Awal Yang Indah
Disebuah rumah yang sederhana, terdapat beberapa orang yang ada disana dan diantara mereka ada seorang penghulu. Ini adalah hari pernikahan siri Amanda dan Ricardo. Sebenarnya Amanda ingin menikah resmi dengan Ricardo, namun Ricardo beralasan bahwa dirinya sedang menabung untuk bisa membuat pesta besar-besaran untuk itu, oleh karena itu Amanda menyetujui pernikahan siri tersebut.
Beberapa saat kemudian, penghulu tersebut mengucapkan sebuah kalimat dan kemudian Ricardo menjawabnya, "Saya terima nikahnya, Amanda binti Dilantara dengan mas kawin berupa cincin berlian, dibayar tunai!"
"Bagaimana para saksi, sah?" tanya penghulu tersebut dan semua yang hadir menjawab, "Sah." Setelah itu, kedua mempelai beserta penghulu manadahkan tangan mereka dan kemudian berdoa.
Malam hari kemudian, Ricardo dan Amanda berduaan di dalam kamar Amanda.
"Sayang, malam ini kita habiskan dengan keromantisan kita, di malam pertama ini aku berjanji akan membuat kamu bahagia!" ucap Ricardo yang kemudian menundukkan kepalanya setelah berkata. "Karena besok aku harus pergi ke luar kota untuk mencari pekerjaan," lanjutnya. Amanda terlihat menarik nafasnya dan kemudian menjawab, "Baiklah, Sayang!" Mendengar jawaban dari istrinya, Ricardo mendekat ke arah istrinya dan kemudian mencium bibir sang istri dengan sangat romantis.
Keesokan harinya, Amanda kesiangan bangun, ia kemudian bergegas pergi ke dapur untuk memasak makanan buat sarapannya dan keluarganya. Namun, ketika Amanda sampai di dapur, ternyata sudah ada makanan yang tersaji di atas meja, ternyata ibu Amanda lah yang memasak semua itu.
"Pengantin baru, bangunannya kesiangan, habis ngapain tadi malam?" ucap Fadil yang merupakan kakak kandung dari Amanda. Amanda memasang wajah cemberutnya dan kemudian berkata, "Abang Fadil ... Apa-apaan, sih?"
"Amanda, Abang kamu ini sudah lebih dulu menikah daripada dirimu, jadi dia sudah tahu, apa saja yang dilakukan ketika malam pertama!" sahut Shiva yang merupakan kakak ipar Amanda, sambil tersenyum dan melirik ke arah Fadil dan Fadil kemudian membalas senyuman dari istrinya tersebut.
"Hugh, sudahlah! Aku ingin makan saja," jawab Amanda. Amanda kemudian duduk dan hendak mengambil piring. Namun, suara dari ibunya membuat Amanda berhenti sejenak, "Amanda, mana suamimu? Ajak makan sini, kok malah makan duluan!" Amanda menjawab, "Oh, iya. Amanda lupa kalau Amanda sudah punya suami!"
"Berasa masih gadis aja, padahal sudah menikah dan melakukan ritual tadi malam!" ucap Fadil yang kemudian tertawa.
"Abang ... jangan lah seperti itu, kau sudah membuatku, malu saja!" ucap Amanda yang sudah merasa sangat kesal pada Abangnya yang memang suka menjahilinya dari dulu. Fadil menjawab, "Kok, marah?
"Kak, Kak Ricardo? Ayo sarapan!" panggil Amanda pada suaminya.
"Iya, sebentar!" jawab Ricardo dari kejauhan, sepertinya Ricardo masih ada di dalam kamarnya dan baru saja selesai mandi.
Beberapa saat kemudian, Ricardo sampai di meja makan dan ikut sarapan bersama istri dan keluarga istrinya, setelah selesai makan, Ricardo berkata, "Ayah, Ibu?" Fajar dan Nana kemudian melihat ke arah menantunya. "Ricardo mau izin pergi keluar kota hari ini dan untuk beberapa hari ke depannya ya? Ricardo ingin mencari pekerjaan di sana?" tanya Ricardo yang meminta izin pada orangtua istrinya.
"Kalian baru menikah, kan? Masa kamu mau pergi meninggalkan istri kamu, sih?" tanya balik Fajar pada Ricardo.
"Soalnya Ricardo ingin cepat-cepat punya rumah sendiri, Yah! Ricardo ingin membahagiakan Amanda!" jawab Ricardo.
