Maria tidak tahu harus berbicara apa saat ini. Hatinya benar-benar teriris. Puspita adalah ibu mertua idaman para setiap kaum wanita, tapi Tian bukanlah putra idaman yang layak dijadikan suami. Andai saja sifat Tian seperti ibunya, mungkin Maria akan dengan senang hati membuka hati untuknya. "Mama di sini?" tanya Tian. Dengan cepat Maria berkedip lalu pura-pura bersikap biasa saja. Dan untungnya tadi Maria masih bisa menahan air matanya yang hampir ke luar. Maria juga kini sudah berdiri dan beralih mengambilkan sarapan untuk Tian. "Apa kamu baru bangun?" seloroh Puspita. Tian duduk. "Tentu saja tidak." "Lalu kenapa tidak membantu istrimu di sini?" Tian terdiam. Dia sempat melirik Maria yang kini tengah meletakkan sepiring nasi tepat di hadapannya. Setelah itu, Maria melenggak menuju

