Aindra telah menyelesaikan semua pendidikannya hanya satu tahun saja. Bahkan kini tubuhnya mulai merespon semua ilmu yang pernah ia miliki. Di padepokan pencak silat, Aindra mencoba ilmu kanuragannya. Sang pelatih sampai terheran-heran dibuatnya.
“Dari mana kau bisa mendapatkan itu?” tanya pria yang biasa dipanggil Abah Busro.
“Saya merasa memiliki tenaga dalam ini dari dulu, Abah!” jawab Aindra setengah berbohong, “mungkin dari turun temurun.”
Busro mengangguk, bisa jadi muridnya ini, memang ada turunan dari raja jaman dulu. Jika tidak, dari mana Sailendra memiliki ilmu kanuragan sangat tinggi. Pria berusia enam puluh tahun dan masih gagah itu menatap batang pohon yang tercetak lingkaran api sebesar kepalan tangan manusia dewasa.
“Jangan umbar tenaga dalammu, banyak orang di luar sana akan mengujimu. Akan banyak pula musuhmu,” saran pria berbaju pangsi warna coklat tanah itu.
“Terima kasih, Abah. Akan saya ingat itu,” ujar Aindra hormat.
Aindra akan ingat bagaimana ia dilatih menjadi lebih bijak di sini, ia tidak hanya mendapat ilmu bela diri, tetapi juga ilmu, bagaimana menghormati diri sendiri. Ia masih sangat ingat, dulu ia begitu arogan. Sebagai seorang raja. Apa pun ucapannya adalah hukum bagi semua orang. Ia mengagungkan dirinya. Justru hal itu membuatnya terjatuh.
Dikhianati oleh orang-orang terdekatnya. Tewasnya istri yang ia cintai di saat hari pernikahannya, dan banyak lagi rentetan peristiwa yang menjadi cikal bakal kehancurannya. Busro mengatakan, semakin tinggi pohon maka semakin kencang angin menerpanya.
“Tergantung bagaimana manusianya, ia merawat akar yang mengokohkan berdirinya pohon itu. Jangan jadi pohon kelapa tapi jadilah pohon beringin,” ujar pria itu berpetuah.
Hari sudah mulai menjelang malam. Aindra baru saja selesai mengisi semua air tempat penampungan. Pria itu pun berpamitan untuk pulang. Usai pamitan, Aindra melangkahkan kaki, sepanjang melangkahkan kaki. Pria itu selalu disapa dan disalami oleh para santri dan murid yang belajar bela diri juga mengaji.
“Mau pulang, Bang?” tanya salah satu santriwati dengan senyum malu-malu.
Pria itu hanya mengangguk dan mengulas senyum kecil. Para gadis remaja semakin histeris melihat dirinya yang tersenyum. Aindra pun memakai maskernya. Hingga hanya iris abu-abunya saja yang kelihatan.
“Jangan ditutup dong. Nggak keliatan gantengnya,” celetuk salah satu di antara mereka.
Aindra hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku anak perempuan jaman sekarang yang jauh lebih berani. Di jamannya, para perempuan diletakkan di lemari kaca, mereka akan dirawat sedemikian rupa. Terlebih anak perempuan para bangsawan. Ia sangat ingat bagaimana cara orang tua mereka memperlihatkan betapa anggun dan tak tersentuhnya mereka.
Perempuan bangsawan diciptakan menjadi sosok anggun dan berkharisma, mereka dikukung oleh aturan, menjadi istri para bangsawan lain, atau menjadi salah satu istri raja. Keberadaan mereka hanya sebagai hiasan saja, tanpa memiliki keahlian lain selain mempercantik diri, tentunya.
Jaman sekarang, para perempuan lebih berani dalam segala hal. Mereka bisa mengepakkan sayap tinggi-tinggi. Bahkan tak jarang melebihi para pria. Aindra juga bingung, suara perempuan jaman sekarang lebih keras dan sangat kuat dibanding perempuan di kerajaannya dulu.
Mereka akan memakai kipas mereka jika ingin tertawa atau hendak berbicara pun saling berbisik di antara mereka. Ada sisi buruk dan ada sisi baik yang pria itu lihat di jaman sekarang. Ia bisa melihat perempuan-perempuan tangguh yang bekerja banting tulang untuk kehidupan keluarganya. Hal yang tidak ada di jamannya dahulu.
Hari ini adalah hari terakhir ia datang ke pasar menjadi buruh angkut. Besok dia akan pergi ke kostannya yang baru, sekalian ia pamit pada dua orang yang begitu berjasa membantunya selama satu tahun ini. Begitu sampai pasar, Aindra langsung mendatangi bosnya. Tadi pria itu memberinya perintah untuk segera menemuinya.
“Boss!” panggilnya menyapa.
“Ndra, sini!” titah pria itu sambil melambaikan tangannya.
Aindra mendatanginya, bossnya langsung memberinya secarik kertas dan memintanya untuk menemani salah satu karyawan mengantar barang.
“Ini kamu anter sofa dan kursi ini, ke alamat ini!”
“Oke, Boss!” sahut Aindra.
Bekerja selama setahun menjadi buruh kasar dan selalu diminta untuk ikut mobil box mengantar barang. Ia jadi tahu seluk-beluk jalanan ibukota. Setelah mengangkut dan mengikat semua barang yang telah dibeli. Kini ia dan dua temannya mengantar barang-barang itu ke alamat yang dituju. Butuh waktu setengah jam untuk samapi ke alamat yang dituju.
