Subuh menjelang, semua orang bergerak memulai hari. Aindra juga sudah mulai berkegiatan, ia membantu Rokayah menyapu daun-daun yang berhamburan di halaman. Setelah itu ia membersihkan diri, pria itu menyusun semua berkas yang dibutuhkan untuk mendaftar kuliah. Aindra, memeriksa saldo rekeningnya.
“Cukup tidak ya?’ tanyanya ragu.
Bunyi pintu diketuk. Sueb memanggilnya.
“Ya!”
“Boleh bapak masuk?” pinta pria itu.
“Masuk saja, pak!” Aindra membuka pintu.
Sueb masuk dan langsung duduk. Kamar pemuda itu sangat rapi dan wangi. Sueb menyukai keadaan kamar yang ditempati oleh pemuda itu.
“Ini nak. Bapak memberikan surat, tadi ada petugas pos yang mengantarkannya,” jelasnya.
Aindra menerima surat itu. terlihat sebuah logo universitas ternama di sana. pemuda itu menatap pria yang duduk di atas kasurnya. Ia memilih langsung membukanya.
“Wah, undangan bebas biaya masuk dan pendaftaran dari universitas, pak!”
“Apa? Apa itu benar?” tanya Sueb tak percaya.
Aindra memberikan kertas itu. sueb membacanya. Mimiknya dari tidak percaya berubah semringah dan antusias. Ia sangat tahu nama universitas ini. Iklan di televisi dan beberapa prestasi dari para mahasiswa yang berkuliah di sana, sering ditayangkan dan menjadi viral.
“Kau coba saja, Ndra. Bapak dengar kampus itu juga menyediakan beasiswa full untuk mahasiswa berprestasi. Melihat nilaimu kemarin, bapak yakin jika kau pasti lolos!”
Aindra menatap pria itu dengan pandangan haru. Ia mengingat sosok yang mirip dengan Sueb, yakni mantan mertuanya di jaman dulu, Marquez Albert Hall. Sosok yang penuh kelembutan dan kasih sayang, memiliki insting yang kuat dan kepekaan yang tinggi. Aindra memeluk tubuh gempal pria berusia lebih dari lima puluh tahun itu.
“Terima kasih, pak ... terima kasih.”
“Sama-sama, nak. Kamu yang baik-baik ya di sana. Jangan sampai terlibat dengan hukum. Kita orang miskin sebisa mungkin, jangan cari perkara.” nasihat Sueb panjang lebar.
Aindra mengangguk. Ia akan menuruti perkataan pria baik itu. banyak ilmu dan nasihat yang diberikan padanya dari pria itu.
“Saya akan mengingatnya, pak!”
Aindra mengurai pelukannya. Ia akan mengingat pria yang telah mengurusnya selama dua tahun ini. Pemuda itu juga mengingat perempuan paru baya yang memandangnya penuh kebanggaan, Rokayah.
Pagi menjelang. Sueb sudah ribut memberi nasihat pada pemuda yang akan pergi mendaftarkan dirinya kuliah. Aindra sangat sabar mendengar ocehan pria dengan tatapan haru, sungguh ia menyesal dulu ketika mertuanya memberi nasihat, ia enggan mendengarkan bahkan terkesan acuh tak acuh.
Aindra merasa ia adalah raja, tak perlu nasihat orang lain. Selama dua tahun diurus dan diajarkan oleh Sueb dan Rokayah. Pemuda itu lambat laun berubah tabiat dan perangainya. Ia kini jauh lebih menghargai orang lain.
“Orang hanya tertawa ketika melihat kita susah, dan akan merapat ketika kita sukses, nak,” begitu nasihat pria paru baya itu bijak.
Sailendra akan mengingat semua nasihat Sueb. Ia belajar dari masa lalunya, yang terlalu menganggap remeh orang. Merasa diri paling benar, bahkan dengan Mark, ia sering adu argument tak jelas.
“Kau di mana Mark?” tanyanya dalam hati.
Pemuda itu kini ada dalam satu angkutan umum. Ia kembali memakai masker untuk menutupi wajahnya. Hanya iris abu-abu saja yang membedakan dirinya dengan orang lain. Aindra mengenakan kemeja lengan panjang warna biru dan celana kulot warna hitam dan sepatu kets senada warnanya dengan celana.
Pemuda itu harus menaiki dua kali angkutan umum untuk sampai bangunan bertingkat lima. Ada enam fakultas berbeda di sana. Aindra membaca formulir di tangannya. Ia adalah seorang raja. Maka jurusan kepimpinan akan ia ambil. Dirinya mencari data apa saja pendidikan yang menunjang kepemimpinannya. Kebanyakan menganjurkan mengambil bidang management.
“Management?”
