Kamal kembali berbicara karena Arlo tak menjawab. “Kamu dan Davina sudah dua tahun menikah. Apa kalian tidak ingin punya anak?”
“Kami masih belum berpikir sampai ke sana, Pa. Biarlah kami yang menentukan masa depan kami. Papa dan Mama sudah mengatur pernikahan kami. Tolong untuk urusan anak biar kami sendiri yang memutuskan,” ujar Arlo.
“Sampai kapan, Arlo? Papa dan Mama sudah semakin tua. Kami juga ingin menggendong cucu seperti yang lain.” Kamal mengungkapkan keinginannya.
“Sampai waktunya tiba, Pa. Anak itu rezeki dari Tuhan. Kalau memang belum dikasih, kita bisa apa?” Arlo beralasan.
Pria paruh baya itu menghela napas mendengar jawaban anaknya yang terlihat tidak berminat membahas soal anak. “Makanya kalian berusaha lebih keras lagi. Ikut program hamil atau bayi tabung ‘kan bisa.”
“Pa, aku ‘kan sudah bilang kami belum ingin punya anak,” sahut Arlo yang mulai tampak kesal.
“Apa Davina sudah bilang kalau nanti malam kita akan makan malam di rumah orang tuanya?” Kamal mengalihkan pembicaraan agar tidak terpancing emosi.
Arlo mengernyit. “Memangnya ada acara apa?”
“Makan malam keluarga seperti biasa. Mereka juga ingin segera punya cucu dari kalian,” ungkap Kamal.
"Pa, Ma, kenapa terus menuntutku? Belum cukupkah kalian mengatur hidupku? Sejak aku kecil aku selalu menuruti Papa dan Mama. Apa untuk punya anak juga harus diatur seperti ini?" protes Arlo.
"Ini semua juga demi kebaikanmu, Arlo," tutur sang mama dengan lembut.
"Hah, kebaikanku? Kebaikan yang mana, Ma? Memaksakan kehendak untuk menikah dengan orang yang tidak aku cintai itu namanya kebaikan? Memintaku segera punya anak, apa itu juga kebaikan? Atau sebenarnya demi kebaikan perusahaan dan reputasi Papa di mata masyarakat?" sergah Arlo yang semakin tersulut emosi.
"Arlo, jaga bicaramu!" seru sang papa.
"Kenapa, Pa? Apa yang aku bicarakan benar?" Arlo tersenyum sinis. "Bukankah apa yang aku jalani dari kecil itu semua demi kebaikan Papa dan Mama? Aku terpaksa ikut bermacam kursus ketrampilan demi memamerkan kemampuanku pada teman dan kolega Papa dan Mama, iya 'kan? Aku juga harus mendapatkan hasil terbaik dalam segala hal agar Papa dan Mama disanjung oleh orang-orang ‘kan?" Dia menatap kedua orang tuanya bergantian.
"Arlo, cukup!" Pria paruh baya itu menggebrak meja makan dengan keras. Membuat meja dari kayu jati itu sedikit bergetar.
"Kenapa? Papa mau menampar atau memukulku seperti biasa? Silakan tampar dan pukul aku sepuas Papa asal aku bisa menentukan hidupku sendiri!" tantang Arlo sambil menatap tajam papanya.
"Dasar anak kurang ajar!" Papa Arlo berdiri, mendekati putra semata wayangnya.
"Pa, tolong jangan gunakan kekerasan. Mama mohon," pinta mama Arlo yang berdiri di belakang suaminya.
Tangan kanan Kamal yang akan menampar sang anak akhirnya hanya melayang di udara. Tak sampai menyentuh wajah tampan yang menatapnya tajam.
"Kenapa Mama hentikan? Biarkan saja Papa melakukan apa yang menurutnya benar. Bukankah selama ini hanya Papa yang selalu benar dan tidak pernah salah? Cepat tampar dan pukul aku, Pa!" Arlo berdiri tegap di hadapan pria yang selalu memaksakan kehendak itu. Sengaja menantang sang papa karena terus saja mengatur hidupnya hingga dia tidak bisa menentukan pilihan sendiri.
"Arlo, cukup! Jangan membuat situasi jadi semakin buruk! Mama tidak ingin melihat kalian berdua bertengkar. Mama tidak mau memihak salah satu di antara kalian. Mama tidak bisa!" seru Linda yang pindah berdiri di samping kedua pria berbeda generasi itu.
