Bisa-bisa kayak tadi, aku dimandikan Ibu pake air kotor. Hanya karena semalam, setelah pulang dari warung, nggak sengaja bertemu Mas Pange dan kami jalan bersama ke rumah.
"Udah buruan nggak usah bawel. Cepetan naek! sebelum si mat, aku ajak kabur, ni."
"Ya, udah, deh."
Akhirnya aku menerima tawaran Pangeran bermotor matic hitam itu daripada harus berjalan kaki sampai ke pasar. Semoga nggak ada yang liat dan lapor ke ibu.
***
"Upik Abuu! Kok, belum ada makanan? Laper ni gue!" seru Ka Drewnella. Ia baru saja pulang dari kantornya. Kebiasaannya setelah pulang kantor pasti langsung membuka tudung saji.
"Tunggu, Kak, sebentar lagi siap."
Tak lama kemudian aku membawa piring yang sudah berisi lauk ikan gurame goreng dan tempe bacem kesukaan ibu. Lengkap juga dengan sayur oseng-oseng kacang panjang yang langsung kusajikan di atas meja makan.
Kak Drew hanya duduk di kursi sambil memainkan ponselnya.
"Sekalian ambilin gue piring sama nasinya juga. Jangan lupa air minumnya. Air putih pake es batu!" perintahnya padaku.
"Drew, kamu sudah pulang?"
Ibu tiba-tiba keluar kamar dan ikut duduk di kursi makan. Tangannya mencomot sepotong tempe bacem yang memang menjadi favoritnya.
"Hmm," jawab Kak Drew sambil mengunyah. Matanya masih terus ke arah ponsel yang diletakkan di meja.
"Sudah, makan saja dulu. Lagi meratiin apa, si? Serius banget."
"Ini, lho, Bu, Prabu Andromeda, pemilik hotel tempat Drew kerja. Ganteng banget orangnya, tapi sayang, sikapnya sedingin es. Pernah waktu itu Drew coba senyum ke dia. Bukannya dibalas senyum, eh, malah kena semprot."
Tawaku tertahan mendengar cerita Kak Drew. Jadi penasaran, seperti apa sih Prabu Andromeda itu? Seorang yang juteknya level tinggi macam Kak Drew saja dibuat kesal olehnya. Kalau kakeknya, sang Sultan yang sebenarnya, sudah sering aku lihat di televisi.
"Mana sini, Ibu lihat!"
Kak Drew menggeser ponselnya ke depan Ibu.
"Wah, ini mah bukan cuma ganteng, Drew, tapi ganteng banget. Pemuda kayak gini, ni, baru menantu idaman Ibu. Udah ganteng, kaya lagi. Nggak kayak si Pange, itu. Coba, mana ada Pangeran yang kerjaannya cuma jadi guru. Guru apa itu katanya? Guru privat?"
"Ih, Ibu, ni. Pange juga nggak kalah ganteng, kok. Nggak boleh menghina pekerjaannya, Bu. Siapa tau dia itu cuma nyamar. Zaman sekarang banyak, kok, orang yang sebenernya kaya, tapi pura-pura miskin."
"Drew, Drew, kamu itu kebanyakan baca cerbung KBM tau nggak! Kalo miskin, ya udah, miskin aja."
Ibu tiba-tiba langsung menoleh ke arahku yang sedari tadi berdiri di sudut dapur.
"Cinde, kamu ngapain bengong di sana? Masakan udah beres? Dapur udah dirapiin?"
"Sudah, Bu." Yes, akhirnya aku bisa makan juga. Kebetulan perutku sudah mulai berbunyi.
"Sekarang kamu beresin kamar ibu. Ganti seprai dan kordennya!"
Yah, kirain.
"Ba-baik, Bu." Dengan langkah malas aku menuju kamar Ibu. Rasa lapar yang sudah sangat menyiksa terpaksa harus kutahan lebih lama lagi.
"Bu, si Cinde masih suka deket-deket nggak sama Pange?" Suara Kak Drew terdengar olehku yang berada di kamar Ibu.
"Mana ibu tau. Kamu tanya sendiri aja sama si Cinde."
"Kalau nanya dia, mana mau ngaku, Bu."
Oh, ternyata Kak Drew menyukai Mas Pange. Pantas ia marah sekali waktu tau aku suka ketemu dengan Mas Pange.
***
"Cindee!"
Baru saja aku akan menyuapkan nasi ke mulut ibu sudah memanggil lagi.
"Iya, Bu, ada apa?"
"Kamu liat uang ibu nggak? Yang di dalam amplop cokelat? Kemarin ibu taro di bawah tumpukan baju-baju di dalam lemari, kok, sekarang nggak ada?"
"Nggak, Bu, Cinde nggak liat. Cinde mana berani buka-buka lemari ibu."
"Terus ke mana uangnya? Masa ilang gitu aja?"
Aku menggeleng pelan.
"Coba aja liat di lemarinya, Bu. Tadi, kan, dia yang beresin kamar Ibu." Kak Drew yang sedang menonton televisi ikut menanggapi.
Ibu langsung menuju kamarku, membuka lemariku dan mengacak susunan baju yang sebelumnya masih tersusun rapi.
"Ini apa, hah?"