Joan terpaku, tak memberi reaksi apa pun. Otaknya sedang mencerna kata-kata yang diucapkan oleh Arlo. Dia masih tidak percaya dengan semua yang didengarnya tadi. Ini mimpi ataukah nyata. Namun, genggaman tangan Arlo yang hangat terasa nyata.
“Jo, kamu baik-baik saja?” Arlo terlihat khawatir karena Joan hanya diam dan telapak tangannya jadi terasa dingin.
“Eh, apa, Kak?” Joan tersadar dari lamunannya.
“Are you okay?” Arlo memandang gadis itu dengan penuh perhatian.
“I—iya, a—ku baik-baik saja, Kak,” jawab Joan dengan terbata-bata. Dia kemudian menarik tangannya yang digenggam Arlo.
“Aku sudah menyatakan perasaan dan mengungkap rahasia pernikahanku, Jo. Apa jawabanmu?” Arlo sama sekali tak mengalihkan pandangan dari sosok cantik di hadapannya.
“Jawaban apa, Kak?” Joan berpura-pura tidak mengerti maksud Arlo karena dia tidak tahu harus menjawab apa. Hatinya bimbang antara mau menuruti perasaan atau logika.
“Pertanyaanku tadi,” sahut Arlo.
“Pertanyaan yang mana?” Joan masih mengulur waktu.
“Aku ingin kamu jadi kekasihku, Jo. Apa kamu mau?” Arlo mengulangi lagi pertanyaannya.
“Memangnya tadi Kak Arlo tanya itu?” Joan menunjukkan wajah polosnya.
“Astaga, Jo, aku tadi bicara panjang lebar apa tidak kamu dengarkan?” Arlo menjadi frustrasi.
“A—ku dengar, tapi aku tidak yakin itu nyata dan bukan mimpi.” Joan masih merasa ragu.
Arlo meraih kembali tangan Joan yang ada di atas meja. Membawa punggung tangan wanita itu ke bibirnya lalu mengecup dengan lembut. “Apa ini masih seperti mimpi, Jo?” tanyanya kemudian.
“Jadi ini nyata? Bukan mimpi?” Joan menatap mata Arlo.
Arlo mengangguk. “Iya, Jo. Ini nyata. Sangat nyata. Apa aku harus mencium bibirmu biar kamu lebih yakin?” Pria itu tersenyum menggoda. Membuat Joan menjadi salah tingkah.
“Tidak perlu, Kak. Sekarang aku sudah yakin kalau nyata. Tadi aku kira sedang mimpi," kilah Joan.
"Rasakan ini biar kamu yakin kalau bukan mimpi, Jo." Arlo meletakkan telapak tangan Joan di dadanya. Agar wanita itu bisa merasakan detak jantungnya yang berdebar lebih kencang. "Kamu bisa merasakannya, Jo?"
Joan menyengguk. “Iya. Aku bisa merasakan detak jantung, Kak Arlo.”
“Jantung ini hanya akan berdebar lebih kencang kalau sedang bersamamu atau memikirkanmu, Jo. Dari dulu sampai sekarang tidak berubah,” aku Arlo.
“Benarkah?” Joan tidak mau percaya begitu saja pada Arlo.
Arlo menggerakkan kepala ke bawah. “Benar, Jo. Wanita yang aku cintai dan aku inginkan jadi istriku itu hanya kamu. Bukan Davina,” ucapnya lembut.
"Kalau kamu mau jadi kekasihku. Aku akan bicara dengan Davina kalau aku sudah menemukan cinta pertamaku. Setelah itu, aku akan mengurus perceraianku dengannya.” Arlo menatap lekat wajah cantik di hadapannya dengan penuh pengharapan.
Joan menggelengkan kepala berkali-kali. “Ini tidak benar, Kak.” Gadis itu menarik kembali tangan yang dipegang Arlo.
Arlo mengernyit. “Apa yang tidak benar, Jo?”
“Pertemuan kita. Kebersamaan kita. Pernyataan cinta, dan keinginan Kak Arlo menjadikan aku kekasih,” jelas Joan.
“Kenapa tidak benar? Kita tidak melakukan hal yang salah, Jo. Aku mencintaimu dan aku rasa kamu juga punya perasaan yang sama,” sergah Arlo.
“Walaupun aku juga punya perasaan yang sama, tapi ini tetap salah. Kak Arlo sudah menikah, punya istri. Terlepas itu hanya pernikahan bisnis, masyarakat sudah tahu soal itu. Kalau aku menerima Kak Arlo dan orang-orang melihat kita bersama, aku akan dicap sebagai pelakor, Kak,” tukas Joan.
“Mereka tidak tahu bagaimana pernikahan Kak Arlo yang sesungguhnya. Selama ini masyarakat selalu menganggap Kak Arlo dan Davina adalah pasangan yang serasi dan selalu terlihat mesra. Aku pun melihatnya seperti itu karena itu yang selalu kalian tampilkan di depan umum. Apa jadinya kalau aku tiba-tiba muncul di antara kalian?” sambung Joan.
“Arlo Maheswara bercerai dengan istrinya karena kehadiran wanita lain. Itu yang akan muncul di berita. Apa Kak Arlo tidak memikirkan hal itu? Apa Kak Arlo tidak memikirkan bagaimana perasaanku? Terlebih perasaan kedua orang tuaku?” Joan tampak sangat emosional.
“Aku nanti yang akan bicara kalau ada yang menuduhmu seperti itu. Aku yang akan menghadapi mereka. Aku janji akan melindungimu dengan seluruh hidupku, Jo.” Arlo berusaha meyakinkan Joan.
Joan kembali menggeleng. “Kak Arlo bercerai dulu dengan Davina. Setelah itu baru Kak Arlo datang lagi padaku,” putusnya.
“Aku tidak mau dicap sebagai orang ketiga, Kak. Terlepas bagaimana jadinya hubungan kita nanti,” sambungnya.
“Tapi, Jo—.” Belum sempat Arlo menyelesaikan ucapannya, pintu ruangan tersebut terbuka. Dua orang pramusaji datang sambil membawa meja dorong yang berisi hidangan yang mereka pesan.
Saat pramusaji itu menyajikan makanan di meja, Joan kembali mengatur napas. Dia ingin makan dalam keadaan tenang. Berbeda dengan Arlo yang kembali terlihat frustrasi. Pria itu harus menahan diri, setidaknya sampai mereka selesai menyantap makan malam. Karena pasti tidak akan nikmat rasanya kalau makan sambil membahas suatu masalah yang bisa dibilang tidak mudah.
Mereka hanya mengobrol ringan saat makan. Arlo menanyakan apa Joan suka dengan hidangannya atau tidak. Keduanya juga membahas suasana di sana dan hal remeh lainnya. Usai menyantap hidangan penutup, Arlo kembali memulai pembicaraan mereka yang tadi tertunda.
“Jo, kamu bukan orang ketiga di antara aku dan Davina. Tidak pernah ada orang ketiga karena kami tidak saling mencintai. Kalau kamu sampai dituduh seperti itu, aku bisa balik menuduh Davina berselingkuh dengan pacarnya. Aku akan membeberkan bukti-bukti kalau dia lebih dulu mengkhianatiku.” Arlo kembali meyakinkan Joan.
“Yang tahu hal itu hanya kita, Kak. Masyarakat tidak tahu. Kalaupun Kak Arlo balas menuduh Davina, aku pasti akan tetap dicap sebagai pelakor seumur hidup. Aku dan keluargaku tidak akan bisa hidup normal seperti dulu. Beda dengan Kak Arlo dan Davina. Kalian punya uang dan kekuasaan untuk menutupi hal tersebut. Sementara aku hanya orang biasa, Kak.” Joan menatap Arlo, berharap pria itu mengerti posisinya.
Arlo menghela napas panjang mendengar penuturan Joan. Memang benar apa yang dikatakan gadis itu. Kalau dia tetap nekat, pasti akan berdampak pada nama baik Joan. Arlo tidak mau nama Joan jadi tercoreng dan dicap sebagai orang ketiga. Sepertinya mengalah jadi keputusan terbaik untuk saat ini.
“Oke. Aku akan menuruti apa yang kamu mau, Jo. Secepatnya aku akan bicara dengan Davina dan mengakhiri pernikahan kami. Kamu mau ‘kan menungguku sampai semuanya selesai?” Arlo memandang Joan penuh harap.
“Aku tidak bisa memberi janji, Kak,” sahut Joan.
“Kenapa, Jo? Apa kamu tidak mencintaiku?” cecar Arlo.
Joan tersenyum. “Meskipun aku mencintai Kak Arlo, tapi kalau kita tidak ditakdirkan berjodoh bagaimana?”
“Jo, jangan bicara seperti itu! Kita saling cinta, kita pasti berjodoh. Ini hanya soal waktu. Aku janji akan secepatnya mengurus perceraianku. Setelah itu, aku akan menikahimu,” tekan Arlo.
Joan tertawa kecil. “Andai semua seindah itu, Kak.”
“Kamu tidak percaya padaku, Jo?” seru Arlo.
“Aku percaya Kak Arlo, tapi kita tidak bisa melawan takdir, Kak,” sahut Joan.
Arlo memejamkan mata sambil menengadah. Mencari kalimat yang tepat agar Joan mau menunggu sampai proses perceraiannya dengan Davina selesai. Pasti terdengar egois karena memaksa Joan menunggunya. Namun, dalam perjanjiannya dengan Davina, mereka akan bercerai kalau sama-sama sudah menemukan cinta sejati. Jadi, sekarang saat yang tepat untuknya memutuskan ikatan tanpa cinta itu.
“Jo, apa yang harus aku lakukan agar kamu mau menungguku?” tanya Arlo yang frustrasi karena tidak juga menemukan kalimat yang pas untuk meyakinkan Joan.