"Makan malam hari ini, mama minta kamu tetap datang, Arlo. Kita akan membicarakan semuanya dengan kepala dingin. Kami akan mendengarkan keinginanmu dan Davina," sambung Linda.
"Benarkah kalian akan mendengarkan kami? Kedua orang tua yang sama-sama egois. Hanya mementingkan reputasi kalian sendiri,” sergah Arlo.
“Oke, aku akan datang malam ini, Ma. Kalau hasil pertemuan hari ini tidak sesuai keinginan kami, jangan anggap aku lagi sebagai anak kalian." Arlo keluar dari rumah megah itu segera setelah mengatakannya. Dia berjalan dengan wajah memerah dan kedua tangannya terkepal karena menahan emosi.
"Ma, kenapa tadi menghentikan papa memberi pelajaran pada anak kurang ajar itu?" protes Kamal yang masih terlihat emosi. Apalagi putra semata wayangnya pergi begitu saja tanpa meminta maaf meskipun sudah bersikap kurang ajar padanya.
"Anak yang Papa bilang kurang ajar itu anak kita satu-satunya, Pa. Sampai kapan Papa mau bersikap seperti itu, setiap emosi selalu melampiaskan dengan kekerasan? Pa, kita ini sudah tua seharusnya kita lebih sabar dan introspeksi diri.” Linda mendongak memandang suaminya.
"Arlo harus tetap diberi pelajaran Ma, biar dia tidak bersikap tidak sopan seperti tadi." Kamal tetap pada pendiriannya.
"Apa Papa tidak coba merenungkan apa yang Arlo katakan tadi? Selama ini kita sudah egois karena selalu memaksakan kehendak pada dia." Linda coba membuka hati dan pikiran sang suami.
"Itu semua juga demi kebaikannya, Ma," dalih pria paruh baya itu.
"Benarkan demi kebaikan Arlo, Pa?" Linda jadi ikut meragukan suaminya seperti Arlo.
"Kenapa Mama jadi terpengaruh dengan kata-kata Arlo tadi?" Kamal menatap istrinya dengan kesal.
"Setelah mama pikir-pikir memang benar apa yang Arlo katakan tadi. Kita sama sekali tidak pernah mendengarkan pendapatnya atau memenuhi keinginannya. Sebaiknya kita tidak memaksa dia lagi, Pa. Mama tidak ingin kehilangan Arlo," ungkap Linda. Wanita paruh baya itu kemudian kembali duduk ke kursinya.
Kamal mengernyit. "Kehilangan? Arlo, tidak akan ke mana-mana, Ma. Dia tidak akan bisa apa-apa tanpa kita," ucapnya penuh percaya diri. Dia kemudian duduk, mengikuti sang istri.
"Apa Papa tidak tahu kalau dia sekarang sudah berdiri di atas kakinya sendiri? Memang dia mengurus perusahaan kita, tapi Papa jangan lupa kalau Arlo juga punya perusahaan sendiri yang dia bangun sendiri dari nol. Bagaimana kalau dia benar-benar akan pergi meninggalkan kita dan perusahaan?" Tampak kekhawatiran di wajah Linda yang tetap cantik meskipun usianya sudah mencapai setengah abad.
"Itu tidak mungkin, Ma. Papa pasti akan melakukan apa pun untuk membuatnya kembali kalau anak itu sampai nekat meninggalkan kita,” tegas Kamal yang terkenal bertangan besi pada orang yang menghalangi jalannya atau tidak disukainya.
"Pa, kenapa kita tidak mengalah saja kali ini.” Linda coba membujuk suaminya.
"Papa tidak suka kalah dari siapa pun,” ucap Kamal dengan tegas dan dingin.
Linda memegang tangan Kamal. "Pa, mengalah itu bukan berarti kalah. Mengalah itu karena kita berbesar hati menerima kalau apa yang kita lakukan tidak selalu benar. Sekali saja kita mengalah pada anak kita, Pa. Mama mohon."
"Pokoknya Papa tidak mau mengalah. Titik!" Pria paruh baya itu kemudian bangkit meninggalkan sang istri yang hanya bisa menatap kepergiannya.
Linda menghela napas panjang. "Mama juga tidak setuju dengan Papa. Mama akan berusaha mewujudkan keinginanmu, Arlo," gumamnya.