Aindra sedikit kurang paham. Lalu ia mencari tahu. Apa saja yang ia peroleh jika mengambil ilmu management. Apakah dapat menunjang kepemimpinannya. Setelah ia memahami apa arti management. Barulah ia mendaftarkan dirinya. Ia mengambil program S1 management industri dan management ekonomi.
“Wah, anda adalah peserta bebas ujian masuk. Silahkan tanda tangan di sini,” pinta salah satu pendata menyodorkan kertas.
“Maaf, jika ingin mengambil program beasiswa, harus bagaimana ya?” tanya Aindra.
“Oh, kamu harus ikut test dulu, di bagian sana,” tunjuk pria itu ke sebuah ruangan.
“Di pintunya ada tulisan ujicoba beasiswa. Anda harus mengikuti test itu terlebih dahulu,” lanjutnya. “Jika kamu bisa mempertahankan nilai 3,87 setiap ujian semester. Kamu akan mendapat beasiswa full.”
Sailendra mencoba peruntungannya. Setelah melewati semua ujian kejar paket full selama satu tahun. Ia mencoba otak yang dimiliki tubuh yang ia tempati ini. Apakah sama pintar dan cerdasnya seperti otak yang ia miliki.
Pemuda itu masuk. Di sana ada delapan orang yang melakukan ujicoba test. Lima perempuan dan tiga laki-laki. Jika ditambah dirinya, maka akan menjadi sembilan orang. Sosok pria dengan rambut memutih menyuruh ia duduk.
“Kamu mau ujicoba test kan?” Aindra mengangguk.
Pria itu menyodorkan satu berkas psikotes dan tiga lembar ujian beda tipe. Ujian bahasa indonesia, bahasa inggris dan eksakta. Setelah memberi kertas, pria itu duduk kembali ke kursinya.
Tak lama, Aindra sudah fokus mengerjakan semua kertas yang ada di mejanya. Butuh waktu satu jam untuk menyelesaikan semua ujian itu. Aindra merenggangkan otot. Ketika ia menoleh, hanya tinggal empat orang yang masih duduk di sana. Pemuda itu memilih memeriksakan kembali semua jawabannya.
“Ternyata otak ini cerdas juga, bahkan bahasa inggris yang tidak begitu kupelajari, bisa dengan mudah aku kerjakan,” gumamnya dalam hati.
Setelah yakin semua jawabannya benar. Aindra menyerahkan lembar ujiannya. Ia disuruh untuk datang lagi besok dan melihat papan pengumuman.
“Dari pengalaman saya sebagai petugas, biasanya pengumuman akan diperlihatkan ketika pembagian kelas. Itu setelah masa orientasi,” jelas pria itu.
“Orientasi?” tanya Aindra tak mengetahui apa itu.
“Oh, itu hanya masa perkenalan antar mahasiswa lama dengan mahasiswa baru. Hanya untuk seru-seruan saja,” jawab pria itu lagi.
“Jangan khawatir, orientasi ini tidak seperti jaman dulu yang mempermalukan cama atau calon mahasiswa, ini lebih pada olahraga dan adu cerdas cermat,” lanjutnya menenangkan.
Aindra hanya mengangguk. Pemuda itu pun pamit permisi. Ia akan mencari pekerjaan, kemarin boss sebelumnya telah merekomendasikannya pada salah satu saudaranya yang tinggal di kota.
“Kau bisa bekerja di sini, dia sudah tau kau hanya pekerja part time, karena kuliah. Ia semangat sekali mendengar ada orang yang begitu perhatian dengan pendidikannya,’ begitu kata bossnya.
Aindra yang buta tempat bertanya pada seseorang pemilik warung tempel. Seorang perempuan lalu menjelaskan di mana tempat itu berada.
“Kamu bisa jalan kaki lewat gang itu kalo siang, agak aman. Tapi jangan pas malam ya. Di sana rada rawan kejahatan,” jelas wanita baik itu.
“Baik bu, terima kasih,” ujar Aindra bersyukur.
Aindra keluar kampus dan mencoba melewati gang yang hanya ditutupi tembok tinggi. Sepanjang tiga ratus meter ia berjalan dan melihat plang daerah. Jalan raya besar telah ia dapati. Aindra hanya tinggal belok ke kiri dan kembali berjalan sepanjang dua ratus meter.
Pemuda itu membaca plang nama toko yang cukup besar di sana. Salah seorang datang mulai menegurnya.
“Hei, ngapain kamu? Mau mencuri ya?” tuduhnya.
Aindra mengernyitkan kening, ia heran melihat orang lain dan langsung menuduh padahal, orang tersebut tidak melakukan apa-apa. Pria itu mendekatinya dan menatapnya dari ujung kepala hingga kaki. Pria itu tersenyum sinis pada Aindra dan kembali menghina dirinya.
“Ah ... hanya gembel!”
“Pergi kau sebelum aku suruh warga memukulimu karena kuteriaki rampok.” bisiknya mengancam.