Bab 1
“Kenapa Kak Arlo tidak bilang kalau kita akan makan malam di ini? Aku ‘kan jadi bisa pakai gaun yang lebih pantas,” protes Joan yang merasa tidak percaya diri karena hanya mengenakan pakaian kasual. Berbeda dengan Arlo yang memakai pakaian semiformal.
Malam itu Arlo mengajak Joan makan malam di sebuah restoran mewah. Pria itu memang sengaja tidak meminta Joan berganti pakaian resmi karena menurutnya pakaian yang dikenakan gadis itu sudah cocok.
“Tenang saja, Jo. Kamu sudah cantik dengan gaun itu. Kalau mereka berani mengusirmu, siap-siap saja restoran ini akan jadi viral karena menolak pelanggan,” sahut Arlo dengan senyum di wajah. Satu tangannya melingkar di pinggang Joan. Tampak posesif dan seolah ingin menunjukkan kalau wanita yang berjalan di sisinya itu adalah miliknya.
“Tegakkan badan dan luruskan pandangan, Jo. Kita makan di sini bayar, tidak gratis. Kamu tidak perlu merasa rendah diri begitu.” Arlo berbisik di telinga Joan karena sejak tadi gadis itu kerap menunduk.
Joan mendongak lalu tersenyum pada Arlo. “Iya, Kak.”
Seorang pramusaji menyapa begitu mereka masuk ke restoran. Setelah Arlo mengatakan kalau sudah reservasi, pramusaji tersebut mengantar mereka menuju ruangan yang dituju. Arlo memang memesan tempat yang privat, agar bisa menikmati kebersamaan dengan Joan. Berada berdua di tempat publik pasti akan menimbulkan berita tak sedap, terutama untuk Joan karena Arlo adalah suami dari wanita lain.
Ruangan yang disewa Arlo, didekor dengan berbagai bunga dan juga lilin-lilin yang menyala. Membuat suasana di sana sangat romantis. Arlo menarik kursi untuk Joan sebelum duduk berhadapan dengan cinta pertamanya itu. Setelahnya, mereka memesan makanan pada sang pramusaji.
“Apa kamu suka suasananya?” tanya Arlo saat mereka hanya tinggal berdua di ruangan tersebut.
Joan menganggut. “Suka. Cantik sekali ruangan ini,” ucapnya seraya memindai seluruh ruangan. “Apa Kak Arlo yang meminta dihias seperti ini?” Dia kemudian menatap pria tampan yang ada di hadapannya.
“Iya. Ruangan yang cantik untuk seseorang yang spesial,” ucap Arlo dengan pandangan penuh cinta. Joan menjadi tersipu dibuatnya.
“Jo, kemarikan tanganmu.” Tangan kanan Arlo yang ada di atas meja, menghadap ke atas. Siap menyambut tangan kiri Joan yang terulur. Dia menggenggam tangan tersebut dan mengelus dengan lembut.
“Jo, aku rasa ini saat yang tepat untuk kita bicara tentang perasaan yang ada di hati kita masing-masing.” Arlo menatap mata Joan dengan intens. “Apa kamu tahu kalau aku sudah menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu?”
Joan terkesiap mendengar penyataan Arlo yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Selama ini Joan pikir Arlo hanya bersikap baik padanya seperti layaknya senior pada junior. Gadis itu kemudian menggelengkan kepala sebagai jawaban.
Arlo tersenyum. “Aku memang pengecut waktu itu karena tidak berani menyatakan cinta. Akhirnya cinta itu hanya terpendam di hati dan tumbuh lagi setelah kita bertemu di reuni. Apa kamu tahu, cinta itu malah jadi semakin besar di hatiku?”
Lagi-lagi Joan dibuat terkejut dengan pernyataan Arlo. “Apa Kak Arlo sedang menyatakan cinta?” batinnya. Namun, dia coba menepis apa yang terlintas di pikirannya itu. “Kak Arlo ‘kan sudah punya istri, tidak mungkin mencintaiku,” batinnya kembali bicara.
Arlo merasa gemas melihat ekspresi wajah Joan yang berubah-ubah. Wanita itu pasti bingung karena mendapat pernyataan cinta dari pria beristri seperti dirinya. Meskipun Arlo sudah menunjukkan perhatiannya selama ini pada Joan, tapi dia yakin kalau gadis itu hanya menganggap biasa perhatiannya seperti seorang teman. Memang begitulah sifat Joan yang tidak mudah besar kepala saat mendapat perhatian dari seseorang.
“Hari ini aku membulatkan tekad untuk menyatakan perasaanku. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Joan Kamaniya, aku mencintaimu.” Arlo berbicara dengan lembut. Tidak hanya mulutnya yang menyatakan cinta, tapi matanya juga memancarkan rasa itu.
