Sang Prabu

358 Kata
Perlahan kumasuki ruangan yang kini menjadi kamarku itu. Begitu masuk ke dalamnya, mata ini kembali dibuat terpukau dengan pemandangan indah di depanku. Kamar berukuran kira-kira 5 x 10 meter yang didekorasi dengan tema girly dan feminin. Keseluruhan dindingnya dilapisi wallpaper berwarna soft pink dengan motif bunga. Di tengah sisi kanan ruangan terdapat ranjang dengan tiang di keempat sisinya. Ditutupi dengan kelambu berwarna senada dengan seprai berwarna pink yang melapisi kasur yang sangat nyaman saat kududuki. Kucoba meraba pelan seprai yang terasa begitu lembut di tangan. Di bagian sudut kamar, sejajar dengan tempat tidur, terdapat pintu berwarna krem yang menuju ke kamar mandi yang juga besar dan nyaman. Sedangkan di sisi lain berdiri gagah sebuah lemari empat pintu berwarna putih berukuran besar. Tepat di tengahnya terdapat cermin setinggi orang dewasa. Karpet lembut berwarna soft pink yang melapisi sebagian besar kamar semakin membuat kamar ini terkesan indah dan menawan. Kurebahkan tubuh keatas ranjang yang begitu empuk ini. Saking senangnya, kuputar tubuh ke kanan ke kiri berkali-kali. Kucubiti kedua pipi, untuk memastikan kalau ini nyata dan bukan mimpi. "Aaaarggh!" pekikku. "Aku adalah cucu dari Sultan Andromeda. Aaa ...." "Ehem." Terdengar suara berat seseorang dari arah pintu. Dengan gerakan secepat kilat, aku segera bangkit dari posisiku semula. Seorang pria gagah berwajah tampan sedang berdiri sambil bersandar di pintu kamarku yang belum kututup. Kakinya menyilang dan kedua tangannya terlipat di d**a. Matanya memandang tajam tepat ke arahku, menyapu dari atas sampai ke bawah. Membuat ragaku serasa dingin dan membeku. Refleks aku langsung membungkuk memberi hormat. "Se-selamat malam, Tuan. Saya, Cinde," ucapku terbata. Seketika pria itu tertawa singkat, hingga menampakkan deretan gigi yang putih dan terawat. Perlahan kuangkat wajahku. Kuberanikan diri untuk melihat sosoknya secara lebih jelas. Alisku bertaut sambil menatapnya dengan raut wajah bingung. "Hai, Cinde. Lo, pasti gadis yang Asykar maksud. Lucu juga," ucapnya sambil mengangguk-anggukkan kepala. Tangannya masih terlipat di d**a. Ia berjalan mendekat, lalu menghampiriku yang masih terpaku di posisi semula. "Kenalin, Prabu Andromeda. Panggil aja, Prabu. Aku kakak sepupu kamu." Ia mengulurkan tangan. Prabu Andromeda? Namanya terdengar tidak asing. Di mana ya aku pernah mendengar nama itu? Ah iya, jadi ini, sosok Prabu Andromeda yang kemarin Kak Drewnella maksud?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN