Jonathan membuka kedua matanya secara perlahan. Hidungnya mencium bau makanan yang sangat lezat. Ia ingat, jika semalam Diva menginap di apartemennya untuk menemaninya. Bahkan, semalam Diva rela begadang untuk mengompresnya karena demamnya belum juga menurun. Tubuhnya bahkan menggigil kedinginan, dan Diva dengan senantiasa bersabar mendampinginya. Jonathan benar-benar bersyukur bisa mengenal Diva, dan bisa menjadikannya sebagai calon istrinya. Baginya, Diva adalah kandidat paling sempurna untuk menjadi pendamping hidupnya, ibu dari anak-anaknya. Jonathan beranjak turun dari ranjang, ia lalu melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi. Setelah selesai, ia keluar dari kamar mandi dan juga kamarnya, langsung melangkah menuju dapur. Jonathan melihat Diva yang masih berdi