Sebuah rumah yang cukup besar dengan halaman yang luas. Mobil itu mengklakson, beberapa sekuriti mendatangi, Aindra turun membawa catatan nota pembelian dan menanyakan jika rumah yang mereka tuju adalah benar.
“Kami mau mengantar sofa dan meja,” ujarnya.
Setelah penjaga gerbang bertanya pada pemilik rumah. Barulah gerbang itu dibuka. Aindra masuk ke dalam mobilnya. Lalu kendaraan bak terbuka itu pun melaju masuk langsung di depan teras rumah. Ketiganya turun dari mobil dan mulai membuka tali-tali pengikat. Sosok pria berpakaian sederhana keluar,
Perawakan pria itu besar dengan tinggi 170cm. Ia keluar dan melihat barang yang baru saja ia beli.
“Ini taruhnya di garasi,” ujarnya.
“Nto, anter dan kasih unjuk di mana sofa ini ditaruh!” titahnya pada seseorang.
Seorang pria berlari dan menunjukkan tempat di mana sofa itu diletakkan. Aindra dan Cecep mengangkat sofa panjang ke dalam. Jejeran mobil mewah terpampang di dalam sana. Aindra tentu sangat mengerti agar tidak menyentuh atau menyenggol sedikitpun benda-benda mengkilat itu. Sebuah teras menghadap taman belakang yang luas.
“Taruh sini, Bang!’ ujar pria itu sambil menunjuk tempat di mana mereka harus meletakkan sofa itu.
Lalu beberapa saat kemudian, semua sofa sudah di letakkan di sana. Ketiganya pun langsung pergi setelah meletakkan sofa, karena pembayaran sudah lunas. Mobil itu pun melaju meninggalkan rumah besar itu.
“Gila tadi, garasinya udah kayak showroom!” seru Cecep mengingat.
“Itu belum seberapa. Ada yang jauh lebih banyak dari yang tadi!” sahut Bambang sang supir.
“Iya sih, tapi kan kita jarang liat mobil-mobil cakep,” sahut Cecep kesal.
Aindra hanya diam, tak menanggapi. Pria itu biasa saja, secara di jamannya dahulu, kuda dan kereta kencana yang menjadi satu-satunya alat tranportasi pada jamannya. Melihat kendaraan dalam garasi itu, ia menanggapi secara biasa saja.
“Kok Lo diem?” tanya Cecep pada Aindra.
“Dia kan emang diem, orangnya. Sejak kapan, Aindra itu rame kek Lo!” cibir Bambang sengit.
“Ish, masa dia nggak kaget atau setidaknya dia pengen mengkhayal suatu saat pake mobil bagus ntu!” sahut Cecep sambil menyindir.
Aindra hanya diam saja menikmati lalu lalang kendaraan yang ada di jalan raya. Melihat pembicaraannya tak ditanggapi, membuat Cecep akhirnya diam. Tentu saja Aindra enggan menanggapi kendaraan-kendaraan super mewah tersebut.
Di jamannya dahulu, kendaraan yang ia miliki lah yang paling mahal dari semua kendaraan. Sebuah kereta kencana terbuat dari emas dengan taburan berlian dan permata. Kereta itu keluar ketika menjemput permaisurinya. Ia tak tahu berapa harga kendaraan roda empat yang paling mahal di jaman ini dibanding dengan kereta kencananya, belum lagi kuda-kuda pilihan yang menarik kereta super mewahnya itu. Empat kuda hitam mengkilat yang begitu gagah, belum lagi pelana yang menjadi hiasan itu. Semua dari barang-barang pilihan terbaik.
“Harga kuda terbaik di sini berapa?” akhirnya Aindra mengeluarkan suara.
“Lah, kenapa Lo jadi nanyain kuda? Kita lagi ngomongin mobil bro!” sahut Cecep heran.
“Ya, saya hanya ingin tau aja, berapa kisaran harganya,”jawab Aindra santai.
“Entar, gue liat di google dulu,” sahut Cecep.
“Njir! Harga paling mahal bisa nembus sampe 100.000 us dolar, atau sekitar 1,4 miliyar rupiah!” serunya memberitahu.
“Itu cuma satu kuda, bayangin yang narik kereta kencana itu ada berapa kuda terbaik?” tanya Aindra lagi.
Cecep menelan saliva kasar, Bambang menggeleng saja.
“Bisa dibilang, di atas langit masih ada langit,” sahutnya.
“Itu baru kudanya, sekarang kamu bayangin kereta kencananya. Nilainya lebih mahal dari semua mobil yang tadi kita lihat tadi,” ujar Aindra.
Akhirnya mobil mereka sampai pada toko hingga sampai waktu pulang. Aindra pamit pada seluruh rekan kerja yang selama ini banyak membantunya. Para karyawan perempuan banyak yang menangis, tak ada lagi sosok tampan di toko mereka nanti.
“Ini gaji Lu. Baik-baik aja ya, lu di sana, pandai-pandai jaga diri,” pesan si boss.
Aindra mengangguk. Ia terharu dengan semua orang baik ini. Ia akan mengingat wajah-wajah sedih mereka.
‘Aku akan mengingat semua kebaikan kalian,’ gumamnya dalam hati.