Seketika Joan membeku mendengar pernyataan cinta dari pria yang sudah mengisi hatinya sejak masa putih abu-abu itu. Dunia seolah berhenti berputar. Apa yang didengar tadi, seolah jadi angin surga yang menyejukkan hati. Namun, batinnya bergejolak antara mau memercayai atau tidak ungkapan cinta Arlo. Seniornya itu sudah punya istri, bagaimana mungkin malah menyatakan cinta padanya? Atau jangan-jangan Arlo hanya ingin mempermainkan perasaannya?
“Jo.” Panggilan Arlo yang terdengar lembut itu berhasil menyadarkan Joan dari lamunannya.
“Iya, Kak.” Joan menjadi gugup karena Arlo masih terus menatapnya dengan intens. Sorot mata tajam itu langsung menghunjam hatinya.
Arlo melebarkan senyumnya. “Bagaimana?”
“Apanya yang bagaimana, Kak?” Joan mendadak jadi pilon.
Arlo tertawa kecil karena Joan terlihat masih mengingkari apa yang tadi dia ungkapkan. “Aku mencintaimu, Jo. Apa kamu mau menerima perasaanku.” Pria itu kembali menyatakan cinta.
Kali ini Joan benar-benar tak bisa mengelak lagi. Mau tidak mau, dia harus menjawabnya. “Kak Arlo, bercanda ‘kan?” tanyanya dengan canggung. Berusaha mencairkan suasana yang jadi sedikit tegang.
Arlo menggelengkan kepala. “Aku serius, Jo. Apa aku terlihat sedang bercanda? Tidak ‘kan?”
“Tapi, bagaimana mungkin?” Joan tidak mau percaya begitu saja.
“Mungkin saja. Apa yang tidak mungkin di dunia ini, Jo? Aku memang mencintaimu sejak SMA. Apa kamu tidak percaya karena aku sudah menikah?” Arlo masih terus menatap wanita yang duduk di hadapannya itu.
Joan mengangguk tanpa mengeluarkan suara.
Arlo menghela napas panjang. “Aku tidak mencintai istriku, Jo. Begitu juga Davina tidak mencintaiku. Kami terpaksa menikah karena dijodohkan demi kepentingan kemajuan perusahaan. Mungkin kami terlihat mesra di depan umum, tapi itu semua hanya sandiwara. Perlu kamu tahu kalau kami berdua sudah membuat perjanjian sebelum pernikahan itu terjadi.”
Joan mengernyit. Untuk ketiga kalinya, dia mendapat pengakuan yang mengejutkan dari Arlo. “Perjanjian apa, Kak? Perjanjian pranikah?”
“Mungkin bisa dibilang begitu, tapi konteksnya beda. Perjanjian itu hanya diketahui kami berdua dan tidak disahkan di depan notaris,” jelas Arlo.
“Dalam perjanjian itu, kami sepakat tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing, termasuk percintaan. Davina sudah punya pacar sebelum menikah denganku, dan saat ini mereka masih berhubungan. Karena itu aku juga bebas berhubungan dengan orang yang aku cintai,” lanjut Arlo.
“Aku tidak pernah sekali pun menggauli Davina sejak menikah. Sentuhan seperti pelukan, ciuman mesra, itu hanya kalau di depan umum. Walaupun kami sekamar, tapi aku tidak pernah tidur seranjang dengan dia. Aku tidur di sofa kalau menginap di rumah orang tua kami atau aku tidur di kamar tamu kalau di apartemen kami.” Arlo kembali menyambung penjelasannya.
Joan menggeleng. “Aku tidak percaya, pasti Kak Arlo berbohong.”
Arlo menarik tangan yang menggenggam Joan. Dia mengambil gawai dan tampak mencari sesuatu di sana. “Ini perjanjian kami kalau kamu tidak percaya.” Pria itu memberikan gawainya pada Joan.
Meskipun tampak ragu, Joan menerima gawai tersebut. Dia kemudian membaca apa yang ditampilkan di layar. Wanita itu sampai menutup mulut saat mengetahui apa yang tertulis di sana. Joan lalu mengembalikan gawai pada pemiliknya.
“Kamu sekarang percaya ‘kan?” tanya Arlo setelah menyimpan lagi ponsel pintar miliknya.
Joan menyengguk. “Jadi pernikahan seperti apa yang Kak Arlo jalani?”
“Pernikahan bayangan. Kami terlihat menikah, tapi semuanya palsu,” jawab Arlo. “Setelah kamu mendengar semuanya, apa kamu mau jadi kekasihku?” Pria itu kembali mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan Joan.