar Alisa mengulas senyum.
Tidak lebih dari lima menit, Joan kembali dengan dua minuman ditangannya. Ia menyerahkan satu pada Alisa, itu, vanilla milkshake. Minuman dingin favorit pacarnya. Sedangkan satunya lagi, ice americano dan Alisa yakin bahwa itu tanpa gula. Alisa heran, apa yang enak dari minuman pahit itu?
"Bby mau minuman punya Joan?" tawar cowok itu, menunjukkan minuman dingin miliknya.
"Nggak, hidup gue aja udah banyak pahitnya," balas Alisa membuat Joan anggukan kepala seraya tersenyum jenaka, tanpa suara.
Ketika minuman miliknya habis hampir setengah, Alisa tiba-tiba mendengus malu kala melihat sesuatu yang tertulis disana. Dia menatap Joan yang masih anteng dengan americano miliknya.
Disana tertulis; "Maaf:)" dengan dua teddy bear kecil bertuliskan Bby dan Boyfie.
Tidak ada kata lain, tidak ada emoji love, dan tidak romantis. Namun anehnya, Alisa merasakan jutaan kupu-kupu terbang diperutnya. Dia terkekeh, lantas menyusul Joan.
"Gemes banget sih!" ucapnya seraya mencubit kedua pipi Joan.
"Joan dimaafin, kan?" tulisnya, dengan mata berkilau penuh harap.
"Lima puluh, lima puluh," jawabnya ambigu.
Kening Joan mengerut. "Setengah-setengah dimaafinnya?"
Alisa mengangguk. "Gue masih marah mereka caper sama lo. Apa-apaan coba? Apa mereka gak tahu kalau lo punya gue?" sarkasnya kesal.
Joan mengulas senyum. Dia membuang cup ke tempat sampah, kemudian melanjutkan langkahnya.
"Kan mereka, kenapa Joan yang dimarahin?" Joan menulis protes.
Alisa membuang nafas kasar. "Karena lo nggak ngehindar!"
Mulut Joan membentuk huruf O.
"Kok cuma Oh doang sih?!" kesal Alisa kemudian.
"Terus Joan harus bilang wow?" tulis Joan dengan polosnya.
Alisa speechless. "Boyfie, lo diajarin apa aja sama Bima?"
Joan nampak berfikir sebelum mengetik, "Flirting godain cewek."
Sialll, Alisa mengumpat. Ternyata apa yang selama ini dia khawatirkan kejadian juga. "Mulai sekarang jauhin Bima, lo sama gue aja atau Meisya," balasnya mewanti-wanti.
Joan terkekeh tanpa suara. "Kamu takut Joan selingkuh ya?"
Tertawa, Alisa melirik remeh. "Di mimpi Lo!"
"Jujur aja, Joan seneng tahu. Lagian mau secantik apapun, Joan nggak bakal tertarik sama mereka. Joan cuma sayang kamu," tulisnya panjang lebar.
"Cheesy," komentar Alisa geli. Lagipula ya, Joan itu tidak romantis, datar, dan masa buodoh. Tiba-tiba berucap begitu Alisa jadi parno.
"Haha, mau dibandingin sama Jisoo pun Joan tetap milih kamu."
Alis Alisa mengerut tidak percaya. "Beneran?"
Joan mengangguk, kemudian menyerahkan ponselnya, " Tapi kalau Jisoo-nya mau sama Joan, ya ayo."
"Awikwok banget lo," kata Alisa sambil tertawa. Selera humornya memang rendah.
"Bby, Joan punya sesuatu."
"Apa?"
Joan kemudian meminta Alisa untuk memegangi sebentar sepedanya. Sementara ia membuka tas dan mengambil sesuatu dari sana. Joan menunjukkan dua permen kapas karakter, memberikan satu pada Alisa.
"Joan beli ini tadi didepan gerbang sekolah."
Alisa menyambut permen kapas dengan antusias. "Wah, makasih Boyfie!" sorak Alisa.
Joan terkekeh tanpa suara kemudian menepuk puncak kepala Alisa gemas. "Ayo pulang, keburu malem."
Keduanya pulang sembari sesekali bercanda, dengan Joan yang sering mencubit gemas hidung mungil pacarnya, atau Alisa yang ngambek karena kesal Joan yang hanya membalas ucapan dengan tulisan atau ketikan diponselnya. Kemudian Joan bujuk dengan pelukan kecil dan senyuman teduh yang selalu berhasil membuat Alisa mengalah, luluh. Hingga tak sadar mereka sampai di rumah Alisa. Lelaki itu menolak untuk mampir sebab sudah terlalu sore.
"Joan sebenarnya nggak mau pulang."
"Kenapa? Katanya udah sore, keburu malem," balas Alisa. Diam-diam gemas melihat Joan nampak sedih.
"Joan pasti kangen sama kamu. Kalau malam kan, nggak bisa ketemu."
Alisa tertawa. Dia menangkup kedua pipi Joan hingga bibirnya monyong. "Lucu banget sih, kayak bayi. Kan bisa video call. Sana pulang, nanti keburu malem. Sekarang rawan penjahat," balas Alisa. "Banyak hantu lagi."
Joan mengangguk kecil, tidak rela. "Sayang Bby. Joan pulang, ya." Ia memeluk sekejap Alisa sebelum benar-benar pulang.
"Iya. Hati-hati, Boyfie."
Selepas Joan pulang, Alisa masuk.
Dikamarnya, Alisa melepas tas, hendak membuang plastik bekas permen kapas dan cup vanilla milkshake. Namun, Alisa justru menemukan sticky notes yang dia kira hanya merk dari permen kapas itu.
Isinya; "Maaf :)", lengkap dengan dua teddy bear kecil bertuliskan nama Bby dan Boyfie.