“Kau adalah milikku. Sudah tugasmu memuskan aku,” ucap Vincent dengan dingin, menekan kedua tangan Molly ke ranjang seolah ia adalah benda yang dimiliki, bukan manusia. Wajahnya mendekat dengan cepat, mencium leh3r Molly tanpa kelembutan, penuh h4sr4t dan kemarahan yang tak dipahami. Ciuman itu menjalar ke bagian tubuh Molly dengan gerakan kasar, seolah ingin menghukum, bukan mencintai. Molly menjerit tertahan, tubuhnya menegang. Hatinya seketika remuk. "Sungguh menjijikkan sekali," batinnya berteriak dalam kehancuran. Air mata mengalir di pipinya, namun ia tetap diam, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. "Baiklah," pikirnya, "aku hanya bisa pasrah sekarang. Tapi malam ini… malam ini akan menjadi yang terakhir. Aku akan pergi. Selamanya. Tak akan ada lagi hubungan dengan