"Jangan pagi ini Ricardo, nanti siang saja, pagi ini ajaklah istri kamu jalan-jalan!" ucap Fajar. Ricardo terlihat diam sejenak untuk berpikir dan beberapa saat kemudian, Ricardo menjawab, "Baiklah, Ayah!"
Beberapa saat kemudian, Ricardo membawa istrinya jalan-jalan menyusuri kota Bandung yang di mana adalah tempat tinggal istrinya.
"Kak Ricardo, kapan kakak akan bawa dan kenalkan aku pada kedua orangtua kakak?" tanya Amanda pada suaminya, karena orangtua Ricardo tak hadir di acara pernikahan Ricardo dan Amanda.
"Bukankah aku sudah cerita, kalau kedua orangtuaku sedang bekerja di luar negeri dan mereka belum diperbolehkan pulang oleh majikannya!" jawab Ricardo.
"Baiklah!" ucap Amanda.
"Sayang, lihat itu! Ayo kita ke sana, kakak ingin mencicipi aneka makanan di kota Bandung ini!" ucap Ricardo sambil menunjuk ke arah restoran kuliner yang ada di tepi jalan. Amanda kemudian menganggukkan kepalanya dan menjawab, "Baiklah, kakak!" Mereka berdua kemudian, pergi ke restoran tersebut dan memesan beberapa makanan khas yang ada di kota Bandung tersebut.
Beberapa saat kemudian, ketika asik makan, Ricardo membelalakkan matanya ketika melihat seorang wanita paruh baya dan seorang pria paruh baya yang hendak memasuki restoran tersebut, Ricardo kemudian lari dari sana dan Amanda yang kebingungan dengan sikap suaminya tersebut kemudian memanggil suaminya, "Kakak, kakak mau kemana?" Namun Ricardo tak menjawabnya dan terus lari ke arah belakang restoran tersebut.
Seorang wanita paruh baya tersebut terlihat melihat sekeliling, seperti ada yang sedang ia cari.
"Aku seperti merasakan ada putraku disini? Ah, tidak mungkin, putraku sedang ke luar negeri, kan?" batin wanita tersebut. Pria paruh baya yang ada di sebelah wanita tersebut kemudian bertanya mengapa wanita tersebut melamun, "Ada apa, Ma? Kok, melamun?" Wanita paruh baya tadi kemudian menjawab, "Ah, tidak apa!"
"Baiklah, ayo duduk disana, kita nikmati makanan khas kota Bandung!" ajak pria paruh baya yang merupakan suami dari wanita paruh baya tadi.
"Ayo, aku juga sudah sangat lapar!" jawabnya.
Beberapa saat kemudian, Ricardo menelpon istrinya yang masih ada di restoran tersebut.
"Halo?" ucap sang istri.
"Keluarlah dari restoran ini, Sayang! Kita lanjut jalan-jalan saja, " pinta Ricardo pada istrinya.
"Baiklah, Kak!" jawab Amanda.
Beberapa saat kemudian, Amanda keluar dari restoran tersebut dan kemudian langsung menemui suaminya, suaminya itu ternyata sudah naik ke motornya. Sesampainya disana, Amanda bertanya pada Ricardo, akan sikap Ricardo yang dinilai aneh tersebut, "Kak Ricardo kenapa lari tadi? Ada apa, Kak?" Ricardo menjawab, "Tidak ada apa-apa, Sayang!" Ricardo kemudian memberikan helm pada Amanda dan Amanda kemudian menerimanya dan langsung memakai helm tersebut di kepalanya dan naik ke atas motor yang akan dikendarai oleh suaminya tersebut.
Di atas motor, Amanda bertanya pada suaminya, "Kita mau kemana, Kak?" Ricardo menjawab, "Aku akan membawamu, ke tempat yang indah, Sayang!"
"Emangnya, Kak Ricardo sudah mengenal daerah Bandung dan apa kakak sudah tahu tempat-tempat indah yang ada disini?" tanya Amanda pada suaminya. Ricardo menjawabnya, "Aku tahu, Sayang. Percayalah padaku!"
"Baiklah, jangan jauh-jauh tapi ya, Kak?" pinta Amanda. Ricardo menuruti permintaan dari istrinya tersebut, "Baiklah, Sayangku!"
Beberapa saat kemudian, Ricardo dan Amanda tiba di sebuah tempat yang cukup indah.
"Wah, Kak Ricardo ternyata lebih tahu daerah yang indah di kota ini ya, daripada diriku yang merupakan orang sini?" ucap Amanda.
"Iyalah, Sayang!" jawab Ricardo.