CHAPTER 17 DANAU BERDARAH (PART 4)

1723 Kata

Aku melangkah perlahan menuju piano yang masih mengalun merdu, mengabaikan jantungku yang bertalu-talu dengan cepatnya. Hawa dingin menusuk kulit dan membuat bulu kudukku meremang. Kuteguk saliva berkali-kali tanpa menghentikan langkah kakiku ini.  Aku terperanjat di tempat ketika melihat bukan penampakan hantu yang tengah memainkan piano itu, melainkan asap tebal berwarna putih yang berada di balik piano. Bersamaan dengan berhentinya alunan musik piano, asap tebal yang tadinya mengumpul tiba-tiba beterbangan ke arahku. Sontak aku mundur ke belakang menghindari asap tebal berwarna putih yang tampak menakutkan di mataku.  Aaaarrrrrrgggghhhhh  Kututup telinga dengan menekannya kuat menggunakan kedua tanganku. Suara jeritan yang menyakitkan gendang telingaku itu berasal dari asp tebal yang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN