Bab 9

1314 Kata
Hati Arlo terasa nyeri saat mendengar kata teman dari bibir Joan. Namun, dia juga tidak bisa berharap lebih dari itu untuk saat ini mengingat statusnya yang masih menjadi suami Davina. Joan tetap mau berhubungan dan bertemu dengannya saja sudah cukup bagus. “Ada, Jo. Contohnya kita,” sahut Arlo kemudian. Joan tertawa kecil. “Memangnya apa yang digantung, Kak?” “Kamu belum menjawab mau atau tidak menungguku, Jo. Bukankah itu artinya kamu menggantung perasaaanku? Meskipun kamu bilang kita berteman, tapi kamu tahu kalau aku cinta sama kamu, Jo. Kamu belum mau jadi kekasihku karena aku masih suami Davina. Iya ‘kan?” Arlo kembali menoleh ke arah Joan yang menatap lurus ke jalanan. “Oh ya, aku jadi ingat soal perceraianku. Semalam aku sudah membahasnya dengan Davina. Intinya dia setuju kami bercerai, tapi aku harus mencari solusi dulu dari dampak yang akan muncul setelah perceraian kami. Seperti yang aku katakan kalau pernikahan kami karena bisnis, jadi pasti akan berefk pada perusahaan kalau kami berpisah. Aku minta maaf karena kamu harus menungguku sedikit lebih lama,” beber Arlo. Joan tersenyum. “Kenapa Kak Arlo tidak menerima dengan ikhlas pernikahan itu dan menjalaninya seperti orang lain? Jadi, Kak Arlo tidak perlu pusing mencari solusi.” “Aku hanya mencintaimu, Jo. Tidak ada wanita yang bisa menggantikanmu di hatiku karena aku pernah coba mencintai wanita lain, tapi tidak bisa,” aku Arlo. “Kak Arlo tidak bisa atau tidak mau?” tanya Joan, seperti yang biasanya Anika tanyakan padanya setiap ada pria yang mendekati dia. “Aku tidak bisa, Jo,” jawab Arlo. “Sejujurnya aku sudah lelah berpura-pura jadi suami Davina. Aku ingin hidup tanpa bayang-bayang pernikahan yang tidak aku inginkan. Aku ingin hidup dengan wanita yang aku cintai, yaitu kamu,” ungkapnya. “Seperti yang aku bilang kemarin, Kak Arlo selesaikan urusannya dulu dengan Davina. Baru setelah itu kita bicarakan soal ini. Sampai saat itu tiba, kita akan tetap berteman seperti biasa,” tegas Joan. Arlo menghela napas panjang sebelum menyahut. “Terima kasih tetap mau jadi temanku, Jo. Semoga kamu tidak berubah sampai aku menyelesaikan perceraianku dengan Davina.” “Dari dulu sampai sekarang aku senang kok berteman dengan Kak Arlo,” aku Joan. “Syukurlah. Aku bisa bernapas lega sekarang,” sahut Arlo. “Walaupun kita hanya berteman, aku akan tetap menuruti keinginanmu. Aku tidak akan mengantarmu ke kantor lagi. Tapi kalau sesekali menjemput dan main ke apartemen boleh ‘kan?” Arlo menatap gadis itu dengan penuh harap. Joan menganggut. “Boleh, tapi jangan keseringan. Enggak enak sama tetangga.” “Memangnya tetanggamu suka resek?” tanya Arlo. Joan menggeleng. “Enggak sih. Aku juga jarang ketemu mereka. Aku cuma merasa enggak enak aja,” ungkapnya. Arlo tersenyum. “Apa perlu aku akan menyamar jadi cewek biar rasa enggak enakmu hilang?” selorohnya. “Boleh sih, kalau Kak Arlo mau. Aku jadi penasaran secantik apa Kak Arlo kalau berdandan cewek.” Joan mengikik. Arlo tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban gadis yang duduk di sampingnya itu. “Boleh, tapi kamu yang dandanin aku,” timpalnya. “Oke. Kapan-kapan aku dandanin Kak Arlo kalau begitu. Oh ya, Kak, nanti mampir sebentar beli sarapan ya,” pinta Joan. “Kamu belum makan, Jo?” tanya Arlo yang dijawab Joan dengan bergeleng. “Sama kalau begitu,” ucapnya kemudian. “Apa kita mampir makan dulu?” tawar Arlo. Joan kembali menggeleng. “Jangan, Kak. Nanti aku bisa terlambat ke kantor. Naik mobil ‘kan jadi lebih lambat daripada naik motor.” Arlo melirik jam tangan mewah di pergelangan tangan kirinya. Masih ada waktu sekitar 30 menit sebelum jam masuk kantor Joan. “Apa sebaiknya kamu pesan makanan saja, Jo. Jalanan lumayan padat ini. Nanti kalau mampir beli makanan dulu takutnya kamu telat,” sarannya. Joan pun melihat situasi jalanan yang padat hingga mobil yang dikendarai Arlo hanya bisa bergerak pelan. “Iya nih bisa telat kalau mampir beli makan dulu. Makanya aku lebih suka naik ojol biar tidak telat ke kantor. Kalau pakai motor bisa lewat gang tikus atau bisa masuk di sela mobil jadi lebih cepat sampainya.” Arlo kembali menghela napas panjang. “Maaf ya, Jo. Karena egoku kamu jadi mepet masuk kantor,” ucapnya penuh sesal. “Enggak apa-apa kalau sekali-sekali telat, Kak.” Joan mengikik. “Kalau kamu sampai ditegur atasan, bilang ya biar aku yang menjelaskan semuanya,” pinta Arlo. “Santai saja, Kak. Aku termasuk karyawan yang rajin dan jarang telat.” Joan tersenyum. “Aku pesan makanan dulu ya, Kak.” Gadis itu menunjukkan layar gawai yang menampilkan aplikasi pesan makanan. Arlo mengangguk dan kembali fokus melihat jalanan. Beberapa kali dia membunyikan klakson karena pengendara motor yang sembarangan memotong jalan di depan mobilnya. Setelah berhasil melewati kepadatan jalan, mereka akhirnya tiba di kantor Joan lima menit sebelum jam masuk kantor. “Terima kasih, Kak.” Joan melepas sabuk pengaman lalu keluar dari mobil sendiri karena Arlo tidak membukakan pintu untuknya. Pria itu cukup tahu diri dan menahan keinginannya untuk melakukan hal tersebut. Dia tidak ingin Joan menjadi bahan gosip di kantornya. Setelah memastikan Joan masuk ke kantor, Arlo melajukan kendaraannya meninggalkan gedung tersebut. “Pagi, Mbak Joan,” sapa sang penjaga keamanan dengan ramah. “Pagi juga, Pak. Pesanan saya sudah datang atau belum ya?” tanya Joan. “Belum, Mbak. Nanti saya kabari kalau datang,” jawab pria tersebut. “Terima kasih ya, Pak,” ucap Joan dengan senyum yang tak lepas dari wajah sejak tiba di sana. “Sama-sama. Mbak Joan tadi dianter pacarnya ya?” Penjaga keamanan itu merasa penasaran karena tidak biasanya Joan datang ke kantor naik mobil mewah. “Teman, Pak. Bukan pacar. Saya absen dulu ya, Pak. Udah mepet nih.” Joan bergegas meninggalkan sang penjaga keamanan dan langsung menuju mesin absensi yang tidak jauh dari sana. Segera dia tempelkan jempol kiri pada mesin tersebut. Setelah itu Joan menunggu di lobi sebelum ke ruangannya di lantai tiga karena sebentar lagi pesanannya tiba. Dia tidak mau naik turun lift hanya untuk mengambil sarapannya. Pukul 11.15 siang, Niko mengirim pesan pada Joan. Niko: Jo, aku otw ke kafe. Joan langsung membuka dan membalas pesan tersebut. Joan: Oke, Kak. Aku nanti turun tepat jam 12.00. Kalau Kak Niko sampai duluan, tolong cari tempat duduk dan pesan sekalian saja. Niko: Oke. See you there, Jo. Joan tersenyum membaca balasan Niko, setelah itu dia melanjutkan lagi pekerjaannya. Masih ada waktu empat puluh menit untuk mengoreksi laporan yang dibuat oleh stafnya. “Aku turun dulu ya,” pamit Joan pada teman-teman satu ruangan begitu pukul 12.00 siang. “Ya, Bu,” sahut yang lain sambil berpandangan. Tak biasanya Joan langsung pergi begitu masuk waktu makan siang. Biasanya dia masih berkutat dengan laporan-laporan keuangan di mejanya. Sambil turun dari lift, Joan membuka pesan dari Niko yang memberi tahu posisi di mana pria itu duduk. Dia juga menanyakan pada Joan, menu apa yang akan dipesan oleh gadis itu. Joan pun langsung membalas. Hal itu mereka lakukan untuk menyingkat waktu karena istirahat makan siang hanya satu jam dan biasanya agak lama dihidangkan sebab pesanannya menumpuk. Begitu tiba di kafe, Joan langsung mencari sosok Niko yang sudah menunggunya. Pria berkacamata itu melambaikan tangan pada Joan saat mereka bertemu pandang. Joan tersenyum lalu menghampiri Niko. “Hai, Kak Niko. Maaf ya agak lama nunggunya,” sapa gadis itu begitu berhadapan dengan Niko. “Hai juga! It’s okey, Jo. Ayo duduk.” Niko berdiri lalu menarik kursi di hadapannya untuk Joan duduk. “Terima kasih, Kak,” ucap Joan dengan kepala sedikit menunduk. Gadis itu kemudian duduk di kursi tersebut. “Sama-sama.” Niko pun kembali duduk di tempatnya semula. “Sudah jadi pesan, Kak?” tanya Joan sambil meletakkan dompet dan ponsel di atas meja. Niko menganggut. “Sudah. Punyamu juga sudah kupesankan sekalian. Mungkin sebentar lagi minumannya datang,” jawabnya. “Sambil menunggu pesanan datang, kita bisa ngobrol dulu, Kak. Ngomong-ngomong, apa yang ingin Kak Niko bicarakan?” Joan membuka obrolan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN