06 : Jealous. Pfft.

1299 Kata
"Kak Ruby~!" suara itu. Suara yang belakangan ini menghantuiku.  "Kak. Aku ga ngerti pelajaran ini. Ajarin dong."  Dia. Zico. Adik kelas yang tempo hari 'menembakku' di perpus. Kenal saja tidak, dia udah menyatakan perasaannya padaku.  Eh salah, dia tidak bilang suka padaku tuh. Cuma ngajak pacaran. Ha! Apa peduliku?  Dan sudah beberapa hari ini dia gencar mendekatiku. Baru kusadari ternyata sikapnya seperti Sev.  Kaya bocah, cerewet, dan gamau kalah.  "Sini deh Co biar aku aja yang ajarin." kata Sev sambil mengambil buku yang dibawa Zico.  "Ih! Aku maunya sama Kak Ruby." ujar Zico, merebut kembali bukunya.  "Sama aja kali. Sini, aku aja yang kasihtau. Mana yang ga kamu ngerti?" tanya Sev lagi.  Dan, seperti itulah. Sekarang aku berada di kantin. Sedang makan siang. Bella duduk di depanku. Sebelah kanan Sev, sebelah kiriku dimana Zico duduk.  "Gamau! Kak Ruby kan lebih pinter dari Kak Sev. Kalo aku diajarin sama Kak Sev ada juga tambah bego." ujar Zico sambil menyembunyikan bukunya.  "s****n! Junior durhaka!" kata Sev sambil menjitak kepala Zico.  "Sakit woy kak!" tak mau kalah, Zico mencoba memukul lengan Sev, namun karena ada aku di tengah-tengah mereka, dia gagal melaksanakan misinya.  "Hei hei kalian.." Bella berkata sambil menypratkan air mineral yang dibelinya.  "Bells! Apaan sih?!" ujar Sev sambil mengelap air yang ada di wajahnya.  "Tau nih Kak Bella. Wajah ganteng aku jadi ternoda kan." perkataan Zico membuat Bella dan Sev tergelak.  "Ganteng darimana? Mimpi aja!!" teriak Sev sambil mendorong kening Zico. Hampir saja dia terjungkal.  Pertengkaran kecil mereka membuatku muak.  BRAAKK  Tanpa sadar aku menggebrak meja. Zico dan Sev yang sedang berdebat kecil menoleh ke arahku.  "Kalian.. Bisa diem ga?" ujarku dengan dingin.  "By.. Tenang.. Kita lagi di kantin nih.. Malu diliatin sama yang lain.." kata Bella sambil menarik-narik lenganku.  "Zico! Kamu belajar sama Sev di perpus!" ujarku sambil menunjuk Zico dan Sev berurutan, membuat mereka merengut.  "By.. Aku kan mau disini sama kamu.. Jahat banget ilah.." rengek Sev padaku.  "Kak Ruby gasuka ya kalo ada aku?" Zico bertanya dengan puppy eyes.  Aku duduk dan memijit pelipisku.  Mimpi apa aku sehingga ada dua orang aneh disekitarku?  "Udah deh. Kalian jauh-jauh gih. Ke perpus sana." ujarku sambil mengibaskan tanganku. Mengusir mereka.  "Gamau. Aku tetep disini." Sev berkata sambil duduk tegap di sampingku.  Kulirik Zico, dan dia melakukan hal yang sama. "Aku juga. Aku disini aja."  Karena perkataan mereka, otakku yang biasanya lemot ini langsung bekerja.  Aku tersenyum. Zico dan Sev ikut tersenyum lega.  "Baiklah, kalo kalian mau disini. Janji ya ga kemana-mana?" tanyaku sambil menatap mereka.  Bella memandangku dengan tatapan bingung. Mereka berdua mengangguk dengan semangat.  Kemudian aku bertukar tempat dengan Sev, sehingga aku duduk di pojokan dekat dengan pintu keluar kantin.  Dengan kecepatan maksimal, aku mengirim sms ke Bella.  To: Bella  Kita kabur pas aku kasih aba-aba!  Dia membuka smsnya dan tertawa kecil.  "Sev, ajarin Ziconya yang bener dong." kata Bella sambil tersenyum.  Aku menghirup oksigen banyak-banyak, menutup mata dan menghembuskannya. Kutatap Bella, dan mengangguk.  Kulirik Sev yang sedang serius belajar dengan Zico, dan aku berdiri, disusul dengan Bella.  Dan selanjutnya kami berlari menjauhi Zico dan Sev.  Dari kejauhan, aku mendengar suara teriakan Sev dan Zico dari kantin.  "Udah, lari aja Bells. Ga usah nengok lagi!" kataku sambil menarik Bella agar berlari lebih cepat.  "Gila By! Mereka kaya anak ayam aja! Ngintilin kamu terus!" Bella tertawa setelah mengatakan itu.  Ketika sampai di kelas, kami langsung duduk dan mengatur napas.  "Kenapa deh kalian?" tanya Lucy.  "Diikutin anak ayam!" ujar Bella sambil tertawa.  Aku dan Bella langsung ber high five ria saat bel sudah berbunyi. Tak lama kemudian Sev datang dengan wajahnya yang masam. *** "Tega banget By kamu ninggalin aku sama anak ingusan itu.." ujar Sev sambil menjitak kepalaku.  Aku mendelik. "Lagian kalian ngeselin sih."  "Ngeselin gimana? Aku kan tadi bantuin kamu biar Zico ga deket-deket sama kamu. Lagian apaan sih tu anak nempel banget sama kamu." dengan kesal Sev memasukkan buku pelajarannya di dalam tas.  Aku hanya memandanginya dengan tatapan datar.  "Emangnya dia gatau apa saingan dia ganteng begini? Ga bakalan bisalah ngalahin aku. Ga bakalaaan.. Kalah ganteng.." ujarnya sambil membuat jempolnya di bawah.  Aku masih menatapnya tanpa ekspresi.  "Tadi dia bilang apa By? Mau nganterin kamu pulang? Ha! Mimpi aja sana.. Kamu kan tinggal di rumah aku. Jadi gada kesempatan bagi dia buat nganterin kamu pulang." ujarnya dengan ekspresi meremehkan, seakan-akan Zico ada di depannya.  Aku tersenyum lucu mendengar celotehnya.  "Kamu kenapa sih Sev? Lagi PMS? Nyerocos aja kaya ibu-ibu lagi gosip." ujar Bella sambil melihatku yang masih terdiam.  "Eh Bells, mangnya kamu ga risih apa si Ruby diikutin sama adek kelas ga jelas kaya gitu? Dia tuh ada dimana aja! Ruby di kantin, dia nongol. Ruby di perpus, ada dia juga. Maunya apa deh ya tu anak."  Aku memutar bola mataku, anak ini.. Benar-benar cerewet.  "Loh, Rubynya aja santai aja dikintilin kaya gitu. Kamu kok sewot banget sih Sev?" tanya Bella dengan senyum menggoda.  Sev menghentakkan kakinya. "Ya jelas sewot lah. Masa Ruby yang cantik kaya gini diikutin sama anak ingusan yang ga jelas gitu?"  "Apa? Aku cantik Sev?" kataku dengan nada menggoda.  "Eh.. Um.. Ya.. Eh! Engga! Tadi aku salah ngomong!" ujar Sev dengan terbata.  Matanya melirik kami yang sudah mulai ingin meledakkan tawa. Bibir yang biasanya menampilkan senyum merekahnya padaku kini berubah menjadi kerucut.  "Ih! Pokoknya aku gasuka ya kalo Zico nempel-nempel sama kamu! Awas aja kalo kamu nanggepin dia." Sev menunjukku dengan jari telunjuknya.  Aku tak bisa menahan tawaku lagi. Aku tertawa terbahak-bahak, membuat Sev terdiam dengan reaksiku. Disusul dengan tawaan Bella yang membahana.  Kulihat wajah Sev semakin masam. Kemudian tanpa berkata apa-apa dia melesat pergi ke luar kelas.  Oh no, dia marah.  "Bells, aku duluan ya. Dia ngambek tuh." ujarku sambil menepuk pundak Bella dan berlari menyusul Sev.  "ADUH SEV! KAMU KALO CEMBURU BILANG AJAA!! HAHAHAHAHAHA" suara Bella yang toa menggelegar di lorong kelas.  Anak-anak yang masih ramai langsung menoleh ke arah Sev yang sekarang berjalan di depanku.  Sepertinya Sev tidak mendengar suara Bella. Dia tetap saja berjalan cepat. Atau sebenarnya dia mendengar tapi tidak menggubris? Haha.  Kakiku yang tidak sepanjang miliknya mulai sulit untuk mengikuti langkahnya.  "Sev.. Tungguin sih.." kutarik tas sekolahnya, berharap dia akan berhenti.  Akhirnya dia berhenti dan menoleh ke arahku. Aku tertegun melihatnya dari jarak yang dekat seperti ini.  Dia ganteng, tampan, atau apalah itu sebutannya. Aku benar-benar suka matanya yang jenaka itu.  Kukontrol ekspresiku agar tak menimbulkan reaksi yang tidak kuharapkan. Dia masih diam, menatapku.  Suasana parkir yang masih ramai seperti sepi kalau aku ditatap olehnya.  "Uh.. Sev.. Kau marah?" tanyaku pelan sambil menarik-narik ujung seragamnya.  Dia melirikku "Kalo aku marah kamu mau apa?"  "Yah.. Jangan marah dong.."  Dia menaikkan satu alisnya. "Kenapa?"  "Kenapa apanya?"  "Kenapa emangnya kalo aku marah?"  "Yah.. Masa nanti aku berangkat sama pulang sekolah sendirian, trus di rumah dicuekin, trus kamunya jutek sama aku.."  "Gitu?"  Aku mengangguk.  "Gapapa dong ya sekali-kali aku marah.. Biar kamunya bisa mandiri dikit kalo gada aku.."  "Ih, aku udah mandiri kali sebelum ada kamu juga."  "Masa? Yang bener?"  "Kok kamu rese sih?" ujarku dengan cemberut.   "Aku cuma pengen tau gimana reaksi kamu kalo aku marah.." ujarnya dengan kedipan mata yang jahil.  Aku menghentakkan kakiku. "Ih! Yauda deh sana marah aja. Bodo!" kataku kesal.  "Dih.. Masa balik marah.." ujarnya sambil mengejar langkahku yang tak sebanding dengannya.  "Biarin! Abisnya kamu nyebelin sih. Dibaikin malahan ngelunjak."  "Wow. Aku kan cuma nanya sama kamu By." ujarnya sambil memegang lenganku agar berhenti.  Aku menoleh. "Sev rese!!"  Kulangkahkan kakiku ke luar gerbang sekolah, berencana untuk berjalan kaki. Namun baru sampai di jalan raya, motor Sev sudah berdiri menghalangiku.  Dia membuka kaca helmnya dan memberikan helm untukku. "Pulang yuk?"  Aku mendengus kesal dan berusaha meninggalkan dia. Namun dia mencekal pergelangan tanganku.  "Maafin aku ya By? Naik dong.." pintanya dengan lembut.  Dan sedetik kemudian, aku sudah duduk manis di belakangnya.  "Akhirnya udah ga marah lagi.." ujar Sev sambil tersenyum.  Dan aku menjawab perkataannya dengan memukul punggungnya. "Buruan jalan!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN